Chapter Eight
Celemek
POV: Valerie
Aku menemukannya Minggu pagi, tergantung di balik pintu dapur, dan aku tahu itu bukan punya Mama sebelum aku menyentuhnya.
Mama tidak punya celemek. Mama tidak pernah punya celemek seumur hidupnya; dia memasak dengan daster dan menerima konsekuensinya.
Celemek ini biru tua. Katunnya sudah tipis di bagian perut, tipis dengan cara yang cuma bisa terjadi kalau kain digesek meja dapur ribuan kali. Talinya diganti — jelas sekali diganti, warnanya beda sedikit, jahitannya rapi tapi jahitan tangan, bukan mesin. Dan di sudut bawah ada bordir kecil, benang putih, huruf sambung yang sudah pudar.
L.
Aku berdiri di dapurku sendiri sambil memegang celemek seorang perempuan yang sudah mati.
Anak itu meninggalkannya kemarin. Setelah mencuci piringku. Setelah pergi tanpa pamit.
Aku memikirkan tiga hal berturut-turut, dan aku ingat urutannya karena urutannya penting.
Yang pertama: Dia pasti panik.
Yang kedua: Ini bahan.
Yang ketiga, yang datang paling akhir dan paling pelan: Kembaliin sekarang juga.
Aku menuruti yang ketiga, dan aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu karena yang kedua.
Yang membukakan pintu adalah Om Bara.
“Valerie!” Wajahnya terang seperti orang yang menang undian. “Renata nggak ikut?”
“Nggak. Aku cuma—“ Aku mengangkat kantong kertas. “El ketinggalan ini.”
“Oh.” Om Bara melihat isinya, dan sesuatu di wajahnya turun setengah tingkat. Bukan sedih. Semacam pelan. “Ya ampun. Anak itu.”
“Dia ada?”
“Ke pasar. Bentar lagi balik.” Dia membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu, Nak. Om buatin apa? Om cuma bisa bikin kopi.”
Aku masuk.
Aku masuk karena aku sedang berburu, dan karena target terbesarku sedang duduk sendirian di ruang tamu tanpa saksi.
Itu yang aku bilang pada diriku sendiri.
Om Bara memegang kantong itu di pangkuannya selama beberapa saat sebelum meletakkannya di meja.
“Dia bawa ini ke mana-mana, ya,” katanya. “Om kira dia udah berhenti.”
“Ini punya—“
“Istri Om.” Dia mengangguk ke arah kantong. “Laras.”
Namanya jatuh di ruangan itu dan tidak ada yang memungutnya selama beberapa detik.
Aku sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan tajam. Aku punya enam. Aku sudah menghafalnya dalam perjalanan, dan yang keluar dari mulutku malah:
“Sakit apa?”
“Kanker.” Om Bara mengucapkannya biasa saja, cara orang yang sudah mengucapkannya cukup sering sampai kata itu tumpul. “Setahun. Cepat, katanya dokter. Om nggak tahu cepat itu bagusnya di mana.”
Aku tidak menjawab.
“Dia orangnya—“ Om Bara berhenti. Tertawa kecil, dari hidung. “Ngeselin, sebenernya. Baiknya nggak ada remnya. Tetangga sakit, dia masak. Ada yang lahiran, dia masak. Om pernah marah, Nak. Om pernah bilang, ‘Ras, kita juga nggak punya duit,’ dan dia jawab—“
Dia berhenti lagi.
“Dia jawab apa?”
“‘Ya udah, kasih aja. Nggak usah nengok ke belakang.’”
Sesuatu di tengkukku berdiri.
Karena aku pernah mendengar kalimat itu. Bukan kalimatnya — cara kerjanya. Aku pernah melihat cara kerjanya, di amplop yang dikembalikan dengan struk, di piring yang dicuci lalu ditinggalkan tanpa pamit, di sambal yang disegel dan disembunyikan di bawah kertas minyak supaya kalau aku menolaknya, tidak ada yang perlu tahu.
“Om...” Suaraku keluar lebih kecil dari yang aku mau. “Setelah itu, El gimana?”
Om Bara memutar cangkir kopinya.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal laki-laki ini, senyum lebar itu hilang sepenuhnya dari wajahnya.
“Om nggak tahu,” katanya.
“Nggak tahu?”
“Om nggak pulang, Nak.”
Ruangan itu jadi sangat sunyi.
“Setahun.” Dia masih memandangi kopinya. “Om pulang jam dua, jam tiga, kadang nggak sama sekali. Om kerja terus. Om bilang ke diri sendiri itu buat bayar utang rumah sakit, dan itu ada benernya, tapi bohongnya lebih banyak.” Dia menggeleng pelan. “Om cuma nggak sanggup masuk rumah itu.”
Aku memikirkan pintu ketiga di lorong belakang. Yang terkunci.
“Terus El?”
“El empat belas.”
Om Bara mengangkat wajahnya, dan matanya merah, dan dia tidak berusaha menyembunyikannya, dan aku tiba-tiba merasa seperti orang yang mendobrak masuk ke rumah orang.
“Anak itu masak sendiri, Nak. Nyuci sendiri. Bayar listrik sendiri, pakai uang yang Om transfer tapi nggak pernah Om tanya cukup apa nggak. Dan tiap Om pulang jam dua pagi—“ Suaranya pecah di tengah dan dia membetulkannya dengan batuk. “Tiap Om pulang jam dua pagi, ada makanan di meja. Ditutup piring. Masih anget.”
Aku menekan kuku ke telapak tanganku.
“Setahun, Nak. Tiap malam. Om nggak pernah sekali pun bilang makasih, dan dia nggak pernah sekali pun nanya kenapa Om nggak pulang.”
Aku duduk di ruang tamu itu dengan celemek seorang perempuan mati di meja depanku, dan aku melakukan hal yang paling tidak aku inginkan sepanjang enam minggu terakhir.
Aku goyah.
Bukan berubah pikiran. Aku belum berubah pikiran; aku terlalu keras kepala untuk itu, dan aku masih punya empat belas baris di daftar hal-hal mencurigakanku.
Tapi ada satu batu di fondasi yang bergeser, dan seluruh bangunan di atasnya berbunyi.
Karena anak umur empat belas yang menyiapkan makan malam untuk ayah yang tidak pulang — itu bukan strategi. Tidak ada yang menyusun strategi selama satu tahun untuk penonton yang tidak pernah menonton.
Itu cuma orang yang tidak tahu cara berhenti memberi.
Persis seperti ibunya.
Dan aku baru saja menghabiskan enam minggu untuk mencari busuk di dalam orang seperti itu.
El pulang jam sepuluh lewat.
Aku mendengar sepedanya di halaman, lalu pintu, lalu langkah kaki yang berhenti mendadak di ruang tamu.
Dia berdiri di sana dengan dua tas belanja, melihat aku, lalu melihat celemek di meja, lalu melihat wajah ayahnya.
Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat di wajah anak itu.
Panik.
Cuma sekejap — setengah detik, mungkin kurang — tapi jelas. Panik anak kecil yang lemarinya dibuka orang lain.
“Maaf,” kataku, dan aku berdiri terlalu cepat. “Ketinggalan di rumahku. Aku nggak—“
“Nggak apa-apa.”
“El, aku nggak buka-buka apa-apa.”
“Iya.”
Dia meletakkan tas belanja. Dia mengambil celemek itu dari meja, dan aku memperhatikan tangannya: dia melipatnya. Tidak asal. Dia melipatnya dengan urutan yang jelas sudah dia lakukan ribuan kali — tali ke dalam dulu, lalu dua sisi, lalu setengah — dan menaruhnya di lengannya seperti orang menggendong sesuatu.
“Aku antar pulang,” katanya.
“Nggak usah.”
“Udah mau hujan.”
Dan memang hujan, sepuluh menit kemudian, dan kami berjalan di bawah satu payung yang terlalu kecil untuk dua orang dan dia memiringkannya ke arahku sepanjang jalan sampai bahu kirinya basah seluruhnya, dan aku melihatnya, dan aku tidak bilang apa-apa, dan aku benci diriku sendiri karena tidak bilang apa-apa.
Yang menyelamatkanku — dan sampai sekarang aku tidak yakin “menyelamatkan” itu kata yang benar — adalah apa yang aku lihat waktu sampai di rumah.
Mama sedang di telepon.
Dia berdiri di dapur membelakangi pintu, dan dia tidak mendengar aku masuk, dan dia sedang tertawa.
Bukan tertawa yang aku kenal.
Selama tiga tahun, tawa Mama selalu punya jeda setengah detik di depannya. Jeda kecil, hampir tidak kelihatan, seperti orang yang mengecek dulu apakah dia boleh. Aku sudah begitu terbiasa dengan jeda itu sampai aku lupa bahwa dulu tidak ada.
Sekarang tidak ada.
Dia tertawa langsung, penuh, dari perut, sambil memegang meja, dan waktu dia bilang “ah, nggak, Mas” suaranya terdengar dua puluh tahun lebih muda.
Dan seluruh rasa goyah yang aku bawa dari rumah itu berubah bentuk dalam satu detik.
Karena inilah persisnya yang terjadi dulu.
Mama juga tertawa seperti itu dulu. Umur lima belas tahun aku menonton perempuan ini tertawa seperti itu untuk laki-laki yang semua orang bilang baik, dan tiga tahun kemudian aku umur empat belas dan sedang menyusun map cokelat jadi tiga tumpukan di meja makan.
Tawa itu bukan bukti bahwa dia aman.
Tawa itu adalah bagaimana rupanya sesaat sebelum dia jatuh.
Aku naik ke kamar tanpa bersuara.
Aku membuka buku Fisika ke halaman belakang, tempat daftar itu, dan aku menulis baris kelima belas dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil:
15. Anaknya baik. → JUSTRU ITU MASALAHNYA. Kalau bapaknya jahat, aku nggak cuma harus ngalahin bapaknya.
Aku harus ngerusak anaknya juga.
Aku menatap kalimat itu.
Lalu aku menutup bukunya, cepat, seperti orang yang tidak sengaja melihat wajahnya sendiri di jendela gelap.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek reading
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan