Chapter Twenty Five
Pintu yang Salah
POV: Arga Jumlah kata: 1.145
Dia memberitahuku tiga hari kemudian, di apartemen, jam sebelas malam, sambil duduk di lantai depan rak sabun itu.
Aku ingat posisinya karena aku ingat semua hal yang tidak penting dari malam itu — bahwa dia memakai kausku yang kepanjangan, bahwa ada satu bungkus di baris keempat yang miring dan aku ingin membetulkannya tapi tidak jadi, bahwa kulkas berdengung dua kali.
Aku ingat semua itu karena aku tidak ingin mengingat bagian yang lain.
“Ga, aku mau cerita sesuatu yang Ibu kamu bilang.”
Aku duduk di sofa. “Iya.”
Dan dia menceritakannya.
Pelan sekali, dengan hati-hati, seperti orang yang menyerahkan benda tajam dengan gagangnya lebih dulu.
Aku tidak bilang apa-apa waktu dia selesai.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur: aku tidak menangis, aku tidak marah, aku tidak melakukan satu pun hal yang barangkali seharusnya dilakukan orang.
Yang terjadi di kepalaku adalah sesuatu yang lebih mirip perangkat lunak.
Ada sebuah asumsi yang sudah kupakai selama sepuluh tahun. Dari asumsi itu aku membangun seluruh sistem — cara aku bicara, cara aku memilih pekerjaan, cara aku memperlakukan satu-satunya orang yang pernah kusayangi seperti ini.
Dan asumsi itu barusan dinyatakan salah.
Bukan salah sedikit. Bukan perlu disesuaikan.
Salah dari akarnya.
“Ga?”
“Sebentar.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Ga, muka kamu—“
“Sebentar,” kataku lagi, dan aku mendengar suaraku sendiri keluar dengan cara yang tidak biasa, dan aku melihat dia berhenti bicara.
Dia tidak memaksa.
Perempuan itu duduk di lantai depan rak kayu berisi tiga ratus tujuh belas bungkus sabun, memeluk lututnya, dan menunggu selama sembilan menit sampai aku bisa mengeluarkan satu kalimat.
Aku menghitungnya. Sembilan menit dua puluh detik.
Tidak ada satu orang pun dalam hidupku yang pernah menunggu selama itu.
Begini yang kupikirkan selama sembilan menit itu.
Ada dua cara mengambil kehendak seseorang.
Cara pertama: kamu beri tahu dia apa yang harus dia lakukan. Itu cara bapakku. Itu yang kelihatan. Itu yang bisa ditunjuk orang dan dibilang nah, itu.
Sepuluh tahun aku membangun seluruh diriku sebagai bantahan terhadap cara pertama. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun. Aku tidak pernah bilang aku mau apa. Aku menghapus dua puluh delapan baris kode di jam sebelas lewat empat puluh malam. Aku menolak masuk ke ruangan waktu dia memutuskan hidupnya sendiri, dan aku bangga pada penolakan itu, dan aku menyebutnya menghormati.
Cara kedua: kamu tidak pernah bertanya.
Dan cara kedua itu tidak kelihatan sama sekali.
Cara kedua bahkan tidak punya nama. Tidak ada yang bisa menunjukmu dan bilang nah, itu, karena kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu cuma diam. Kamu cuma sopan. Kamu cuma memberi ruang.
Dan ruang yang tidak pernah ditanyai isinya apa, lama-lama, bukan lagi ruang.
Itu ruang tunggu.
Ibuku menunggu di sana dua puluh tahun.
Aku memikirkan lima bulan terakhir dan menghitung.
Berapa kali aku bertanya apa yang dia inginkan?
Bukan pertanyaan teknis. Bukan “mau makan apa” — itu pertanyaan logistik, itu bukan yang kumaksud.
Maksudku pertanyaan yang isinya dia. Kamu maunya apa. Kamu pengennya gimana. Kamu sebenarnya kepengen apa dari lima tahun lagi.
Nol.
Aku menghitung ulang, karena aku tidak percaya. Aku mengurutkan kembali seluruh percakapan yang bisa kuingat, dari surat pengaduan jam dua pagi sampai malam ini.
Tetap nol.
Selama lima bulan aku menyusun hidupku di sekeliling perempuan itu dengan ketepatan yang kubanggakan. Aku hafal jadwalnya tanpa membukanya. Aku menghitung berapa lama dia bisa bertahan di keramaian sebelum dia sendiri sadar. Aku memasang rak untuk dua belas tahun ke depan.
Semuanya kutebak.
Semuanya benar, dan semuanya kutebak, dan tidak sekali pun aku bertanya.
Karena bertanya berarti dia harus menjawab. Dan kalau dia menjawab, aku akan tahu apa yang dia inginkan. Dan kalau aku tahu apa yang dia inginkan, aku harus memutuskan apakah aku akan memberikannya — dan di situlah, di detik itu, aku akan mulai jadi orang yang mengatur.
Jadi aku memilih untuk tidak tahu.
Aku menyebutnya menghormati.
Namanya bukan itu.
Namanya pengecut.
“Alika.”
Dia mengangkat wajahnya dari lututnya. “Iya.”
“Saya minta maaf.”
“Buat apa?”
Dan aku sadar aku tidak bisa menjelaskan sembilan menit itu dalam satu kalimat, dan bahwa kalau aku mencoba, aku akan menjelaskannya seperti orang menjelaskan diagram — dan dia sudah cukup lama duduk di lantai.
Jadi aku melakukan hal yang paling sulit yang pernah kulakukan sepanjang hidupku, dan aku ingin mencatat bahwa itu lebih sulit dari berdiri empat puluh menit di ruangan berisi dua puluh dua orang, dan lebih sulit dari dua puluh menit di lobi hotel dengan tiga orang menatapku.
Aku turun ke lantai, duduk menghadapnya, dan bertanya.
“Kamu maunya apa?”
Dia menatapku.
“Hah?”
“Soal seleksi itu.” Aku menelan. “Bukan soal saya. Bukan soal kita. Kalau saya tidak ada di dunia ini sama sekali — kalau tidak ada satu orang pun yang akan senang atau kecewa dengan jawabannya —“
Aku berhenti. Menyusun ulang. Ini penting dan aku tidak boleh salah kalimat.
“Kamu maunya apa, Alika.”
Dan aku melihat wajah perempuan itu berubah.
Bukan senang. Itu yang mengejutkanku — aku sudah menyiapkan diri untuk senang.
Yang kulihat lebih mirip takut.
Matanya bergerak ke kiri, ke rak sabun, ke lantai. Mulutnya terbuka dan menutup. Tangannya mencengkeram ujung kausku yang dia pakai.
“Aku—“ katanya.
Lalu tidak ada apa-apa selama sepuluh detik.
“Aku nggak tau, Ga.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku beneran nggak tau. Aku udah mikirin ini dua minggu dan tiap kali aku nyoba jawab, yang keluar itu jawaban buat orang lain—“
“Alika.”
“—kayak ‘sayang kalau nggak diambil’ itu kalimat Mama, dan ‘nanti Arga gimana’ itu—“
“Alika.“
Dia berhenti.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Kamu tidak harus menjawab sekarang.”
“Terus kapan?”
Dan aku berkata — dan aku menyadari waktu mengucapkannya bahwa aku baru saja menemukan satu-satunya hal yang bisa kuberikan padanya yang bukan pemberian:
“Saya akan tanya lagi besok.”
“Hah?”
“Dan lusa. Dan minggu depan.” Aku menatapnya. “Saya akan terus tanya sampai kamu punya jawabannya. Bukan supaya kamu cepat menjawab. Supaya pertanyaannya tidak hilang lagi.”
Dia menutup mulut dengan dua tangan.
“Ibu saya menunggu dua puluh tahun untuk ditanya sekali,” kataku. “Kamu tidak akan menunggu.”
Dia menangis, dan aku sudah tahu dia akan menangis, dan untuk pertama kalinya dalam lima bulan aku tidak panik.
Aku menariknya ke dadaku dan membiarkannya, dan menghitung napasnya sampai turun, dan tidak berkata apa-apa sama sekali karena aku sudah belajar bahwa dia tidak butuh kalimat waktu begini.
Jam dua pagi dia tertidur di lantai, di depan rak itu, dengan kepala di pahaku.
Aku duduk di situ sampai jam lima.
Bukan karena aku tidak bisa memindahkannya. Aku bisa. Aku sudah pernah melakukannya sekali dan aku tahu dia tidak akan bangun.
Aku duduk di situ karena aku sedang menyusun kalimat.
Bukan kalimat untuk besok. Kalimat yang jauh lebih panjang dari itu, yang sudah kutulis empat kali dan tidak pernah kukirim, dan yang malam itu — untuk pertama kalinya sejak aku menulisnya — kubuka lagi dan kubaca ulang dari awal.
Yang keempat masih terlalu panjang.
Aku mulai menulis yang kelima jam setengah empat pagi, di ponsel, dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ada di rambutnya.
Aku belum menyelesaikannya sampai berbulan-bulan kemudian.
[Jumlah karakter: 7.560]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah reading
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby