Chapter Twenty Four
Hari yang Tidak Ada Namanya
POV: Valerie
Dua puluh satu Januari.
Aku bangun jam setengah enam dan tahu tanggalnya sebelum aku melihat ponsel, karena tubuhku selalu tahu, dan aku berbaring di gelap selama lima belas menit sambil menunggu untuk merasakan sesuatu.
Tidak datang.
Itu selalu jadi bagian yang paling buruk. Bukan sedihnya. Kekosongannya.
Aku turun jam enam. Mama sudah di dapur, sudah rapi, sudah membuat kopi.
“Pagi, Val.”
“Pagi.”
“Sarapan ada di meja.”
Dan itu saja.
Kami sarapan berdua selama sebelas menit. Mama bicara tentang audit di kantornya. Mama bicara tentang gorden ruang tamu yang mau diganti sebelum resepsi. Mama bertanya apakah aku sudah cuci seragam.
Dan tidak sekali pun, dalam sebelas menit itu, ada yang menyebut apa hari ini.
Aku tidak marah pada Mama.
Aku ingin ini jelas, karena kalau tidak, ceritanya jadi cerita yang salah.
Mama tidak lupa. Mama tidak pernah lupa apa pun. Perempuan itu ingat ulang tahun tetangga yang pindah tujuh tahun lalu.
Mama tidak menyebutnya karena Mama sudah memutuskan, bertahun-tahun lalu, bahwa cara terbaik untuk mencintaiku adalah dengan tidak pernah membuka laci itu di depanku. Dan aku sudah memutuskan hal yang persis sama tentang dia.
Jadi kami duduk berhadapan di meja itu, dua perempuan yang saling melindungi dari hal yang sama, dan kami membicarakan gorden.
Tiga tahun berturut-turut.
Aku tidak ke makam.
Aku tidak pernah ke makam. Tahun pertama aku tidak ke sana karena aku terlalu sibuk dengan map cokelat. Tahun kedua karena aku tidak tahu harus berdiri di sana sebagai apa. Tahun ketiga karena aku sudah punya kebiasaan.
Dan tahun ini karena aku masih tidak tahu jawaban dari pertanyaan yang sama:
kamu boleh sedih untuk seseorang yang melakukan itu?
Aku belum menemukan siapa pun yang bisa menjawabnya. Kalau aku bilang aku merindukannya, orang akan bilang aku menyangkal. Kalau aku bilang aku membencinya, orang akan bilang aku keras. Tidak ada kata untuk yang di tengah, dan yang di tengah itu yang aku bawa setiap dua puluh satu Januari sejak umur empat belas.
Jadi aku pergi ke sekolah. Aku ikut ulangan Bahasa Indonesia. Aku tertawa di kantin dengan volume yang benar. Aku membalas tiga chat grup dan menjawab pertanyaan Bu Ratna di jam kelima.
Aku sangat, sangat bagus dalam hal ini.
El tidak mengirim pesan sepanjang hari.
Aku menyadarinya jam dua siang dan aku ingat merasakan sesuatu yang kecil dan tajam — dan langsung malu karenanya. Anak itu tidak berutang apa-apa padaku. Dia tidak tahu tanggalnya. Aku tidak pernah menyebutkan tanggalnya, bahkan malam itu, bahkan waktu aku bicara empat puluh menit di dapur.
Aku mengecek kotak makanku.
Ada. Seperti biasa.
Aku memakannya di kelas dan tidak merasakan apa-apa, yang bukan salah kotak makannya.
Dia ada di depan pagar rumahku waktu aku pulang, jam empat.
Duduk di sepeda, satu kaki di tanah, dengan rantang bersusun tiga di keranjang depan.
Aku berhenti sepuluh langkah dari pagar.
“El.”
“Hm.”
“Kamu ngapain di sini?”
Dia turun dari sepeda dan mengambil rantang itu.
“Buka pagernya.”
“El, ini hari Selasa—“
“Val.”
Cuma itu. Namaku. Dan aku membuka pagar.
Dia tidak bicara.
Dia masuk, melepas sandal, menaruhnya menghadap keluar. Dia ke dapur dan membuka rantang itu dan memindahkan isinya ke piring — ke piring, bukan dibiarkan di rantang, karena tentu saja — dan menaruhnya di meja makan, dan menutupnya dengan tudung saji.
Lalu dia duduk di kursi ruang tengah.
Dan tidak bicara.
Aku berdiri di ambang pintu dapur.
“El.”
Dia mengangkat wajah.
“Kamu tau, ya.”
Dia mengangguk. Sekali.
“Dari mana?”
Dan dia tidak menjawab itu, dan aku baru tahu jawabannya dua jam kemudian.
Aku duduk di sebelahnya di sofa jam empat lewat.
Kami tidak menonton apa-apa. Televisi mati. Tidak ada musik. Tidak ada yang bicara.
Jam lima, aku bilang, “Kamu nggak nanya.”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena nggak ada yang perlu ditanya.”
Aku menoleh.
“Kalau kamu mau cerita, kamu cerita,” katanya, ke arah televisi yang mati. “Kalau nggak, ya nggak. Aku cuma nggak mau kamu sendirian.”
“Aku nggak sendirian.”
“Val.”
“Ada Mama.”
“Mama kamu di kantor.”
Aku menutup mulut.
Dan dia menoleh, untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini, dan bilang:
“Aku tau rasanya rumah yang isinya orang tapi tetep sendirian.”
Aku menekan tumit tangan ke mataku.
“Jangan baik-baik sekarang,” kataku. “Aku nggak kuat.”
“Oke.”
Dan dia berhenti bicara.
Dan dia duduk di sana, di sofa ruang tengah rumahku, selama dua jam empat puluh menit, tanpa mengeluarkan satu kata pun, sampai matahari turun dan lampu belum ada yang menyalakan dan ruangan itu jadi abu-abu.
Aku menangis di suatu titik. Aku tidak tahu jam berapa dan aku tidak ingat mulainya.
Dia tidak memelukku. Dia tidak bilang tidak apa-apa. Dia tidak melakukan satu pun hal yang orang lakukan.
Dia cuma memindahkan kotak tisu dari meja ke sofa, ke antara kami, dan menaruh tangannya di atas sofa, telapak menghadap ke atas.
Dan aku memegang tangan itu selama dua jam.
Suara pagar terdengar jam tujuh kurang.
Mama pulang lebih cepat.
Dia pulang lebih cepat dan aku tidak mengerti kenapa sampai dia masuk ke ruang tengah, melihat kami berdua duduk di gelap, melihat tudung saji di meja makan — dan langsung meletakkan tasnya di lantai, bukan di kursi.
“Val,” katanya.
Dan aku tahu dari suaranya.
“Ma—“
Dia sudah menyeberang ruangan. Dia sudah duduk di sebelahku dan memegang wajahku dengan dua tangan dengan cara yang tidak dia lakukan sejak aku umur dua belas.
“Maafin Mama,” katanya.
“Ma, nggak apa-apa—“
“Tiga tahun, Val.” Suaranya hancur. “Tiga tahun Mama nggak pernah nyebut. Mama pikir kalau Mama nggak nyebut, kamu nggak usah mikirin.”
“Aku juga gitu ke Mama.”
“Mama tau.” Dia menempelkan dahinya ke dahiku. “Mama tau, sayang. Itu yang paling parah.”
Yang membuat Mama pulang lebih cepat, aku tahu dari dia sendiri malam itu, sekitar jam sepuluh, waktu kami duduk berdua di dapur setelah El pulang.
Hari Minggu kemarin, waktu El mencuci piring bekas tester, dia bertanya pada Mama satu hal.
Satu pertanyaan, sambil membilas piring, sambil tidak menoleh:
“Tante, papanya Valerie meninggalnya tanggal berapa, ya?”
Dan Mama, yang tiga tahun tidak pernah menyebut tanggal itu di depan siapa pun, menyebutkannya. Ke anak umur tujuh belas. Di dapur. Sambil memegang lap.
“Terus dia bilang apa?” tanyaku.
“Nggak bilang apa-apa.” Mama memutar cangkirnya. “Dia cuma bilang ‘oh, iya’. Terus nerusin nyuci.”
Mama menggeleng pelan.
“Mama nggak bisa tidur tiga malem, Val.”
Isi rantang itu, waktu kami buka jam delapan malam, cuma satu masakan yang dilipat jadi tiga susun.
Sop buntut.
Mama membuka tudungnya dan berhenti bergerak.
“Val.”
“Ya, Ma?”
“Ini—“ Mama menekan mulutnya. “Ini yang Mama masak buat papa kamu tiap ulang tahunnya. Satu-satunya yang Mama bisa.”
Aku tidak bisa bicara.
“Mama nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa,” katanya.
“Ma.”
“Mama cerita ke El hari Minggu.” Mama menutup mulutnya dengan tangan. “Mama nggak inget kenapa. Dia cuma nanya Mama bisa masak apa, dan Mama bilang cuma sop buntut, dan Mama cerita—“
Dan Mama mulai menangis di dapur kami, berdiri, jam delapan malam, di depan rantang bersusun tiga.
Dan aku berdiri di sebelahnya dan memegang lengannya, dan aku memikirkan seorang anak laki-laki yang naik sepeda dua puluh dua menit di bulan Januari untuk duduk diam selama dua jam empat puluh menit di rumah orang.
Yang bertanya satu pertanyaan sambil mencuci piring.
Yang tidak pernah bilang apa-apa tentangnya.
Yang tidak akan pernah bilang apa-apa tentangnya.
Aku mengirim pesan jam sebelas malam.
makasih
Iya
el
Hm
aku nggak bakal bisa balas ini
Dia mengetik lama sekali. Berhenti. Mengetik lagi.
Yang akhirnya masuk cuma tiga kata:
Nggak usah nengok
Aku menutup ponsel dan menekannya ke dada dan berbaring di gelap dan menangis untuk kedua kalinya hari itu, dan kali ini bukan karena ayahku.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya reading
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan