Chapter One
Meja Makan Pertama
POV: Valerie
Aku menghabiskan empat puluh menit di depan cermin untuk sebuah makan malam yang aku benci.
Bukan karena aku ingin terlihat cantik. Aku sudah cantik. Itu bukan kesombongan, itu data. Sejak umur dua belas aku tahu apa yang terjadi pada sebuah ruangan ketika aku masuk — obrolan turun setengah oktaf, ada satu-dua orang yang lupa kalimatnya sendiri di tengah kalimat, dan selalu ada bapak-bapak yang tiba-tiba merasa perlu membenahi kerah bajunya. Rambutku hitam sepunggung dan selalu terlihat baru disisir walaupun aku hampir tidak pernah menyisirnya. Mataku cokelat terang, dan kalau kena matahari sore warnanya berubah jadi madu. Aku pernah membaca komentar di postingan angkatan yang menyebutku bidadari salah turun alamat, dan aku tidak membantah.
Aku tidak berdandan supaya cantik. Aku berdandan supaya menang.
Karena malam ini, di meja makan rumahku sendiri, Mama akan mengenalkan seorang laki-laki.
“Val.” Mama mengetuk pintu kamarku dua kali, cara mengetuk yang sama seperti tiga tahun lalu waktu dia harus memberitahuku bahwa Papa punya utang seratus delapan puluh juta dan seorang perempuan bernama Wida. “Mereka sudah datang.”
“Mereka?”
“Om Bara sama anaknya.”
Aku berhenti memasang anting.
Anaknya.
Tidak ada yang bilang ada anaknya.
Aku turun dengan senyum terbaikku. Senyum yang aku simpan untuk guru yang mau menyita ponselku dan untuk penagih utang yang mengetuk pintu jam tujuh pagi. Senyum yang artinya aku ramah dan kamu akan menyesal.
Om Bara berdiri duluan. Empat puluhan, badan besar, dan senyumnya lebar sekali — lebar dengan cara yang bikin dadaku dingin, karena aku pernah kenal senyum seperti itu. Aku hidup empat belas tahun bersama senyum seperti itu. Senyum itu yang dulu membawakan aku boneka dari luar kota, dan senyum itu juga yang meninggalkan map cokelat berisi angka-angka di laci meja makan ini.
“Valerie, ya?” katanya. “Astaga. Renata, kamu nggak bilang anakmu secantik ini.”
“Om juga nggak bilang mau bawa cadangan,” kataku manis.
Mama menyikut lenganku. Om Bara tertawa — tertawa asli, yang bikin aku makin waspada, karena orang jahat yang bagus selalu tertawa asli.
Dan baru setelah itu aku melihat anak laki-laki di belakangnya.
Dia berdiri di ambang dapur. Dapurku. Memegang panci. Memakai celemek yang bukan celemek Mama.
Dan aku mengenali wajahnya.
Bukan kenal. Mengenali. Bedanya tipis tapi penting: aku pernah melihat wajah ini melintas di lorong sekolahku, mungkin ratusan kali, tanpa satu kali pun otakku merasa perlu menyimpannya. Wajah yang datar. Alis tebal. Tatapan yang orang bilang jutek. Tinggi, bahu lebar, dan berdiri terlalu lurus untuk anak SMA.
“Kaelan,” kata Om Bara. “Panggil El. Seangkatan sama kamu, katanya. Beda kelas.”
Anak itu mengangguk. Satu kali. Sopan. Dingin.
Lalu dia kembali masuk ke dapurku.
Aku duduk. Aku menyilangkan kaki. Aku memasang wajah yang biasanya membuat laki-laki lupa nama depan mereka sendiri.
Dan aku menghabiskan dua puluh menit berikutnya ditolak oleh sepiring nasi.
Karena laki-laki itu memasak. Bukan bantu-bantu, bukan sok-sokan bawa lauk dari rumah. Dia memasak. Di dapurku. Dengan gerakan orang yang sudah melakukan hal ini ribuan kali. Pisaunya turun cepat dan rapat, ujung jarinya melipat ke dalam, dan bawang itu jatuh jadi potongan-potongan yang tipisnya menghina. Dia tidak melihat ke bawah waktu memotong. Dia tidak melihat ke mana-mana.
Aku berdiri di ambang pintu dapur, bersandar dengan cara yang aku tahu efeknya, dan bertanya dengan suara paling manis yang aku punya:
“Kamu selalu masuk ke dapur orang tanpa diundang, atau cuma dapur aku?”
Bahunya tidak bergerak.
“Diundang,” katanya.
Dua suku kata. Suaranya rendah dan pelan, seperti orang yang membayar tunai untuk setiap huruf.
“Aku nggak ngundang.”
“Tante Renata yang ngundang.”
Tante Renata. Sudah Tante. Baru tiga jam dan sudah Tante.
Aku maju satu langkah. Lalu satu lagi. Aku berhenti di jarak yang secara sosial tidak sopan, jarak yang seharusnya membuat siapa pun mundur, dan aku menengadah sedikit karena dia jauh lebih tinggi dari yang aku perkirakan.
“El,” kataku, memelankan suara. “Kamu tahu nggak, aku belum pernah lihat kamu di sekolah.”
“Aku tahu.”
Dua kata lagi. Tapi kali ini ada sesuatu yang aneh di dalamnya. Aku belum tahu apa.
“Nggak sedih?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Dia berhenti memotong. Cuma sepersekian detik. Lalu lanjut.
Dan aku melihatnya: telinganya merah. Merah sampai ke lehernya, merah yang tidak bisa dia sembunyikan karena dia tidak punya rambut untuk menutupinya.
Aku menang.
Itu yang aku pikir waktu itu. Aku menang.
Yang tidak aku perhitungkan adalah dua jam berikutnya.
Karena begitu duduk di meja, anak itu berubah.
Bukan ke arahku. Ke arah Mama.
“Tante suka nggak yang manis?” tanyanya, dan itu kalimat terpanjang yang keluar dari mulutnya sepanjang malam. “Sambelnya saya pisah. Kalau kurang, saya tambahin.”
Mama tertawa. Mama, yang tiga tahun terakhir kalau tertawa selalu ada jeda setengah detik dulu seolah minta izin, tertawa langsung, penuh, tanpa jeda.
“El, kamu belajar masak dari siapa?”
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam, anak itu diam agak lama sebelum menjawab.
“Dari Mama saya.”
Om Bara meletakkan sendoknya.
Ada tiga detik di meja itu yang isinya bukan apa-apa. Tiga detik yang aku tidak mengerti, dan yang membuatku sadar bahwa aku baru saja menginjak sesuatu yang tidak aku lihat.
Lalu Mama menyentuh punggung tangan Om Bara — ringan, dua detik, lalu ditarik lagi.
Dan aku merasakan seluruh isi perutku jatuh ke lantai.
Ini yang perlu kamu tahu tentang meja ini.
Meja ini bukan meja makan. Meja ini meja kerja. Di sini, waktu aku umur empat belas, aku menyusun map cokelat itu jadi tiga tumpukan: yang harus dibayar bulan ini, yang bisa ditunda, yang aku sembunyikan dari Mama. Di sini aku belajar bahwa penagih itu paling sopan kalau kamu yang menelepon duluan. Di sini aku menghitung ulang enam kali karena aku tidak percaya angkanya sekecil itu.
Selama tiga tahun, meja ini cuma untuk dua orang.
Malam ini ada taplak di atasnya. Taplak biru muda yang aku tidak tahu Mama punya.
Dan ada empat piring.
“Val, kamu nggak makan?” Mama menoleh.
Aku melihat ke piringku. Ayam yang dimasak anak itu masih utuh di sana, mengilap, wangi, dan sempurna dengan cara yang membuatku muak.
“Aku udah makan tadi,” kataku.
Bohong yang buruk. Mama tahu itu bohong. Om Bara pura-pura tidak dengar.
Dan anak laki-laki itu — Kaelan Baskara, El, yang seharian belum melihat wajahku lebih dari dua detik — mengangkat pandangannya.
Menatapku.
Dan tidak buang muka.
“Nggak apa-apa,” katanya pelan. “Nanti saya bungkusin.”
Bukan tersinggung. Bukan menyindir. Cuma... diterima.
Aku benci itu.
Aku benci itu lebih dari kalau dia marah.
Malamnya, setelah mereka pulang, aku turun ke dapur untuk minum.
Dapurnya bersih. Bukan bersih-biasa. Bersih yang tidak wajar. Talenan sudah kering. Kompor tidak ada satu pun titik minyak. Piring-piring sudah tersusun terbalik di rak dengan ukuran yang berurutan, hal yang aku sendiri tidak pernah lakukan seumur hidup di rumah ini.
Dan di rak paling bawah kulkas, ada satu wadah plastik.
Isinya ayam. Diberi label kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi dan pendek.
Buat besok.
Aku berdiri di dapurku sendiri selama hampir satu menit, memandangi kotak itu, dengan perasaan yang aku bersumpah waktu itu adalah marah.
Lalu aku menutup kulkas.
Dan aku memutuskan tiga hal sebelum naik ke kamar.
Satu: laki-laki yang senyumnya selebar Om Bara tidak pernah sebersih itu.
Dua: anak yang masak seenak itu, sesopan itu, dan serapi itu, pasti sedang menutupi sesuatu — karena tidak ada orang yang sebaik itu tanpa alasan.
Tiga: aku akan cari tahu apa alasannya, dan aku akan memakainya untuk menghancurkan pernikahan ini sebelum Mama sempat menandatangani apa pun.
Aku tidur dengan tenang malam itu.
Aku sungguh-sungguh mengira aku sedang melindungi seseorang.
- 1 Meja Makan Pertama reading
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan