Chapter Five
Nama
POV: Alika Jumlah kata: 1.179
Ada yang berubah setelah telepon empat puluh detik itu, dan yang berubah bukan dia.
Yang berubah aku.
Sebelumnya aku mengetik ke sebuah kotak. Kotak itu punya kepribadian, punya kebiasaan, punya jeda lima menit dua belas detik — tapi tetap kotak. Aku bisa membayangkan apa pun di baliknya dan tidak ada yang menyanggah.
Sekarang ada suara di sana.
Dan suara itu punya tubuh. Punya kursi yang bergeser. Punya gelas yang diletakkan di meja. Punya paru-paru yang menarik napas sebentar sebelum bicara.
Aku jadi tidak bisa mengetik dengan enteng lagi. Aku mengetik “haha” dan menghapusnya karena tiba-tiba aku memikirkan bagaimana bunyinya kalau dia yang membacanya. Aku mengetik keluhan soal penumpang lalu menghapusnya karena terdengar cerewet.
Nesa akan bilang ini gejala. Aku tidak menanyakan pendapat Nesa.
Aku bertahan enam hari sebelum akhirnya bertanya lagi.
Kami sedang membicarakan hal yang benar-benar tidak penting — kenapa air di pesawat rasanya berbeda (dia menjelaskan soal tekanan kabin dan indra pengecap; aku pura-pura sudah tahu padahal tidak) — dan di sela-sela itu aku menyelipkannya, secepat mungkin, seperti orang mencuri.
Pak, nama Bapak siapa.
Menit keempat.
Kita sudah pernah membahas ini.
Itu tiga minggu lalu. Sekarang beda.
Menit kelima.
Apa yang berbeda?
Aku menatap layar. Sepuluh detik. Lalu aku mengetik hal paling jujur yang pernah kukirim ke orang itu sampai saat itu.
Sekarang saya udah denger suara Bapak.
Susah manggil orang “Pak Sistem” kalau udah tau dia nafas.
Aku menekan kirim dan langsung menaruh ponsel telungkup, seperti orang yang baru saja melempar sesuatu ke jendela tetangga.
Balasannya butuh tiga belas menit.
Aku sempat mandi. Aku benar-benar sempat mandi, dan waktu keluar, layar itu menyala.
Arga.
Satu kata.
Lalu, empat menit setelahnya:
Arga Prasetya.
Aku duduk di tepi kasur dengan handuk masih di kepala dan membaca dua kata itu sampai layarnya mati sendiri.
Dan bapak-bapak berkumis itu — yang sudah tiga minggu tinggal di kepalaku, dengan kemeja kotak-kotak dan termos dan foto cucu di meja — mati seketika. Tanpa upacara. Tanpa perlawanan.
“Arga” bukan nama bapak-bapak lima puluh tahun.
“Arga” itu nama orang yang mungkin seumuran kakakku. Nama yang pendek dan agak keras di ujungnya. Nama yang, kalau kamu panggil di ruangan ramai, tidak akan tenggelam.
Aku mengetik.
Umur Bapak berapa.
Menit keempat.
28.
DUA PULUH DELAPAN???
Menit keempat.
Iya. Kenapa.
NGGAK PAPA.
NGGAK PAPA SAMA SEKALI.
SAYA CUMA SELAMA TIGA MINGGU MEMBAYANGKAN BAPAK ITU BAPAK-BAPAK UMUR 50 PAKAI KEMEJA KOTAK-KOTAK DIMASUKIN KE CELANA SAMA PUNYA TERMOS.
Menit keenam.
Saya punya termos.
ARGA.
Menit keempat.
Itu pertama kalinya Anda memanggil saya begitu.
Aku berhenti mengetik.
Aku menatap kalimat itu, dan sesuatu di dadaku melakukan hal yang tidak kuminta.
Nah. Sekarang bagian yang penting.
Bagian yang, kalau novel hidupku ini punya penanda halaman, akan kuselipkan di sini.
Aku menunggu.
Sudah sebulan lebih aku ngobrol dengan orang ini, dan sejak surat pengaduan pertama, dia sudah punya namaku. Lengkap. Alika Rahmania. Kutulis sendiri di baris pertama formulir itu, jam dua pagi, bersama nomor ID-ku.
Dan sekarang dia baru saja memberi namanya. Yang artinya, dalam hukum tidak tertulis percakapan manusia di seluruh dunia, sekarang giliran dia melakukan itu.
Kamu tahu apa yang kumaksud dengan itu.
Itu adalah momen ketika seseorang tahu namaku, lalu berhenti sebentar, lalu kembali dengan nada yang sedikit berbeda. Kadang halus: “eh, kamu yang di iklan itu ya?” Kadang tidak halus sama sekali: kiriman tangkapan layar baliho di jalan tol, disusul tiga tanda seru.
Dan setelah itu, percakapannya tidak pernah kembali ke tempatnya semula. Selamanya. Orang itu berubah jadi orang yang sedang bicara dengan wajah, dan aku berubah jadi wajah yang kebetulan bisa bicara.
Empat tahun. Ratusan kali. Aku sudah hafal bentuk jeda sebelum itu datang.
Jadi malam itu aku menunggunya.
Aku mengetik hal-hal ringan, dan menunggu.
Sepuluh menit. Dua puluh. Kami membicarakan kenapa dia punya termos (jawabannya panjang dan melibatkan suhu air ideal untuk kopi, dan aku membacanya dua kali karena entah kenapa itu menyenangkan).
Setengah jam. Kami membicarakan hujan di Jakarta.
Empat puluh lima menit. Dia bertanya apakah aku sudah makan. Aku bilang belum. Dia bilang, di kalimat berikutnya, bahwa nasi goreng jam sebelas malam bukan makan malam melainkan sarapan yang terlalu cepat, dan aku tertawa cukup keras sampai harus mengecek dinding kamar.
Satu jam.
Tidak datang.
Dan pada titik itu aku, karena aku memang tidak bisa menahan diri, melakukan hal terbodoh yang bisa dilakukan seseorang.
Aku memancingnya sendiri.
Pak. Eh. Arga.
Bapak nggak googling saya?
Menit keempat.
Tidak.
Kenapa nggak??
Menit keempat.
Kenapa harus?
YA KAN BIASANYA ORANG GITU. Dikasih nama, terus dicari.
Balasannya butuh delapan menit.
Saya sudah punya nama Anda sejak hari pertama. Ada di formulir pengaduan.
Kalau saya mau mencari, saya sudah punya waktu sebulan.
Terus kenapa nggak dicari?
Menit keenam.
Karena Anda ada di sini.
Aku membacanya, dan aku tidak mengerti kenapa mataku panas.
Aku mengetik “maksudnya?” lalu menghapusnya, karena aku mengerti maksudnya, dan yang sebenarnya ingin kuminta adalah dia menjelaskannya lagi dengan kata-kata yang berbeda supaya aku bisa mendengarnya dua kali.
Balasannya datang duluan, sebelum aku sempat mengetik apa pun.
Kalau saya mencari Anda di internet, yang saya dapat adalah apa yang orang lain tulis tentang Anda. Atau foto yang diambil orang lain. Atau versi Anda yang disusun untuk keperluan orang lain.
Itu semua sumber sekunder.
Anda mengirim saya pesan tiap malam. Itu sumber primer.
Saya tidak paham kenapa orang lebih memilih yang sekunder padahal yang primer sedang bicara dengan mereka.
Aku menangis.
Bukan menangis yang dramatis. Menangis yang jenisnya begini: kamu duduk di tepi kasur di kamar kos di Surabaya, handuk masih di kepala, ponsel di tangan, dan tiba-tiba ada air di pipimu dan kamu bahkan tidak tahu kapan itu mulai.
Empat tahun.
Empat tahun aku jadi orang yang dilihat semua orang dan tidak dikenal siapa pun. Empat tahun setiap perkenalan dimulai dari wajahku, jadi tidak pernah sampai ke mana-mana. Empat tahun aku berpikir bahwa itu bukan masalah, karena kalau kamu bilang itu masalah, orang akan bilang kamu tidak tahu bersyukur.
Dan ada satu orang, di suatu tempat di Jakarta, jam setengah dua belas malam, yang punya namaku selama sebulan penuh dan tidak pernah sekali pun mengetiknya ke kotak pencarian.
Bukan karena dia tidak penasaran.
Karena dia sudah menemukanku dari arah yang lain.
Aku mengelap mata dengan punggung tangan, mengetik dengan jari yang agak gemetar, dan mengirim satu-satunya kalimat yang bisa kususun malam itu:
Arga.
Menit keempat.
Iya.
Nggak apa-apa. Saya cuma pengen manggil aja.
Balasannya butuh sembilan menit. Dan waktu datang, isinya cuma satu kata, dan aku menyimpannya di dalam dadaku selama berhari-hari sesudahnya seperti orang menyimpan sabun hotel di laci:
Boleh.
Malam itu, sebelum tidur, aku mengeluarkan sabun dari kantong depan koper dan menulis di pembungkusnya.
SURABAYA — malam saya tahu namanya. Dia nggak nyariin saya. Itu bagus.
Aku memandanginya sebentar.
Lalu aku menambahkan, di bawahnya, lebih kecil, dengan tulisan yang bahkan aku sendiri harus memicingkan mata untuk membacanya:
Aduh.
[Jumlah karakter: 7.772]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama reading
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby