Chapter Twenty Two
Kamu Maunya Apa
POV: Alika Jumlah kata: 936
Pendaftaran seleksi rute jarak jauh dibuka tanggal 8.
Aku tahu karena pengumumannya masuk ke ponsel seluruh awak jam sembilan pagi, dan karena Nesa langsung mengirim tangkapan layarnya ke aku dengan tujuh tanda seru.
PEMBUKAAN SELEKSI AWAK KABIN RUTE JARAK JAUH Penempatan: base internasional Durasi kontrak: 24 bulan Pendaftaran ditutup tanggal 22
Dua puluh empat bulan.
Aku membacanya di kamar kos Surabaya jam sembilan pagi dengan rambut masih basah, dan hal pertama yang kurasakan bukan takut, bukan senang.
Yang kurasakan: ingin.
Kuat sekali. Tiba-tiba, dari suatu tempat di bawah tulang rusuk, seperti sesuatu yang sudah lama duduk di sana menunggu dipanggil namanya.
Dan begitu aku merasakannya, aku langsung merasa bersalah.
Aku menunggu dua hari sebelum memberitahunya.
Dua hari itu sendiri sudah jadi gejala, kalau saja aku sedang memperhatikan. Aku memberitahu Arga segalanya. Aku memberitahunya kalau roti di ruang awak Juanda diganti mereknya. Aku memberitahunya waktu ada anak kecil memanggilku “Bu Pilot”.
Dua hari aku diam soal satu-satunya hal yang kupikirkan.
Tanggal 10, jam sebelas malam, aku mengetik.
Ga, pendaftarannya udah buka.
Delapan detik.
Iya. Saya lihat.
Dan itu saja.
Aku menunggu.
Satu menit. Dua.
Terus?
Empat belas detik.
Terus apa?
Aku menatap layar cukup lama sampai mataku pedih.
Ga, aku lagi nanya pendapat kamu.
Empat menit.
Empat menit.
Angka itu — angka yang sudah tiga bulan tidak pernah kulihat lagi, yang sudah kuanggap sebagai pagar yang dibongkar di parkiran restoran di Kemang — muncul kembali di layarku jam sebelas lewat empat menit malam.
Itu keputusan kamu, dan saya tidak mau ada di dalam ruangan waktu kamu mengambilnya.
Aku menelepon.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu tau nggak kalimat itu kamu udah pernah bilang.”
Jeda.
“Iya.”
“Bulan lalu. Waktu aku bilang seleksinya bakal dibuka.” Aku duduk di lantai. “Dan waktu itu aku seneng banget dengernya. Aku inget aku senyum-senyum sendiri.”
“Iya.”
“Sekarang aku dengernya beda, Ga.”
Hening.
“Beda gimana?”
Dan aku, yang sudah menyusun ini dua hari di kepalaku, tetap tidak bisa mengucapkannya dengan benar.
“Kamu nggak ada,” kataku.
“Saya di sini.”
“Bukan itu maksudnya.”
“Alika—“
“Aku ngajak kamu ke dalem ruangan itu, Ga. Aku ngajak. Dan kamu bilang kamu nggak mau masuk.”
Hening panjang.
“Karena kalau saya masuk,” katanya pelan, “kamu akan memilih yang saya mau.”
“KAMU BAHKAN NGGAK KASIH TAU AKU KAMU MAUNYA APA.”
Aku berteriak. Di kamar kos, jam sebelas lewat, dengan dinding yang tipis dan tetangga yang besok pagi akan menatapku aneh.
“Karena itu yang saya jaga—“
“Ga, aku nggak tau caranya mau sesuatu.”
Dan di situ suaraku pecah, dan aku berhenti berteriak, dan yang keluar setelahnya lebih pelan dan jauh lebih buruk.
“Aku nggak tau caranya,” ulangku. “Aku dua puluh enam tahun, Ga. Jurusan kuliah aku dipilihin Mama. Kerjaan ini dipilihin orang yang liat muka aku di acara kampus. Kota tempat aku bangun besok pagi dipilihin sistem. Wajah aku di baliho tol itu bahkan aku nggak pernah bilang iya, aku cuma dateng ke pemotretan karena disuruh.”
Aku menekan pangkal hidungku.
“Semua orang selalu bilang apa yang mereka mau dari aku. Dan aku ambil yang paling nggak bikin orang kecewa. Itu cara aku milih, Ga. Itu satu-satunya cara yang aku punya.”
Hening.
“Dan sekarang ada satu orang yang aku pengen banget denger maunya apa—“ Suaraku hilang. “—dan dia satu-satunya orang di dunia yang nggak mau ngomong.”
Dia diam sangat lama.
Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa mendengar kursinya. Aku bisa mendengar dia hampir bicara tiga kali dan berhenti tiga kali.
“Alika.”
“Iya.”
“Kalau saya bilang saya ingin kamu tetap di sini,” katanya, “kamu akan tetap di sini?”
Aku menutup mata.
Karena jawabannya iya.
Jawabannya iya dan kami berdua tahu itu, dan itulah seluruh masalahnya.
“Iya,” kataku.
“Nah.”
Satu kata. Dan aku tahu persis apa yang ada di kepalanya waktu mengucapkannya, karena aku sudah lima bulan mengenal laki-laki itu, dan aku sudah pernah mendengar cerita tentang seorang perempuan yang selama dua puluh tahun bilang bahwa dia yang memilih.
“Ga—“
“Saya tidak bisa,” katanya. Dan suaranya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, terdengar seperti orang yang sedang memohon. “Saya tidak bisa jadi orang di ruangan itu. Kamu tidak tahu bagaimana rasanya dari dalam. Dari dalam rasanya persis sama dengan sayang. Persis sama, Alika. Saya tidak akan bisa membedakannya dan waktu saya sadar sudah dua puluh tahun.”
“Terus aku harus gimana?!”
“Kamu putuskan sendiri.”
“AKU NGGAK BISA.”
“Kamu bisa.”
“AKU NGGAK PERNAH BISA, GA. NGGAK SEKALI PUN SEUMUR HIDUP AKU.”
Dan hening yang datang setelah itu adalah hening yang berbeda dari semua hening yang pernah ada di antara kami.
Bukan hening orang yang sedang menghapus kalimat yang tidak perlu.
Hening orang yang tidak punya kalimat sama sekali.
Aku pulang lebih awal keesokan paginya.
Layoverku masih tersisa enam jam. Aku pergi jam tujuh, sebelum dia bangun — laki-laki itu tidur jam empat, dia tidak akan sadar sampai jam sepuluh.
Aku meninggalkan kunci cadangan di meja.
Bukan untuk mengembalikannya. Aku ingin mencatat itu, karena aku sempat berdiri di situ selama lima menit penuh menatap kunci itu di telapak tanganku dan aku tahu persis apa artinya kalau kutinggalkan.
Aku menaruhnya di meja lalu mengambilnya lagi.
Lalu menaruhnya lagi.
Lalu mengambilnya lagi dan memasukkannya ke saku dan keluar dari apartemen itu dengan pintu ditutup sangat pelan.
Di lift aku menangis dengan cara yang sangat efisien — tiga puluh detik, lalu berhenti, lalu memperbaiki riasan pakai kamera depan ponsel, karena aku terbang jam sembilan dan seratus delapan puluh orang tidak butuh tahu.
Di baris tempat rak kayu itu, sebelum aku pergi, ada satu tempat kosong yang seharusnya kuisi malam itu.
Sabun dari kamar hotel Balikpapan. Masih di kantong depan koperku.
Aku membawanya pergi.
[Jumlah karakter: 6.125]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa reading
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby