← Standby

Chapter Twenty One

Laci

POV: Alika Jumlah kata: 920


Aku memindahkannya di bulan kelima.

Aku tidak memberitahunya. Aku tidak meminta izin. Aku cuma mengeluarkan seluruh isi laci kamar kosku ke dalam dua kantong kain, memasukkannya ke koper, dan membawanya ke Jakarta di layover berikutnya.

Empat tahun. Tiga ratus tujuh belas bungkus. Aku menghitungnya malam sebelum berangkat, di lantai kamar kos, sampai jam dua pagi.

Tiga ratus tujuh belas kamar yang kuncinya dipegang orang lain.


Aku menumpahkannya di lantai ruang tamunya.

Sungguh menumpahkan — aku membalik kantongnya dan membiarkan semuanya jatuh, dan bunyinya seperti hujan es di lantai keramik, dan tiga ratus tujuh belas bungkus kertas putih berhuruf emas menyebar sampai ke kaki meja.

Dia berdiri di ambang dapur dengan gelas di tangan.

Diam.

Aku duduk di tengahnya dengan kaki bersila dan tidak menjelaskan apa-apa.

Karena aku tidak bisa. Aku sudah mencoba menyusun kalimatnya sepanjang penerbangan dan tidak satu pun yang benar. Ini semua hidupku. Terlalu berat. Aku bawa ini ke sini. Terlalu sedikit. Aku nggak mau nyimpen ini sendirian lagi. Itu paling dekat, tapi aku tidak sanggup mengucapkannya.

Jadi aku cuma duduk di sana.

Dan Arga menaruh gelasnya, berjalan masuk, dan duduk di lantai bersamaku.

Dia tidak bertanya apa-apa.

Dia mengambil satu bungkus, membacanya, dan meletakkannya kembali. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi.

“Kamu ngapain?”

“Membaca.”

“Ada tiga ratus tujuh belas, Ga.”

“Iya.”

Dia membaca semuanya.

Aku tidak bercanda. Tiga jam empat puluh menit, di lantai, satu per satu, tanpa mengeluh sekali pun. Aku ketiduran di menit ke-sembilan puluh dengan kepala di pahanya dan bangun jam dua pagi dan dia masih di sana, masih membaca, dengan tumpukan yang sudah tersusun rapi jadi beberapa kelompok.

“Kamu ngurutin?”

“Iya.”

“Berdasarkan apa?”

Dan dia berkata, tanpa mengangkat wajah:

“Kota. Lalu jumlah. Kamu paling sering ke Makassar. Dua puluh sembilan kali.”

Aku menatap punggungnya.

“Balikpapan dua puluh empat. Denpasar dua puluh dua.” Dia meletakkan satu bungkus di tumpukan yang benar. “Dan ada satu kota yang cuma satu.”

“Yang mana?”

Dia mengangkatnya.

Kertas putih, huruf emas. JAKARTA.

“Ini,” katanya.


Aku pergi lagi keesokan paginya. Rotasi lima hari.

Waktu aku kembali, hari Rabu, jam sebelas malam, aku membuka pintu dengan kunci cadanganku sendiri dan berhenti di ambang.

Ada rak di dinding.

Kayu, sederhana, tidak ada ukiran atau apa pun. Menempel di dinding sebelah rak buku yang isinya masih setengah. Sepuluh baris.

Dan di rak itu, tersusun berdiri seperti buku, tiga ratus tujuh belas bungkus sabun.

Dikelompokkan per kota. Diurutkan dari yang paling banyak ke yang paling sedikit.

Aku berdiri di ambang pintu dengan koper masih di tangan dan tidak bisa bergerak.

“Ga?”

Dia keluar dari dapur.

“Kamu bikin ini?”

“Saya beli. Saya cuma memasangnya.”

“Kapan?”

“Kamis.”

“Kamis?! Aku baru pergi hari Rabu.”

“Iya.”

Aku meletakkan koperku dan berjalan mendekat.

Baris paling bawah — baris kesepuluh, paling dekat lantai — kosong kecuali satu bungkus di tengahnya.

Jakarta.

Sendirian, di baris kosong, dengan sembilan puluh sembilan tempat kosong di kiri dan kanannya.


“Ga.”

“Iya.”

“Raknya muat berapa?”

Dia berpikir sebentar. Bukan berpikir mencari jawaban — berpikir memutuskan apakah akan menjawab.

“Seribu dua ratus,” katanya.

Aku menoleh.

“Seribu dua ratus?”

“Iya.”

“Aku ngumpulin tiga ratus tujuh belas dalam empat tahun, Ga.”

“Iya.”

“Berarti ini muat—“

“Dua belas tahun,” katanya. “Kurang lebih. Kalau ritme kerja kamu tetap.”

Aku menatap rak itu.

Sepuluh baris kayu di dinding apartemen lantai enam paling ujung koridor, dibeli dan dipasang dalam satu hari oleh laki-laki yang tidak pernah sekali pun berkata jangan pergi, dan yang menghitung ruang kosongnya sampai dua belas tahun ke depan.

Aku tidak menangis kali ini.

Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah terlalu sering menangis di catatan ini dan aku mulai kesal pada diriku sendiri.

Yang kulakukan malam itu: aku berbalik, memeluknya dari samping, menempelkan dahiku ke bahunya, dan tidak mengatakan apa-apa selama dua menit penuh.

Dia membeku tiga detik, seperti biasa.

Lalu tangannya naik ke kepalaku.


Dua hal terjadi setelah malam itu, dan keduanya kecil, dan keduanya penting.

Yang pertama: aku mulai mengambil sabun hotel lagi.

Aku berhenti selama tiga bulan — sejak malam di Makassar, sejak aku memutuskan aku tidak butuh bukti bahwa aku pernah ada di suatu tempat.

Sekarang aku mengambilnya lagi, tiap kamar, tiap kota.

Tapi alasannya sudah berbeda.

Dulu aku mengambilnya karena tidak ada yang tahu aku di mana. Sekarang aku mengambilnya karena ada satu rak kayu di Jakarta dengan sembilan ratus delapan puluh tiga tempat kosong, dan mengisinya adalah cara paling bodoh dan paling menyenangkan untuk mengatakan aku akan pulang.

Yang kedua: aku mulai menulis di bungkusnya.

Semuanya. Tiap satu.

BALIKPAPAN — ada bayi nangis 2 jam, ibunya minta maaf 7 kali. KENDARI — Ga bilang aku ngorok. Bohong. TERNATE — kangen.

Dan tiap kali aku pulang, aku menaruhnya di rak itu sendiri, dan tiap kali aku menaruhnya aku memergoki laki-laki itu berdiri di ambang dapur, pura-pura tidak melihat.

Aku tahu dia membacanya.

Aku tahu karena suatu malam, sekitar sebulan setelah rak itu ada, aku menemukan satu bungkus yang tidak kutaruh di situ.

Dia yang menaruhnya. Aku tahu dari tulisannya — kaku, agak miring ke kiri.

JAKARTA — 21 Mei.

Aku memandanginya lama sekali sebelum aku mengerti.

21 Mei bukan tanggal aku menginap.

21 Mei itu hari Jumat di bulan Februari—

Bukan. Aku mengecek kalender.

21 Mei adalah hari kami duduk tiga jam di koridor menuju musala, di kursi yang dia lingkari di denah bandara jam tujuh pagi.

Pertemuan pertama.

Dan bungkus itu bukan dari hotel mana pun. Itu bungkus sabun kosong. Kertas polos putih, dilipat sendiri, dengan tulisan tangan yang kaku.

Aku duduk di lantai depan rak itu dan menangis.

Lagi.

Aku menyerah soal itu.


[Jumlah karakter: 6.128]