← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Four

Rumah yang Terlalu Bersih

POV: Valerie


Sabtu pagi Mama masuk ke kamarku sambil membawa dua kotak kue.

“Val, temenin Mama ke rumah Om Bara, ya.”

“Kenapa nggak dia yang ke sini?”

“Mama yang minta.” Mama meletakkan kue itu di meja belajarku dan mulai membereskan tumpukan bajuku, yang selalu dia lakukan kalau dia gugup. “Nggak enak kalau dikunjungin terus.”

Aku sudah menyiapkan alasan untuk menolak. Aku punya tiga, dan yang ketiga cukup bagus untuk membuat Mama menyerah tanpa merasa bersalah.

Lalu otakku, yang ternyata sudah bekerja sendiri sejak Senin, mengambil alih mulutku.

“Oke.”

Mama berhenti melipat.

“Beneran?”

“Aku pengin lihat rumahnya,” kataku jujur.

Yang tidak aku bilang: aku ingin melihat rumahnya karena rumah tidak bisa berbohong. Orang bisa. Senyum bisa. Tapi rumah punya sudut-sudut yang tidak sempat disiapkan, dan aku sudah tiga tahun ahli membaca sudut-sudut semacam itu. Aku tahu bagaimana rupa rumah yang keuangannya sedang bocor. Aku tahu bagaimana rupa laci yang isinya disembunyikan dari anak.

Aku akan menemukan sesuatu.


Aku menemukan sesuatu, tapi bukan yang aku cari.

Rumah Baskara ada di kompleks lama, satu lantai, halaman kecil dengan dua pot cabai dan satu pot yang sudah mati tapi tidak dibuang. Cat pagarnya sudah pudar dan tidak dicat ulang. Bukan rumah orang yang punya uang tersembunyi. Aku mencatat itu dengan kecewa profesional.

Lalu Om Bara membuka pintu, dan aku masuk, dan aku berhenti dua langkah di dalam.

Karena rumah itu bersih.

Aku tidak sedang bicara soal rapi. Rumahku rapi. Rumahku rapi karena aku yang merapikannya dan aku benci berantakan.

Ini berbeda. Ini bersih dengan cara yang membuat tengkukku dingin.

Lantainya tidak berdebu di sudut. Sudut, ya. Semua orang menyapu tengah ruangan; tidak ada yang menyapu sudut. Bantal sofa tidak sekadar ditata — semua resletingnya menghadap ke bawah, semuanya, empat-empatnya. Kaca jendela tidak ada bekas lap. Gorden digantung dengan jarak lipatan yang sama.

Dan di rak sepatu dekat pintu, sandal-sandal itu berpasangan menghadap keluar, siap dipakai, termasuk sepasang sandal perempuan berwarna biru muda yang ukurannya jelas bukan ukuran Om Bara dan bukan ukuran El.

Aku menatap sandal itu terlalu lama.

“Valerie suka minum apa?” Om Bara sudah di dapur. “El, bikinin—“

“Udah,” suara El dari dalam.

Dan lima belas detik kemudian dia keluar membawa nampan dengan dua gelas teh dan satu gelas es jeruk.

Es jeruk itu diletakkan di depanku.

Aku tidak pernah bilang aku suka es jeruk.

“Aku nggak bilang apa-apa,” kataku.

“Kamu nggak minum teh,” katanya.

“Kok tahu?”

Dia sudah berbalik ke dapur.

“Kemarin nggak kamu sentuh.”


Aku memberi diriku waktu empat puluh menit untuk berpura-pura sopan sebelum mulai bekerja.

Mama dan Om Bara di ruang tamu, membicarakan hal-hal yang tidak aku dengar karena aku tidak mau mendengarnya. Aku bilang mau ke kamar mandi, dan aku memakai jalan yang paling jauh.

Rumah itu punya tiga pintu di lorong belakang.

Pintu pertama: kamar Om Bara. Terbuka. Berantakan, satu-satunya ruangan yang berantakan di seluruh rumah, dan entah kenapa itu membuatku sedikit lega. Manusia. Oke.

Pintu kedua: kamar El. Setengah terbuka. Aku mengintip dan langsung menyesal, bukan karena melihat sesuatu yang privat, tapi karena kamar itu kosong dengan cara yang salah. Kasur, meja, lemari, satu tumpuk buku. Tidak ada poster. Tidak ada foto. Tidak ada satu pun benda yang tidak punya fungsi. Kamar itu seperti kamar kos yang penghuninya baru masuk seminggu lalu dan siap pergi kapan saja.

Pintu ketiga: tertutup.

Aku memegang gagangnya.

Aku tidak akan berpura-pura aku ragu. Aku memutarnya.

Terkunci.

“Itu kamar Mama saya.”

Aku berbalik terlalu cepat.

El berdiri di ujung lorong. Membawa lap. Entah sudah berapa lama.

“Maaf,” kataku, dan itu keluar lebih tulus dari yang aku rencanakan, dan aku langsung membencinya. “Aku kira kamar mandi.”

“Kamar mandi di sebelah dapur.”

“Iya. Sekarang aku tahu.”

Dia tidak marah. Itu masalahnya. Kalau dia marah, aku punya bahan. Dia cuma berdiri di sana memegang lap, dan setelah beberapa detik dia bilang, “Nggak ada apa-apa di dalem. Cuma barangnya.”

“Kenapa dikunci?”

“Biar debunya nggak masuk.”

Dia mengatakannya seperti orang mengatakan alasan yang sudah dia ucapkan seratus kali sampai kehilangan artinya, dan aku mengerti — bertahun-tahun kemudian aku mengerti — bahwa itu bukan alasan sama sekali. Debu tidak masuk lewat pintu yang tidak dibuka. Dia mengunci ruangan itu supaya dia sendiri tidak masuk.

Waktu itu aku cuma menulisnya di kepalaku, di daftar hal-hal mencurigakan, baris keempat belas.


Aku menemukan buku itu dua puluh menit kemudian, di dapur, karena aku memang tidak tahu diri.

El sedang di halaman menjemur lap. Aku punya mungkin sembilan puluh detik.

Dapurnya kecil dan tersusun seperti ruang operasi. Botol-botol bumbu berbaris menghadap depan. Talenan tiga buah, ukurannya berbeda, digantung berurutan. Dan di rak kayu di atas kompor, di antara kaleng-kaleng, ada satu buku tulis.

Sampulnya kembang-kembang, jenis yang dijual di toko fotokopi. Sudutnya sudah bulat karena sering dipegang. Ada bekas cipratan minyak di sampulnya, tua, sudah menghitam.

Aku membukanya.

Bukan resep cetak. Tulisan tangan. Perempuan, huruf kecil-kecil, huruf e-nya miring ke kiri.

Ayam kecap. Bawang merah 8, jangan yang kecil-kecil, El nggak suka nyari-nyari.

Aku membalik halaman.

Sup. Kalau Papa lembur, kaldu bisa disimpan 2 hari. Jangan lebih.

Aku membalik lagi.

Sambal terasi — El belum boleh. Nanti kalau udah SMP.

Ada tanggal di sudut-sudut halaman. Ada catatan kecil di margin dengan pena yang berbeda, tinta hitam, tulisan yang lebih besar dan lebih tegak, membetulkan takaran. Kurang asin. Tambah 1/2 sdt. Tulisan yang jelas ditambahkan bertahun-tahun kemudian, oleh tangan lain.

Oleh tangan yang lebih besar.

Aku sedang membalik ke halaman berikutnya waktu buku itu diambil dari tanganku.

Tidak direbut. Diambil. Pelan, dua tangan, seperti orang mengangkat sesuatu yang bisa pecah.

El menutupnya dan mengembalikannya ke rak, menghadap ke arah yang sama seperti sebelumnya, dan menahan tangannya sebentar di atas sampulnya sebelum menarik diri.

“Maaf,” kataku, untuk kedua kalinya hari itu.

“Nggak apa-apa.”

“Itu—“

“Ayo, es jerukmu nanti cair.”

Dan dia keluar dari dapur, dan aku berdiri sendirian di sana dengan jantung yang berdegup terlalu keras untuk seorang penyelidik yang katanya sedang unggul.


Di angkot pulang, Mama bersandar di jendela dan tersenyum ke arah luar, dan aku memandangi punggung tangannya.

“Mama,” kataku. “Menurut Mama, orang bisa bersih banget karena apa?”

“Hm?”

“Rumah Om Bara. Bersih banget.”

“Itu El yang ngurus, katanya.” Mama mengangguk-angguk. “Rajin banget anaknya. Sejak ibunya nggak ada.”

“Iya,” kataku. “Rajin banget.”

Dan aku, yang malam itu akan berbaring di kasur sampai jam satu pagi, sampai pada kesimpulan bahwa anak yang mengunci satu ruangan di rumahnya sendiri, yang kamarnya kosong seperti orang siap kabur, yang menyimpan buku tulisan tangan seorang perempuan mati di atas kompor — anak itu jelas punya sesuatu yang sedang dia jaga mati-matian.

Aku benar lagi.

Aku salah lagi soal apa.

Dan kesalahan itu, dua bab dari sekarang, akan dimulai dengan satu kebohongan kecil tentang cabai.