Chapter Thirty Five
Standby
POV: Alika Jumlah kata: 1.323
Pesawatku mendarat di Cengkareng jam 14.10.
Aku tidak memberitahunya.
Aku ingin mencatat itu, karena aku sudah dua tahun tidak pernah menyembunyikan apa pun dari laki-laki itu, dan karena ini satu-satunya kebohongan yang pernah kulakukan padanya, dan karena aku menyusunnya selama tiga minggu dengan ketelitian yang jelas-jelas kupelajari dari dia.
Yang dia tahu: aku pulang akhir Januari.
Yang tidak dia tahu: aku sedang berjalan keluar dari pintu kedatangan Terminal 2, hari Selasa, jam dua siang, dengan koper dan seragam yang sudah tujuh belas jam dan transit tiga puluh menit yang kutulis sendiri di formulir.
Aku berjalan ke koridor itu.
Ke deretan kursi plastik di dekat papan keberangkatan. Ke yang paling ujung.
2C-114.
Aku duduk.
Tidak goyang.
Dan aku duduk di kursi yang tidak goyang itu — di terminal paling ramai di negeri ini, dengan orang-orang menyeret koper ke arah yang berbeda-beda dan empat pengumuman berbunyi sekaligus dan bau kopi waralaba bercampur bau karpet bandara yang tidak ada bandingannya di dunia — dan aku mengeluarkan ponselku.
Aku di 2C-114.
Dan aku menekan kirim, dan aku mulai menghitung.
Aku sudah memikirkan ini selama tiga minggu, dan hitungannya begini.
Kantornya sekarang di Cakung. Empat puluh menit dari sini kalau lancar, satu jam kalau tidak.
Transitku tiga puluh menit.
Yang artinya dia tidak akan sampai.
Itu bukan kesalahan hitungan. Itu memang maksudnya.
Dua tahun lalu, laki-laki itu berdiri di lantai empat gedung ini empat puluh dua kali dan tidak pernah sekali pun turun, karena dia yakin dia tidak berhak berada di ruangan yang dia sendiri yang susun.
Jadi kali ini aku yang menyusun ruangannya.
Aku yang menulis angkanya di formulir. Aku yang menandatanganinya. Aku yang menukar rotasi dengan orang lain supaya jadwalnya cocok.
Dan aku duduk di kursi ini bukan untuk ditemui.
Aku duduk di kursi ini supaya ada satu tempat di dunia, satu kali saja, di mana dia yang menunggu dan aku yang datang.
Balasannya masuk empat detik kemudian.
Iya.
Aku tersenyum ke layar.
Lalu, dua puluh detik kemudian:
Jangan pergi ke mana-mana.
Aku mengetik:
Ga, transitnya 30 menit. Kamu di Cakung.
Empat detik.
Saya tidak di Cakung.
Aku mengangkat wajahku.
Dan dia berdiri di sana.
Delapan meter. Di sudut, dekat pilar, di tempat yang tidak dilewati orang yang menarik troli — tempat yang sudah kuhafal bentuknya, karena aku sudah dua tahun melihat ruangan dengan matanya.
Kemeja polos. Kacamata melorot. Rambut yang masih, masih, kelewat satu kali potong.
Aku berdiri terlalu cepat dan kursi 2C-114 berbunyi di lantai.
“Ga—“
“Saya di sini sejak jam tujuh,” katanya.
“Jam TUJUH?”
“Iya.”
“Ga, kamu nggak tau aku hari ini!”
“Tidak tahu.”
“Terus—“
Dan laki-laki itu berkata, sambil berjalan mendekat, dengan tangan kanan yang tidak bergerak sama sekali:
“Kamu bilang akhir Januari.”
Aku berhenti bernapas.
“Ini tanggal berapa, Ga.”
“Sembilan belas.”
“Terus kamu di sini dari jam tujuh pagi sejak tanggal berapa?”
Dan dia menjawabnya dengan nada orang yang menyebutkan suhu ruangan:
“Empat belas.”
Lima hari.
Lima hari laki-laki yang tidak bisa berada di keramaian berdiri di terminal kedatangan paling padat di negeri ini dari jam tujuh pagi sampai entah jam berapa, tanpa tahu tanggal berapa aku datang, tanpa memberitahuku, tanpa mengeluh sekali pun di satu dari tiga ratus pesan yang kami tukar minggu itu.
“Ga.”
“Iya.”
“Kenapa nggak nanya aja tanggal berapa aku dateng?!”
Dia berpikir empat detik.
“Karena kamu tidak memberitahu saya,” katanya. “Dan kalau kamu tidak memberitahu saya, itu artinya kamu punya alasan. Dan alasan kamu bukan urusan saya untuk dibongkar.”
Aku menangis di tengah terminal kedatangan Soekarno-Hatta jam dua lewat sepuluh siang, dengan seragam lengkap dan sanggul tujuh belas jam dan koper yang sudah terlepas dari tanganku.
“Kamu tuh—“ Aku menekan tangan ke mulutku. “Kamu tuh gila, Ga.”
“Iya.”
“Lima hari.”
“Tiga puluh dua jam empat puluh menit, kumulatif.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Saya menghitungnya.”
Dia mengeluarkan ponselnya.
Dan aku — yang sudah dua tahun lebih mengenal laki-laki ini, yang hafal setiap kebiasaannya, yang tahu persis apa yang terjadi di kepalanya waktu dia melakukan itu — langsung tahu apa yang akan terjadi.
Sembilan bulan setelah kami bertemu, di parkiran restoran di Kemang, laki-laki ini mengeluarkan ponselnya dan aku bercanda “ya udah chat aja” dan dia memasukkannya kembali ke saku dan mengatakannya dengan mulut, terbata, jelek, dan aku menangis bukan karena kalimatnya bagus tapi karena kalimatnya jelek.
Sekarang dia mengeluarkannya lagi.
Dan kali ini dia tidak memasukkannya kembali.
Dia menyerahkannya kepadaku. Dengan dua tangan.
“Yang kelima,” katanya.
Aku membuka layarnya dengan tangan yang tidak stabil.
Dan aku sudah menyiapkan diriku — aku sudah membaca yang empat itu, aku tahu betapa indahnya tulisan laki-laki ini, aku sudah menyiapkan diriku untuk dua ribu kata yang akan menghancurkanku di tengah bandara.
Yang ada di layar itu tiga baris.
Alika.
Tujuh bulan saya menulis ini dan semuanya terlalu bagus, jadi semuanya saya hapus. Ini yang tersisa setelah semua yang tidak perlu dibuang.
Saya standby. Sudah dua tahun tujuh bulan. Saya tidak akan berhenti apa pun jawabannya.
Tapi kali ini saya minta dijanjikan sesuatu.
Aku mengangkat wajahku.
Dan dia sudah tidak berdiri.
Di terminal kedatangan Soekarno-Hatta, hari Selasa, jam dua lewat dua belas siang, di antara ratusan orang yang menyeret koper ke arah yang berbeda-beda, seorang laki-laki yang tidak bisa berada di keramaian berlutut di lantai karpet yang baunya tidak ada bandingannya di dunia.
Aku menekan kedua tangan ke mulutku.
“Ga—“
“Alika Rahmania.”
Suaranya bergetar. Kalimatnya berantakan. Dia berhenti dua kali di tengah dan harus mengulang, dan sekali dia menyebut nama depanku dua kali berturut-turut karena kehilangan tempatnya.
Tidak ada satu pun bagian dari itu yang bagus.
Dan aku berdiri di sana dan menangis, sama seperti dua tahun tujuh bulan sebelumnya di parkiran restoran di Kemang, bukan karena kalimatnya bagus —
— tapi karena aku tahu persis berapa harganya.
Orang-orang mulai berhenti. Ada yang mengeluarkan ponsel. Seseorang di belakang berteriak “TERIMA, MBAK!” dan orang-orang tertawa.
Dan laki-laki itu tidak berdiri, tidak menoleh, tidak bergerak sedikit pun.
Dia cuma menunggu.
Empat detik. Lima.
“Iya,” kataku.
Bara ada di terminal itu — dia terbang tiga jam kemudian, dan sampai sekarang aku tidak tahu apakah Arga yang memberitahunya atau kebetulan.
Dia yang paling keras tepuk tangannya.
Nesa menonton lewat panggilan video dari Juanda, karena Arga menghubunginya jam enam pagi tanggal 14 dan bilang: “Nes, saya butuh satu orang yang tahu, kalau-kalau saya salah hitung.” Dan Nesa berteriak begitu keras sampai ada dua kru dari batch lain yang menoleh, persis seperti dulu.
Ibu Ratna menerima teleponnya jam empat sore hari itu juga, dan hal pertama yang dia katakan bukan selamat.
Yang dia katakan: “Kamu nanya nggak, Nak?”
Dan anaknya menjawab: “Nanya, Bu.”
Transitku tiga puluh menit.
Aku melewatkannya. Tentu saja aku melewatkannya. Aku tidak naik pesawat itu, dan aku dapat surat teguran dari Pak Anwar dua minggu kemudian yang isinya sangat resmi dan yang di paragraf terakhirnya ada tulisan tangan kecil: selamat ya.
Kami duduk di kursi 2C-114 sampai jam empat sore.
Berdua, di satu kursi plastik yang tidak goyang lagi, di koridor Terminal 2, dengan koperku tergeletak di lantai dan seragam yang sudah delapan belas jam.
“Ga.”
“Iya.”
“Yang empat itu masih ada?”
“Masih.”
“Jangan dihapus ya.”
“Tidak akan.”
Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu tau nggak, dulu aku benci banget sama kata standby.”
“Saya tahu. Kamu bilang di bulan pertama. Kupang.”
“Kamu inget?”
“Saya ingat semuanya.”
Aku menutup mataku.
“Sekarang enggak,” kataku.
Dan laki-laki itu tidak menjawab apa-apa, karena tidak ada yang perlu dijawab, karena dia sudah menghapus semua yang tidak perlu sejak lama.
Dia cuma mengambil tangan kiriku, dan meletakkan ibu jarinya di atas bekas luka dua sentimeter yang melengkung itu — satu-satunya bagian dari tubuhku yang tidak pernah dilihat siapa pun — dan tidak melepaskannya.
Rak itu masih ada di apartemen lantai enam paling ujung koridor.
Sekarang di rumah kami, di dinding ruang tengah, di sebelah rak buku yang isinya akhirnya penuh.
Sembilan ratus tujuh belas tempat kosong.
Tinggal sebelas tahun lagi.
— SELESAI —
[Jumlah karakter: 8.757]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby reading