← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Twenty Three

Jangan Pindah Dulu

POV: Valerie


Teleponnya masuk hari Rabu, jam delapan malam, dari nomor yang tidak aku kenal.

Aku sedang mengerjakan soal integral di meja makan dan aku mengangkatnya tanpa berpikir, karena aku selalu mengangkat, karena aku sudah tiga tahun jadi orang yang mengangkat telepon di rumah ini.

“Halo, selamat malam. Betul ini nomor Bapak Hendra Mauren?”

Pensilku berhenti.

“Halo? Halo, Pak?”

“Bapaknya udah nggak ada,” kataku.

Suaraku keluar sangat rata. Aku ingat itu. Sangat rata dan sangat sopan, suara yang aku pakai untuk guru yang mau menyita ponselku dan untuk laki-laki yang mengetuk pintu jam tujuh pagi.

“Oh—maaf, Bu. Maaf sekali.” Suara di seberang jadi berantakan. “Ini dari asuransi, Bu, soal polis lama yang—“

“Sudah selesai semua.”

“Iya, Bu, ini cuma verifikasi data—“

“Sudah selesai,” kataku. “Tolong hapus nomornya.”

Aku menutup telepon.

Lalu aku duduk di meja makan itu, di kursi yang sama, dan menatap soal integral nomor tujuh selama mungkin dua puluh menit.


Ini yang tidak orang mengerti tentang hal semacam itu.

Aku tidak sedih. Aku tidak menangis. Teleponnya tidak lebih dari empat puluh detik dan orangnya sopan dan tidak ada yang salah dengan apa pun.

Yang terjadi adalah tubuhku ingat.

Tubuhku ingat bagaimana rasanya mengangkat telepon dan menjadi orang dewasa dalam waktu setengah detik. Ingat bagaimana rasanya berdiri di ruang tamu jam tujuh pagi dengan seragam SMP yang belum diganti. Ingat suara Mama di kamar mandi yang menyalakan keran supaya aku tidak mendengarnya menangis, dan aku selalu mendengarnya, dan aku tidak pernah bilang.

Tiga tahun dan aku pikir sudah selesai. Aku sudah menyusun map itu. Aku sudah membayar semuanya. Aku sudah menyimpan seluruh benda itu di laci dan menutup lacinya.

Satu nomor telepon dan seluruh isi laci itu tumpah ke lantai ruang makan.


Aku mengetik jam sepuluh.

el

Hm

nggak jadi

Tiga puluh detik.

Aku ke sana

NGGAK USAH

ini udah malem, kamu naik apa

Sepeda

EL

Udah di jalan

Aku turun ke bawah dan berdiri di ruang tamu dan memegang ponsel dengan dua tangan dan tidak tahu harus melakukan apa dengan wajahku.

Mama sudah tidur sejak jam sembilan. Dia bangun jam lima setiap hari; dia selalu tidur jam sembilan.


Dia sampai jam setengah sebelas.

Dua puluh dua menit naik sepeda, malam, Januari, dan waktu aku membuka pagar rambutnya basah karena gerimis dan tangannya dingin.

“Kamu gila.”

“Kamu belum makan, ya?”

“EL, INI JAM SETENGAH SEBELAS.”

“Kamu belum makan.”

Aku membuka mulut untuk membantah dan menyadari bahwa aku memang belum makan.

Aku menutup mulut lagi.

Dia masuk, melepas sandal, menaruhnya menghadap keluar, dan pergi ke dapur.


Yang dia buat cuma nasi goreng.

Tidak ada yang istimewa. Nasi sisa, telur, bawang, kecap. Sepuluh menit. Aku duduk di kursi dapur dengan selimut di bahu — dia yang mengambilkannya, dari sofa, tanpa bilang apa-apa — dan menonton punggungnya di depan kompor.

Dan lalu dia meletakkan piring di depanku, duduk di seberang, dan tidak bertanya apa-apa.

Itu yang membuatku hancur.

Dia tidak bertanya. Dia tidak bilang “kamu kenapa” atau “cerita dong” atau “kamu nggak apa-apa?”. Dia duduk di sana dengan tangan di atas meja dan menunggu, dan dia sanggup menunggu selama apa pun, karena anak ini sudah pernah menunggu satu tahun penuh untuk seseorang yang tidak pulang.

Aku makan tiga suap.

Lalu aku meletakkan sendok dan bilang, “Ada yang nelpon nyariin Papa.”

Dan aku menceritakan semuanya.


Aku tidak akan menuliskan semuanya di sini karena sebagian besar tidak layak ditulis.

Yang aku ingat: aku bicara selama empat puluh menit. Aku bicara tentang map cokelat dan tiga tumpukan. Tentang perempuan bernama Wida yang aku lihat sekali, di pemakaman, berdiri jauh di belakang, dan yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun termasuk Mama. Tentang dua puluh orang yang bilang ayahku orang paling baik yang mereka kenal. Tentang keran kamar mandi.

Dan tentang satu hal yang tidak pernah aku ucapkan keras-keras seumur hidup:

“El, aku takut aku lega.”

Dia tidak bergerak.

“Waktu dia meninggal.” Aku menekan tumit tangan ke mataku. “Sebagian dari aku lega. Karena artinya selesai. Karena artinya nggak akan nambah lagi.”

Aku menunggu wajahnya berubah.

Aku menunggu dia menarik diri, atau bilang “jangan gitu dong”, atau salah satu dari lima ribu kalimat yang orang katakan untuk menutup lubang secepat mungkin.

“Aku juga,” katanya.

Aku menurunkan tanganku.

“Apa?”

“Waktu Mama meninggal.” Dia menatap meja. “Delapan bulan terakhir dia sakitnya parah. Aku tiap malem denger dari kamar. Dan pas malem itu, waktu Papa nelpon dari rumah sakit—“

Dia berhenti.

“Yang pertama aku rasa bukan sedih.”

Dapur itu sangat sunyi. Kulkas berdengung.

“Aku nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa,” katanya.

“Aku juga.”

“Aku tau.”


Aku pindah ke sebelahnya jam dua belas kurang.

Aku tidak minta izin. Aku menarik kursi ke sebelahnya dan duduk dan menyandarkan seluruh berat badanku ke lengannya, dan dia menyesuaikan posisinya tanpa berkata apa-apa supaya bahunya lebih rendah.

“El.”

“Hm.”

“Aku manja banget, ya.”

“Iya.”

“Kamu harusnya bilang nggak kok.”

“Kenapa?”

“KARENA ITU YANG ORANG BILANG, EL.”

Dan aku merasakan dadanya bergerak sekali, pendek, dan aku tidak melihat wajahnya tapi aku tahu.

Kami duduk seperti itu lama sekali.

“Kamu tau apa yang paling aku takutin?” kataku akhirnya, ke lengan bajunya.

“Hm.”

“Bukan Mama nikah lagi.”

Dia menunggu.

“Aku takut kalau aku berhenti,” kataku.

“Berhenti apa?”

“Berhenti gini.” Aku mengangkat satu tangan dan memutarnya di udara, ke arah diriku sendiri. “Berhenti berisik. Berhenti lucu. Berhenti cantik. Berhenti jadi orang yang bikin ruangan rame.”

Aku menelan.

“Aku takut kalau aku berhenti, nggak ada yang tinggal.”

Dan aku merasakan seluruh tubuhnya berubah.

Bukan bergerak. Berubah — semacam mengeras, di sebelahku, seperti orang yang baru mendengar sesuatu jatuh di ruangan lain.

“Val.”

“Hm.”

“Sebelas hari,” katanya.

“Apa?”

“Bulan Oktober. Kamu berhenti sebelas hari.” Suaranya sangat pelan. “Kamu sopan, kamu jaga jarak, kamu manggil aku Kak.”

Aku menahan napas.

“Kamu nggak ada berisiknya sama sekali,” katanya. “Dan aku hancur.”

Aku menutup mataku.

“Jadi jangan bilang nggak ada yang tinggal,” katanya. “Aku udah nyoba. Nggak bisa.”


Aku tidak ingat kapan aku tertidur.

Yang aku ingat: aku bilang “jangan pindah dulu”, dan dia bilang “iya”, dan aku menyandarkan kepalaku ke bahunya, dan kulkas berdengung, dan gerimis di luar terdengar seperti orang menuang beras pelan-pelan.

Yang aku ingat berikutnya adalah jam empat pagi, di sofa ruang tengah, dengan selimut yang bukan selimut yang tadi.

Dan El duduk di lantai, bersandar ke sofa, kepalanya miring ke belakang, tertidur.

Tangan kirinya masih di atas selimut, di dekat bahuku, dengan cara yang tidak menyentuh apa-apa tapi juga tidak pindah ke mana pun.

Empat jam.

Anak itu duduk di lantai selama empat jam supaya bahunya tidak bergerak.

Aku memandanginya di gelap sampai jam setengah lima, waktu langit mulai abu-abu, dan aku memikirkan satu kalimat yang tidak akan aku ucapkan sampai bab tiga puluh enam.

Lalu aku membangunkannya, karena Mama bangun jam lima, dan karena kami masih punya dua puluh empat hari sebelum semuanya jatuh.