Chapter Sixteen
Sebelas Peraturan
POV: Valerie
Aku menyusunnya malam itu juga, jam sepuluh, di halaman baru buku Fisika yang sudah rusak, karena aku orang yang menyelesaikan masalah dengan daftar.
PERATURAN
- Tidak ada apa pun di sekolah.
- Tidak ada apa pun di rumah — rumah mana pun.
- Tidak ada chat yang tidak bisa dibaca orang tua.
- Tidak ada foto.
- Tidak duduk berdekatan di makan malam Sabtu.
- Tidak pulang bareng lebih dari satu kali seminggu.
- Tidak ada panggilan sayang.
- Tidak ada yang boleh tahu. Siapa pun.
- Kalau ketahuan, langsung berhenti. Tidak ada negosiasi.
- Ini sampai Februari saja. Habis itu dipikirkan lagi.
- JANGAN JATUH CINTA LEBIH DALAM DARI YANG SEKARANG.
Aku memfotonya dan mengirimkannya ke El jam sepuluh lewat dua belas.
Dia membalas jam sepuluh lewat empat belas.
Nomor 11 gimana caranya
Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.
Ya jangan aja
Oke
Dan lalu, tiga puluh detik kemudian:
Aku udah gagal
Aku membanting ponselku ke kasur, menekan bantal ke wajah, dan berteriak ke dalamnya sampai habis napas.
Peraturan pertama yang dilanggar adalah nomor 3, dan itu terjadi dua puluh menit setelah daftarnya dibuat.
Aku mengirim: besok bawain yang telur gulung itu dong
Dia mengirim: iya
Aku mengirim: makasih sayangku
Lalu aku menghapusnya dalam empat detik.
Val
ITU KEPENCET
Yang kepencet yang mana
SEMUANYA
Oh
Lalu:
Aku udah baca
EL
Aku screenshot juga
Aku duduk di lantai kamarku jam setengah sebelas malam dan tertawa sendirian sampai Mama mengetuk dinding.
Peraturan nomor 1 bertahan selama enam jam.
Selasa pagi, koridor lantai dua, jam tujuh lewat sepuluh. Aku lewat. Dia lewat. Kami sudah sepakat: tidak menatap, tidak menyapa, tidak apa-apa.
Aku lewat.
Dia lewat.
Dan waktu berpapasan, punggung tangannya menyentuh punggung tanganku.
Setengah detik. Mungkin kurang. Tidak ada yang melihat; tidak ada yang bisa melihat.
Aku berjalan sepuluh langkah lagi, masuk ke kelas, duduk, dan menaruh kepalaku di meja.
“Val?” Nadhira menoleh. “Kamu kenapa mukanya merah?”
“Panas.”
“Ini jam tujuh.”
“Pemanasan global, Nadh.”
Nadhira tahu di hari keempat.
Aku ingin mencatat bahwa aku tidak mengaku. Aku tidak mengaku sama sekali. Yang terjadi adalah Nadhira duduk di depanku di kantin, mengunyah, memandangiku selama kira-kira empat menit, lalu berkata:
“Kalian jadian.”
“Hah?”
“Kamu, sama El.”
“Nadh—“
“Val.” Dia meletakkan sendoknya. “Dua minggu lalu kamu manggil dia ‘Kak El’ sambil senyum kayak orang mau nangis. Sekarang kamu ngeliatin pintu kantin tiap empat puluh detik.”
“Aku nggak—“
“Aku ngitung.”
Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Nadh, kamu nggak boleh cerita ke siapa-siapa.”
“Ya nggak lah.”
“Serius. Nggak ke siapa-siapa. Ini bukan—“ Aku menurunkan tangan. “Ini bahaya, Nadh. Mama aku.”
Wajah Nadhira berubah, dan dia mengangguk, sekali, dengan cara yang membuatku ingat kenapa dia sahabatku sejak kelas satu SMP.
“Oke,” katanya.
Lalu, setelah lima detik:
“Tapi Val.”
“Apa.”
“Dia bawain kamu kotak makan tiap hari sejak dua bulan lalu dan seluruh sekolah udah tau.”
“HAH?”
“Val, kamu makan bekal buatan orang tiap hari di kelas dan kamu nggak pernah bawa bekal seumur hidup.” Nadhira menyedot es tehnya. “Anak-anak udah taruhan dari bulan lalu.”
Peraturan nomor 6 dilanggar hari Rabu, Kamis, dan Jumat.
Bukan pulang bareng, secara teknis. Aku pulang naik angkot dan turun dua halte lebih awal dan berjalan lewat Jalan Kenanga, dan dia lewat Jalan Kenanga naik sepeda, dan kami kebetulan berjalan ke arah yang sama selama dua belas menit.
Tiga hari berturut-turut. Kebetulan.
Hari Jumat aku bilang, “Ini melanggar nomor enam.”
“Nggak,” katanya. “Nomor enam bilang nggak boleh pulang bareng. Aku jalan, kamu jalan.”
“Kamu bawa sepeda.”
“Aku tuntun.”
“Kamu tuntun sepeda dua belas menit.”
“Iya.”
“Tiap hari.”
“Iya.”
Aku menoleh ke arahnya. Matahari sore di Jalan Kenanga selalu terlalu oranye, dan dia menuntun sepeda dengan satu tangan dan menenteng tas belanja dengan tangan yang lain, dan dia tidak sedang melihat ke arahku sama sekali.
“El.”
“Hm.”
“Kamu lucu banget, ya.”
Sepedanya berbunyi karena remnya tersentuh.
Peraturan nomor 5 dilanggar hari Sabtu, dan itu bencana.
Aturannya jelas: tidak duduk berdekatan di makan malam. Kami sudah sepakat. Aku duduk di sebelah Mama seperti biasa. El duduk di sebelah Om Bara seperti biasa. Meja itu bundar dan kami berhadapan dan jaraknya aman.
Yang tidak kami perhitungkan adalah bahwa meja bundar berarti berhadapan.
Selama satu jam empat puluh menit aku harus menatap wajah anak itu sambil membicarakan katering dan gorden dan sepupu Om Bara yang mungkin tidak bisa datang, dan setiap kali dia menyendok sesuatu ke piring Mamaku dengan sopan, ada sesuatu di dalam dadaku yang melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan organ dalam.
Dan lalu Mama berkata, dengan riang sekali:
“Val, kamu tuh belajar dong sama El. Masak. Mama nggak bisa, kamu nggak bisa, nanti kalian makan apa kalau El nggak ada?”
Aku tersedak.
Bukan tersedak sopan. Tersedak yang butuh dua gelas air dan tepukan di punggung.
“Val! Pelan-pelan!”
“Ma—“ Aku batuk. “Ma, aku nggak—“
“Ide bagus,” kata Om Bara.
“Om—“
“El, ajarin Valerie masak, dong.”
Dan anak laki-laki itu, yang duduk tepat di seberangku dengan wajah paling datar yang pernah diproduksi manusia, meletakkan sendoknya, mengangguk sekali, dan berkata:
“Boleh, Om.”
Aku menendang kakinya di bawah meja.
Dia tidak bergerak.
Jam sembilan aku mengantarnya ke pagar karena itu tugas tuan rumah dan karena aku punya harga diri.
“Kamu ngapain sih tadi.”
“Om Bara yang minta.”
“Kamu bisa nolak.”
“Nggak bisa. Aku sopan.”
“KAMU—“
Dan aku berhenti, karena dia menoleh, dan karena di bawah lampu jalan yang mati sebelah itu aku baru sadar sesuatu tentang wajahnya.
Dari jauh, El itu biasa. Aku sudah bilang ini dan aku berdiri di belakangnya. Selama dua tahun aku lewat di depan anak ini ratusan kali dan otakku tidak pernah merasa perlu menyimpannya.
Dari jarak setengah meter, itu tidak berlaku.
Dari jarak setengah meter ada rahang, dan ada leher, dan ada bulu mata yang panjangnya tidak masuk akal untuk laki-laki sediam ini, dan ada bekas luka pisau tipis di buku jari telunjuk kanan yang sekarang aku hafal letaknya.
“Val.”
“Hm.”
“Kamu ngeliatin.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku lagi mikir,” kataku jujur, “kenapa nggak ada satu orang pun di sekolah itu yang pernah berdiri sedeket ini sama kamu.”
Dia diam.
“Dua tahun, El. Nggak ada yang tahu.” Aku menggeleng pelan. “Mereka semua lewat aja.”
“Bagus.”
“Kenapa bagus?”
Dia membuka pagar. Mendorong sepedanya keluar. Dan sebelum naik, dia bilang — tanpa menoleh, dengan suara yang sangat pelan, seperti orang yang menyebutkan sesuatu yang sudah lama dia simpan di saku:
“Kalau ada yang tahu, mungkin bukan kamu yang duluan.”
Dan dia pergi.
Aku berdiri di depan pagar rumahku selama dua menit dan tidak bisa masuk karena kakiku tidak bekerja.
Malam itu aku membuka buku Fisika dan menatap daftar sebelas peraturan itu.
Empat sudah dilanggar. Dalam enam hari.
Aku mengambil pulpen. Aku berniat mencoret yang sudah gugur, seperti orang yang jujur pada dirinya sendiri.
Yang aku lakukan malah menambahkan satu baris di bawah nomor sebelas:
12. Kalau nomor 11 gagal, jangan bilang dia.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menutup bukunya dan mematikan lampu dan berbaring, dan untuk pertama kalinya sejak umur empat belas, aku tertidur dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan reading
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan