Chapter Twenty One
Foto Keluarga
POV: Valerie
Undangan fitting datang lewat grup WhatsApp keluarga yang dibuat Om Bara dan diberi nama “KELUARGA BARU 🎉🎉” dengan tiga emoji, dan yang menambahkanku ke dalamnya adalah Mama, dan yang menambahkan El adalah Om Bara, dan sejak hari itu ada satu grup di ponselku berisi empat orang di mana dua di antaranya sedang berpacaran dan tidak ada yang tahu.
Minggu jam 10 di Butik Mawar ya semuanya! Fitting! 🎉
siap Om
Iya Ma
Aku mengetik tiga balasan berbeda sebelum memilih yang paling pendek, karena aku tidak percaya pada tanganku sendiri lagi.
Kami sampai jam sepuluh kurang lima.
Butik Mawar adalah ruko dua lantai dengan AC yang terlalu dingin, cermin di setiap dinding, dan seorang pemilik bernama Bu Ratih yang, dalam waktu delapan menit, akan menjadi antagonis utama hidupku.
“Ini keluarganya?” Bu Ratih menepuk tangan. “Aduh, lengkap ya. Ibu suka kalau anak-anaknya ikut.”
“Ini Valerie, anak saya,” kata Mama.
“Ini Kaelan, anak saya,” kata Om Bara.
Bu Ratih memandang kami berdua bergantian dengan mata yang berbinar dengan cara yang membuat perutku dingin.
“Aduh, ya ampun,” katanya. “Cocok banget.”
Aku tersedak udara.
“Maksud Ibu?”
“Cocok jadi kakak-adik!” Bu Ratih menepuk lenganku. “Nanti fotonya bagus banget. Ibu udah kebayang.”
Yang perlu kamu tahu tentang dua jam berikutnya adalah bahwa mereka dirancang oleh seseorang yang membenciku secara pribadi.
Menit ke-15. Mama masuk ke ruang ganti. Om Bara diukur di sudut. Aku dan El duduk di sofa panjang di depan cermin besar, dengan jarak satu setengah meter, tidak bicara, seperti dua orang asing di ruang tunggu dokter gigi.
Lima menit sebelumnya, di parkiran belakang butik, di antara mobil dan tembok, kami berpegangan tangan selama empat puluh detik.
Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya. Aku belajar dari orang yang salah.
Menit ke-23. Bu Ratih memanggilku untuk diukur.
“Berdiri tegak ya, Sayang. Tangan ke samping.”
Aku berdiri di depan cermin sementara Bu Ratih melingkarkan meteran, dan di cermin itu, di belakangku, aku bisa melihat El duduk di sofa dengan ponsel di tangan yang jelas-jelas tidak sedang dia lihat.
Aku menangkap matanya di cermin.
Dia langsung menunduk ke ponselnya.
Telinganya merah.
“Sayang, jangan gerak ya.”
“Maaf, Bu.”
Menit ke-31. Bu Ratih menemukan bahwa El tidak punya jas.
“Nak Kaelan belum diukur, ya?”
“Saya pakai yang punya sendiri aja, Bu.”
“Nggak boleh! Ini fotonya bareng-bareng, nanti warnanya nggak nyambung.” Bu Ratih sudah menariknya berdiri. “Sini. Buka jaketnya.”
Dan begitulah aku menghabiskan tiga menit dan dua puluh detik duduk di sofa panjang Butik Mawar, di bawah AC yang terlalu dingin, menonton seorang perempuan lima puluh tahun melingkarkan meteran di bahu dan pinggang dan dada seorang anak laki-laki yang kaus lengan panjangnya sudah aku hafal baunya.
“Aduh, bahunya bagus banget,” kata Bu Ratih.
“Iya, Bu,” kataku, dari sofa, dengan suara yang keluar salah.
El menoleh secepat kilat.
“Val.”
“Kenapa? Aku setuju sama Bu Ratih.”
“Tuh, adiknya aja setuju,” kata Bu Ratih.
Aku ingin dikubur.
Menit ke-58 adalah puncaknya, dan aku akan menceritakannya persis seperti kejadiannya karena tidak perlu dibumbui.
Mama keluar dari ruang ganti dengan kebaya percobaan berwarna gading.
Dan seluruh ruangan berhenti.
Aku belum pernah melihat ibuku seperti itu. Aku belum pernah — dan aku tahu ini terdengar bagaimana — aku belum pernah melihat perempuan itu berdiri tegak. Tiga tahun terakhir ada sesuatu di bahunya yang selalu sedikit turun, dan hari itu tidak ada.
Om Bara berdiri dari kursinya.
Dia tidak bilang apa-apa. Laki-laki yang selalu bicara, yang tertawa dari perut, yang mengisi setiap keheningan dengan cerita tentang kucing tetangga — laki-laki itu berdiri dan tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.
“Mas,” kata Mama. “Jangan gitu, malu.”
“Ren—“
“Mas.”
“Cantik banget,” kata Om Bara, dan suaranya pecah di tengah, dan Bu Ratih langsung sibuk sekali dengan meterannya sambil menyeka mata dengan punggung tangan.
Aku menoleh ke El.
Dia sedang menatap ayahnya dengan ekspresi yang aku tidak bisa baca sama sekali.
Menit ke-74. Foto.
“Sekalian ya, buat referensi warna,” kata Bu Ratih. “Nanti Ibu kirim ke fotografer. Berdiri semuanya.”
Kami berdiri. Om Bara dan Mama di tengah, tentu saja. Aku di sebelah Mama. El di sebelah Om Bara.
“Nah, yang muda-muda tukeran dong,” kata Bu Ratih. “Anaknya di tengah, orang tuanya di pinggir. Biar seimbang.”
Kami bertukar.
Dan dengan demikian aku berdiri di depan cermin sepanjang dinding Butik Mawar, bahu menempel bahu dengan pacarku, sementara ibuku dan calon ayah tiriku berdiri di kiri dan kanan kami, dan seorang perempuan lima puluh tahun memegang ponsel dan berkata:
“Yang kakak, rangkul adiknya dong.”
Dunia berhenti.
“Bu—“ kataku.
“Ayo, Nak Kaelan. Rangkul. Biar keliatan akrab.”
“Bu Ratih, saya rasa—“
“Aduh, nggak usah malu-malu, ini keluarga.”
“El, rangkul aja,” kata Om Bara.
“Iya, El,” kata Mama. “Val juga jangan kaku gitu.”
Dan Kaelan Baskara, yang empat puluh menit sebelumnya berdiri di parkiran belakang butik dan memegang tanganku selama empat puluh detik, mengangkat lengan kanannya dan meletakkannya di bahuku.
Aku tidak bergerak.
Aku tidak bisa bergerak. Aku berdiri di sana seperti tiang listrik sambil merasakan seluruh sisi kananku terbakar dan sambil mendengar ibuku bilang “senyum dong, Val.”
“Satu... dua...”
Dan tepat sebelum foto itu diambil, dengan suara yang cuma bisa didengar dari jarak sepuluh senti, di atas kepalaku, El berkata:
“Napas.”
Aku menghirup udara.
Klik.
“Bagusss!” Bu Ratih membalik ponselnya. “Nih, lihat. Kompak banget.”
Aku melihat fotonya.
Empat orang. Dua orang tua yang saling menyentuh tangan tanpa sadar. Satu anak laki-laki dengan wajah paling datar yang pernah diproduksi manusia. Dan satu anak perempuan yang, kalau kamu tidak tahu apa-apa, akan kamu bilang sedang tersenyum kaget.
Kalau kamu tahu — kalau kamu tahu — kamu akan melihat bahwa jari-jari tangan kanan anak laki-laki itu, di bahu anak perempuan itu, sedikit tertekuk. Menggenggam kain seragamnya.
“Ibu kirim ke grup ya,” kata Bu Ratih.
Dan dia mengirimnya ke KELUARGA BARU 🎉🎉, dan Om Bara langsung membalas BAGUS BANGET INI JADIIN PROFIL GRUP, dan foto itu jadi foto profil grup keluarga kami selama empat bulan berikutnya.
Aku menyimpannya.
Aku ingin ini dicatat sebagai bukti bahwa aku sudah tidak waras sejak bulan November: aku menyimpan foto keluarga di mana ibuku memakai kebaya percobaan, dan aku menyimpannya di album terkunci, dan aku melihatnya lebih sering daripada yang akan aku akui pada siapa pun.
Malam itu aku mengirim pesan.
fotonya bagus
iya
kamu megang seragamku
Dia mengetik. Berhenti. Mengetik lagi.
Iya
kenapa
Lama sekali.
Karena kalau nggak megang apa-apa, tanganku bakal turun
Aku menaruh ponsel di dada dan menatap langit-langit kamarku selama entah berapa lama.
Yang tidak lucu — dan aku baru menyadarinya jam satu pagi, waktu semua yang lucu sudah habis dan tinggal sisanya —
adalah bahwa hari itu semua orang bahagia.
Bu Ratih bahagia. Om Bara berdiri dan tidak bisa bicara karena melihat ibuku. Mama berdiri tegak untuk pertama kalinya dalam tiga tahun. Grup keluarga penuh emoji.
Dan dua orang di dalam foto itu sedang berbohong pada semua orang di dalam foto itu.
Aku membuka aplikasi galeri lagi. Aku memperbesar bagian bahuku, tempat jari-jari itu menekuk.
Lalu aku mengetik pesan yang tidak pernah aku kirim, dan menghapusnya, dan mematikan ponsel.
El, gimana kalau nanti kita ngerusak semua ini.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga reading
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan