Chapter Thirteen
Kunci Cadangan
POV: Alika Jumlah kata: 1.078
Aku mengajukan permintaan rute ke Pak Anwar dua minggu kemudian.
Prosedurnya persis seribet yang dia bilang. Ada formulir. Ada alasan yang harus ditulis. Ada tanda tangan atasan, ada nomor referensi, ada masa tunggu tujuh hari kerja.
Di kolom alasan permohonan, aku menulis: keperluan pribadi.
Pak Anwar membacanya, melihatku, dan bertanya, “Keperluan pribadi apa?”
“Pribadi, Pak.”
Dia menandatanganinya sambil tersenyum dengan cara yang membuatku ingin menghilang.
Tujuh hari kerja kemudian, aku punya layover Jakarta. Delapan belas jam. Dari jam empat sore sampai jam sepuluh pagi besoknya.
Delapan belas jam yang tidak disusun oleh siapa pun kecuali aku sendiri.
Apartemennya di lantai enam, unit paling ujung koridor.
Aku tahu kenapa paling ujung sebelum dia menjelaskan. Paling ujung artinya cuma satu tetangga. Paling ujung artinya tidak ada orang yang lewat di depan pintumu untuk pergi ke tempat lain.
Aku mengetuk. Dia membuka.
Dan hal pertama yang kulihat waktu dia membuka pintu bukan wajahnya.
Hal pertama yang kulihat adalah bahwa dia sudah berdiri di balik pintu itu. Bukan datang dari dalam. Berdiri. Aku tahu karena pintunya terbuka setengah detik setelah ketukan pertama.
“Kamu nungguin di balik pintu ya.”
“Tidak.”
“Ga.”
“...Iya.”
“Dari jam berapa?”
Dia tidak menjawab. Dia mengambil koperku dan masuk.
Apartemennya persis seperti yang kubayangkan, dan itu membuatku ingin tertawa dan menangis bergantian.
Satu kamar. Rapi bukan dalam arti bersih — rapi dalam arti sedikit. Sofa satu, meja satu, rak buku yang cuma terisi setengah. Tidak ada hiasan. Tidak ada foto. Tidak ada barang yang fungsinya cuma menjadi barang.
Meja kerjanya di pojok, menghadap jendela, dengan punggung ke tembok.
Dan di dapur, di sebelah teko, ada timbangan digital kecil dengan gelas takar di atasnya, disusun seperti alat laboratorium.
“Ga.”
“Iya.”
“Ini apartemen apa laboratorium?”
“Apartemen.”
“Kamu punya berapa gelas?”
Jeda. “Dua.”
“Dua?”
“Satu untuk kopi. Satu untuk air.” Dia berhenti. “Sekarang tiga. Saya beli satu kemarin.”
Aku menoleh.
Dia sudah tidak menatapku. Dia sedang menaruh koperku di dekat sofa dengan konsentrasi seorang ahli bedah.
Aku menghancurkan tempat itu dalam dua jam.
Bukan sengaja. Atau — tidak sepenuhnya sengaja.
Aku menaruh kaus kaki di sofa. Aku memindahkan bantal. Aku meletakkan gelas di meja tanpa alas dan meninggalkan lingkaran air. Aku membuka lemari es dan menemukan bahwa isinya adalah tujuh kotak makanan yang sama persis, disusun dalam dua baris.
“Ga, kenapa isinya sama semua?”
“Karena itu yang saya makan minggu ini.”
“Semingguan?”
“Iya. Sampai bosan. Nanti ganti.”
“Sekarang minggu ke berapa?”
“Kelima.”
“KELIMA?”
“Saya belum bosan.”
Aku duduk di lantai dan menutup wajah.
Lalu — dan ini bagian yang membuatku bertanya-tanya sampai sekarang kenapa aku begitu — aku berkata, dari lantai, tanpa mengangkat wajah:
“Ga, aku haus.”
“Air ada di kulkas.”
“Jauh.”
Empat detik hening.
Aku mengintip dari sela jari.
Dia berdiri di tengah ruangan, menatapku, dengan ekspresi orang yang sedang membaca dokumen dalam bahasa asing.
“Jaraknya empat meter,” katanya.
“Iya.”
“Kamu pramugari. Kamu berjalan lebih dari empat kilometer per penerbangan. Saya pernah membaca datanya.”
“Iya.”
“Jadi empat meter itu—“
“Ga.“
Dia diam. Lalu, sangat pelan, seperti orang yang baru menyadari bahwa aturan permainannya berbeda dari yang dia kira, dia berjalan ke kulkas, mengambil air, membukakan tutupnya, dan menyerahkannya padaku.
Aku menerimanya dengan senyum paling manis yang bisa kupasang.
Dia menatapku selama tiga detik.
“Kamu tidak benar-benar haus,” katanya.
“Nggak.”
“Kenapa—“
“Aku pengen liat kamu ngambilin.”
Dan laki-laki itu, demi Tuhan, mengangguk. Satu kali. Seperti orang yang baru saja mencatat sebuah parameter baru ke dalam sistem.
“Baik,” katanya.
Jam delapan malam dia mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya.
Aku sedang berbaring di sofa dengan kaki di sandaran, membaca sesuatu di ponsel, dan aku mendengar laci itu dibuka dan ditutup tiga kali sebelum akhirnya dia berjalan ke arahku.
Dia menaruh sesuatu di meja.
Kunci.
Satu, dengan gantungan plastik polos, tanpa apa-apa.
Aku duduk.
“Ini apa?”
“Kunci cadangan.”
“Buat aku?”
“Iya.”
Aku mengambilnya. Dingin, dan agak berat untuk benda sekecil itu.
“Kita baru dua minggu jadian, Ga.”
“Iya.”
“Kamu nggak buru-buru?”
Dan dia berdiri di situ dengan tangan di saku dan berkata, dengan nada yang sama sekali tidak berubah:
“Saya membuatnya bulan lalu.”
Aku mengangkat wajah.
“Bulan lalu?”
“Tiga minggu sebelum ulang tahun kamu.”
“Tapi kita belum—“
“Belum,” setujunya.
“Terus kenapa kamu bikin?”
Dia menatap lantai. Jarinya bergerak sekali di sisi celana, lalu berhenti.
“Karena saya sedang di tukang kunci untuk keperluan lain,” katanya, “dan saya berpikir kalau suatu hari nanti saya perlu memberikannya, saya tidak ingin harus menunggu tiga hari.”
“Tiga hari?”
“Tukang kunci di dekat sini tutup hari Minggu dan Senin.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Jadi kamu udah nyimpen ini sebulan.”
“Iya.”
“Kenapa nggak dikasih dari kemarin-kemarin?”
Dan di sinilah dia berhenti lama sekali, cukup lama sampai aku bisa mendengar kulkasnya berdengung di dapur.
“Saya tidak tahu caranya,” katanya akhirnya. “Saya sudah memikirkan enam cara. Semuanya salah.”
“Enam?”
“Ditaruh di tas kamu waktu kamu tidak lihat — itu buruk, kamu akan menemukannya dan bingung. Dibungkus jadi kado — itu berlebihan, kunci bukan kado. Dikirim lewat pos — itu aneh. Ditaruh di meja tanpa bilang apa-apa—“
“Itu yang barusan kamu lakuin.”
Dia berhenti.
“Iya,” katanya. “Yang keenam ternyata yang paling tidak buruk.”
Aku menangis, lagi, untuk kelima kalinya dalam tiga minggu, dan aku sudah menyerah untuk merasa malu soal itu.
Dia panik dengan cara yang sangat khas dirinya — yaitu tidak bergerak sama sekali sambil berkata, “Kalau ini terlalu cepat, saya bisa ambil lagi.”
“JANGAN DIAMBIL.”
“Baik.”
“Ga—“ Aku mengelap wajah dengan lengan. “Kamu tuh ngerti nggak sih ini artinya apa buat aku?”
Dia menggeleng, jujur.
Dan aku tidak bisa menjelaskannya. Tidak malam itu.
Karena untuk menjelaskannya aku harus menceritakan bahwa aku sudah empat tahun tidur di kamar yang kuncinya dipegang orang lain. Ratusan kamar. Setiap malam. Kartu yang dikeluarkan waktu masuk dan dikembalikan waktu keluar, dan tidak satu pun dari kamar-kamar itu yang bisa kumasuki lagi setelah aku pergi.
Aku punya laci penuh sabun karena aku tidak punya kunci apa pun.
Aku menggenggamnya dengan dua tangan dan tidak mengatakan apa-apa selama semenit penuh.
Lalu aku berkata, ke lantai:
“Ga, aku laper.”
“Mau makan apa?”
“Nggak tau.”
Empat detik.
“Itu bukan jawaban yang bisa saya proses.”
“YA MAKANYA KAMU TEBAK, ARGA.”
Dan dari tempatku duduk, dengan mata masih basah dan kunci masih di genggaman, aku melihat laki-laki itu berdiri di tengah apartemennya yang cuma punya tiga gelas, menatap langit-langit selama enam detik penuh dengan wajah orang yang sedang menyelesaikan persamaan yang tidak punya penyelesaian.
“Nasi goreng,” katanya akhirnya.
Aku tertawa sampai tersedak.
Dia benar. Tentu saja dia benar.
Variabel tetap.
[Jumlah karakter: 7.375]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan reading
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby