Chapter Twenty Nine
H-2
POV: El
Dua hari sebelum resepsi, jam tujuh malam, aku ada di dapur rumah Mauren dengan enam wadah besar dan daftar yang sudah aku susun ulang empat kali.
Rencananya begini: yang bisa dibuat H-2 dikerjakan malam ini, di dapur sini, karena kulkas sini lebih besar. Yang harus segar dikerjakan pagi hari-H di rumah, jam tiga, sebelum ke gedung.
Papa dan Tante Renata ke rumah Pak Hadi untuk urusan mobil pengantin. Mereka bilang jam sembilan pulang.
Valerie duduk di kursi dapur dengan buku Fisika yang rusak dan tidak membuka satu halaman pun selama satu setengah jam.
“El.”
“Hm.”
“Kamu udah masak berapa jam hari ini?”
Aku melihat jam dinding.
“Sembilan,” kataku.
“Sembilan?”
“Empat sampe tujuh di rumah. Terus ke sini.”
Aku mendengar buku ditutup.
“Kamu makan?”
“Nanti.”
“El.”
“Bentar lagi, Val.”
Dan lalu kompor mati.
Aku menoleh. Dia sudah berdiri di sebelahku, tangannya masih di kenop.
“Val, itu belum—“
“Duduk.”
“Val.”
“Kaelan.”
Aku duduk.
Dia menaruh piring di depanku dalam waktu empat menit.
Nasi. Telur ceplok yang pinggirannya sobek. Dua sosis yang digoreng terlalu lama sampai kulitnya pecah.
Aku menatap piring itu.
“Aku tau ini jelek,” katanya, sudah duduk di seberang, sudah menyilangkan tangan. “Habisin.”
“Val—“
“Habisin, El.”
Aku makan.
Telurnya asin. Sosisnya gosong di satu sisi. Nasinya dari rice cooker yang sudah dari siang jadi bagian bawahnya keras.
Aku menghabiskan semuanya.
“Gimana?”
“Enak.”
“Bohong.”
“Iya,” kataku.
Dan dia tertawa — tawa betulan, yang keras dan tidak sopan dan membuat tetangga bisa dengar — dan aku duduk di kursi dapur itu dengan piring kosong dan menyadari bahwa itu suara pertama yang benar dari dia sejak hari Selasa.
Kami selesai jam setengah sembilan.
Enam wadah masuk kulkas. Dapur dibersihkan — dia yang mengeringkan, aku yang mencuci, karena itu pembagian yang sudah kami punya sejak November tanpa pernah dibicarakan.
Lalu kami duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa, karena tidak ada satu pun dari kami yang punya tenaga untuk naik ke sofa.
“El.”
“Hm.”
“Lusa, jam berapa kamu ke gedung?”
“Setengah sembilan. Masaknya jam tiga.”
“Jam tiga pagi?”
“Iya.”
“Kamu tidur berapa jam?”
“Cukup.”
“Berapa jam, El.”
“Tiga.”
Dia menoleh ke arahku dengan wajah yang aku sudah hafal artinya, dan aku mengangkat tangan sebelum dia sempat mulai.
“Setelah lusa, aku tidur seminggu,” kataku.
“Aku pegang omongan kamu.”
“Iya.”
Kami diam.
Kulkas berdengung di dapur. Ada motor lewat di gang.
Dan lalu dia bertanya.
“El.”
“Hm.”
“Habis nikahan, kita gimana?”
Aku tidak menjawab.
“Aku serius nanya.” Suaranya sangat pelan. “Aku nggak lagi nyerang. Aku cuma—“ Dia menarik napas. “Lusa selesai. Terus Senin kalian pindah. Terus hari Selasa aku bangun, dan kamu ada di kamar sebelah, dan kita sarapan di meja yang sama sama Mama sama Om Bara.”
Aku menatap televisi yang mati.
“Terus gimana?”
“Val.”
“Kamu udah mikirin, kan?” katanya. “Kamu selalu udah mikirin.”
“Iya.”
“Terus?”
Dan aku, yang sudah lima bulan punya jawaban untuk setiap pertanyaan perempuan ini, duduk di lantai ruang tengah rumahnya dan berkata:
“Aku nggak tau.”
Dia tidak berkata apa-apa.
Itu yang membuatku hancur. Kalau dia marah, aku bisa menanggungnya. Kalau dia menyerang, aku bisa berdiri diam sampai selesai; aku sudah pernah, aku bagus dalam hal itu.
Dia cuma memindahkan kepalanya ke bahuku dan tidak bilang apa-apa.
“Val.”
“Hm.”
“Aku bohong.”
“Hah?”
“Aku udah mikirin,” kataku. “Tiap malem. Dari bulan Desember.”
“Terus?”
“Semua skenarionya sama.”
Aku merasakan dia mengangkat kepala.
“Sama gimana?”
“Semuanya berakhir di satu tempat,” kataku. “Satu hari nanti, entah kapan, salah satu dari kita nggak sanggup lagi. Terus ketahuan. Terus mama kamu mundur.”
“El—“
“Aku udah coba dua puluh tiga kali, Val.” Suaraku keluar aneh. “Aku ngitung. Dua puluh tiga skenario. Yang beda cuma berapa lama.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Yang paling lama berapa?” katanya.
“Empat tahun.”
“Empat tahun.”
“Kalau kita kuliah di kota yang beda,” kataku. “Kalau kita cuma ketemu pas lebaran. Kalau kita—“
Aku berhenti.
Aku berhenti karena tanganku bergetar dan karena aku sedang memegang lutut sendiri dan itu tidak membantu sama sekali.
“Empat tahun itu yang paling lama,” kataku. “Dan itu skenario di mana kita hampir nggak ketemu.”
Dia mengangkat kepalanya dari bahuku.
Dan aku merasakan dia berpindah — bergerak di lantai, memutar badan — dan lalu dia ada di depanku, berlutut, dengan dua tangan di sisi wajahku.
“El.”
“Val, jangan.”
“Lihat aku.”
Aku melihatnya.
Matanya cokelat terang, dan di ruang tengah yang cuma dinyalakan lampu dapur, warnanya tidak berubah jadi apa pun, karena tidak ada matahari di sini dan tidak akan pernah ada.
“Kamu ngitung dua puluh tiga skenario,” katanya.
“Iya.”
“Semuanya kalah.”
“Iya.”
“Terus kamu tetep di sini.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu tetep dateng ke rumahku hari Selasa waktu bapakku meninggal tiga tahun lalu,” katanya. “Kamu tetep naik sepeda dua puluh dua menit jam sepuluh malem. Kamu tetep masak sembilan jam sehari buat pernikahan yang bakal ngambil rumah kamu.”
Tangannya bergerak ke rahangku.
“Kamu udah tau kamu kalah dari bulan Desember,” katanya, “dan kamu tetep di sini.”
“Val—“
“Kamu tau itu apa namanya?”
Aku menggeleng, karena aku tidak sanggup bicara.
Dan Valerie Mauren — yang berani seperti truk, yang duduk di meja orang dan bikin satu ruangan berhenti bernapas — menempelkan dahinya ke dahiku dan bilang:
“Itu namanya kamu udah kalah dari dulu, El. Dua tahun lalu. Di lapangan MOS.”
Aku tidak tahu apa yang aku katakan setelah itu.
Aku ingin berbohong dan bilang aku ingat, tapi aku tidak ingat urutannya.
Yang aku ingat: tanganku naik ke pergelangan tangannya, dan aku memegangnya, dan aku merasakan nadinya cepat sekali di bawah ibu jariku.
Yang aku ingat: aku bilang namanya.
Dan yang aku ingat dengan sangat jelas, karena aku sudah menyimpannya selama lima bulan dan dua puluh tiga skenario — adalah kalimat yang akhirnya keluar, di lantai ruang tengah rumah Mauren, jam sembilan kurang, dua hari sebelum pernikahan ayahku:
“Sayang.”
Dia berhenti bernapas.
“Kamu—“
“Sekali,” kataku. “Aku cuma bisa sekali, Val.”
“El—“
“Aku udah nyimpen dari November.”
Dan dia menciumku.
Aku tidak akan menuliskan bagian itu.
Bukan karena tidak layak ditulis, tapi karena kalau aku menuliskannya, itu akan berhenti jadi milikku.
Yang akan aku tulis cuma ini: tanganku masih di pergelangan tangannya, dan lantai ruang tengah itu dingin, dan kulkas di dapur berdengung, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun aku tidak menghitung apa-apa.
Bukan takaran. Bukan hari. Bukan skenario. Bukan setengah detik seorang perempuan menoleh ke pintu.
Tidak ada satu angka pun di kepalaku, dan itu — kalau kamu kenal aku — adalah hal paling mustahil yang pernah terjadi padaku.
Mungkin itu sebabnya aku tidak mendengar pagar.
Yang aku dengar adalah kunci.
Dan Valerie yang mundur.
Dan suara plastik jatuh ke lantai — kantong belanja, dua, dari pintu depan yang terbuka setengah.
Aku menoleh.
Tante Renata berdiri di ambang pintu ruang tengah dengan kunci masih di tangannya.
Dan di belakangnya, di teras, dengan wajah yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, Papa.
Jam sembilan kurang sepuluh.
Mereka bilang jam sembilan.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2 reading
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan