← Standby

Chapter Seventeen

Empat Orang

POV: Alika Jumlah kata: 1.048


Aturannya begini, dan aku baru tahu persisnya di bulan ketiga:

Kalau Arga harus bicara dengan lebih dari tiga orang sekaligus, dia butuh dua jam sendirian setelahnya.

Bukan kira-kira. Bukan “biasanya”. Tiga adalah batas atas, dan di atas tiga sistemnya mulai kelebihan beban, dan dua jam adalah waktu pemulihan yang sudah dia hitung sendiri selama bertahun-tahun dengan cara yang sangat khas dirinya.

“Kamu ngitungnya gimana?” tanyaku waktu pertama kali dia menjelaskannya.

“Saya catat.”

“Catat apa?”

“Berapa lama sampai saya bisa membaca satu halaman tanpa mengulang kalimat pertamanya.”

Aku menatapnya. “Kamu punya datanya?”

“Sejak 2019.”

Ya Tuhan.


Nesa mengajukan permintaan resmi tiga minggu setelah dia tahu.

“Kak. Aku mau ketemu.”

“Nes—“

“Kak Alika.” Dia meletakkan ponselnya di meja seperti orang menaruh berkas. “Aku udah tiga bulan denger cerita tentang cowok yang nyisipin transit di roster Kakak—“

“Kecil banget suaranya, Nes.”

“—dan aku belum pernah liat mukanya kecuali dari jauh di parkiran. Kak, aku ini sahabat Kakak. Aku punya hak konstitusional.”

Aku menghela napas.

“Berapa orang?”

Nesa mengerjap. “Hah?”

“Berapa orang yang mau ikut.”

“Ya... aku, terus Kak Vira, terus Dita—“

“Tiga.”

“Sama Rian.”

“Empat.”

“Iya, empat. Kenapa emangnya?”

Aku menutup mata.


Aku menjelaskannya ke Arga malam itu, dan aku menjelaskannya dengan hati-hati sekali, seperti orang yang menyampaikan diagnosis.

Ga, Nesa mau ketemu kamu. Sama tiga orang lagi.

Total empat.

Kamu nggak harus mau. Serius. Aku bisa bilang kamu sibuk.

Balasannya datang di detik kesebelas.

Empat.

Iya.

Detik kesembilan belas.

Berapa lama?

Makan malam. Dua jam kali ya?

Empat puluh detik.

Boleh.

Aku menatap layar.

Ga, kamu yakin?

Detik kedua belas.

Empat itu satu di atas tiga.

Kalau saya tidak pernah mencoba satu di atas tiga, tiga akan jadi batas permanen.


Restoran itu kupilih sendiri, dan aku memilihnya seperti orang menyusun operasi militer.

Meja di pojok. Punggung ke tembok — kursi itu kududuki dulu dan kupindahkan tasku ke situ dua puluh menit sebelum dia datang, supaya tidak ada yang mengambilnya. Jauh dari pengeras suara. Jam setengah tujuh, sebelum ramai.

Nesa memperhatikanku menata semua itu dengan mata menyipit.

“Kak, ini kenapa ribet banget.”

“Nggak ribet.”

“Kakak mindahin kursi tiga kali.”

“Nes.”

Dan Nesa — yang meskipun berisik itu sebetulnya perempuan paling peka yang kukenal — berhenti bertanya, melihat kursi pojok itu, lalu melihatku, dan tidak berkata apa-apa lagi.


Dia datang jam setengah tujuh kurang lima menit.

Kemeja polos. Rambut yang masih kelewat satu kali potong — aku sudah dua kali menawarkan menemani dan dua kali ditolak dengan alasan teknis.

Dia duduk di kursi pojok tanpa harus diberi tahu.

“Ini Arga,” kataku.

Dan yang terjadi berikutnya adalah salah satu momen paling menyiksa dan paling lucu dalam hidupku.

Empat orang menyapa sekaligus.

“Halo!” “Eh akhirnya!” “Kak Alika cerita terus loh!” “Bro, salam kenal!”

Aku melihat wajahnya. Tidak berubah. Sama sekali.

Tapi tangan kanannya, di sisi paha, sudah mulai.

Satu-dua-tiga-empat.


Empat puluh menit pertama berjalan seperti wawancara kerja yang diselenggarakan oleh orang yang tidak profesional.

“Jadi kerjanya apa, Ga?”

“Penjadwalan.”

“Penjadwalan apa?”

“Awak kabin.”

Hening.

“...Maksudnya yang bikin roster?” Kak Vira meletakkan sendoknya. “Yang tiap tanggal 20 itu?”

“Iya.”

Empat orang menoleh ke arahnya secara bersamaan dengan ekspresi yang sama persis, dan aku menyaksikan seorang laki-laki introvert menjadi orang paling penting di meja dalam waktu satu koma lima detik.

“BRO.” Rian condong ke depan. “Bro, aku bulan lalu dapet standby lima hari berturut-turut.”

“Saya tidak menyusunnya secara manual.”

“Tapi kamu yang bikin sistemnya.”

“Iya.”

“YA BERARTI KAMU.”

Arga berpikir empat detik.

“Secara teknis, iya.”

Rian menutup wajahnya dengan dua tangan. Kak Vira tertawa sampai batuk. Dita mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari sesuatu dan aku tahu persis apa yang sedang dia cari.

Dan Nesa — Nesa tidak tertawa.

Nesa memperhatikan.


Serangan Nesa datang di menit ke-lima puluh, seperti yang sudah kuduga.

“Ga.”

“Iya.”

“Aku mau nanya.”

“Silakan.”

Nesa meletakkan garpunya.

“Kak Alika bilang kamu dulu nyisipin transit tiga puluh menit di jadwal dia. Selama sembilan bulan.”

Meja itu diam.

Aku ingin menghilang ke dalam lantai. Aku ingin menendang tulang kering Nesa. Aku ingin—

“Iya,” kata Arga.

“Kenapa?”

Dan dia menjawabnya. Semuanya. Terminal 2 hari Jumat sore, pilar, dua puluh menit, botol air, perempuan yang berdiri membelakanginya menghadap arus orang selama empat menit lalu pergi tanpa menunggu terima kasih.

Dia menceritakannya dengan nada yang sama seperti waktu dia menjelaskan kenapa air pesawat rasanya beda.

Waktu dia selesai, tidak ada yang bicara selama beberapa detik.

Lalu Nesa bertanya, dan suaranya sudah berubah:

“Terus kenapa nggak pernah turun?”

“Karena saya tidak berhak menentukan di mana dia berada.”

“Tapi kamu udah nentuin. Kamu yang nyisipin transitnya.”

“Iya.” Arga menatap meja. “Itu sebabnya saya menghapusnya.”

“Kapan?”

“Malam ketiga setelah dia tahu.”

“Sebelum dia balik?”

“Iya.”

Nesa menatapnya lama sekali.

Lalu dia menyandarkan punggungnya ke kursi, mengambil garpunya lagi, dan berkata — ke arahku, bukan ke arah Arga:

“Ya udah. Aku nggak jadi mukulin.”


Di menit ke-tujuh puluh dua, aku melihat tangannya.

Masih mengetuk. Sudah lebih cepat.

Dan bahunya sudah naik sedikit, dan dia sudah dua kali menjawab pertanyaan dengan satu kata yang sebenarnya butuh tiga.

Aku tidak bilang apa-apa ke dia.

Aku menoleh ke Rian.

“Ri, tolong dong beliin es krim di depan. Yang cokelat.”

“Hah? Sekarang?”

“Sekarang. Aku ngidam.”

“Kak, kamu nggak hamil.”

“RIAN.”

Rian berdiri sambil menggerutu dan pergi.

Dan begitu pintu restoran menutup di belakangnya, jumlah orang di meja itu turun dari lima jadi empat — yang artinya, di luar Arga, tinggal tiga.

Aku menoleh ke arahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Dia sedang menatapku.

Dan jarinya sudah berhenti.

Dia tidak mengatakan apa pun. Dia tidak berterima kasih. Dia cuma menatapku selama mungkin dua detik dengan ekspresi yang tidak berubah sama sekali, lalu kembali menjawab pertanyaan Kak Vira soal kenapa kuota cuti Desember selalu habis.

Tapi di bawah meja, tangannya yang tadi mengetuk berpindah.

Ke tanganku.

Dan tidak pergi lagi selama sisa malam itu.


Di parkiran, setelah semua orang pulang, aku bertanya.

“Ga. Berapa tadi?”

“Satu jam empat puluh tiga menit.”

“Butuh dua jam sendiri?”

Dia berpikir. Lama. Enam detik.

“Tidak tahu,” katanya. “Ini pertama kalinya ada faktor yang tidak ada di data saya.”

“Faktor apa?”

Dan laki-laki itu berkata, sambil membukakan pintu mobil untukku, tanpa menatapku sama sekali:

“Ada satu orang di meja itu yang menghitung untuk saya.”


[Jumlah karakter: 7.108]