Chapter Twenty
Deret Ketiga Dekat Jendela
POV: El
Namanya Reza. Dua belas IPS 2. Basket, dan cukup bagus untuk dikenal orang, dan cukup tahu diri untuk tidak menyebalkan.
Aku ingin mencatat itu sejak awal, karena kalau tidak, aku akan terdengar seperti orang yang mencari alasan.
Reza bukan anak brengsek. Aku sudah mengeceknya — bukan dengan cara yang buruk, aku cuma bertanya dua tiga hal ke Gilang, yang memberikan informasi seperti keran bocor. Reza tidak pernah menyebarkan apa pun tentang siapa pun. Reza mengantar adiknya ke SD setiap pagi. Reza pernah mengembalikan dompet yang ditemukannya di lapangan dengan uangnya masih utuh.
Reza adalah, dengan segala hormat, laki-laki yang jauh lebih masuk akal untuk berdiri di sebelah Valerie Mauren daripada aku.
Dan hari Selasa jam istirahat, dia menghampirinya di kantin, di depan mungkin empat puluh orang, dan bertanya apakah Valerie mau menonton pertandingan Sabtu.
Aku ada di sana.
Itu bagian yang paling tidak enak. Aku ada di sana — dua meja di belakang, membelakangi, sedang tidak makan apa pun karena kotak keduaku hari itu ada di tas seseorang.
Aku mendengar semuanya.
Aku mendengar Reza bertanya. Aku mendengar suara-suara di sekitar mereka turun setengah oktaf, cara yang selalu terjadi kalau perempuan itu jadi pusat sesuatu.
Dan aku mendengar Valerie tertawa — tawa yang keras dan ramah dan sama sekali tidak ada isinya, tawa yang dia pakai untuk membuat orang merasa baik sambil tidak memberikan apa-apa — dan berkata, “Aduh, Sabtu aku ada acara keluarga. Maaf banget ya, Za.”
Sopan. Sempurna. Tidak menutup pintu, tidak membuka pintu.
Dan aku duduk di meja itu memandangi permukaan formika dan menyadari sesuatu yang sangat memalukan tentang diriku sendiri:
aku ingin dia bilang tidak dengan kasar.
Aku ingin dia bilang nggak, aku udah punya. Di depan empat puluh orang. Aku ingin itu dengan cara yang membuatku ngeri pada diri sendiri, karena aku tahu persis kenapa dia tidak bisa, karena aku yang membuat aturan itu, karena akulah alasan perempuan itu harus tertawa sopan pada orang yang tidak bersalah apa-apa.
Aku menghabiskan sisa jam istirahat menghitung ubin.
Dua ratus empat puluh enam.
Yang membuatnya lebih buruk adalah Valerie tidak menceritakannya.
Bukan menyembunyikan — dia mengirim pesan sore itu, tadi ada yang ngajakin nonton basket, aku tolak, jangan mikir aneh2 — dengan nada ringan yang benar dan waktu yang benar dan semua yang benar.
Dia sedang menjagaku.
Perempuan itu, yang tiga tahun terakhir menjaga ibunya, menjaga rekening rumahnya, menjaga map cokelat supaya tidak dilihat siapa-siapa, sekarang menambahkan satu lagi ke dalam daftarnya.
Aku membalas oke.
Lalu aku menatap layar itu selama sebelas menit.
Rabu, jam sepuluh lewat, koridor lantai dua di depan lab.
Aku sedang membawa dua tumpuk kertas ujian untuk Bu Rina dan aku melihatnya dari ujung koridor: Valerie berdiri di dekat jendela, dan Reza di sebelahnya, dan mereka sedang berbicara.
Tidak apa-apa. Tidak ada yang salah dengan itu.
Yang salah adalah Reza mengulurkan tangan dan membetulkan tali tas Valerie yang melorot dari bahunya.
Gerakan kecil. Dua detik. Sopan.
Dan aku merasakan sesuatu naik dari perutku ke tenggorokan yang belum pernah aku rasakan seumur hidup, dan bentuknya jelek sekali, dan aku berhenti berjalan di tengah koridor sambil memegang dua tumpuk kertas ujian.
Valerie mundur setengah langkah. Sopan juga. Mengucapkan sesuatu, tertawa, melihat ke arah tangga.
Lalu dia melihatku.
Dan aku tahu — dari jarak dua puluh meter, di antara anak-anak yang lewat — aku tahu dia langsung tahu, karena wajahnya berubah dalam waktu setengah detik.
Aku berbalik dan berjalan ke ruang guru.
Dia menemukanku dua puluh menit kemudian, di koridor sepi belakang lab, di depan gudang alat olahraga yang tidak pernah ada orangnya jam segini.
“El.”
“Hm.”
“Tadi itu—“
“Aku tahu.”
“Dia cuma benerin tali tas.”
“Iya.”
“El.”
“Iya, Val. Aku tahu.”
Aku sedang menumpuk kertas ujian di rak dan tanganku bekerja terlalu cepat dan aku tahu itu dan aku tidak bisa memperlambatnya.
“Kamu marah,” katanya.
“Nggak.”
“Kamu marah dan kamu nggak mau bilang, dan itu lebih parah daripada kamu marah.”
“Aku nggak punya hak marah.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memeriksanya.
Koridor itu diam.
“Apa?” katanya.
Aku menaruh tumpukan terakhir. Aku meratakannya. Aku menarik napas.
“Aku nggak punya hak, Val.” Aku menoleh. “Di sini aku bukan siapa-siapa. Di sekolah ini kamu sendirian. Kalau ada yang deketin kamu, aku nggak bisa ngapa-ngapain, karena secara resmi aku ini—“
Aku berhenti.
“Kamu ini apa?” katanya pelan.
“Aku ini calon kakakmu.”
Dan aku melihat kalimat itu mengenainya.
Yang terjadi berikutnya aku tidak rencanakan.
Aku perlu mengatakan itu karena aku selalu merencanakan segalanya. Aku menghitung takaran. Aku menghitung hari. Aku menghitung berapa kali seorang perempuan menoleh ke pintu selama makan malam.
Aku tidak merencanakan yang ini.
Dia melangkah maju untuk mengatakan sesuatu — mulutnya sudah terbuka, dia sudah menaikkan tangan — dan aku memindahkan tanganku ke dinding di sebelah kepalanya.
Cuma itu. Satu tangan, di dinding.
Dia berhenti.
Aku menunduk sampai jarak yang tidak ada namanya, cukup dekat untuk melihat bahwa dia berhenti bernapas, cukup dekat untuk melihat pantulan jendela koridor di matanya yang cokelat terang dan yang di bawah lampu koridor tidak berubah warna sama sekali karena tidak ada matahari di sini.
“Val.”
Dia tidak menjawab.
“Kamu boleh ngomong sama siapa aja,” kataku. Suaraku keluar rendah dan pelan dan aku hampir tidak mengenalinya. “Kamu boleh ketawa sama siapa aja. Kamu boleh benerin tali tas sama siapa aja.”
Aku melihat tenggorokannya bergerak.
“Tapi aku mau kamu inget satu hal.”
“Apa,” katanya. Suaranya keluar seperti bisikan yang gagal.
“Yang tahu kamu nggak bisa sambel kacang cuma aku.”
Dia menutup matanya.
“Yang tahu kamu lewat jalur lab kalau lagi males ketemu orang cuma aku. Yang tahu ketawa kamu yang di kantin itu bukan ketawa kamu cuma aku.” Aku menunduk satu senti lagi. “Dan yang tahu kamu bisa makan level lima sambil nangis, cuma aku.”
Tangannya naik dan memegang lengan seragamku dan meremasnya.
“El—“
“Dua tahun, Val.” Aku berhenti. “Nggak ada yang bisa ngejar itu.”
Dan aku mundur.
Aku mundur satu langkah penuh, mengambil tumpukan kertas terakhir dari rak, dan mulai berjalan ke arah tangga, karena jantungku sudah tidak bisa dipertanggungjawabkan dan karena kalau aku diam satu detik lagi aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa dibatalkan di koridor sekolah jam sepuluh pagi.
“KAELAN BASKARA.”
Aku berhenti.
“Kamu nggak bisa ngomong kayak gitu terus pergi!”
“Aku ada kelas.”
“KAMU NGGAK ADA KELAS, INI JAM KOSONG BU RINA!”
Aku terus berjalan.
Aku terus berjalan karena kalau aku menoleh dia akan melihat wajahku, dan wajahku sedang tidak dalam kondisi yang bisa aku pertanggungjawabkan sama sekali.
Sore itu, di Jalan Kenanga, kami berjalan dua belas menit tanpa bicara.
Lalu dia berkata, tiba-tiba, ke arah depan:
“Aku ngerti sekarang.”
“Ngerti apa?”
“Kenapa kamu ditolak dua orang waktu kelas sebelas terus mereka malah pengin nraktir kamu.”
Aku hampir menabrak tiang.
“Val—“
“Kamu tuh pendiem,” katanya, masih ke depan, “terus sekali ngomong, orangnya rusak.”
“Aku nggak—“
“Aku nggak konsen dari jam sepuluh pagi, El.” Dia menoleh, dan wajahnya merah sampai ke leher, dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya. “Aku nulis nama kamu di lembar jawaban Kimia.”
Aku menghentikan sepeda.
“Kamu apa?”
“Di kolom nama. Aku nulis Kaelan.” Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku harus minta lembar baru sama Bu Ratna dan dia nanya kenapa dan aku bilang aku ngantuk.”
Dan aku — di Jalan Kenanga, jam empat sore, sambil menuntun sepeda dengan satu tangan —
tertawa.
Bersuara.
Dia menurunkan tangannya dan menatapku seperti orang melihat gerhana.
“Kamu ketawa.”
“Nggak.”
“KAMU KETAWA. ADA SUARANYA. AKU DENGER.”
“Nggak ada saksinya.”
“AKU SAKSINYA!”
Dan kami berjalan sisa Jalan Kenanga dengan dia berteriak dan aku tidak membantah, dan matahari sore di jalan itu selalu terlalu oranye, dan kalau aku boleh menyimpan satu hari saja dari seluruh hidupku, mungkin yang itu.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela reading
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan