← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Twenty Eight

Dua Detik

POV: Valerie


Aku menyerahkannya di lapangan belakang, di tangga tribun, tempat yang sama dengan bulan Oktober.

Aku tidak memakai kalimat pembuka. Aku sudah menyiapkan empat dan membuang keempatnya di angkot.

Aku cuma membuka galeri, mencari fotonya, dan memberikan ponselku ke tangannya.

Dia membacanya.

Aku menonton matanya bergerak dari atas ke bawah — alamat, luas tanah, tahun dibangun, kotak bergaris tebal di bawah. Aku menonton wajahnya, karena aku sudah lima bulan berlatih membaca wajah itu dan aku pikir aku sudah lumayan.

Wajah itu tidak melakukan apa-apa.

“Kamu dapet dari mana?”

“Laci ruang tamu.”

“Kapan?”

“Selasa.”

Dia mengembalikan ponselku.

“Om Bara minta aku nggak kasih tau kamu,” kataku.

“Terus kenapa kamu kasih tau?”

Dan aku menjawab dengan kalimatnya sendiri, kalimat yang dia ucapkan di rumah ayahnya bulan Oktober, sambil menyerahkan satu kardus mi instan penuh arsip kepada anak perempuan yang sedang mencari alasan untuk menghancurkan hidupnya:

“Karena kamu butuh tahu. Dan aku nggak mau kamu tahunya dari orang lain.”

Dia diam beberapa saat.

“Oke,” katanya.


Aku menunggu.

Aku sudah menyusun semuanya di kepala sepanjang malam Selasa, sepanjang Rabu, sepanjang jam pelajaran Kamis. Aku tahu urutannya. Pertama dia akan diam. Lalu dia akan bertanya berapa angkanya lagi, karena dia selalu mengecek dua kali. Lalu dia akan berdiri. Lalu dia akan pulang, dan malam ini juga dia akan berbicara pada ayahnya di ruang tamu itu, dengan suara yang sangat sopan dan sangat tenang, dan besok pagi tanggalnya akan mundur.

Itu perhitunganku.

Yang terjadi adalah El menaruh sikunya di lutut, menyatukan dua tangannya, dan berkata:

“Nggak apa-apa.”

Aku mengerjap.

“Apa?”

“Nggak apa-apa,” katanya lagi. “Rumahnya dijual.”

Aku berdiri.

Aku tidak memutuskan untuk berdiri; aku hanya menemukan diriku sudah berdiri di tangga tribun dengan ponsel di tangan.

“El, itu rumah kamu.”

“Iya.”

“Itu dapurnya.”

“Iya.”

“Kamar yang dikunci—“

“Val.” Dia mengangkat wajahnya. “Aku tau semuanya. Kamu nggak perlu ngingetin.”

“TERUS KENAPA KAMU—“

Aku berhenti, karena suaraku memantul ke gedung olahraga dan karena ada dua anak kelas sepuluh di ujung lapangan yang menoleh.

Aku duduk kembali. Aku menekan telapak tangan ke mataku.

“Dua detik,” kataku.

“Hm?”

“Om Bara bilang, kalau dia ngomong ke kamu, kamu bakal bilang iya dalam dua detik.” Aku menurunkan tangan. “Aku ngitung. Kamu tiga detik. Selamat, kamu lebih lambat dari perkiraan bapakmu.”

Dan untuk pertama kalinya sejak dia membaca surat itu, sesuatu di wajahnya bergerak.


“Papa bilang gitu?”

“Iya.”

“Ke kamu?”

“Iya.”

El menunduk ke tangannya.

“Dia latihan tiga minggu, El.” Suaraku sudah tidak bisa aku kendalikan. “Di mobil. Dia bilang dia latihan kayak orang gila, dan dia tetep nggak bisa, karena dia takut kamu bakal bilang iya terus besoknya bangun dan masak sarapan kayak nggak terjadi apa-apa.”

Dia tidak menjawab.

“Dan itu persis yang barusan kamu lakuin.”

“Val—“

“KAMU BAHKAN NGGAK NANYA HARGANYA LAGI.”

Lapangan itu diam.

Dia menoleh ke arahku. Pelan.

“Enam ratus empat puluh,” katanya. “Utang koperasi empat puluh dua. Resepsi kira-kira delapan puluh, mungkin sembilan puluh kalau kateringnya nambah. Sisanya lima ratus sepuluh. Dibagi dua orang, empat tahun.” Suaranya rata sekali. “Cukup, kalau negeri. Kalau swasta, harus ada yang kerja.”

Aku menatapnya.

“Kamu ngitung.”

“Iya.”

“Kapan?”

“Waktu kamu masih ngomong.”


Ini bagian yang paling sulit aku tulis, karena ini bagian di mana aku mengatakan apa yang sebenarnya aku inginkan.

“El.”

“Hm.”

“Kamu bisa pake ini.”

Dia tidak bergerak.

“Kamu tinggal ngomong ke bapakmu malem ini.” Aku bicara cepat, karena kalau pelan aku akan berhenti. “Kamu nggak perlu bohong. Kamu nggak perlu drama. Kamu tinggal bilang kamu nggak setuju rumahnya dijual, dan itu bener, El, itu emang bener—“

“Val.”

“—dan Om Bara bakal mundur. Karena dia bakal ngerasa bersalah. Karena dia udah ngerasa bersalah tiga tahun dan ini bakal jadi yang terakhir yang dia sanggup.” Aku menelan. “Tanggalnya mundur. Mungkin batal. Dan habis itu—“

Aku berhenti.

“Dan habis itu apa?” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Val. Habis itu apa?”

“Habis itu kita nggak perlu sembunyi lagi,” kataku.

Dan aku menangis, di tangga tribun, jam empat sore, tiga hari sebelum pernikahan ibuku.


El diam sangat lama.

Lalu dia bertanya, dengan suara yang sangat pelan:

“Kamu mau aku pake?”

Dan aku — karena aku sudah berbohong sekali di meja makan bulan September dan aku tidak akan melakukannya lagi seumur hidup —

berkata, “Iya.”

Dia mengangguk.

“Aku tau,” katanya.

“El—“

“Aku udah tau dari kamu ngasih ponselnya.”

Dia menegakkan badan. Dia menatap lapangan, ke arah gawang yang jaringnya sobek, ke arah dua anak kelas sepuluh yang sudah pergi.

“Val, aku mau kamu denger ini pelan-pelan,” katanya. “Karena aku cuma bisa ngomongin sekali.”

Aku menahan napas.

“Kalau aku pake ini, aku nggak lagi ngambil rumah balik,” katanya. “Aku lagi mukul bapakku pake satu-satunya hal baik yang dia lakuin dalam tiga tahun.”

Aku menutup mulutku.

“Laki-laki itu setahun nggak pulang,” katanya. “Dan sekarang dia mau jual rumahnya biar aku sama kamu bisa kuliah. Dia latihan tiga minggu di mobil biar bisa ngomong sama aku.” Suaranya goyah untuk pertama kalinya. “Dan aku bakal mukul dia pake itu? Biar aku bisa pegang tangan pacarku di depan orang?”

“El, itu bukan—“

“Itu persis itu, Val.”

Aku menekan tumit tangan ke mataku sampai ada cahaya.

“Terus mama kamu,” katanya.

“Jangan.”

“Val.”

“Jangan, El. Jangan yang itu.”

“Kalau tanggalnya mundur, dia bakal tau kenapa,” katanya. “Cepat atau lambat. Dan dia bakal ngerasa dia yang bikin anak Om Bara kehilangan rumah.”

Aku menggeleng dan terus menggeleng.

“Dan dia bakal balik ngecek pintu,” katanya.


Kami duduk di tangga tribun sampai lampu lapangan menyala.

“Aku benci kamu,” kataku akhirnya.

“Iya.”

“Aku benci banget.”

“Iya.”

“Kamu tuh selalu bener dan itu nyebelin banget dan aku nggak pernah bisa ngelawan.”

“Kamu pernah,” katanya.

Aku menoleh.

“Bulan Oktober,” katanya. “Kamu bilang aku ngukur berapa yang bisa mama kamu tanggung, tapi buat kamu aku nggak ngukur apa-apa.”

Dia menoleh ke arahku.

“Itu bener,” katanya. “Dan aku salah.”

“El—“

“Jadi aku nanya sekarang.” Dia menatapku, dan matanya merah, dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya. “Val. Kamu sanggup?”

Aku membuka mulut.

“Jangan jawab cepet-cepet,” katanya. “Aku nggak akan mutusin buat kamu lagi. Kalau kamu bilang nggak sanggup, aku ngomong ke Papa malem ini juga. Aku serius. Aku bakal ngomong, dan tanggalnya mundur, dan aku bakal nanggung sisanya.”

Lapangan itu kosong. Lampunya berdengung.

Aku memikirkan lima ratus lembar kertas krem. Kamar dengan cat biru muda. Meja makan dengan empat belas piring. Seorang laki-laki yang berdiri di butik dan tidak bisa bicara. Seorang perempuan yang berdiri tegak untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.

Dan aku memikirkan dua anak yang duduk di tangga tribun jam enam sore dan menghitung uang orang tua mereka.

“Sanggup,” kataku.

Dia menutup matanya.

“Val—“

“Aku sanggup, El.” Aku mengambil tangannya, di lapangan terbuka, dan aku tidak peduli. “Tiga hari lagi. Terus satu rumah. Terus kita cari caranya.”

“Kalau nggak ada caranya?”

“Ya kita bikin.”

Dia mengeluarkan suara — setengah tawa, setengah bukan, suara yang sudah aku hafal — dan menunduk sampai dahinya menyentuh bahuku.

Dan kami duduk seperti itu di bawah lampu lapangan sampai satpam datang dan menyuruh kami pulang.


Aku menghapus foto itu malam harinya.

Dari galeri, dari album terkunci, dari folder sampah. Aku menghapusnya tiga kali di tiga tempat yang berbeda, sampai benar-benar tidak ada.

Lalu aku duduk di lantai kamar dan mengirim satu pesan ke Om Bara, satu-satunya pesan yang pernah aku kirim ke nomornya secara pribadi seumur hidup:

Om, soal yang kemarin. Aku udah kasih tau El.

Maaf.

Dia membalas jam sebelas kurang.

Terus dia bilang apa Nak

Aku menatap layar itu lama sekali.

Dia bilang nggak apa-apa

Om Bara mengetik. Berhenti. Mengetik lagi. Berhenti.

Selama hampir empat menit.

Dan yang akhirnya masuk cuma:

Iya

Om udah nebak

Aku menaruh ponsel di lantai dan menekan wajahku ke lutut dan tidak bergerak sampai jam satu pagi.

Tiga hari lagi.