Chapter Sixteen
Kapten
POV: Alika Jumlah kata: 917
Namanya Bara Mahendra dan aku ingin mencatat sejak awal bahwa dia bukan orang jahat.
Aku menuliskannya begitu karena aku tahu bagaimana cerita seperti ini biasanya berjalan. Ada laki-laki lain yang muncul, dan pembacanya langsung tahu dia akan jadi masalah, dan semua yang dia lakukan dibaca dengan kecurigaan sejak halaman pertama.
Bara tidak pernah jadi masalah.
Yang jadi masalah adalah satu pertanyaan yang dia ajukan, sekali, dengan niat baik, di ruang awak Juanda jam setengah enam pagi.
Tapi itu nanti.
Dia kapten, tiga puluh satu tahun, dan bulan itu kami satu rotasi selama enam hari.
Semua orang menyukai Bara, dan itu bukan omongan. Aku sudah empat tahun di pekerjaan ini dan aku bisa bilang dengan yakin bahwa ada dua jenis kapten: yang membuat kabin bekerja karena takut, dan yang membuat kabin bekerja karena tidak enak mengecewakannya.
Bara jenis kedua, dan itu jenis yang langka.
Dia hafal nama semua kru sampai yang paling baru. Dia keluar dari kokpit untuk mengucapkan terima kasih setelah penerbangan yang buruk. Waktu ada bayi menangis dua jam empat puluh menit, dia mengumumkan lewat pengeras suara — dengan nada yang benar-benar tidak ada sindirannya — bahwa ibu bayi itu sedang melakukan pekerjaan yang lebih sulit dari pekerjaannya.
Seluruh kabin bertepuk tangan. Ibunya menangis. Aku juga hampir.
Jadi ya. Bara Mahendra orang baik.
Nesa, tentu saja, langsung mengambil kesimpulan yang salah.
“Kak.”
“Nggak.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Aku tau apa yang mau kamu omongin.”
Nesa mengunyah rotinya di ruang awak dengan tatapan orang yang sedang menyusun strategi. “Kak, Kapten Bara nanyain Kakak.”
“Nanyain apa?”
“Nanya Kakak kenapa akhir-akhir ini keliatan beda.”
Aku berhenti mengaduk kopi.
“Beda gimana?”
“Ya beda.” Nesa mengangkat bahu. “Katanya Kakak sekarang keliatan— apa ya istilahnya— ‘nggak buru-buru’.”
Aku tidak menjawab.
Karena itu tepat.
Empat tahun aku bekerja dengan cara orang yang sedang mengejar sesuatu yang tidak ada. Aku selalu paling cepat menyelesaikan kabin. Aku selalu sudah siap sepuluh menit sebelum yang lain. Aku tidak pernah duduk di ruang tunggu tanpa melakukan sesuatu.
Dan sejak Jakarta, sejak apartemen bergelas tiga itu, aku mulai — entah bagaimana menjelaskannya — mulai berhenti terburu-buru menuju tempat berikutnya.
Karena sekarang ada tempat yang sudah kutuju.
“Nes.”
“Hm.”
“Kalau Kapten Bara nanya lagi, bilang aku lagi seneng.”
Nesa menatapku lama sekali. Lalu dia tersenyum dengan cara yang membuat hidungnya berkerut.
“Iya deh.”
Hari keempat rotasi, aku mengalami satu percakapan dengan Bara yang aku ingat sampai sekarang, kata per kata.
Kami di ruang awak Juanda, jam setengah enam pagi, menunggu penerbangan pertama. Cuma kami berdua dan seorang kru senior yang tidur duduk di pojok.
Bara sedang membaca sesuatu di tabletnya. Aku sedang menatap dinding.
“Alika.”
“Iya, Kapten.”
“Bara aja.” Dia menurunkan tabletnya. “Seleksi jarak jauh dibuka bulan depan.”
“Oh ya?”
“Kamu ambil?”
Aku menoleh. “Saya?”
“Iya.”
Aku tertawa kecil. “Kayaknya nggak, Kapten.”
“Kenapa?”
Dan aku membuka mulut untuk memberikan alasan — aku sudah punya tiga alasan yang biasa kupakai, semuanya bagus, semuanya sudah kuhafal — dan tiba-tiba tidak satu pun dari ketiganya keluar.
“Berat,” kataku akhirnya.
“Berat gimana?”
“Ya base-nya pindah. Dua tahun.”
Bara mengangguk pelan. Lalu dia bertanya, dengan nada yang sama sekali biasa, seperti orang menanyakan apakah aku sudah sarapan:
“Tapi kamu sendiri sebenernya pengen nggak?”
Aku tidak menjawab selama, kalau kuhitung sekarang, mungkin delapan detik.
Delapan detik itu lama untuk sebuah pertanyaan sesederhana itu.
“Nggak tau, Kapten.”
“Bara.”
“Nggak tau, Bara.”
Dia mengangkat alis sedikit, lalu tersenyum dan kembali ke tabletnya, dan percakapannya selesai di situ. Dia tidak mendesak. Dia tidak bilang “coba deh dipikirin”. Dia benar-benar cuma bertanya, mendapat jawaban, dan menerima jawabannya.
Dan aku duduk di ruang awak itu selama dua puluh menit berikutnya dengan perasaan yang sangat, sangat aneh.
Bukan karena pertanyaannya sulit.
Karena aku baru sadar aku tidak ingat kapan terakhir kali ada orang menanyakan itu padaku.
Kamu sendiri sebenernya pengen nggak.
Mama tidak pernah bertanya. Mama bilang “ambil aja, sayang kalau nggak”. Orang yang menawariku pekerjaan ini tidak bertanya, dia bilang “wajahnya cocok”. Sistem tidak pernah bertanya, sistem cuma memberi tahu aku ada di kota mana bulan depan.
Dan Arga—
Aku berhenti di situ.
Aku mendorong pikiran itu jauh-jauh, secepat mungkin, dengan gerakan orang yang menutup laci yang salah dibuka.
Aku tidak ingin memikirkannya. Aku sedang bahagia. Aku sudah cukup lama tidak bahagia dan aku tidak akan merusaknya sendiri jam setengah enam pagi di ruang awak Juanda.
Jadi aku berdiri, membuang gelas kopiku, dan pergi mengecek kabin dua puluh menit lebih awal dari yang perlu.
Seperti biasa.
Malam itu aku mengetik ke Arga di kamar hotel di Balikpapan.
Ga, seleksi rute jarak jauh dibuka bulan depan.
Delapan detik.
Iya. Saya tahu.
Kamu tau?
Sepuluh detik.
Sistem penjadwalan yang menghitung kuotanya. Saya sudah lihat angkanya tiga minggu lalu.
Aku menatap layar.
Kamu nggak bilang.
Dua puluh dua detik.
Tidak.
Kenapa?
Dan balasannya butuh empat menit — empat menit, angka yang sudah hampir dua bulan tidak kulihat — yang seharusnya sudah cukup jadi peringatan buatku, kalau saja aku sedang memperhatikan.
Karena itu keputusan kamu, dan saya tidak mau ada di dalam ruangan waktu kamu mengambilnya.
Aku membacanya dan merasa hangat.
Sungguh. Aku benar-benar merasa hangat waktu membacanya, dan aku mengetik “kamu tuh ya” dengan senyum lebar, dan kami mengobrol satu jam lagi soal hal-hal lain, dan aku tidur dengan perasaan dicintai.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena nanti — beberapa bulan lagi, di kamar yang berbeda, dengan perasaan yang berbeda — aku akan membaca ulang kalimat yang sama persis itu.
Dan artinya sudah berubah sepenuhnya.
[Jumlah karakter: 6.207]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten reading
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby