← Standby

Chapter Twenty Three

Aku

POV: Alika Jumlah kata: 1.030


Kami tidak putus.

Aku ingin menegaskan itu, karena kalau ada yang membaca catatan ini dan berhenti di bab sebelumnya, mereka akan salah mengira.

Kami tidak putus, tidak mendiamkan, tidak memblokir, tidak melakukan satu pun hal yang biasa dilakukan orang.

Kami tetap berkirim pesan setiap hari.

Itu justru yang lebih buruk.


Hari pertama, aku mengetik jam sembilan malam.

Aku udah nyampe Makassar.

Empat menit.

Bagus.

Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.

Empat menit.

Hari kedua:

Hari ini panjang banget.

Empat menit.

Istirahat.

Hari ketiga:

Ga, kamu udah makan?

Lima menit.

Sudah.


Aku ingin menjelaskan kenapa ini menghancurkanku, karena kalau dibaca sepintas ini kelihatan seperti tidak ada apa-apa.

Dia membalas. Setiap kali. Tidak sekali pun dia tidak membalas.

Tapi begini.

Selama tiga bulan pertama kami saling kenal, empat menit itu adalah kebiasaan. Dia menghapus dulu yang tidak perlu, dan yang sampai ke aku selalu versi yang sudah dia periksa.

Lalu di pagi setelah parkiran restoran di Kemang, empat menit itu jadi sepuluh detik. Dan dia sendiri yang menjelaskan kenapa: tidak ada yang perlu dihapus.

Yang artinya — dan ini yang baru kumengerti dengan benar di hotel Makassar malam ketiga itu — empat menit bukan cara dia berpikir.

Empat menit adalah jarak yang dia pasang.

Dan sekarang dia memasangnya lagi.

Bukan karena dia marah. Aku tahu dia tidak marah. Laki-laki itu tidak pernah marah padaku sekali pun dalam lima bulan.

Dia memasangnya karena dia sedang memeriksa ulang setiap kalimat sebelum keluar, supaya tidak ada satu pun yang bocor. Supaya tidak ada satu kata pun yang bisa kubaca sebagai permintaan.

Dia sedang menjaga aku dari dirinya sendiri.

Dan itu jauh, jauh lebih menyakitkan daripada kalau dia berteriak.


Nesa tahu di hari keempat.

Aku tidak menceritakannya. Nesa cuma duduk di sebelahku di ruang awak, memperhatikan wajahku selama sepuluh detik, dan berkata:

“Kak. Berantem?”

Aku tidak menjawab.

“Parah?”

“Nggak ada yang salah, Nes.”

“Kok bisa nggak ada yang salah tapi Kakak kayak gini.”

Aku memikirkannya lama.

“Dia nggak mau bilang dia mau aku tinggal,” kataku akhirnya. “Karena kalau dia bilang, aku bakal tinggal. Dan dia nggak mau aku milih gara-gara dia.”

Nesa mengerutkan dahi. “Itu... itu bagus?”

“Iya.”

“Terus kenapa Kakak sedih?”

Dan aku berkata, sambil menatap papan keberangkatan yang berkedip:

“Karena aku pengen banget dia nggak sebaik itu.”


Yang terjadi di hari kelima adalah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Ponselku bergetar jam satu pagi.

Aku di kamar hotel di Ternate. Aku belum tidur, karena aku sudah lima hari belum tidur dengan benar. Dan aku mengambilnya dengan malas, mengira itu pengumuman kru.

Arga.

Dia yang mengirim duluan.

Lima bulan kami pacaran dan aku bisa menghitung dengan jari satu tangan berapa kali laki-laki itu memulai percakapan, dan tiga di antaranya adalah kata “Pagi” yang dikirim jam lima sore waktu dia sedang berlatih.

Aku duduk.

Pesannya panjang. Sangat panjang. Lebih panjang dari apa pun yang pernah dia kirim, dan aku bisa melihat dari jam pengirimannya — 01.03 — dan dari panjangnya, bahwa dia sudah menyusunnya berjam-jam.

Saya sudah lima hari mencoba menulis ini dan semua versinya salah, jadi saya kirim yang paling tidak salah.

Kamu bilang kamu tidak tahu caranya mau sesuatu. Saya sudah memikirkan itu lima hari dan saya rasa kamu keliru. Kamu tahu caranya. Kamu mengambil tiga layover padahal kita sepakat dua. Kamu membawa tiga ratus tujuh belas bungkus sabun ke apartemen saya tanpa bertanya. Kamu menyuruh Rian membeli es krim yang tidak kamu inginkan.

Itu semua keputusan yang kamu ambil sendiri dan tidak satu pun saya minta.

Masalahnya bukan kamu tidak bisa memilih. Masalahnya kamu belum pernah memilih sesuatu yang besar, dan yang ini besar, dan kamu takut.

Itu wajar. Saya juga takut.

Aku membaca sampai situ dan tanganku sudah gemetar.

Saya tidak bisa masuk ke ruangan itu. Saya minta maaf. Bukan karena saya tidak peduli. Karena saya terlalu peduli dan saya tidak percaya pada diri saya sendiri di ruangan seperti itu.

Tapi saya salah soal satu hal, dan saya baru sadar hari ketiga.

Saya pikir kalau saya diam, saya memberi kamu ruang. Ternyata tidak. Ternyata diam itu juga sesuatu. Kamu jadi harus menebak, dan menebak itu lebih berat dari mendengar jawaban.

Jadi ini yang bisa saya berikan, dan ini jujur:

Saya tidak akan bilang apa yang saya mau kamu lakukan. Saya tidak akan pernah bilang itu, tentang apa pun, seumur hidup saya, dan saya minta maaf kalau itu terdengar dingin.

Tapi saya bisa bilang apa yang saya rasakan. Itu berbeda. Perasaan bukan instruksi.

Jadi: kalau kamu pergi dua tahun, aku akan sangat kehilangan.


Aku berhenti bernapas.

Aku membaca kalimat terakhir itu tiga kali sebelum aku mengerti apa yang membuat dadaku terasa aneh.

aku

Bukan “saya”.

Lima bulan. Ratusan ribu kata. Dan tidak sekali pun — tidak di chat, tidak di telepon, tidak di parkiran restoran waktu dia menyatakan dengan terbata-bata — laki-laki itu memakai kata “aku” untuk dirinya sendiri.

Selalu “saya”. Ke aku, ke Nesa, ke atasannya, ke tukang kunci, ke resepsionis hotel yang memandanginya selama dua puluh menit.

“Saya” itu jarak yang sopan. “Saya” itu kata yang kamu pakai supaya semua orang tahu di mana batasnya.

aku akan sangat kehilangan.

Ponselku bergetar lagi. Satu menit setelahnya.

Maaf. Kata terakhirnya salah ketik.

Aku mengetik dengan tangan yang tidak stabil.

Nggak salah ketik.

Empat menit.

Iya. Tidak salah ketik.


Kami tidak berbaikan malam itu.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena akan lebih enak kalau ceritanya berakhir di situ — pesan panjang, satu kata yang bocor, semuanya beres.

Tidak.

Masalahnya masih di sana. Pendaftaran masih dibuka sampai tanggal 22. Aku masih tidak tahu apa yang kuinginkan. Dia masih tidak akan masuk ke ruangan itu.

Yang berubah cuma satu hal.

Aku tidak lagi merasa sendirian di dalamnya.

Aku mengetik jam dua pagi, dari kamar hotel di Ternate:

Ga, aku mau ketemu Ibu kamu.

Dan kali ini balasannya butuh dua puluh dua menit — dan aku menunggunya sampai selesai, sambil duduk tegak di kasur, karena aku tahu persis seberapa besar yang baru saja kuminta.

Baik.

Hari Sabtu.


[Jumlah karakter: 6.529]