Chapter Twenty Six
Mundur
POV: Alika Jumlah kata: 965
Dia menanyakannya lagi keesokan harinya.
Jam sembilan pagi, waktu aku sedang memakai sepatu di depan pintu, dengan koper sudah siap dan seragam sudah rapi.
“Alika.”
“Iya?”
“Kamu maunya apa?”
Aku berhenti dengan satu sepatu di tangan.
“Ga, ini jam sembilan pagi.”
“Iya.”
“Aku mau berangkat.”
“Iya. Saya cuma bertanya.” Dia bersandar ke kusen dapur dengan gelas kopi. “Kamu tidak harus menjawab.”
Aku menatapnya selama tiga detik. Lalu aku memakai sepatuku, berdiri, mencium pipinya, dan pergi.
Di lift aku menyadari mulutku sedang tersenyum sendiri seperti orang gila.
Dia menanyakannya lagi hari berikutnya. Dan berikutnya.
Lewat chat, kalau aku sedang di luar kota. Selalu di jam yang berbeda-beda supaya aku tidak bisa memperkirakan.
Kamu maunya apa?
Dan aku selalu menjawab hal yang sama:
belum tau
Dan dia selalu membalas hal yang sama:
Baik.
Tidak ada desakan. Tidak ada “coba dipikirin ya”. Tidak ada tanda apa pun bahwa dia kecewa.
Hari keenam aku kesal.
Ga, kamu nggak bosen nanyain terus?
Sembilan detik.
Tidak.
Aku jawabnya sama terus loh.
Empat belas detik.
Iya. Tapi hari ini kamu butuh sebelas detik untuk menjawab. Kemarin dua detik.
Aku menatap layar.
Kamu ngitung??
Tujuh detik.
Selalu.
Yang terjadi hari kesembilan adalah aku bertemu Bara.
Rotasi tiga hari, Surabaya–Balikpapan–Makassar. Kami belum pernah satu penerbangan lagi sejak dua bulan sebelumnya.
Dia melihatku di ruang awak dan langsung tahu.
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu — mungkin karena orang seperti Bara memang begitu, mungkin karena wajahku memang seburuk itu — tapi dia menghampiri, duduk di kursi kosong dua langkah dariku, dan berkata:
“Kamu udah daftar?”
“Belum.”
“Tinggal enam hari loh.”
“Iya.”
Dia mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi selama semenit penuh, dan aku bersyukur untuk itu.
Lalu dia berkata:
“Alika, boleh aku ngomong sesuatu?”
Aku sudah tahu apa yang akan datang.
Aku ingin mencatat itu supaya jelas: aku sudah tahu, mungkin sejak dua bulan sebelumnya, mungkin sejak pertanyaan di ruang awak Juanda jam setengah enam pagi itu.
Perempuan selalu tahu. Kami cuma pura-pura tidak, karena pura-pura tidak itu lebih sopan untuk semua orang.
“Aku pernah kepikiran buat ngajak kamu keluar,” katanya.
Aku menatap kopiku.
“Sekitar bulan Mei. Waktu kita satu rotasi enam hari itu.” Bara mengatakannya dengan sangat tenang, tanpa satu gram pun rasa malu, dan aku sadar bahwa hanya orang yang benar-benar sudah selesai yang bisa bicara seperti itu. “Terus aku nggak jadi.”
“Kenapa nggak jadi?”
“Karena aku nanya kamu satu pertanyaan dan kamu diem delapan detik.”
Aku mengangkat wajah.
“Aku nanya kamu pengen nggak ambil jarak jauh,” katanya. “Dan kamu diem lama banget. Terus kamu jawab ‘nggak tau’.”
“Terus?”
“Terus aku mikir.” Bara mengangkat bahu. “Aku mikir, orang yang butuh delapan detik buat mikirin apa yang dia mau itu bukan orang yang butuh satu lagi orang yang punya pendapat tentang hidupnya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku ini orangnya banyak maunya, Alika. Aku suka ngatur. Bukan yang jahat — yang ‘eh mending gini deh’, ‘coba ini deh’. Aku kayak gitu ke semua orang, aku sadar kok.” Dia tertawa kecil. “Kalau aku deketin kamu waktu itu, dalam enam bulan kamu bakal punya hidup yang lumayan bagus dan nggak satu pun bagiannya kamu yang milih.”
Aku menutup mata.
“Jadi aku mundur.”
“Bara.”
“Hm.”
“Kamu tau nggak kamu barusan ngomongin persis hal yang lagi aku hadapi?”
Dia menoleh.
“Cerita.”
Dan aku menceritakannya. Tidak semuanya — aku tidak menceritakan transit tiga puluh menit, itu bukan milikku untuk diceritakan — tapi bagian yang penting.
Bahwa ada laki-laki yang menolak masuk ke ruangan waktu aku memutuskan.
Bahwa aku sempat menganggapnya kejam.
Bahwa ibunya pergi bukan karena dilarang, tapi karena dua puluh tahun tidak pernah ditanya.
Bahwa sekarang laki-laki itu menanyakan pertanyaan yang sama padaku setiap hari selama sembilan hari, tanpa sekali pun mengeluh bahwa jawabanku selalu “belum tahu”.
Bara mendengarkan sampai selesai.
Lalu dia berkata sesuatu yang, aku bersumpah, membuatku hampir menangis di ruang awak jam setengah enam pagi:
“Berarti dia lebih baik dari aku.”
“Bara—“
“Nggak, serius.” Dia tersenyum, dan senyumnya sama sekali tidak pahit, dan itu yang paling membuatku sedih. “Aku mundur karena aku tau aku bakal ngatur kamu. Dia nggak mundur. Dia tetep di situ sambil belajar cara nggak ngatur kamu.”
Dia berdiri dan mengambil tasnya.
“Itu jauh lebih susah, Alika.”
Bara tidak pernah menyinggungnya lagi setelah hari itu.
Aku ingin mencatat itu, karena aku tahu bagaimana cerita seperti ini biasanya berjalan — laki-laki kedua yang jadi menyebalkan, yang mengirim pesan tengah malam, yang muncul di saat-saat rapuh.
Tidak ada.
Bulan berikutnya kami satu rotasi lagi dan dia memperlakukanku persis seperti dia memperlakukan Nesa dan Kak Vira dan semua orang: hafal namaku, keluar dari kokpit untuk bilang terima kasih setelah penerbangan yang buruk, dan sekali, waktu ada penumpang membentakku soal makanan yang habis, berdiri di belakangku sampai orang itu diam.
Dia jadi rekan kerja yang baik.
Sampai sekarang.
Dan waktu semuanya sudah selesai — jauh sekali sesudah ini, di hari yang akan kuceritakan nanti — dia yang paling keras tepuk tangannya.
Malam itu, di kamar hotel di Makassar, aku mengetik.
Ga.
Enam detik.
Iya.
Tanyain lagi dong.
Empat belas detik.
Kamu maunya apa?
Aku duduk di kasur hotel itu dengan lampu masih menyala dan koper belum dibuka, dan aku memikirkannya dengan sungguh-sungguh untuk pertama kalinya — bukan memikirkan apa yang akan membuat Mama senang, bukan memikirkan apa yang akan membuat Arga kehilangan, bukan memikirkan apa yang paling tidak mengecewakan siapa pun.
Aku memikirkan diriku sendiri.
Dan aku menemukan sesuatu di sana. Kecil, tapi ada. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun, ada sesuatu di sana yang bentuknya jelas.
Aku mengetik dengan tangan yang gemetar.
Aku mau ikut seleksinya.
Lalu, sebelum dia sempat membalas, aku mengetik lagi:
Dan aku takut banget.
Empat detik.
Iya.
Sembilan detik.
Dua-duanya boleh.
[Jumlah karakter: 6.378]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur reading
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby