Chapter Thirty Two
Empat Kata
POV: Alika Jumlah kata: 982
Suratnya datang tanggal 3.
PERSETUJUAN PELEPASAN AWAK — PENEMPATAN BASE INTERNASIONAL Tanggal efektif keberangkatan: 21 Januari
Aku membacanya di ruang awak Juanda dan aku tidak mengerti selama kira-kira empat detik.
Lalu aku mengerti, dan aku berdiri terlalu cepat sampai kursiku terdorong ke belakang dan Nesa menoleh dari seberang ruangan.
“Kak?”
Aku tidak menjawab. Aku sudah berjalan ke toilet awak dengan ponsel di tangan.
GA AKU DILEPAS GA MEREKA NGELEPAS AKU
Empat detik.
Iya.
KAMU YANG MENCET?
Sembilan detik.
Iya.
Aku menekan punggungku ke pintu toilet dan menutup mata dan tertawa dan menangis di saat yang bersamaan, seperti orang gila, di dalam bilik toilet awak bandara Juanda jam sebelas siang.
Ga aku sayang banget sama kamu
Enam detik.
Iya.
Empat belas detik.
Alika, saya perlu bicara. Nanti malam. Bukan lewat telepon.
Aku sampai di Jakarta jam delapan.
Dia membukakan pintu sebelum aku sempat memakai kunciku, yang artinya dia sudah berdiri di baliknya, yang artinya dia sudah berdiri di sana entah sejak jam berapa.
Kami duduk di lantai. Di depan rak sabun. Karena tentu saja.
“Ga, kamu kenapa serius banget.”
Dia diam empat detik.
Lalu dia berkata — dan aku ingat persisnya, aku akan mengingatnya seumur hidup, karena dia sudah bilang di suatu tempat bahwa dia menyusunnya selama sembilan hari:
“Saya sudah berhenti kerja.”
Empat kata.
Aku menatapnya.
“Berhenti gimana?”
“Saya mengundurkan diri. Suratnya tanggal 24 dini hari. Efektif akhir bulan.”
“Tanggal 24—“ Aku berhenti. “Ga, kamu mencet overridenya tanggal 23 malem.”
“Sebelas lewat empat puluh.”
“Terus kamu resign satu jam setelahnya?!”
“Satu jam dua puluh menit.”
Aku berdiri.
Aku tidak tahu kenapa aku berdiri. Tubuhku melakukannya sendiri, seperti orang yang perlu lebih banyak ruang untuk memuat sesuatu.
“Ga, kamu keluar dari kerjaan kamu buat aku?”
“Bukan.”
“JANGAN BOHONG.”
“Saya tidak berbohong soal ini.” Dia mengangkat wajahnya. “Kalau saya keluar untuk kamu, saya akan bilang untuk kamu. Saya tidak pernah berbohong di catatan perubahan dan saya tidak akan mulai sekarang.”
“Terus kenapa?!”
Dan dia menjelaskannya.
Pelan, dengan jeda-jeda panjang, dengan susunan yang sudah dia siapkan sembilan hari.
Bahwa dia sudah dua kali membuat sistem yang buta itu melihat satu orang. Bahwa yang kedua benar dan dia tidak menyesal dan dia akan melakukannya lagi.
“Itu masalahnya,” katanya. “Bukan bahwa saya melakukannya. Bahwa saya tahu saya akan melakukannya lagi.”
“Ga—“
“Alika, tiap tanggal 20 saya memutuskan hidup seribu orang.” Dia menatap lantai. “Siapa pulang ke anaknya. Siapa dapat standby lima hari berturut-turut. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari mereka tidak pernah saya tanya apa-apa, dan mereka tidak akan pernah tahu bahwa ada satu nama di daftar itu yang bobotnya berbeda.”
Dia berhenti.
“Sistem itu adil karena buta. Kalau matanya sudah terbuka, tidak bisa ditutup lagi.”
Aku marah semalaman.
Aku ingin mencatat itu dengan jujur karena akan lebih enak kalau ceritanya berakhir di kalimat mulia itu — laki-laki yang mundur karena prinsip, perempuan yang mengerti, tirai turun.
Tidak.
Aku marah, dan aku marah dengan cara yang buruk.
“Kamu tuh selalu gini!” Aku berjalan bolak-balik di ruangan itu. “Kamu selalu ngambil semua bebannya sendiri terus nggak bilang siapa-siapa sampai udah selesai! Sembilan bulan lantai empat! Sembilan hari nyusun kalimat! Kamu tuh kenapa nggak pernah ngajak aku ke dalem ruangannya, Ga?!”
“Karena kalau kamu ada di dalam ruangan, kamu akan menyuruh saya tidak melakukannya.”
“YA IYALAH.”
“Nah.”
Aku berhenti berjalan.
“Dan kamu akan benar,” katanya. “Kamu akan benar bahwa saya bisa bertahan. Saya bisa mengecualikan kamu dari modul. Saya bisa lapor konflik kepentingan dan minta pengawasan. Ada lima cara dan saya sudah menghitung semuanya dan semuanya berhasil.”
“Terus kenapa nggak?!”
Dan dia berdiri — dia jarang sekali berdiri waktu bicara serius — dan berkata:
“Karena kalau saya tetap di sana, saya akan menghabiskan dua tahun ke depan setiap tanggal 20 memikirkan kamu ada di mana.”
Ruangan itu jadi sunyi.
“Dan saya tidak mau tahu,” katanya, lebih pelan. “Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, saya tidak mau tahu kamu ada di mana kecuali kalau kamu yang memberitahu saya.”
Aku duduk di lantai dan menangis dengan cara yang benar-benar tidak elegan, dan dia duduk di sebelahku dan tidak melakukan apa-apa kecuali ada.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu bakal kerja apa?”
Dan di situ — untuk pertama kalinya sepanjang malam — nada suaranya berubah.
“Saya sudah punya.”
Aku mengangkat wajah.
“Ada perusahaan logistik di Cakung. Mereka menyusun rute pengiriman.” Dia mengangkat bahu, dan aku bersumpah ada sesuatu yang mirip malu di sana. “Masalahnya sama persis. Ribuan aturan yang saling menabrak, dan seseorang harus memutuskan mana yang digeser.”
“Terus?”
“Terus tidak ada satu pun manusia di dalam variabelnya. Cuma kardus.”
Aku tertawa. Di tengah menangis. Yang membuat bunyi yang sangat memalukan.
“Kardus.”
“Iya.”
“Kamu pindah dari ngurusin nasib seribu manusia jadi ngurusin kardus.”
“Iya.”
“Kamu nggak bakal bosen?”
Dan laki-laki itu berkata, sambil mengambil tanganku dan meletakkan ibu jarinya di atas bekas luka dua sentimeter yang melengkung itu:
“Kardus tidak bisa saya sayangi.”
Yang perlu kucatat sebelum bab ini selesai adalah satu hal kecil yang kutemukan tiga hari kemudian.
Aku sedang membereskan meja kerjanya — dia mengizinkan, dia tidak pernah punya apa pun yang disembunyikan — dan aku menemukan cetakan kertas di laci paling bawah.
Satu halaman. Catatan perubahan sistem.
`override(release): crew 44170 — long haul base transfer` `alasan: dia sudah ditanya, dan dia menjawab iya.`
Aku membacanya lima kali.
Bukan saya ingin dia berangkat. Bukan demi kebaikan dia. Bukan satu pun kalimat yang akan ditulis orang yang sedang membenarkan dirinya sendiri.
Dia sudah ditanya, dan dia menjawab iya.
Sepuluh tahun laki-laki itu takut jadi orang yang memutuskan hidup orang lain.
Dan waktu akhirnya dia melakukannya — satu kali, dengan wewenang penuh, dengan tombol yang cuma bisa ditekan tiga orang di seluruh perusahaan — alasan yang dia tulis di berkas resmi yang tidak akan pernah dibaca siapa pun adalah bahwa dia sudah bertanya, dan aku sudah menjawab.
Aku melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku.
Aku masih menyimpannya.
[Jumlah karakter: 6.611]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata reading
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby