← Standby

Chapter Ten

Empat Puluh Menit

POV: Alika Jumlah kata: 1.175


Aku tidak pernah suka ulang tahunku.

Bukan karena umur. Karena ulang tahunku selalu jadi acara orang lain.

Nesa yang mengatur. Nesa selalu yang mengatur. Dia memesan tempat, mengundang orang, memilih kue, dan aku diberi tahu tanggal dan jamnya seperti diberi tahu jadwal terbang.

Aku tidak pernah keberatan. Nesa melakukannya karena sayang, dan aku tahu itu, dan aku selalu datang dan selalu tersenyum dan selalu pulang dengan kepala yang berdengung.

Tahun ini dua puluh dua orang.

Restoran di Kemang, meja panjang digabung, musik yang volumenya diputuskan oleh seseorang yang jelas-jelas tidak sedang duduk di dekat pengerasnya. Ada anak buah Nesa dari batch bawah, ada kru yang kukenal, ada tiga orang yang aku benar-benar tidak tahu siapa dan yang menyalamiku sambil bilang “Kak Alika! Aku follow Kakak!”

Aku duduk di tengah. Selalu di tengah. Karena aku yang ulang tahun.

Jam delapan lewat, seseorang mengangkat gelas dan bilang sesuatu yang lucu tentangku, dan semua orang tertawa, dan aku tertawa juga.

Dan aku memikirkan — dengan rasa bersalah yang sudah kukenal betul — bahwa yang paling kuinginkan malam itu adalah kamar hotel yang sepi di kota yang tidak kukenal.


Aku tidak mengundangnya.

Aku bahkan tidak memberitahunya bahwa aku ulang tahun.

Alasannya bukan karena aku tidak ingin dia datang. Alasannya karena aku sudah dua bulan tahu apa arti kata “keramaian” untuk laki-laki itu, dan mengundang dia ke ruangan berisi dua puluh dua orang rasanya seperti mengajak orang yang alergi kacang ke pabrik kacang lalu bilang tapi aku pengen kamu ada di sini.

Ada satu hal kecil yang kutulis sore itu.

Nesa ngumpulin orang malam ini. Aku nggak bisa kabur.

Menit keempat.

Berapa orang?

22.

Menit keenam.

Itu banyak.

Iya.

Dan itu saja. Dia tidak bertanya di mana, tidak bertanya jam berapa, tidak bertanya kenapa.

Aku ingat sempat merasa sedikit — sedikit sekali — kecewa. Dan langsung merasa jahat karena merasa begitu.


Aku melihatnya di menit ke-empat puluh.

Aku tahu angkanya karena dia yang memberitahuku belakangan, dan karena laki-laki itu memang menghitung segalanya.

Waktu itu aku sedang berdiri untuk ke toilet — bukan karena ingin ke toilet, tapi karena aku butuh tiga menit di ruangan yang tidak ada musiknya — dan aku berbalik dan melihat ke arah pintu.

Dan dia ada di sana.

Berdiri. Bukan duduk, tidak ada kursi di dekat pintu. Punggungnya menempel ke dinding di sebelah rak sepatu. Tidak memegang gelas, tidak memegang piring. Kemeja polos. Rambut yang masih kelewat satu kali potong.

Dan tangan kanannya.

Tangan kanannya ada di sisi paha, dan jarinya bergerak. Mengetuk. Satu-dua-tiga-empat, satu-dua-tiga-empat, terus-menerus, dengan ritme yang tidak ada hubungannya dengan musik di ruangan itu.

Aku berjalan ke arahnya dan aku tidak ingat berjalan.

“Arga.”

Dia mengangkat wajahnya. Matanya bergerak ke arahku setengah detik, lalu turun.

“Selamat ulang tahun.”

“Kamu—“ Suaraku hilang di musik. Aku mendekat. “Kamu kok tau tempatnya?”

“Kamu pernah menyebutnya.”

“Aku nggak pernah—“

“Tiga minggu lalu. Kamu sedang bercerita soal ulasan makanan yang tidak jujur, dan kamu menyebut restoran ini sebagai contoh tempat yang bagus.” Jeda. “Bukan tentang ulang tahun. Kamu cuma menyebutnya.”

Aku menatapnya.

Tiga minggu lalu. Di tengah cerita lain. Satu kalimat.

“Dan Nesa punya akun terbuka,” lanjutnya. “Dia mengunggah foto meja jam tujuh.”

“Kamu dari jam tujuh di sini?”

Dia tidak menjawab.

Aku melihat jam di dinding. Delapan lewat empat puluh.

“Arga.”

“Saya baru masuk jam delapan.” Cepat. Terlalu cepat, untuk ukuran dia. “Sebelumnya saya di parkiran.”


Aku menariknya keluar.

Aku tidak bertanya. Aku memegang pergelangan tangannya — pertama kali aku menyentuhnya sejak sebelas detik di gerbang 7 — dan menariknya melewati pintu, melewati koridor, keluar ke area parkir yang lampunya kuning dan sepi dan bau aspal yang baru kena hujan sore.

Begitu pintu tertutup di belakang kami, dia menarik napas.

Satu tarikan, panjang, seperti orang yang baru muncul ke permukaan air.

Dan jarinya berhenti mengetuk.

“Kenapa kamu masuk,” kataku.

“Kamu ulang tahun.”

“Arga, aku nggak ngundang kamu. Aku sengaja nggak ngundang. Karena aku tau—“

“Saya tahu kamu sengaja.”

Aku berhenti.

Dia menatap aspal. Kacamatanya melorot dan kali ini dia mendorongnya naik, sekali, dengan jari telunjuk.

“Kamu tidak mengundang saya supaya saya tidak harus datang,” katanya. “Saya paham. Itu baik.”

“Terus—“

“Tapi ada bedanya antara tidak harus datang dan tidak boleh datang.” Dia berhenti empat detik. “Kalau saya tidak datang karena kamu membebaskan saya, maka setiap ulang tahun kamu setelah ini, saya juga tidak akan datang. Karena kamu akan terus membebaskan saya.”

Aku membuka mulut dan tidak ada yang keluar.

“Saya tidak mau jadi orang yang selalu dimaklumi,” katanya, ke aspal. “Kalau saya selalu dimaklumi, lama-lama saya tidak ada di mana-mana.”


Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Bungkusan kecil. Dibungkus kertas cokelat, direkat dengan selotip bening yang jelas dipasang oleh orang yang tidak pernah membungkus kado seumur hidupnya — sudutnya tidak rata, selotipnya tiga lapis.

“Ini.”

Aku membukanya di bawah lampu parkiran kuning itu.

Sabun.

Sabun hotel. Yang kecil itu. Dibungkus kertas putih dengan nama hotel dicetak di depannya dalam huruf emas.

Dan di bawah nama hotelnya, dalam huruf kecil:

JAKARTA.


Aku tidak bisa bicara selama beberapa detik.

“Kamu nginep di hotel?” akhirnya keluar, dan suaraku sudah aneh.

“Tidak.”

“Terus—“

“Saya masuk ke lobinya,” katanya. “Saya bilang saya butuh satu sabun kamar. Resepsionisnya bertanya nomor kamar saya. Saya bilang saya tidak menginap.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Dia bilang itu tidak bisa. Saya bilang saya akan membayar.” Jeda. “Dia memanggil supervisornya.”

“Ya Tuhan.”

“Ada tiga orang di meja itu akhirnya. Semuanya melihat saya.”

“Arga—“

“Saya di sana dua puluh menit.” Dia masih menatap aspal. “Itu bagian yang paling sulit dari seluruh hari ini. Bukan yang di dalam tadi.”

Aku menangis.

Berdiri di parkiran restoran di Kemang, dengan sabun hotel di telapak tangan, di ulang tahunku yang ke-dua puluh enam, aku menangis dengan cara yang benar-benar tidak elegan sambil mencoba tidak merusak riasan yang sudah dipuji dua puluh dua orang.

“Kamu nggak ngerti,” kataku, dan suaraku rusak di tengah. “Kamu nggak ngerti kenapa ini—“

“Saya mengerti.”

Aku mengangkat wajah.

“Kamu bilang sabun itu bukti bahwa kamu pernah ada di suatu tempat,” katanya, pelan. “Dan kamu tidak pernah menginap di Jakarta. Empat tahun.”

Napasku berhenti.

“Jadi di laci kamu tidak ada Jakarta.” Dia berhenti lama. Lima detik. Enam. “Saya cuma ingin ada.”


Di dalam, dua puluh dua orang sedang menyanyikan lagu ulang tahun untuk seseorang yang tidak ada di ruangan.

Aku tahu karena aku bisa mendengarnya, samar, lewat pintu.

Aku tidak masuk.

Aku duduk di kap mobil orang yang tidak kukenal, memegang sebatang sabun seharga entah berapa yang dibayar dengan dua puluh menit paling mengerikan dalam hidup seorang laki-laki, dan dia berdiri satu meter di depanku dengan tangan di saku dan tidak berkata apa-apa.

Nesa mengirim pesan. KAK DI MANA

Aku mematikan layar.

“Arga.”

“Iya.”

“Ini ulang tahun terbaik yang pernah aku punya.”

Dia diam empat detik.

“Kamu belum makan kuenya.”

“Aku nggak peduli sama kuenya.”

Dan aku bersumpah — di bawah lampu parkiran kuning yang jelek itu, dengan sabun di tanganku dan riasan yang sudah hancur — aku melihat sudut mulutnya bergerak naik.

Satu kali. Sedikit sekali. Kurang dari satu detik.

Tapi ada.


[Jumlah karakter: 7.802]