Chapter Thirty
Conflict Detected
POV: Alika Jumlah kata: 948
Pengumumannya keluar tanggal 14, jam empat sore, lewat surel.
Aku sedang di ruang awak Ngurah Rai, menunggu penerbangan terakhir, dengan sepatu sudah kulepas di bawah kursi karena tidak ada yang bisa melihat.
Ponselku bergetar.
Aku membukanya dengan tangan yang, aku sudah menyerah untuk berpura-pura, benar-benar gemetar.
Selamat. Anda dinyatakan LULUS seleksi awak kabin rute jarak jauh.
Aku membacanya empat kali.
Lalu aku berdiri, berjalan ke toilet awak, mengunci pintu, dan berdiri menghadap cermin selama dua menit penuh tanpa melakukan apa-apa.
Bukan menangis. Aku tidak menangis.
Aku cuma berdiri di sana, menatap perempuan berumur dua puluh enam tahun dengan sanggul yang sudah enam jam dan riasan yang sudah harus diulang, dan mencoba mengenali perasaan yang sedang terjadi di dadaku.
Butuh dua menit untuk menemukan namanya.
Bangga.
Aku belum pernah merasakannya. Sungguh — dua puluh enam tahun dan aku belum pernah sekali pun merasa bangga pada sesuatu, karena kamu tidak bisa bangga pada hal yang tidak kamu pilih.
Aku memilih ini.
Aku sendiri yang menulis kalimat itu di kolom esai, jam satu pagi, dengan tangan dingin: Saya ingin tahu apa yang terjadi kalau saya memilih sesuatu untuk diri saya sendiri.
Dan ternyata yang terjadi adalah ini.
Aku mengirimnya ke Arga sebelum ke siapa pun. Sebelum Mama. Sebelum Nesa.
GA AKU LULUS
Empat detik.
Saya tahu.
Aku berhenti mengetik.
Kok tau??
Sembilan detik.
Daftar kelulusan masuk ke sistem penjadwalan jam 15.40. Dua puluh menit sebelum surel dikirim.
Kamu udah tau dari jam setengah empat dan kamu diem aja?!
Empat belas detik.
Iya. Kabar itu milik kamu. Bukan milik saya untuk diberikan.
Aku bersandar ke dinding toilet awak itu dan menutup mata dan tersenyum sampai pipiku sakit.
Lalu ponselku bergetar lagi, dan yang muncul adalah dua kata yang membuat seluruh isi dadaku hangat sekaligus:
Selamat, 2C.
Ada yang tidak dia beritahukan malam itu.
Aku baru tahu sepuluh hari kemudian, dan aku baru tahu bukan dari dia.
Begini yang terjadi, sejauh yang bisa kususun ulang.
Lulus seleksi bukan berarti berangkat.
Lulus itu tahap pertama. Setelah lulus, namamu masuk ke daftar kandidat, dan daftar itu dilepas ke sistem penjadwalan untuk diproses. Sistem yang menentukan siapa yang benar-benar dilepas dari base lama, karena melepas satu orang dari rotasi domestik berarti menggeser empat sampai enam orang lain, dan itu harus dihitung.
Ada dua puluh tiga orang lulus.
Kuota pelepasan tahun ini: sembilan belas.
Empat orang akan ditahan. Bukan dibatalkan — ditunda satu tahun, yang untuk kontrak dua tahun berarti hampir sama saja dengan dibatalkan.
Dan sistem menandai empat orang itu dengan cara yang paling dingin di dunia:
CONFLICT DETECTED — resource release blocked.
Aku salah satunya.
Aku baru tahu tanggal 24, dari Pak Anwar, yang memanggilku ke ruangannya dengan wajah orang yang tidak suka menyampaikan kabar buruk.
“Alika, kamu masuk daftar tunda.”
Aku duduk.
“Kenapa, Pak?”
“Rotasi kamu susah digeser.” Dia memutar layarnya ke arahku. “Kamu ini satu dari lima orang yang punya kualifikasi rute timur di base ini. Kalau kamu dilepas sekarang, ada empat rotasi yang harus disusun ulang total. Sistemnya nolak.”
“Terus gimana?”
“Ya nunggu tahun depan.”
Aku menatap layar itu.
Ada tabel. Ada nama-nama. Ada kolom paling kanan yang isinya kode-kode pendek, dan di baris namaku ada tulisan merah kecil yang sudah kukenal betul bunyinya dari bercandaan jam sebelas malam:
CONFLICT DETECTED.
Dan di bawahnya, satu baris lagi:
Manual override: available — Level 3 authority required.
Aku menatap baris itu sangat lama.
“Pak.”
“Hm.”
“Override itu apa?”
Pak Anwar melihat layarnya, lalu melihatku.
“Itu tombol buat maksa. Kalau ada kasus khusus, orang yang punya wewenang bisa maksa sistemnya buat ngelepas satu orang, terus sistemnya nyusun ulang sisanya.” Dia mengangkat bahu. “Tapi itu jarang banget dipakai. Jarang banget.”
“Kenapa jarang?”
“Karena yang bisa mencet cuma satu orang.”
Aku tidak menghubunginya malam itu.
Aku ingin mencatat itu, karena itu adalah malam terlama dalam sembilan bulan terakhir hidupku.
Aku duduk di kamar kos di Surabaya dari jam delapan sampai jam dua pagi, dengan ponsel di tangan, dan mengetik pesan lalu menghapusnya. Berulang-ulang.
Karena aku tahu persis apa yang sedang kupegang.
Kalau aku memberitahunya, laki-laki itu akan tahu bahwa ada satu tombol di sistem yang dia bangun sendiri yang bisa mengubah dua tahun hidupku.
Dan aku sudah sembilan bulan mengenalnya. Aku tahu persis apa artinya tombol itu buat dia.
Sepuluh tahun dia membangun seluruh dirinya di sekeliling satu janji: bahwa dia tidak akan pernah jadi orang yang menentukan hidup orang yang dia sayangi.
Dia menghapus dua puluh delapan baris kode jam sebelas lewat empat puluh malam demi janji itu. Dia menolak masuk ke ruangan waktu aku memutuskan. Dia belajar bertanya dari nol di umur dua puluh delapan tahun demi janji itu.
Dan sekarang, kalau dia ingin aku berangkat, dia harus melanggarnya.
Dan kalau dia tidak melanggarnya, aku tidak berangkat.
Sistem yang dia bangun sendiri, empat tahun lalu, untuk memastikan dia tidak akan pernah punya kuasa atas siapa pun — sistem itu baru saja menaruh seluruh kuasa itu di tangannya.
Aku mengetik untuk terakhir kalinya jam dua pagi:
Ga, aku masuk daftar tunda.
Aku menatapnya selama satu menit.
Lalu aku menghapusnya, mematikan ponsel, dan berbaring di kegelapan dengan mata terbuka sampai jam empat.
Dia menghubungiku jam sepuluh pagi.
Alika.
Iya?
Empat menit.
Empat menit.
Aku duduk tegak di kasur.
Kamu ada waktu jam berapa hari ini?
Ga, kamu udah tau ya.
Empat menit.
Sudah. Sejak tanggal 22.
Dua hari sebelum aku.
Kenapa nggak bilang?
Dan balasannya butuh tujuh menit — dan waktu datang, isinya membuat tanganku dingin sampai ke siku.
Karena saya sedang memutuskan sesuatu, dan saya tidak mau kamu ada di dalam ruangan waktu saya mengambilnya.
[Jumlah karakter: 6.220]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected reading
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby