← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Nine

Yang Pertama Mukul

POV: Valerie


Aku menemukannya hari Rabu, jam sebelas malam, di aplikasi bank Mama yang password-nya sudah aku pegang sejak umur empat belas karena Mama yang memintaku memegangnya.

Penarikan tunai. Lima belas juta.

Selasa minggu lalu.

Aku menatap layar itu sampai mataku perih.

Kami tidak punya lima belas juta yang bisa hilang. Kami punya tabungan yang aku susun sendiri selama tiga tahun, sen demi sen, dari sisa gaji Mama dan dari uang les yang aku ajar diam-diam kelas sepuluh. Aku tahu isi rekening itu lebih baik daripada aku tahu wajahku sendiri. Aku tahu berapa yang boleh keluar bulan ini. Aku tahu berapa yang tidak boleh disentuh sampai aku lulus.

Lima belas juta bukan salah ketik. Lima belas juta adalah keputusan.

Dan Mama tidak mengatakan apa pun padaku.


Aku tidak tidur. Aku tidak menangis, juga. Aku duduk di lantai kamar sampai jam tiga pagi dan menyusun ulang seluruh enam minggu terakhir dari awal, dan semuanya cocok, semuanya, setiap kepingnya.

Laki-laki yang senyumnya lebar. Anak yang memasak. Kotak makan yang datang setiap hari sampai kami terbiasa. Piring yang dicuci. Rumah yang dibersihkan. Tawa Mama yang kehilangan jedanya.

Enam minggu untuk membuat dua perempuan merasa berutang.

Lalu Selasa minggu lalu, lima belas juta.

Aku ingat merasakan sesuatu yang hampir seperti lega. Karena akhirnya aku benar. Akhirnya ada angka, dan angka tidak berbohong, dan aku sangat sangat pandai dengan angka.

Yang aku lupa: angka tidak berbohong, tapi angka juga tidak bercerita.


Aku menunggu sampai Sabtu.

Aku menunggu sampai mereka datang, sampai El selesai memasak, sampai empat piring itu penuh, sampai Om Bara di tengah cerita tentang kucing tetangganya dan Mama tertawa tanpa jeda setengah detik.

Aku menunggu sampai suasananya sebaik mungkin.

Aku tahu persis apa yang aku lakukan. Itu bagian yang paling sulit aku ceritakan sekarang.

“Om,” kataku.

“Ya, Nak?”

“Lima belas juta itu buat apa?”

Sendok Mama berhenti di udara.

“Val,” katanya.

“Aku tanya Om.” Aku tidak mengalihkan pandangan. “Selasa tanggal empat belas. Lima belas juta. Buat apa?”

Ruangan itu berhenti.

Aku bisa mendengar kipas angin. Aku bisa mendengar seseorang menutup pagar di rumah sebelah. Aku bisa mendengar sendok El diletakkan, sangat pelan, di sisi piringnya.

“Valerie,” kata Mama, dan suaranya rendah dengan cara yang tidak pernah aku dengar. “Kita ngomong nanti.”

“Nggak. Sekarang.” Aku menoleh ke arahnya dan aku tahu wajahku jelek dan aku tidak peduli. “Ma, aku yang pegang rekening itu. Aku yang ngitungin. Tiga tahun, Ma. Aku yang duduk di meja ini jam dua pagi buat mastiin kita nggak—“

“Val.”

“—dan Mama ngeluarin lima belas juta tanpa bilang apa-apa ke aku.”

“Karena itu uang Mama.”

Kalimat itu menampar mukaku.

Karena benar. Itu memang uang Mama. Dan aku, yang tiga tahun ini bertingkah seperti pemilik, baru saja diingatkan bahwa aku cuma penjaga.

Aku menoleh kembali ke Om Bara, dan kali ini suaraku pecah di tengah.

“Om punya utang berapa?”

“Valerie!”

“Empat puluh dua juta,” kata Om Bara.

Mama berhenti.

Aku berhenti.

Laki-laki itu meletakkan sendoknya, mengelap mulutnya dengan tisu, melipat tisunya, dan berdiri.

“Sebentar, ya.”

Dia keluar ke teras. Aku mendengar pintu mobilnya dibuka. Empat puluh detik kemudian dia masuk lagi membawa map plastik bening.

Dan meletakkannya di meja, di depanku.

“Sisa rumah sakit almarhumah istri Om,” katanya. “Awalnya seratus tiga belas. Sekarang empat puluh dua. Om cicil tiap bulan lewat koperasi kantor, tanggal dua puluh lima, dan itu rinciannya semua dari tahun pertama.”

Aku tidak menyentuh map itu.

“Om udah cerita ke Mama kamu bulan pertama, Nak. Sebelum apa-apa. Om bilang, ‘Ren, saya punya utang segini, kalau kamu mau mundur sekarang saya nggak akan nanya kenapa.’”

Aku merasakan lantai miring sedikit.

“Terus lima belas juta itu—“

“Mama yang nawarin,” kata Mama pelan. “Mama yang maksa.”

“Dan Om nolak,” kata Om Bara. “Uangnya Om balikin hari Kamis, Nak. Tunai. Om suruh Renata masukin lagi ke bank.”

Aku membuka aplikasi itu dengan tangan yang tidak stabil.

Kamis tanggal enam belas. Setoran tunai. Lima belas juta.

Halaman berikutnya.

Aku tidak pernah membuka halaman berikutnya.


Ada beberapa detik di mana aku bisa berhenti.

Aku ingin sekali mengatakan bahwa aku berhenti.

Tapi yang terjadi adalah ini: aku duduk di meja makan itu, dilihat oleh tiga orang, dengan bukti kesalahanku menyala di layar ponsel di tanganku sendiri, dan seluruh tubuhku dipenuhi sesuatu yang panas dan memalukan dan tidak punya ke mana pergi.

Dan aku melakukan apa yang selalu aku lakukan kalau aku kalah.

Aku maju.

Aku menoleh ke El.

“Dan kamu,” kataku.

“Val.” Mama berdiri.

“Kamu ngapain di dapur kami tiap Sabtu?” Suaraku naik dan naik dan aku tidak bisa menghentikannya. “Masak. Nyuci piring. Ngirimin kotak makan tiap hari sampai aku nggak bisa lagi beli makan sendiri tanpa mikirin kamu. Itu strategi, kan? Itu tugas kamu, kan? Biar kami ngerasa ngutang, biar kami nggak enak, biar pas ada apa-apa kami nggak bisa bilang—“

“Valerie, cukup!”

“—karena itu yang orang kayak kalian lakuin! Kalian kasih dulu! Kalian kasih terus sampai orang nggak bisa nolak lagi, terus kalian ambil semuanya!”

Suaraku mati di ruangan itu.

Empat piring. Dua di antaranya belum tersentuh.

Mama menutup mulutnya dengan tangan. Om Bara menatap meja.

Dan El—

El duduk di kursinya, tidak bergerak, memandangku dengan wajah yang sama datarnya seperti biasa.

Kecuali tangannya.

Tangannya di atas paha, menggenggam ujung kaus, dan buku jarinya putih.


Kalau dia marah, aku akan baik-baik saja.

Aku sudah menyiapkan diri untuk marah. Aku tahu cara berdiri di depan orang marah; aku sudah berlatih sejak umur empat belas dengan laki-laki yang mengetuk pintu jam tujuh pagi. Marah itu gampang. Marah itu membuktikan aku benar.

Dia tidak marah.

Dia berdiri, pelan, dan mengambil piringku — piring yang tidak aku sentuh — dan membawanya ke dapur, dan aku mendengar air mengalir, dan berhenti, dan langkah kakinya kembali.

Dia berdiri di ujung meja.

“Om Bara,” katanya. Dia tidak memanggilnya Papa. Dia memanggilnya seperti orang asing, di depan kami, dan aku baru mengerti kenapa bertahun-tahun kemudian. “Boleh saya ngomong sama Valerie di luar?”


Kami berdiri di teras. Hujan gerimis, jenis yang tidak cukup untuk membuat orang berteduh.

Aku menyilangkan tangan dan menyiapkan semua yang aku punya.

“Kalau kamu mau minta maaf ke aku—“

“Nggak.”

Aku menutup mulut.

“Kamu nggak salah,” katanya.

“Apa?”

“Kamu nggak salah nanya.” Dia menatap halaman, bukan aku. “Kamu salah caranya. Tapi nanyanya nggak salah.”

“El, aku baru aja—“

“Aku tahu apa yang kamu bilang.” Suaranya tetap rendah. Tetap pelan. “Aku denger.”

Gerimis itu turun di antara kami dan tidak ada yang bergerak.

“Bapakku,” katanya akhirnya, “setahun nggak pulang. Aku empat belas. Dan sampai sekarang aku nggak pernah nanya kenapa, karena aku takut jawabannya bikin aku nggak bisa lagi anggep dia bapakku.”

Aku merasakan sesuatu turun di dadaku.

“Jadi aku juga nggak tahu semuanya soal dia.” El menoleh. “Kamu mau tahu? Ayo. Aku bantu.”

“Kamu... apa?”

“Rekening dia. Koperasi. Semua orang yang kamu mau tanya.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Aku anaknya. Aku bisa masuk ke tempat yang kamu nggak bisa.”

Aku menatapnya.

“Kenapa,” kataku, dan suaraku keluar seperti suara orang lain. “Kenapa kamu mau bantu aku ngancurin bapak kamu sendiri?”

Dan El — anak yang selama enam minggu tidak pernah memberiku lebih dari empat kata, yang telinganya merah kalau aku berdiri terlalu dekat, yang memisahkan sambal ke wadah kecil supaya aku bisa berbohong dengan nyaman — melihat lurus ke mataku dan berkata:

“Karena kalau ternyata dia jahat, aku yang pertama mukul.”


Aku tidak bisa menjawab apa-apa.

Aku berdiri di teras rumahku sendiri, basah, dengan ibuku menangis di dalam dan meja makan yang baru saja aku hancurkan, dan yang aku rasakan bukan lega dan bukan menang.

Yang aku rasakan adalah takut.

Karena selama enam minggu aku memerangi anak ini dengan asumsi bahwa dia sedang membangun tembok di depanku.

Dan dia baru saja membuka pintunya sendiri, dari dalam, dan mempersilakan aku masuk membawa palu.

“El,” kataku.

“Hm.”

“Kenapa kamu baik banget sama aku?”

Ada jeda yang panjang sekali. Cukup panjang untuk gerimis berubah jadi hujan.

“Nggak,” katanya. “Aku baik sama semua orang.”

Itu bohong.

Aku belum tahu itu bohong. Aku baru akan tahu tiga bab lagi.

Tapi malam itu, sambil menonton punggungnya menjauh di bawah hujan tanpa payung, aku menghapus baris kelima belas dari halaman belakang buku Fisikaku dengan tipe-X sampai kertasnya berlubang.