← Standby

Chapter Twenty Eight

Rest Period

POV: Alika Jumlah kata: 1.175


Hujan mulai jam tujuh malam dan tidak berhenti sampai pagi.

Aku ingat itu karena hujan di Jakarta selalu punya suara yang berbeda dari hujan di kota mana pun — ada bunyi air yang jatuh ke atap seng entah milik siapa, di bawah, di suatu tempat yang tidak kelihatan dari lantai enam.

Aku baru turun dari rotasi lima hari. Kakiku bengkak, suaraku habis, dan aku masuk ke apartemen itu dengan kunci sendiri jam delapan lewat.

Lampu ruang tamu sudah diredupkan.

Air hangat sudah ada di meja.

Dan tidak ada satu pun pertanyaan sebelum aku selesai mandi — itu aturan yang tidak pernah kami sepakati secara lisan, yang entah bagaimana sudah ada sejak bulan ketiga, dan yang tidak pernah sekali pun dia langgar.


Kami di sofa jam sepuluh.

Aku memakai kausnya yang kepanjangan. Dia baru selesai bekerja. Televisi tidak menyala karena tidak ada televisi di apartemen itu, dan aku sudah lama berhenti mempermasalahkannya.

Kepalaku di pahanya. Tangannya di rambutku, bergerak pelan, dengan ritme yang tidak berubah selama dua puluh menit.

“Ga.”

“Iya.”

“Kamu tau nggak, aku dulu nggak bisa tidur tanpa TV.”

“Kamu pernah cerita. Volume satu.”

“Kamu inget?”

“Bulan pertama.”

Aku memutar badanku supaya bisa melihat wajahnya dari bawah.

Dari sudut itu wajahnya kelihatan aneh — rahangnya lebih tegas, kacamatanya melorot lebih parah, dan bulu matanya lebih panjang dari yang seharusnya dimiliki laki-laki yang tidak pernah peduli pada penampilannya.

“Sekarang aku nggak butuh.”

“Iya.”

“Kamu nggak nanya kenapa?”

Dia berpikir empat detik.

“Kamu maunya saya tanya?”

Aku tertawa ke pahanya.

“Iya.”

“Kenapa?”

Dan aku berkata, sambil menatap langit-langit apartemen lantai enam paling ujung koridor itu, dengan suara yang habis setelah lima hari kerja:

“Karena TV itu buat bikin kamarnya nggak sepi. Dan sekarang kamarnya nggak sepi.”

Tangannya berhenti di rambutku.

Tiga detik.

Lalu mulai lagi.


Aku yang menciumnya duluan.

Aku selalu yang duluan, dan aku sudah lama berhenti mempermasalahkan itu juga, karena aku sudah mengerti bahwa laki-laki itu tidak pernah memulai apa pun bukan karena tidak mau, tapi karena dia tidak pernah yakin dia punya izin.

Aku bangun dari pahanya, berpindah, dan menciumnya.

Dia membeku tiga detik — tiga detik yang sudah jadi bagian favoritku dari seluruh hal ini, tiga detik yang tidak pernah hilang bahkan setelah tujuh bulan — lalu tangannya naik ke sisi wajahku.

Hujan di luar. Bunyi air ke atap seng milik entah siapa.

Aku menarik napas dan berkata, ke bibirnya, dengan jantung yang berdetak terlalu keras untuk kalimat sesederhana itu:

“Ga, aku nggak mau pulang malam ini.”

“Kamu memang tidak pulang. Kamu di sini sampai besok siang.”

“Ga.”

Dia berhenti.

Dan aku melihat dia mengerti — pelan, seperti sesuatu yang menyala satu per satu — dan aku melihat wajahnya berubah dengan cara yang belum pernah kulihat.

Dia menelan.

“Alika.”

“Hm.”

“Saya mau bertanya sesuatu.”

“Iya.”

Dan laki-laki itu — laki-laki yang tidak pernah bertanya apa pun kepada siapa pun selama sepuluh tahun, yang baru belajar bertanya tiga minggu terakhir, yang setiap hari menanyakan satu pertanyaan yang sama di jam yang berbeda-beda supaya aku tidak bisa memperkirakannya — menatapku dari jarak sepuluh sentimeter dan bertanya:

“Kamu maunya apa?”


Aku menangis dan tertawa di saat yang sama, yang ternyata bisa dilakukan manusia, dan yang ternyata sangat tidak elegan.

“Kenapa?” Panik kecil di suaranya. “Saya salah tanya?”

“Nggak.”

“Alika—“

“Kamu bener banget, Ga.” Aku mengelap mata dengan punggung tangan. “Kamu bener banget sampai aku nggak tau harus gimana.”

Dan aku menjawabnya.

Bukan dengan isyarat, bukan dengan menarik kerahnya, bukan dengan salah satu dari seribu cara yang dipakai orang supaya tidak perlu mengucapkannya.

Aku mengucapkannya. Dengan kata-kata. Keras-keras, di ruangan yang cuma ada kami berdua dan bunyi hujan.

Karena dua puluh enam tahun aku hidup dipilihkan, dan ini bukan hal yang akan kubiarkan terjadi begitu saja pada diriku.

Ini akan jadi sesuatu yang aku minta.


Yang perlu kuceritakan tentang malam itu bukan bagian yang biasanya diceritakan orang.

Yang perlu kuceritakan adalah bahwa dia berhenti tiga kali.

Tiga kali, di tengah-tengah, dia berhenti dan menatapku dan bertanya apakah ini masih yang kumau. Dan dua kali pertama aku bilang iya sambil tertawa, dan yang ketiga aku bilang “Ga, kalau kamu nanya sekali lagi aku dorong kamu dari sofa.”

Dan dia bilang, dengan wajah paling serius di dunia: “Baik. Saya berhenti bertanya.”

Lalu berhenti lagi lima menit kemudian.

Aku tidak mendorongnya dari sofa.


Yang perlu kuceritakan juga: tangannya menemukan bekas luka di pergelangan tangan kiriku, dan berhenti di situ.

Sama seperti bulan pertama. Ibu jarinya di atas garis dua sentimeter yang melengkung itu, yang tidak pernah masuk ke satu pun foto yang pernah diambil orang tentangku.

Dia tidak mengatakan apa-apa soal itu.

Dia cuma tidak melepaskannya.

Dan aku menangis lagi, dan dia panik lagi, dan aku bilang jangan berhenti dan dia bilang baik, dan lampu di ruangan itu tidak pernah dinyalakan sepanjang malam kecuali lampu meja kerjanya di pojok yang memang tidak pernah dimatikan siapa pun.


Aku bangun jam empat pagi.

Hujannya sudah berhenti. Ruangan gelap. Ada selimut di badanku yang aku tidak ingat ada di sana.

Dan Arga terjaga.

Tentu saja.

“Ga.”

“Iya.”

“Kamu belum tidur lagi?”

“Belum.”

“Kenapa?”

Aku menyiapkan diriku untuk jawaban yang biasa. Kepala kamu di sini. Kalau saya bangun, bahunya bergeser.

Yang keluar bukan itu.

“Saya sedang menghitung,” katanya.

“Ngitung apa?”

Jeda.

“Kamu tahu apa itu rest period?”

Aku tertawa pelan ke dadanya. “Ya tau lah, Ga. Aku kerjanya apa.”

“Coba sebutkan.”

“Jam wajib istirahat. Awak nggak boleh kerja. Dihitung dari sejak roda nyentuh sampai sekian jam ke depan.”

“Iya.” Dia menatap langit-langit. “Itu satu-satunya jam dalam pekerjaan kamu yang tidak boleh dipakai siapa pun. Bukan perusahaan, bukan penumpang, bukan sistem. Bahkan kalau ada penerbangan yang butuh awak dan kamu satu-satunya yang tersedia, mereka tidak boleh memanggil kamu.”

“Iya.”

“Saya yang menghitungnya,” katanya. “Tiap bulan. Untuk seribu orang. Itu bagian dari pekerjaan saya sejak empat tahun lalu.”

Aku mengangkat kepalaku sedikit.

“Terus?”

Dan dia berkata, dengan suara yang sangat pelan, ke arah langit-langit apartemen yang gelap:

“Empat tahun saya menghitung jam istirahat untuk seribu orang, dan saya tidak pernah punya satu pun untuk saya sendiri.”

Aku menahan napas.

“Saya tidak pernah berhenti, Alika. Bukan karena rajin. Karena kalau saya berhenti, tidak ada apa-apa di ruangan ini.” Jeda. “Jadi saya selalu punya yang harus dikerjakan. Sejak umur delapan belas.”

Aku menempelkan dahiku ke dadanya dan tidak mengatakan apa-apa.

“Sekarang ada,” katanya.


Kami tidur sampai jam sebelas siang keesokan harinya.

Dia tidak bangun jam sepuluh seperti biasa. Aku terbangun duluan, dan aku berbaring di situ selama empat puluh menit tanpa bergerak sama sekali — dengan lengan kesemutan dan leher yang salah posisi dan sama sekali tidak keberatan — karena laki-laki itu tidur dengan napas yang pelan dan teratur dan aku tidak akan merusaknya.

Waktu dia akhirnya bangun, hal pertama yang dia lakukan adalah melihat jam.

“Jam sebelas.”

“Iya.”

“Saya tidak pernah bangun jam sebelas.”

“Iya.”

Dan dia berbaring diam selama beberapa detik, menatap langit-langit, dengan ekspresi orang yang sedang memeriksa apakah ada sesuatu yang rusak.

“Ga?”

“Tidak ada yang tertinggal,” katanya, agak heran pada dirinya sendiri. “Saya sudah memeriksa. Tidak ada yang tertinggal sama sekali.”


[Jumlah karakter: 7.817]