Chapter Seventeen
Kursi Kosong
POV: Valerie
Hari Senin dia tidak mengirim kotak makan.
Aku menyadarinya jam sepuluh, waktu tanganku masuk ke tas dan tidak menemukan apa-apa, dan reaksi pertamaku — aku malu mengakuinya — bukan khawatir. Reaksi pertamaku adalah kesal, dengan cara yang manja dan menjijikkan, seperti orang yang lupa bahwa bekal itu bukan haknya.
Aku mengirim pesan.
Kotaknya mana
Tidak dibaca.
Jam dua belas: masih tidak dibaca.
Jam dua: aku ke IPA 3 dan bangkunya kosong.
“Nggak masuk,” kata Gilang. “Izin.”
“Sakit?”
“Nggak tau. Suratnya cuma bilang keperluan keluarga.” Gilang mengangkat bahu. “Tiap tahun juga gitu, sih.”
Aku berhenti.
“Tiap tahun?”
“Iya. Awal November.” Dia mengunyah roti. “Kelas sepuluh, kelas sebelas, sekarang. Tanggal yang sama.”
Aku mengeluarkan ponselku dan melihat tanggalnya.
Enam November.
Dan aku ingat percakapan di ruang tamu, dua bulan lalu, dengan seorang laki-laki yang memegang cangkir kopi dan tidak sanggup mengangkat wajahnya.
Kanker. Setahun. Cepat, katanya dokter.
Aku tidak pernah bertanya tanggalnya.
Aku tidak pernah, sekali pun, bertanya tanggalnya.
Pintu rumah Baskara tidak dikunci.
Itu hal pertama yang membuatku takut. Rumah itu selalu terkunci; anak itu mengunci pintu bahkan waktu dia sedang menjemur lap di halaman.
Aku masuk tanpa mengetuk.
Dan hal kedua yang membuatku takut adalah baunya.
Rumah itu penuh. Bukan wangi masakan biasa — ini terlalu banyak, terlalu bertumpuk, sepuluh hal berbeda yang dimasak dalam satu hari kecil. Bau kaldu dan bawang goreng dan sesuatu yang manis dan sesuatu yang dibakar.
Aku berjalan ke ruang makan.
Meja itu penuh.
Aku menghitungnya nanti, di kamarku, jam dua pagi, karena aku tidak bisa berhenti: empat belas piring. Empat belas masakan berbeda, disusun rapi, ditutup tudung saji anyaman yang aku belum pernah lihat sebelumnya, dan piring-piring bersih tersusun di ujung meja, dan sendok garpu dilipat di dalam serbet.
Enam kursi.
Rumah itu cuma punya dua penghuni dan mejanya cuma punya empat kursi, dan hari itu ada enam, dan dua di antaranya jelas dibawa dari teras.
Dan pintu ketiga di lorong belakang — yang terkunci, yang dua bulan lalu aku putar gagangnya dan aku malu sampai sekarang — terbuka.
Dia di dapur.
Berdiri di depan kompor, memakai celemek biru tua dengan huruf L yang sudah pudar di sudut bawah, mengaduk sesuatu.
Aku tahu dia mendengar aku masuk. Aku tahu, karena bahunya bergerak sedikit.
Dia tidak berbalik.
“El.”
“Kamu belum makan, ya?” katanya.
Suaranya biasa saja. Itu bagian yang paling menakutkan. Suaranya sepenuhnya biasa.
“El, ini apa?”
“Bentar lagi mateng.”
“El.”
“Yang di meja udah dingin, aku panasin lagi—“
“KAELAN.”
Sendoknya berhenti.
Aku berjalan ke sebelahnya. Dapur itu kecil dan aku berdiri cukup dekat untuk melihat bahwa matanya merah dan keringnya bukan keringat orang masak.
“Sejak jam berapa?”
Dia tidak menjawab.
“El. Sejak jam berapa kamu masak?”
“Empat,” katanya.
“Pagi?”
“Iya.”
Sekarang jam empat sore.
Dua belas jam.
Aku mematikan kompornya.
Dia tidak menghentikanku. Itu yang membuat dadaku sakit — dia tidak menghentikanku, dia cuma berdiri di sana memegang sendok kayu di tangan yang sudah tidak sedang mengaduk apa-apa.
“Siapa yang mau dateng?” tanyaku.
Dia menatap kompor yang sudah mati.
“El, siapa yang mau dateng?”
“Nggak ada.”
“Terus—“
“Dulu ada,” katanya.
Dan itu — dua kata itu — akhirnya membuat sesuatu di wajahnya bergerak.
“Dulu ramai,” katanya. “Tiap enam November, ulang tahun Mama. Tante-tante, tetangga, Bu Sri, Bu Yanti dari pasar. Mama masak semuanya sendiri. Empat belas macem. Dia hafal siapa suka apa.” Dia menarik napas dan napas itu tidak stabil. “Tahun pertama setelah dia nggak ada, orang-orang masih dateng. Bawa makanan. Tahun kedua tiga orang. Tahun ketiga—“
Dia berhenti.
“Tahun ketiga aku tetep masak,” katanya.
Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan.
Aku tidak punya perlengkapan untuk ini. Seluruh isi diriku adalah senjata: cantik, berisik, cepat, berani. Tidak ada satu pun dari itu yang berguna di dapur berukuran tiga kali dua meter pada jam empat sore tanggal enam November.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang aku bisa.
Aku keluar ke ruang makan, dan aku membuka tudung saji satu per satu, dan aku duduk di kursi.
“El,” kataku. “Sini.”
“Val—“
“Aku laper.”
Dia berdiri di ambang pintu dapur.
“Aku belum makan dari pagi,” kataku, dan itu benar, dan suaraku hampir tidak goyah sama sekali. “Ada empat belas macem di sini. Aku nggak tau ini apa aja. Kamu harus kasih tau.”
Dia tidak bergerak.
“El.”
“Val, itu—“
“Duduk.”
Dan dia duduk.
Kami makan selama satu setengah jam.
Aku bertanya tentang semuanya. Aku memaksanya menyebutkan nama setiap masakan, dan setiap kali dia menyebutkan namanya aku bertanya lagi — siapa yang suka yang ini? kenapa ada kacangnya? ini pedes nggak aslinya? — sampai dia harus bicara, sampai kalimatnya jadi panjang, sampai dia lupa bahwa dia sedang bicara.
“Yang ini Bu Sri,” katanya, menunjuk semur. “Tiap tahun dia minta dibungkusin. Mama sampe hafal bikin lebih.”
“Ini?”
“Tante Ita. Adik Mama.” Dia menyendok sedikit. “Dia nggak dateng lagi sejak tahun kedua. Dia tinggal di Semarang sekarang.”
“Ini?”
Dia diam.
Aku menunggu.
“Ini Papa,” katanya akhirnya.
Aku meletakkan sendokku.
“Papa suka yang ini,” katanya. “Mama bikin tiap ulang tahunnya sendiri, buat Papa. Aneh, kan. Ulang tahun dia, tapi masakan yang paling banyak selalu yang Papa suka.”
Ada satu kursi di ujung meja yang tidak ada piringnya.
Aku melihatnya sejak tadi dan aku tidak bertanya, dan aku tidak akan bertanya, karena aku sudah tahu.
Yang terjadi berikutnya terjadi karena aku bodoh.
Aku bilang, tanpa berpikir, sambil mengambil sendok kedua dari semur itu:
“Enak banget. Ibu kamu pasti masaknya enak banget, ya.”
Dan sendok El jatuh ke piring.
Bukan dilepas. Jatuh.
Aku mengangkat wajah.
Dan anak laki-laki yang selama tiga bulan tidak pernah mengubah ekspresinya sekali pun — yang berdiri diam waktu aku menuduhnya di meja makan, yang tidak bergerak waktu aku menangis di dapurnya, yang menolak aku di tengah hujan dengan suara yang tidak goyah sedikit pun —
anak itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“El—“
“Aku nggak inget,” katanya.
Suaranya hancur di tengah.
“Aku nggak inget rasanya, Val.”
Aku berhenti bernapas.
“Aku ngikutin bukunya. Semua takarannya aku ikutin. Aku bikin ini tiga tahun berturut-turut.” Bahunya bergetar dan dia tidak menurunkan tangannya. “Tapi aku nggak tau ini bener apa nggak. Nggak ada yang bisa bilang. Nggak ada yang pernah makan yang aslinya kecuali Papa, dan Papa nggak pernah—“
Dia menarik napas dan napasnya tersangkut.
“Papa nggak pernah bilang apa-apa.”
Aku tidak bisa bergerak.
“Tiap tahun rasanya beda dikit,” katanya. “Tiap tahun aku makin nggak yakin. Dan aku takut—“
Dia berhenti.
“Aku takut lupa rasanya.”
Aku tidak ingat berdiri.
Aku ingat lantai, dan aku ingat aku berlutut di sebelah kursinya, dan aku ingat tanganku menarik kedua tangannya turun dari wajahnya karena aku tidak sanggup melihatnya menutupi wajahnya di rumahnya sendiri.
Dan aku memeluknya.
Bukan menggoda. Bukan menabrak. Bukan satu pun dari hal-hal yang biasanya aku lakukan dengan tubuhku untuk membuat orang lain kehilangan keseimbangan.
Aku memeluk kepalanya ke bahuku dan aku memegang belakang lehernya dan aku tidak berkata apa-apa sama sekali, karena tidak ada satu pun kalimat di dunia ini yang cukup dan karena akhirnya aku mengerti — di lantai ruang makan keluarga Baskara, tanggal enam November, jam enam sore — bahwa selama ini aku salah tentang satu hal yang paling mendasar.
Aku pikir anak ini lawanku.
Anak ini cermin.
Dia umur empat belas dan menyangga rumah sendirian. Aku umur empat belas dan menyangga rumah sendirian. Dia mengunci satu pintu supaya tidak masuk. Aku mengunci satu laci supaya tidak melihat.
Dan kami berdua sudah tiga tahun berpura-pura jadi orang dewasa di rumah yang tidak punya orang dewasa.
Dia menangis di bahuku selama mungkin sepuluh menit, tanpa suara, seperti orang yang sudah lama sekali berlatih menangis tanpa membangunkan siapa pun.
Dan waktu dia selesai, dia bilang, “Maaf.”
“Kamu minta maaf lagi,” kataku, “aku pukul.”
Dia mengeluarkan suara. Setengah tawa, setengah bukan.
Kami membereskan meja jam delapan.
Empat belas piring, dibungkus, dimasukkan ke kulkas dan ke wadah-wadah yang dia siapkan dari pagi. Aku mengeringkan; dia mencuci. Tidak ada yang bicara.
Waktu tinggal piring terakhir, aku bilang:
“El.”
“Hm.”
“Tahun depan aku dateng lagi.”
Tangannya berhenti di dalam air.
“Dan tahun depannya lagi.” Aku meletakkan lap. “Dan aku bakal makan semuanya, dan aku bakal nanyain semuanya lagi, dan kalau rasanya beda dikit aku bakal bilang, karena mulai sekarang ada satu orang lagi yang inget.”
Dia tidak menoleh.
Tapi aku melihat bahunya turun — turun beberapa senti, seperti orang yang meletakkan sesuatu yang sudah dia angkat terlalu lama.
“Oke,” katanya.
Dan itu semua yang dia bilang.
Itu cukup.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong reading
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan