Chapter Thirty Four
Tiga Puluh Menit
POV: Alika Jumlah kata: 1.047
Aku ingin menceritakan dua tahun itu dengan benar, karena dua tahun itu bukan jeda.
Orang biasanya melewatkannya. Di cerita-cerita, bagian ini ditulis dalam satu kalimat: dua tahun kemudian. Seolah waktu itu ruang kosong yang harus dilewati supaya sampai ke bagian yang menyenangkan.
Bukan.
Dua tahun itu justru bagian di mana aku akhirnya mengerti apa arti kata yang paling kubenci di seluruh pekerjaanku.
Bulan pertama.
Aku menangis di kamar apartemen sewaan di kota yang belum bisa kuucapkan namanya dengan benar, di malam ketiga, karena aku tidak bisa menemukan kecap.
Bukan kiasan. Aku benar-benar menangis karena kecap.
Aku mengirimnya foto rak supermarket jam sebelas malam waktu setempat.
Empat detik.
Baris ketiga dari bawah, sebelah kanan, botolnya cokelat gelap. Merek lokal. Rasanya lebih asin.
KAMU TAU DARI MANA
Sembilan detik.
Saya baca forum orang Indonesia di sana. Tiga minggu lalu.
Tiga minggu lalu.
Yang artinya sebelum aku berangkat.
Yang artinya laki-laki itu menghabiskan entah berapa malam membaca forum tentang di mana orang Indonesia mencari kecap di kota yang tidak pernah dia datangi.
Bulan ketiga.
Aku mengerti sesuatu tentang kata “standby”.
Aku sudah bertahun-tahun membencinya. Aku bilang begitu ke dia di bulan pertama kami kenal, di kamar hotel di Kupang: nunggu tanpa dijanjiin apa-apa itu capeknya beda.
Dan di bulan ketiga aku sadar dia sedang melakukan hal yang persis sebaliknya.
Tanggal 20, jam sembilan pagi waktu Jakarta, roster baruku keluar.
Dan jam sepuluh, tiap bulan, tanpa pernah absen sekali pun, masuk satu pesan:
Bulan ini kita punya 41 jam.
Aku tidak mengerti yang pertama.
41 jam apa?
Sebelas detik.
Jam waktu kita berdua bangun di saat yang sama dan tidak ada yang bekerja.
Saya hitung dari roster kamu dan jadwal saya. Selisih waktunya lima jam, jadi irisannya tidak banyak. Bulan ini yang terbaik ada di tanggal 8, 9, dan 21.
Aku menatap layar itu di ruang ganti awak di bandara asing jam enam pagi.
Empat puluh satu jam.
Bukan “nanti kalau sempat”. Bukan “kabarin ya kalau lagi luang”.
Angka. Tanggal. Jam.
Laki-laki itu mengubah dua tahun menunggu jadi sesuatu yang punya jadwal.
Dan aku duduk di bangku ruang ganti itu dan menangis, lagi, di kamar mandi bandara asing jam enam pagi, karena aku baru mengerti apa yang sedang dia lakukan.
Dia sedang membongkar kata itu.
Standby: siap dipanggil, tanpa dijanjikan apa-apa.
Dia tetap siap. Dia tetap ada. Dia tidak pernah sekali pun menuntut.
Tapi dia berhenti membiarkan bagian tanpa dijanjikan apa-apa.
Bulan kelima.
Dia datang.
Aku tidak tahu sampai dia sudah mendarat, karena dia tidak memberitahuku, karena kalau dia memberitahuku aku akan menyuruhnya tidak usah.
Penerbangan empat belas jam. Transit satu kali. Total dua puluh satu jam di dalam tabung logam dan gedung-gedung berisi ribuan orang asing.
Aku menemukannya di kursi paling ujung terminal kedatangan, menghadap tembok, dengan punggung membungkuk dan mata setengah tertutup.
Dia tidak tidur sama sekali. Dua puluh satu jam.
“Ga.”
Dia mengangkat wajahnya, dan matanya butuh dua detik untuk fokus.
“Hai.”
Aku berlutut di depan kursinya dan memegang kedua tangannya dan dua-duanya bergetar.
“Kamu gila.”
“Iya.”
“Kamu bisa nggak sih ngasih tau dulu—“
“Kamu akan bilang tidak usah.”
“YA IYALAH.”
“Nah.”
Dia tidur enam belas jam di apartemen sewaanku setelah itu, dan aku duduk di lantai di samping kasur selama empat jam pertamanya sambil menonton dia bernapas, seperti orang bodoh, seperti orang yang tidak percaya bahwa benda di depannya nyata.
Dia datang empat kali dalam dua tahun.
Empat kali dua puluh satu jam.
Bulan kedelapan.
Aku mulai mengirim sabun lewat pos.
Idenya konyol dan mahal dan sama sekali tidak masuk akal — biaya kirimnya jauh lebih besar dari nilai barangnya, dan Arga menghitungnya sekali dan memberitahuku angkanya dan aku bilang aku tidak peduli.
Tiap bulan satu paket kecil. Lima sampai delapan bungkus. Dengan tulisan tanganku di kertasnya.
DOHA — transit 4 jam, aku ketiduran di kursi. AMSTERDAM — hujan. Kangen. KOTA YANG NAMANYA MASIH SUSAH — hari ini aku ketawa keras di galley dan semua orang noleh.
Dan tiap kali paketnya sampai, dia mengirim foto rak itu.
Baris demi baris. Nama-nama hotel asing masuk pelan-pelan di antara Makassar dan Balikpapan dan Denpasar.
Bulan kesembilan belas, rak itu sudah terisi empat baris penuh.
Bulan kelima belas.
Aku hampir menyerah.
Aku ingin mencatat itu karena aku tidak mau cerita ini terdengar seperti dua tahun yang manis terus-menerus.
Ada malam di bulan kelima belas waktu aku duduk di lantai kamar mandi apartemen sewaan itu jam tiga pagi dan berpikir bahwa ini bodoh. Bahwa dua tahun itu terlalu lama. Bahwa aku sudah dua puluh delapan tahun dan aku sedang menghabiskan bagian terbaik hidupku menghitung selisih zona waktu.
Aku menelepon.
Dia mengangkat di dering kedua, seperti selalu.
“Ga, aku capek.”
“Iya.”
“Aku capek banget.”
“Iya.”
Dan aku menunggu — aku menunggu dia bilang ya udah pulang aja, dan aku sudah tahu bahwa kalau dia bilang itu, aku akan pulang, dan kami berdua tahu itu.
Dia tidak bilang.
“Kamu mau saya bilang apa?” katanya.
Aku menangis di lantai kamar mandi itu.
“Aku pengen kamu bilang aku boleh nyerah.”
Empat detik.
“Kamu boleh menyerah,” katanya. “Kapan saja. Tidak akan ada yang berubah di sini.”
“Ga—“
“Tapi kamu tidak bertanya itu.”
“Hah?”
“Kamu bertanya apakah kamu boleh menyerah. Bukan apakah kamu ingin.” Suaranya sangat pelan. “Itu dua pertanyaan yang berbeda dan kamu sudah tahu bedanya sekarang.”
Aku duduk di lantai kamar mandi itu selama sepuluh menit dengan telepon masih tersambung dan tidak ada yang bicara di kedua ujungnya.
Lalu aku berkata, dengan suara yang sudah habis:
“Aku nggak mau nyerah, Ga.”
“Saya tahu.”
“Kamu tau?”
“Dari bulan kedua,” katanya.
Bulan kedua puluh empat.
Aku pulang tanggal 19 Januari, dua hari sebelum kontrakku habis, karena aku menukar rotasi terakhirku dengan seseorang yang ingin pulang lebih lambat.
Aku tidak memberitahunya tanggal pastinya.
Aku cuma bilang: “Akhir Januari.”
Dan aku melakukan satu hal terakhir sebelum berangkat, dari kantor administrasi base internasional, dengan formulir yang harus ditandatangani tiga orang.
Aku mengajukan permintaan rute.
Penerbangan pulangku dijadwal ulang.
Bukan langsung ke Surabaya. Aku minta dipecah, lewat Jakarta, dengan transit di Cengkareng.
Di kolom lama transit, aku menulis angkanya sendiri.
30 menit.
Petugasnya melihat formulir itu, lalu melihatku.
“Bu, tiga puluh menit itu kependekan. Nggak ada gunanya buat apa-apa.”
Aku tersenyum.
“Iya, Pak,” kataku. “Saya tau.”
[Jumlah karakter: 6.908]
- 1 Pak Sistem
- 2 Empat Menit
- 3 Variabel Tetap
- 4 Empat Puluh Detik
- 5 Nama
- 6 Itu Bukan Bug
- 7 Tiga Hari
- 8 Transit yang Hilang
- 9 Tiga Jam
- 10 Empat Puluh Menit
- 11 Saya Tidak Bisa Mengetiknya
- 12 Sepuluh Detik
- 13 Kunci Cadangan
- 14 Bekas Luka
- 15 Timbangan
- 16 Kapten
- 17 Empat Orang
- 18 Conflict Detected
- 19 Jam Tiga Pagi
- 20 Satu Jam Lebih Awal
- 21 Laci
- 22 Kamu Maunya Apa
- 23 Aku
- 24 Ratna
- 25 Pintu yang Salah
- 26 Mundur
- 27 Bulan Kedua
- 28 Rest Period
- 29 Lantai Empat
- 30 Conflict Detected
- 31 Override
- 32 Empat Kata
- 33 Empat Draf
- 34 Tiga Puluh Menit reading
- 35 Standby