Chapter Twenty
Satu Jam Lebih Awal
POV: Arga Jumlah kata: 1.189
Ini yang tidak pernah kuceritakan padanya, dan aku ingin mencatatnya di sini karena aku tidak yakin akan pernah bisa mengatakannya dengan mulut.
Aku selalu datang satu jam lebih awal.
Bukan karena macet. Aku sudah menghitung macetnya; aku selalu menghitung. Dari apartemen ke terminal kedatangan, di jam mana pun, paling lama lima puluh dua menit.
Satu jam itu bukan untuk perjalanan.
Satu jam itu untuk aku.
Begini cara kerjanya, kalau ada yang perlu tahu.
Kalau aku masuk ke tempat ramai secara mendadak, ada sesuatu di kepalaku yang berhenti. Bukan panik — panik itu kata yang orang pakai dan aku tidak pernah merasa itu tepat. Yang terjadi lebih mirip layar yang terlalu banyak jendela terbuka. Semua masukan masuk dengan bobot yang sama. Suara pengeras suara, roda koper, bau, anak yang berlari, lengan yang menyerempet lenganku — semuanya penting, semuanya sekaligus, dan tidak ada satu pun yang bisa kuurutkan.
Dan waktu itu terjadi, aku tidak bisa bicara dengan benar. Aku masih bisa mengeluarkan kata, tapi kalimatnya jadi kalimat pertama — yang paling cepat, yang belum kuperiksa, yang biasanya salah.
Aku sudah lama tahu ini soal diriku. Aku sudah lama berhenti berharap itu hilang.
Yang kutemukan, sekitar umur dua puluh dua, adalah bahwa ada cara mengakalinya.
Kalau aku masuk pelan-pelan, dan tinggal cukup lama, semuanya turun sendiri. Suara-suara mulai punya urutan. Orang-orang berhenti jadi ancaman dan berubah jadi latar. Ada titik — biasanya antara menit ke-empat puluh dan ke-lima puluh — di mana keramaian itu berubah dari hal yang menimpaku jadi hal yang cuma ada.
Empat puluh sampai lima puluh menit. Aku sudah mencatatnya sejak 2019, dan angkanya konsisten.
Jadi aku memberi diriku enam puluh, karena aku tidak suka menghitung terlalu mepet.
Penerbangannya mendarat jam 21.40.
Aku sampai di terminal jam 20.35.
Aku selalu berdiri di tempat yang sama — bukan di depan pagar kedatangan, tapi sekitar lima belas meter di sebelah kiri, dekat tiang, di sisi yang tidak dilewati orang yang menarik troli.
Menit-menit pertama selalu paling buruk.
Aku berdiri di situ dan aku merasakan seluruh gedung itu masuk sekaligus. Ada empat pengumuman berbeda. Ada rombongan berseragam kuning. Ada orang yang menelepon dengan pengeras suara sambil berjalan.
Tanganku mulai bergerak di sisi paha. Aku membiarkannya. Melawannya cuma memperpanjang.
Menit kesepuluh, aku mulai bisa mendengar satu pengumuman saja, bukan empat sekaligus.
Menit kedua puluh, aku bisa membaca papan kedatangan tanpa mengulang barisnya.
Menit ketiga puluh lima, ada anak kecil menjatuhkan botol di dekat kakiku dan aku memungutnya dan mengembalikannya, dan ibunya bilang terima kasih, dan aku menjawab dengan benar dan tanpa jeda.
Menit ke-empat puluh delapan, semuanya sudah jadi latar.
Dan begitu itu terjadi, aku berhenti menghitung, dan mulai melakukan satu-satunya hal yang sebenarnya kudatangi tempat ini untuk melakukannya:
Menunggu.
Aku mau menjelaskan kenapa satu jam ini penting, dan penjelasannya lebih sederhana dari yang orang kira.
Kalau aku datang jam 21.35, aku akan berdiri di sana selama lima menit dan masih berada di menit kelima waktu dia keluar.
Dan menit kelima itu versi diriku yang paling buruk.
Di menit kelima aku tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Aku akan bilang “iya” ke semua hal karena mengurutkan kalimat butuh tenaga yang tidak kupunya. Aku akan berdiri terlalu kaku. Tanganku akan bergerak dan dia akan melihatnya, karena dia selalu melihatnya — perempuan itu memperhatikan tanganku sejak malam ulang tahunnya, dan sejak itu dia melihat tiap kali.
Dan kalau dia melihatnya, dia akan melakukan apa yang selalu dia lakukan.
Dia akan mengeluarkan aku dari situ.
Dia akan berdiri, memegang pergelangan tanganku, dan menarikku keluar dari ruangan sambil tersenyum ke semua orang dengan senyum yang dia pakai untuk bekerja. Dia melakukannya di restoran. Dia melakukannya di meja makan malam dengan empat orang, dengan menyuruh seseorang membeli es krim yang tidak dia inginkan.
Dia selalu melakukannya, dan dia melakukannya karena sayang.
Tapi kalau aku membiarkannya terjadi setiap kali dia pulang, maka setiap kali dia pulang, hal pertama yang dia kerjakan adalah mengurus aku.
Dia bekerja empat belas jam. Dia berdiri di lorong sempit dan tersenyum ke seratus delapan puluh orang yang tidak satu pun menanyakan kabarnya. Dia turun dari pesawat dengan kaki bengkak dan suara yang sudah habis.
Dan lalu dia keluar dari pintu itu, dan yang menunggunya adalah satu pekerjaan lagi.
Aku tidak mau jadi pekerjaan.
Jadi aku datang satu jam lebih awal, dan aku menyelesaikan bagian yang sulit sendirian, sebelum dia keluar.
Supaya waktu pintu itu terbuka, yang dia lihat cuma laki-laki yang berdiri diam.
Dia keluar jam 22.06.
Dia selalu paling belakang. Awak turun setelah penumpang, dan dia biasanya membantu satu-dua orang di ujung.
Dan tiap kali pintu itu terbuka dan dia muncul — koper kecil, sanggul yang sudah tujuh jam, mata yang sudah tidak bekerja dengan benar — ada sesuatu di dadaku yang bergerak dengan cara yang tidak bisa kuubah jadi angka.
Aku sudah mencoba. Aku sudah mencoba mengukurnya, karena mengukur adalah satu-satunya cara aku memahami apa pun.
Tidak bisa.
Dia melihatku dan wajahnya berubah — dan itu bagian yang paling tidak masuk akal dari seluruh urusan ini, bahwa wajah seseorang bisa berubah karena melihat aku.
“Ga.”
“Hai.”
Dan dia berjalan ke arahku, dan menempelkan dahinya ke bahuku selama mungkin empat detik tanpa mengatakan apa-apa, seperti orang meletakkan sesuatu yang berat.
Empat detik itu, sejauh yang bisa kuhitung, adalah alasan aku ada.
Malam itu dia yang menemukannya.
Bukan karena aku mengaku. Aku tidak berencana mengaku. Aku sudah melakukan ini tiga belas kali dan aku berniat melakukannya tiga belas ribu kali lagi tanpa satu pun dari itu dibicarakan.
Yang terjadi: pesawatnya mendarat empat puluh menit lebih cepat.
Angin belakang. Itu terjadi. Aku tahu itu terjadi, aku bekerja dengan data penerbangan setiap hari, dan aku seharusnya menghitungnya.
Aku sedang di menit kedua puluh dua waktu pintu itu terbuka.
Aku tahu dari wajahnya bahwa dia melihatnya.
Dia berhenti berjalan sekitar delapan meter dariku, dan berdiri di sana, dan menatap tangan kananku.
Aku memasukkannya ke saku. Terlambat.
“Ga.”
“Kamu cepat.”
“Kamu dari jam berapa di sini?”
“Baru.”
“Arga.”
Aku diam.
Dan dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga: dia tidak mendesak. Dia berjalan mendekat, mengambil tanganku dari saku, dan menggenggamnya — tanpa berkata apa-apa, di tengah terminal kedatangan Soekarno-Hatta jam sembilan lewat dua puluh malam.
Kami berjalan ke parkiran begitu.
Dia tidak bicara di lift. Dia tidak bicara di lorong. Dia baru bicara waktu kami sudah di mobil dan pintunya tertutup dan suara terminal itu hilang sepenuhnya.
“Tiga belas kali,” katanya. Bukan pertanyaan.
Aku menatap setir.
“Iya.”
“Tiap kali aku pulang malem, kamu di situ satu jam sebelumnya.”
“Iya.”
“Sendirian.”
“Iya.”
Dan perempuan itu menangis di kursi penumpang mobilku, dengan seragam masih lengkap dan sanggul yang sudah tujuh jam, dengan cara yang benar-benar tidak elegan — tangan menutup mulut, bahu berguncang, suara tertahan.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak pernah tahu harus melakukan apa.
Jadi aku duduk diam dan membiarkan tanganku digenggam terlalu erat sampai jariku mati rasa, dan aku tidak menariknya, karena menariknya akan jadi kalimat pertama — yang paling cepat, yang belum kuperiksa, yang biasanya salah.
“Kenapa nggak bilang,” katanya akhirnya.
Aku memikirkan jawabannya cukup lama.
“Karena kalau kamu tahu,” kataku, “kamu akan menyuruh saya berhenti datang.”
Dia menoleh.
“Dan saya tidak mau berhenti datang.”
[Jumlah karakter: 7.931]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal reading
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby