Chapter Twenty Seven
Bulan Kedua
POV: Alika Jumlah kata: 1.158
Aku mendaftar tanggal 19, tiga hari sebelum penutupan.
Formulirnya panjang sekali — dua belas halaman, riwayat kesehatan, tes bahasa, surat rekomendasi kapten. Aku mengisinya di apartemen lantai enam paling ujung koridor itu, di meja makan, dengan Arga duduk di seberangku mengerjakan hal lain.
Dia tidak membaca formulirku sekali pun.
Aku sempat memancingnya, sekali, dengan sengaja menggeser kertasnya ke arahnya. Dia menggesernya balik tanpa melihat.
“Kamu nggak penasaran?”
“Penasaran.”
“Terus kenapa nggak baca?”
“Karena kalau saya baca, saya akan punya pendapat,” katanya, sambil tetap mengetik. “Dan saya belum diminta.”
Aku menopang dagu dan menatapnya cukup lama.
“Ga.”
“Iya.”
“Aku minta.”
Dia berhenti mengetik.
Dan malam itu, sampai jam satu pagi, laki-laki itu membaca dua belas halaman formulir seleksi rute jarak jauh dan memberikan tujuh belas koreksi, tiga di antaranya soal tanda baca, dan satu — satu-satunya yang penting — soal bagian esai motivasi.
“Yang ini tidak jujur,” katanya, menunjuk paragraf keempat.
“Itu jujur kok.”
“Ini jujur untuk panitia seleksi.” Dia mendorong kertas itu balik. “Bukan jujur untuk kamu.”
Aku membacanya ulang.
Saya ingin mengembangkan kompetensi dan berkontribusi lebih besar bagi perusahaan.
Aku menghapusnya dan menggantinya dengan satu kalimat yang membuat tanganku dingin waktu menulisnya:
Saya ingin tahu apa yang terjadi kalau saya memilih sesuatu untuk diri saya sendiri.
Dia membacanya. Mengangguk sekali.
“Itu yang benar,” katanya.
Tesnya bulan depan. Pengumumannya dua bulan setelah itu.
Jadi kami punya jeda.
Dan yang terjadi di jeda itu adalah bulan-bulan paling manis yang pernah kupunya, dan aku akan menceritakan sebanyak mungkin darinya sebelum aku sampai ke bagian yang lain.
Dia mulai bertanya tentang hal-hal lain.
Itu yang paling kusuka. Setelah pertanyaan besar itu punya jawaban, dia tidak berhenti — dia malah menemukan bahwa bertanya itu ternyata bisa dipakai untuk apa saja.
“Alika.”
“Hm.”
“Kamu suka apartemen ini?”
Aku mengangkat wajah dari ponsel. “Hah?”
“Kamu di sini enam sampai delapan hari sebulan. Saya tidak pernah bertanya apakah kamu suka.”
“Ga, ini apartemen kamu.”
“Iya. Tapi kamu tidur di sini.”
Aku duduk. Memikirkannya.
“Sofanya keras.”
“Baik.”
“Dan kamarnya gelap banget kalau siang.”
“Baik.”
Dan dua minggu kemudian aku datang dan sofanya sudah diganti — sofa yang sama modelnya, tapi bantalannya berbeda — dan tirai kamarnya sudah diganti dengan yang tipis.
“Ga, kamu nggak harus—“
“Kamu jawab pertanyaan saya,” katanya. “Kalau saya tidak melakukan apa-apa dengan jawabannya, kamu tidak akan menjawab lagi lain kali.”
Manjaku memburuk.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena aku sadar sepenuhnya dan aku sama sekali tidak menyesal.
“Ga, ambilin tisu.”
“Kotaknya di sebelah kamu.”
“Jauh.”
“Jaraknya dua puluh sentimeter.”
“Ga.”
Dan laki-laki itu, tanpa mengangkat wajah dari laptopnya, mengulurkan tangan melewati mejaku, mengambil kotak tisu yang berjarak dua puluh sentimeter dari tanganku, menariknya lima sentimeter lebih dekat ke arahku, dan meletakkannya lagi.
“Sudah lebih dekat,” katanya.
“ARGA.”
“Kamu tidak menyebutkan seberapa dekat.”
Aku melempar bantal ke kepalanya dan meleset, dan dia mengambil bantal itu dari lantai, menaruhnya kembali di sofa dalam posisi yang benar, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Suatu malam aku minta disuapi.
Tanganku sedang tidak capek. Aku baru saja pulang dari rotasi tiga hari dan tanganku baik-baik saja dan kami berdua tahu itu.
“Ga, tangan aku capek.”
“Yang mana?”
“Dua-duanya.”
Empat detik hening.
Lalu dia mengambil piringku, menyendok, dan menyuapiku, dengan wajah yang sama sekali tidak berubah — dan yang membuatku hampir tersedak adalah bahwa dia melakukannya dengan sangat efisien, dengan takaran sendok yang konsisten, seperti orang yang sedang mengkalibrasi sesuatu.
“Kamu nyendoknya sama semua.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Supaya waktu kunyah kamu sama tiap suapan. Kalau tidak, ritmenya kacau dan kamu akan tersedak.”
Aku menaruh wajahku ke meja dan tidak bangun selama satu menit penuh.
Dan lalu, di bulan ketujuh, aku mengakui sesuatu.
Kami di lantai depan rak sabun — tempat yang entah bagaimana sudah jadi tempat kami membicarakan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan di sofa — dan dia baru saja bertanya lagi, pertanyaan hariannya, dan aku sudah menjawabnya.
Lalu aku bilang:
“Ga, aku mau ngaku sesuatu.”
“Iya.”
“Aku sering minta hal-hal yang nggak masuk akal.”
“Iya.”
“Kamu tau?”
“Iya.”
Aku duduk tegak. “Bukan itu maksudnya. Maksudnya—“ Aku menarik napas. “Maksudnya aku sengaja.”
Dia menoleh.
“Aku sengaja,” ulangku, dan suaraku sudah mulai tidak stabil. “Yang jaraknya dua puluh senti. Yang minta disuapin padahal tangan aku nggak capek. Yang tiap pagi aku ngerusak takaran kopi kamu.”
“Iya.”
“Aku ngetes kamu, Ga.”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Aku pengen liat sampai kapan kamu tahan. Aku pengen tau di titik mana kamu bakal capek terus bilang ‘ya udah ambil sendiri’. Karena semua orang bilang gitu, akhirnya. Semua orang. Mama, temen-temen, semua orang yang pernah deket sama aku. Awalnya mereka seneng aku manja terus lama-lama—“
“Alika.”
“—lama-lama mereka capek, dan aku selalu tau kapan mulainya, karena ada satu hari di mana mereka jawabnya beda dikit dan—“
“Alika.“
Aku berhenti.
Dia menatapku, dan kacamatanya melorot, dan dia tidak membenahinya.
“Saya tahu,” katanya.
“Kamu tau aku ngetes?”
“Iya.”
“Dari kapan?”
Dan laki-laki itu berkata, tanpa satu detik pun ragu:
“Bulan kedua.”
Aku menangis.
Aku sudah menyerah untuk merasa malu soal ini. Aku menangis di bab-bab sebelumnya dan aku akan menangis lagi nanti dan aku sudah berhenti menghitungnya.
“Bulan kedua,” ulangku.
“Iya.”
“Terus kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Karena kalau saya bilang, tesnya berhenti.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Dan kamu belum selesai mengetes.”
“Ga—“
“Saya mengerti kenapa kamu melakukannya,” katanya. “Kamu perlu tahu di titik mana orang menyerah. Itu masuk akal. Semua orang punya titik itu, jadi lebih baik tahu di mana letaknya daripada ditinggalkan tiba-tiba.”
Dia berhenti. Empat detik.
“Jadi saya tidak menghentikan tesnya. Saya cuma tidak menyediakan titiknya.”
“Ga.”
“Iya.”
“Titik kamu di mana?”
Dan dia berpikir. Benar-benar berpikir, dengan cara yang sama seperti waktu dia berpikir soal berat kopi atau lebar sofa atau kapasitas rak.
“Saya tidak tahu,” katanya akhirnya. “Saya belum menemukannya.”
“Kamu udah tujuh bulan diminta ngambilin air yang jaraknya empat meter.”
“Iya.”
“Dan kamu belum nemu titiknya?”
“Belum.” Dia menatap rak kayu di dinding, sepuluh baris, sembilan ratus sekian tempat kosong. “Saya sudah mencatat semuanya sejak bulan pertama. Ada dua ratus enam belas permintaan. Saya sudah mencari polanya.”
“Terus?”
“Polanya ada,” katanya. “Setiap kali kamu meminta sesuatu yang tidak masuk akal, kamu baru pulang dari rotasi yang panjang, atau baru bicara dengan ibu kamu, atau baru dapat penumpang yang membentak.”
Aku menahan napas.
“Jadi permintaannya bukan tentang air,” katanya. “Kamu tidak sedang menguji apakah saya akan capek. Kamu sedang memeriksa apakah masih ada.”
Dia menoleh.
“Dan itu bisa saya sediakan tanpa batas. Karena itu tidak memakan apa-apa dari saya.”
Malam itu aku tidur di kamar, bukan di sofa.
Dan waktu aku bangun jam tiga pagi karena kebiasaan yang belum hilang, dia tidak ada di sebelahku.
Aku menemukannya di ruang tamu, duduk di lantai depan rak sabun, dengan ponsel di tangan dan layar menyala di kegelapan.
“Ga?”
Dia menutup ponselnya terlalu cepat.
“Kamu ngapain?”
“Tidak ada.”
“Ga.”
“Menulis,” katanya.
“Nulis apa?”
Dan dia berkata — sambil memasukkan ponsel ke saku, sambil berdiri, sambil berjalan ke arahku dengan tangan terulur:
“Yang kelima.”
[Jumlah karakter: 7.993]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua reading
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby