← Standby

Chapter Nineteen

Jam Tiga Pagi

POV: Alika Jumlah kata: 950


Bulan berikutnya aku dapat rotasi regional panjang.

Enam hari, empat negara, dan satu layover dua puluh dua jam di kota yang tidak pernah kudatangi sebelumnya. Zona waktunya beda satu jam ke belakang dari Jakarta, yang kedengarannya sedikit, tapi satu jam itu ternyata cukup untuk membuat segalanya meleset.

Waktu aku bangun, dia baru mau tidur.

Waktu aku selesai bekerja, dia sedang di tengah rapat yang dia ikuti dari kolom obrolan.

Waktu aku punya waktu luang, dia tidak.

Tiga hari pertama kami cuma bertukar dua belas pesan. Itu jumlah yang biasa kami habiskan dalam satu jam.

Dan di hari ketiga, di kamar hotel di kota yang bahkan namanya belum bisa kuucapkan dengan benar, aku menyadari sesuatu yang membuatku duduk diam cukup lama:

Aku kesepian.

Bukan kesepian yang biasa. Aku sudah empat tahun kesepian dan aku sudah berdamai dengan versi itu — kesepian yang datar, yang tidak sakit, yang cuma ada seperti latar belakang.

Yang ini berbeda.

Yang ini kesepian karena tahu persis apa yang sedang tidak ada.


Aku mengetik jam sebelas malam waktu setempat.

Ga, aku kangen.

Dan langsung menghapusnya.

Aku menghapusnya bukan karena malu. Aku menghapusnya karena aku baru sadar aku belum pernah mengatakannya, dan karena aku takut kalau aku mengatakannya duluan, dia akan mengatakannya balik karena merasa harus.

Aku duduk di kasur hotel itu selama sepuluh menit sambil menatap kolom pesan kosong.

Ternyata aku sudah tertular lebih parah dari yang kukira.

Akhirnya aku mengetik:

Ga, kamu tidur jam berapa?

Empat belas detik.

Belum tidur.

Di sana jam berapa?

Sembilan detik.

Setengah satu.

Kamu lagi ngapain?

Sebelas detik.

Kerja.

Aku menatap layar.

Lalu aku mengetik satu hal yang, kalau ada orang lain di kamar itu, akan membuatku ingin masuk ke dalam koper.

Video call bentar boleh?

Empat detik.

Boleh.


Wajahnya muncul di layar dengan penerangan yang buruk sekali.

Cuma lampu meja. Setengah wajahnya kuning, setengahnya gelap. Kacamatanya memantulkan layar laptop. Rambutnya — masih. Masih.

“Hai.”

“Hai.”

Dan kami berdua tidak mengatakan apa-apa selama beberapa detik, dan aku menyadari bahwa hening bersama dia lewat layar rasanya sama saja dengan hening bersama dia di ruangan yang sama, dan itu adalah penemuan yang membuat dadaku sakit sedikit.

“Kamu keliatan capek,” katanya.

“Kamu juga.”

“Saya memang capek.”

“Kamu nggak makan ya.”

Jeda dua detik. “Sudah.”

“Jam berapa.”

Jeda lebih lama. “Jam empat sore.”

“ARGA.”

“Saya lupa.”

Aku memijat pelipisku. “Ga, sekarang setengah satu malam.”

“Iya.”

“Ambil makanan.”

“Nanti.”

Sekarang.

Dan aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti — dia diam sebentar, lalu berdiri, lalu benar-benar berjalan ke dapur, dengan laptop dibawa serta.

Layar bergoyang. Aku melihat langit-langit, lalu lantai, lalu dapur yang lampunya menyala.

“Kotak nomor berapa sekarang?” tanyaku.

“Minggu ketujuh.”

“MASIH SAMA?”

“Saya belum bosan.”

Aku menutup wajah dengan bantal dan berteriak, dan aku mendengar dia mengeluarkan bunyi napas lewat hidung yang sudah kutahu artinya apa.


Kami makan bersama malam itu.

Aku pakai nasi kotak dari hotel, dia pakai kotak minggu ketujuh, dan laptopnya disandarkan ke tumpukan buku di meja sementara ponselku kusandarkan ke kotak tisu.

Jam setengah satu di Jakarta. Setengah dua belas di tempatku.

Kami tidak membicarakan apa pun yang penting.

Dia menceritakan bahwa hari itu dia harus ikut rapat yang benar-benar tatap muka, tujuh orang, dan bahwa dia bertahan lima puluh menit dan pulang lebih awal dengan alasan yang tidak dia jelaskan ke siapa pun.

Aku menceritakan penumpang yang meminta upgrade dengan cara yang sangat kreatif.

Dia menanyakan apakah orang itu benar-benar ingin kursinya atau ingin merasa penting, dan aku bilang yang kedua, dan dia bilang itu yang paling sering.

“Kamu selalu bilang gitu.”

“Karena selalu begitu.”

Aku menopang dagu di tangan dan menatap layar itu — laki-laki kurus, penerangan kuning yang buruk, kacamata melorot, makan makanan yang sama untuk hari keempat puluh sembilan berturut-turut.

Dan aku berkata, tanpa merencanakannya:

“Ga, aku kangen.”

Aku melihat dia berhenti mengunyah.

Dia menaruh sumpitnya. Menelan. Menatap kamera — bukan layar, kamera, dan aku tahu bedanya karena tiba-tiba rasanya seperti ditatap.

Empat detik.

“Iya,” katanya.

Aku menunggu.

Enam detik.

“Saya juga.”


Aku ketiduran dengan panggilan masih menyala.

Aku ingat aku berbaring miring, ponsel disandarkan ke kotak tisu, dan aku ingat aku bilang “aku merem bentar aja” dan dia bilang “iya”.

Waktu aku bangun, jam menunjukkan pukul tiga pagi waktu setempat.

Panggilannya masih menyala.

Empat jam dua puluh menit.

Dan di layar kecil itu, dalam penerangan lampu meja yang buruk, laki-laki itu masih di kursinya. Laptop terbuka. Kacamata dipakai. Dia sedang bekerja, pelan, dengan gerakan orang yang tidak ingin berisik.

“Ga?”

Dia menoleh ke kamera. “Iya.”

“Kamu belum tidur?”

“Belum.”

“Ini jam empat pagi di sana.”

“Iya.”

“Kenapa nggak dimatiin?”

Dan dia berkata — dengan nada orang yang menyebutkan hal paling wajar di dunia, sambil kembali menatap layarnya, sambil terus mengetik:

“Kamu tidak di kota yang saya tahu.”

Aku tidak mengerti selama satu detik penuh.

Lalu aku mengerti, dan aku menutup mulut dengan tangan.

Empat tahun aku tidur di kamar yang tidak dikenali siapa pun. Ratusan kota. Ratusan kamar. Dan tiap kali aku menutup mata, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang tahu persis di mana aku berada malam itu, dan tidak ada yang akan tahu kalau ada apa-apa.

Sekarang ada.

Ada laki-laki di Jakarta yang tidak tidur sampai jam empat pagi supaya ada satu sambungan yang tetap terbuka ke kamar hotel di kota yang tidak dia kenal.

“Ga.”

“Iya.”

“Tidur.”

“Nanti.”

“Sekarang, Ga.”

Jeda.

“Kalau kamu tidur lagi, saya tidur,” katanya.

Dan aku berbaring miring, menghadap ponsel yang disandarkan ke kotak tisu, dan menutup mata sambil mendengar bunyi ketikan pelan dari kota yang jaraknya dua ribu kilometer.

Jam tiga lewat sepuluh pagi.

Itu tidur paling nyenyak yang kudapat sepanjang rotasi itu.


[Jumlah karakter: 6.293]