Chapter Twenty Four
Ratna
POV: Alika Jumlah kata: 1.218
Rumahnya di Bogor, di gang yang cuma muat satu mobil, dengan pagar besi yang catnya sudah dua kali dilapis dan tetap kelihatan lapisan bawahnya.
Kami berangkat jam tujuh pagi. Dua jam empat puluh menit.
Arga tidak bicara sepanjang jalan tol.
Bukan diam yang biasa — bukan diam orang yang sedang menghapus kalimat yang tidak perlu. Ini diam yang lain. Dia menyetir dengan kedua tangan di setir, punggung terlalu tegak, dan sekali, waktu kami berhenti di rest area, aku melihat dia berdiri di samping mobil selama satu menit penuh tanpa melakukan apa-apa.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu terakhir ke sini kapan?”
Jeda.
“Lebaran.”
“Lebaran kapan?”
Jeda lebih lama.
“Dua tahun lalu.”
Aku tidak bertanya lagi.
Perempuan yang membuka pagar itu tingginya sepundakku.
Rambutnya sudah lebih banyak putihnya daripada hitam, diikat ke belakang dengan karet biasa. Kaus lengan panjang, celana kain longgar, sandal jepit. Tangannya kotor — ada tanah kering di sela kuku, dan dia sedang mengelapnya ke celana waktu melihat kami.
“Astaga,” katanya. “Ini beneran datang.”
Dan lalu — sebelum sempat aku mengucapkan sepatah kata pun — perempuan itu memelukku.
Bukan pelukan sopan. Pelukan yang penuh, dua tangan, dengan tepukan di punggung.
“Kamu Alika ya. Ya ampun, cantik banget. Maaf ya tangan Ibu kotor. Ibu lagi mindahin cabe dari belakang, itu tanahnya belum kering—Arga, kamu kok kurusan sih.”
“Tidak.”
“Kurusan.”
“Berat saya naik satu koma dua kilo dari terakhir—“
“Ibu nggak nanya angka.”
Aku menoleh ke Arga.
Dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat dalam lima bulan.
Dia mengalah.
Bukan menyerah — mengalah. Bahunya turun, dan dia menutup mulutnya, dan sudut bibirnya bergerak naik sedikit, kurang dari satu detik, dan dia melepas sepatunya dan masuk ke rumah itu seperti orang yang sudah tahu di mana semua barang diletakkan.
Namanya Ratna dan dia berbicara sepanjang waktu.
Aku ingin mencatat itu karena aku benar-benar tidak siap.
Aku sudah menyiapkan diriku untuk bertemu perempuan pendiam yang menyimpan luka besar — seseorang yang hati-hati, yang mengukur kalimat, yang seperti anaknya. Aku sudah menyusun tiga topik cadangan di kepalaku selama perjalanan supaya tidak ada hening yang canggung.
Aku tidak membutuhkan satu pun.
Ibu Ratna bicara tentang cabe yang harganya gila. Tentang tetangganya yang punya ayam yang berkokok jam dua pagi. Tentang sinetron yang jelek tapi dia tetap tonton. Tentang seorang laki-laki bernama Pak Hasan yang membetulkan atapnya bulan lalu dan yang, dari cara Ibu Ratna berhenti sepersekian detik waktu menyebut namanya, jelas bukan sekadar tukang atap.
“Bu,” kataku, “Pak Hasan ini—“
“Tetangga.”
“Tetangga aja?”
“Tetangga yang suka bawain nangka.” Ibu Ratna menuang teh tanpa menatapku. “Arga, jangan pasang muka begitu.”
“Saya tidak pasang muka apa-apa.”
“Kamu pasang muka.”
Aku hampir tersedak.
Setelah makan siang, Arga keluar ke belakang untuk membenahi keran yang bocor — pekerjaan yang, kalau kuperhatikan, sudah disiapkan ibunya sejak jauh-jauh hari khusus supaya anaknya punya alasan untuk keluar dari ruangan.
Ibu Ratna menunggu sampai pintu belakang tertutup.
Lalu dia menuang teh lagi, meskipun gelasku masih penuh, dan berkata:
“Dia sudah cerita tentang bapaknya?”
Aku meletakkan gelasku.
“Sudah, Bu.”
“Versi dia gimana?”
Aku ragu.
“Ceritain aja,” katanya. “Ibu penasaran udah jadi apa ceritanya sekarang.”
Jadi aku menceritakannya.
Semuanya. Jurusan yang dipilihkan, pekerjaan yang ditentukan, siapa yang boleh datang ke rumah. Dua puluh tahun mengurangi pilihan sampai tinggal satu lalu merasa lega karena yang itu yang dipilih. Minggu pagi. Bapak salah apa?
Dan kalimat yang tinggal di kepala anaknya selama sepuluh tahun: bahwa dari dalam, menyayangi dan mengendalikan itu rasanya sama persis.
Ibu Ratna mendengarkan sampai selesai tanpa menyela.
Waktu aku berhenti, dia mengangguk pelan beberapa kali. Lalu dia menghela napas dan menatap ke arah pintu belakang, ke arah suara kunci inggris yang berdenting di halaman.
“Bener semua,” katanya.
Aku menunggu.
“Tapi bukan itu alasan Ibu pergi.”
Aku menegakkan punggung.
“Bapaknya itu,” kata Ibu Ratna, “memang begitu. Semua yang Arga bilang bener. Ibu nggak bakal bela dia.”
Dia memutar gelasnya di atas meja.
“Tapi Ibu nggak pergi karena dia ngatur, Nak.”
“Terus kenapa, Bu?”
Dan perempuan itu menatapku dengan mata yang tenang sekali — mata orang yang sudah dua puluh tahun berdamai dan sudah tidak perlu menangis lagi waktu menceritakannya.
“Karena dua puluh tahun, nggak sekali pun dia nanya.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Dia selalu bilang apa yang dia mau. Selalu. Tiap hari, sopan, alasannya bagus-bagus.” Ibu Ratna mengangkat bahu. “Ibu bisa tahan itu. Ibu tahan dua puluh tahun, kan. Ibu bukan orang lemah.”
“Terus—“
“Yang nggak bisa Ibu tahan itu nunggu.” Dia menaruh gelasnya. “Dua puluh tahun Ibu nunggu satu kalimat. Satu aja. ‘Ratna, kamu sendiri maunya apa?’”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Nggak pernah.” Ibu Ratna tersenyum, dan senyumnya tidak pahit sama sekali, dan justru itu yang membuatku ingin menangis. “Bukan karena dia jahat. Dia cuma nggak kepikiran. Buat dia, kalau dia udah mikirin yang terbaik buat Ibu, ngapain nanya.”
Dia menyandarkan punggungnya.
“Ibu pergi bukan karena dilarang, Nak. Ibu pergi karena nggak pernah ditanya.”
Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.
Karena aku sedang menyusun sesuatu di kepalaku dan hasilnya membuat perutku dingin.
Kamu sendiri sebenernya pengen nggak?
Bara, di ruang awak Juanda, jam setengah enam pagi.
Delapan detik aku diam. Delapan detik untuk pertanyaan sesederhana itu, karena aku tidak ingat kapan terakhir kali ada yang menanyakannya.
Dan laki-laki yang sekarang sedang membetulkan keran di halaman belakang rumah ini — laki-laki yang sudah sepuluh tahun bersumpah tidak akan pernah jadi bapaknya, yang menghapus dua puluh delapan baris kode supaya aku bisa memilih sendiri, yang menolak masuk ke ruangan waktu aku memutuskan —
Dia juga tidak pernah bertanya.
Tidak sekali pun. Dalam lima bulan.
Dia begitu takut jadi orang yang memberi tahu, sampai dia jadi orang yang tidak pernah menanyakan.
Dan itu, ternyata, adalah luka yang sama persis.
“Bu.”
“Iya.”
“Arga tau ini?”
Ibu Ratna menggeleng pelan.
“Ibu pernah coba bilang. Waktu dia dua puluh dua, kalau nggak salah.” Dia mengangkat bahu. “Dia belum siap dengernya. Anak itu dari kecil kalau denger sesuatu yang nggak masuk sistemnya, dia simpen dulu bertahun-tahun.”
“Kenapa Ibu nggak coba lagi?”
Dan Ibu Ratna berkata, sambil mengambil gelasku yang masih penuh dan menuangnya lagi sampai luber sedikit ke tatakan:
“Karena Ibu nunggu ada orang yang lebih penting dari Ibu buat ngomongin itu.”
Dia menatapku.
“Makanya Ibu seneng banget kamu dateng.”
Di perjalanan pulang, hujan turun di sekitar Sentul dan Arga memelankan mobilnya sampai delapan puluh.
Aku menatap ke luar jendela selama dua puluh menit tanpa bicara.
“Kamu diam,” katanya akhirnya.
“Iya.”
“Ibu saya bicara terlalu banyak. Dia memang begitu.”
“Aku suka.”
Jeda.
“Iya,” katanya. “Semua orang suka.”
Dan ada sesuatu di nada itu — sangat kecil, nyaris tidak ada — yang membuatku menoleh.
“Ga.”
“Iya.”
“Kamu tau nggak kalau kamu di rumah itu jadi orang lain?”
“Tidak.”
“Kamu bantah Ibu kamu tiga kali. Kamu ngomong duluan dua kali tanpa ditanya.” Aku menghitungnya dengan jari. “Dan kamu senyum. Aku liat. Dua kali.”
Dia tidak menjawab.
Hujannya makin deras dan wiper mobilnya berbunyi dan aku memutuskan untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya ingin kukatakan malam itu.
Bukan karena aku takut.
Karena aku belum tahu bagaimana mengatakan pada seseorang bahwa dia sudah sepuluh tahun menjaga pintu yang salah — bahwa dia berdiri seumur hidupnya di depan pintu depan supaya tidak jadi bapaknya, sementara yang menghancurkan ibunya masuk lewat belakang, pelan-pelan, dua puluh tahun, dalam bentuk pertanyaan yang tidak pernah diajukan.
Aku menggenggam tangannya di atas persneling sepanjang sisa perjalanan.
Dia tidak menariknya.
[Jumlah karakter: 8.223]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna reading
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit
- 35 Standby