← Standby

Chapter Three

Variabel Tetap

POV: Alika Jumlah kata: 1.176


Ada satu laci di kos-kosanku yang tidak pernah kubuka kalau ada orang lain di kamar.

Bukan karena isinya memalukan. Isinya cuma sabun.

Sabun hotel. Yang kecil-kecil itu, yang dibungkus kertas dengan nama hotel dicetak di depannya, yang selalu terlalu wangi dan selalu habis di pemakaian ketiga. Aku mengambilnya dari tiap kamar yang pernah kutiduri, sejak bulan kedua aku terbang.

Empat tahun. Satu laci penuh. Tidak ada label, tidak ada urutan, tidak ada catatan.

Aku tidak pernah menceritakannya ke siapa pun. Bahkan ke Nesa, yang tahu berat badanku dan nama mantan-mantanku dan bahwa aku menangis di toilet Ngurah Rai tahun lalu karena hal yang sampai sekarang tidak mau kuingat.

Kupikir kalau diceritakan, kedengarannya akan seperti penyakit.


Malam itu aku di Kupang, dan aku sedang tidak dalam kondisi terbaikku.

Bukan karena apa-apa. Cuma hari yang panjang. Dua penerbangan, satu penumpang yang bersikeras bahwa tasnya muat di kabin padahal tidak, satu bayi yang menangis selama dua jam empat puluh menit dan ibunya yang meminta maaf ke seluruh baris sampai aku ingin memeluknya.

Dan waktu aku masuk kamar hotel, aku melakukan hal yang selalu kulakukan tanpa berpikir: aku mengambil sabun di wastafel, mengelapnya dengan handuk, dan memasukkannya ke kantong depan koper.

Lalu aku duduk di tepi kasur dan tiba-tiba merasa sangat, sangat konyol.

Pak, boleh cerita hal aneh?

21.14.

Boleh.

Saya ngumpulin sabun hotel.

Tiap kamar yang saya tidurin, saya ambil sabunnya. Udah 4 tahun. Satu laci penuh. Saya nggak pakai, nggak jual, nggak kasih ke siapa-siapa. Cuma numpuk aja.

Saya baru sadar itu aneh banget waktu ngetik ini.

Aku mengirimnya dan langsung ingin menariknya kembali.

Aku tahu apa yang akan datang. Aku sudah menyiapkan diriku untuk salah satu dari tiga hal: lucu juga, atau itu namanya hoarding, atau — yang paling buruk — ya nggak apa-apa kok dengan nada orang yang sedang sopan.

Balasannya datang di menit ketujuh.

Kenapa sabun? Kenapa bukan struk, atau kunci kamar, atau foto?

Aku menatap layar.

Itu bukan salah satu dari tiga.

...saya nggak tau. Nggak pernah kepikiran kenapa.

Menit keenam.

Coba pikirkan sekarang. Saya tunggu.

Aku tertawa pendek, sendirian, di kamar hotel yang AC-nya terlalu dingin.

Lalu aku benar-benar memikirkannya.

Aku memikirkannya cukup lama sampai layar ponselku mati sendiri dan aku harus menyalakannya lagi.

Kayaknya... karena sabun itu satu-satunya hal di kamar hotel yang bakal habis.

Handuk dicuci, dipakai orang lain. Sprei diganti. Gelas dicuci. Semuanya balik lagi kayak nggak pernah ada saya di situ.

Sabunnya nggak. Sabun itu buat saya. Kalau saya nggak ambil, dia dibuang.

Jadi kalau saya ambil, artinya ada satu benda di dunia ini yang bisa buktiin bahwa saya pernah ada di kamar itu.

Aku menekan kirim.

Lalu aku menambahkan, cepat-cepat, karena aku panik:

Ini kedengeran gila ya.

Menit kesembilan.

Tidak.

Itu masuk akal. Anda tidur di kota yang berbeda hampir tiap malam. Otak manusia menyimpan ingatan dengan menempelkannya ke tempat. Kalau tempatnya terus berganti dan semuanya mirip, ingatannya tidak punya pegangan.

Jadi Anda membuat pegangannya sendiri.

Orang yang tinggal di satu rumah tidak butuh itu. Mereka punya dinding yang sama tiap hari. Anda tidak punya. Anda cuma punya sabun.

Aku membaca kalimat terakhirnya tiga kali.

Anda cuma punya sabun.

Aku tidak tahu kenapa itu membuat mataku panas. Itu kalimat yang menyedihkan, kalau dibaca sendirian. Tapi cara dia menulisnya tidak menyedihkan sama sekali. Cara dia menulisnya seperti orang yang sedang menjelaskan kenapa sebuah mesin bekerja — tanpa kasihan, tanpa penilaian, cuma keterangan.

Ada bedanya antara dikasihani dan dimengerti. Aku baru tahu bedanya malam itu.

Bapak nggak nganggep saya aneh?

Menit kelima.

Saya menyeduh kopi pakai timbangan digital. Sampai satu koma nol gram.

Saya tidak dalam posisi menganggap orang lain aneh.

Aku tertawa sampai harus menutup mulut, karena dinding hotel di Kupang tipis dan sudah jam sepuluh malam.


Setelah itu percakapannya jadi lebih longgar. Seperti ada pintu yang dibuka dan tidak ditutup lagi.

Aku cerita soal kebiasaanku yang lain — bahwa aku selalu memesan hal yang sama di tiap kota baru, nasi goreng, tanpa alasan, karena kalau ada satu hal yang tetap maka kotanya tidak terasa terlalu asing.

Dia bilang itu namanya variabel tetap. Bilangnya persis begitu, seperti istilah kerja, dan aku suka sekali punya nama untuk sesuatu yang selama empat tahun cuma jadi kebiasaan tanpa nama.

Lalu dia bertanya sesuatu yang tidak kuduga.

Bagian mana dari pekerjaan Anda yang paling tidak Anda suka?

Aku mengetik “penumpang” lalu menghapusnya. Mengetik “jam kerja” lalu menghapusnya juga.

Standby.

Menit keempat.

Kenapa?

Bapak tau standby kan.

Itu status kalau saya jadi awak cadangan. Saya harus siap seharian penuh. Nggak boleh jauh dari rumah, nggak boleh minum, nggak boleh janjian sama siapa-siapa, harus udah mandi dan siap berangkat dalam 90 menit kalau ditelepon.

Dan biasanya nggak ditelepon.

Jadi saya duduk di kamar seharian, udah dandan lengkap, nungguin telepon yang nggak dateng. Terus jam 9 malem status saya selesai dan hari itu udah lewat.

Itu hari paling capek dalam sebulan dan saya nggak ngapa-ngapain.

Aku mengirimnya, lalu menambahkan:

Nunggu tanpa dijanjiin apa-apa itu capeknya beda.

Balasannya butuh empat belas menit.

Aku sempat mengira dia ketiduran.

Iya. Beda.

Cuma itu.

Dan entah kenapa, dari semua paragraf panjang yang sudah dia kirim ke aku selama tiga minggu terakhir, dua kata itu yang paling lama kupikirkan.


Jam sebelas lewat, aku memutuskan sudah cukup lama menjadi orang yang sopan.

Pak. Nama Bapak siapa sih.

Menit kelima.

Di sistem saya terdaftar sebagai sys.rostering.02.

Itu nama akun. Bukan nama manusia.

Menit keempat.

Fungsinya sama.

NGGAK SAMA PAK.

Menit keempat.

Fungsinya sama. Untuk membedakan saya dari orang lain di sistem yang sama.

Terus kalau saya manggil Bapak, saya harus bilang apa?? “Halo Es Wai Es titik Rostering titik nol dua”???

Menit ketujuh.

Anda selama tiga minggu memanggil saya “Pak” dan itu berfungsi dengan baik.

Aku menjatuhkan kepalaku ke bantal dan mengerang ke arah langit-langit.

Bapak tuh ya.

Ya udah. Saya kasih nama sendiri.

Menit keempat.

Silakan.

“Pak Sistem”.

Menit kelima.

Boleh.

Bapak nggak protes??

Menit keenam.

Kenapa harus protes. Itu deskriptif dan mudah diingat. Nama yang baik memang begitu.

Aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi.

Dan waktu aku menyadari apa yang sedang kulakukan — mengetik, menghapus, mengetik lagi — aku berhenti dan menatap tanganku sendiri seperti tangan itu milik orang lain.

Astaga.

Menular.


Sebelum tidur aku melakukan satu hal yang tidak kurencanakan.

Aku mengambil sabun dari kantong depan koper, sabun Kupang, dan mengeluarkan pulpen dari tas kerja. Lalu aku menulis di kertas pembungkusnya, kecil, di sudut:

KUPANG — malam Pak Sistem bilang saya nggak aneh.

Empat tahun aku mengumpulkan sabun tanpa label. Tidak satu pun.

Itu yang pertama.

Dan waktu aku memasukkannya kembali ke koper, aku sadar bahwa aku sedang tersenyum sendirian di kamar hotel jam setengah dua belas malam, dan bahwa besok pagi aku akan bangun jam empat, dan bahwa aku sama sekali tidak keberatan.


[Jumlah karakter: 7.612]