← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirteen

Payung

POV: El


Tanggalnya diumumkan hari Sabtu, di antara sup dan buah.

“Empat belas Februari,” kata Papa, dan langsung tertawa sendiri sebelum ada yang sempat bereaksi. “Bukan Om yang milih, ya. Itu tanggal yang kosong di KUA.”

Tante Renata memukul lengannya pelan. “Mas.”

“Beneran! Om cek tiga tanggal. Yang dua penuh.”

Empat bulan. Aku menghitungnya di kepala sebelum sendokku sampai ke mulut, karena itu yang dilakukan kepalaku sekarang: mengubah segala sesuatu jadi jumlah hari.

Seratus dua puluh satu hari.

Aku melihat ke seberang meja.

Valerie tidak mengangkat wajahnya dari piring. Tangannya berhenti. Dan aku tahu — karena aku sudah menghabiskan dua tahun mempelajari perempuan ini seperti orang mempelajari bahasa yang tidak akan pernah dia gunakan — bahwa dia sedang menghitung juga, dan bahwa dia sampai di angka yang sama.


Ada satu hal yang aku perhatikan sejak makan malam pertama, dan aku tidak pernah menceritakannya ke siapa pun.

Tante Renata mengecek pintu.

Bukan mencurigakan. Tidak akan kelihatan kalau kamu tidak sedang mencari. Setiap kali ada suara dari luar — motor, pagar tetangga, anjing — matanya bergerak ke arah pintu depan selama setengah detik, lalu kembali.

Aku tahu gerakan itu.

Aku hidup satu tahun di rumah yang seluruh isinya adalah gerakan itu. Aku umur empat belas, dan aku duduk di ruang tengah sampai jam dua pagi, dan setiap kali ada motor lewat kepalaku menoleh ke arah pintu sebelum aku sempat memutuskan untuk menoleh. Kamu tidak bisa mematikan itu. Itu bukan kebiasaan. Itu seperti napas.

Selama enam minggu pertama, Tante Renata mengecek pintu delapan sampai sepuluh kali per makan malam. Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Sabtu ini, dia mengecek dua kali.

Dan satu di antaranya karena memang ada yang mengetuk.


Hujan mulai turun waktu kami keluar.

Papa sudah pulang duluan jam delapan karena ada urusan; aku tinggal untuk beres-beres, karena selalu ada yang harus dibereskan dan karena kalau tangan diam, kepala jalan. Jam sembilan aku pamit. Tante Renata bilang bawa payung. Valerie berdiri dan bilang dia mau ke minimarket.

Tidak ada minimarket ke arah rumahku.

Kami berjalan berdua di bawah satu payung, dan dua puluh langkah pertama tidak ada yang bicara, dan aku memiringkan payungnya ke arahnya seperti yang selalu aku lakukan.

Di langkah kedua puluh satu, dia berhenti.

Di tengah trotoar. Di tengah hujan.

Aku ikut berhenti karena payungnya di tanganku.

“Val—“

“Payungnya,” katanya.

“Hm?”

“Rak sepatu deket pos satpam.” Dia tidak menoleh. Dia berdiri menghadap ke depan, ke jalan yang basah, dan air dari tepi payung jatuh persis di antara kami. “November, kelas sepuluh. Hujannya kayak orang ngebalik ember. Aku berdiri di gerbang empat puluh menit.”

Aku tidak menjawab.

“Aku pikir aku lagi beruntung,” katanya.

Aku memindahkan payung sedikit lagi ke arahnya, karena bahunya mulai basah, karena aku tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku.

“El.”

“Hm.”

“Berhenti mindahin payungnya.”

“Kamu basah.”

“KAMU YANG BASAH.”

Dan dia menoleh, dan aku melihat wajahnya, dan seluruh kalimat yang sudah aku susun selama dua tahun runtuh sekaligus.

Karena dia menangis.

Bukan menangis yang cantik. Bukan menangis yang dia izinkan orang lihat. Mata bengkak, hidung merah, rambut menempel di pipi, dan marah — marah sekali, marah dengan cara yang tidak masuk akal untuk seseorang yang sedang menangis.

“Dua tahun,” katanya. “Dua tahun, El.”

“Val.”

“Aku nggak tahu nama kamu.”

“Aku tahu.”

“Aku duduk di meja kamu dan aku bilang hal-hal jelek dan aku nuduh kamu strategi—“

“Val.”

“—dan kamu ngasih aku payung waktu aku bahkan nggak tahu kamu ada!”

Hujan itu turun lebih keras. Aku memegang gagang payung dengan tangan yang sudah tidak aku rasakan.

“Aku cuma mau tanya satu,” katanya. Suaranya jatuh. “Satu aja. Terus aku janji aku nggak akan nanya lagi seumur hidup.”

Aku tahu pertanyaannya.

Aku sudah tahu pertanyaannya sejak dia berhenti berjalan.

“Kamu suka aku, kan?”


Ada dua tahun di antara pertanyaan itu dan jawabannya, dan semuanya lewat di kepalaku dalam waktu yang mungkin dua detik.

Lapangan MOS. Anak perempuan yang keluar dari barisannya untuk berdiri di depan orang asing. Matahari yang mengubah warna matanya jadi madu. Kalimat pertama yang aku pikirkan sejak pemakaman, dan kalimat itu cuma oh.

Kotak kedua yang aku buat setiap pagi selama dua tahun dan aku makan sendiri di kelas kosong jam pulang.

Payung yang aku taruh dan pintu belakang yang aku lewati supaya tidak terlihat.

Ya udah, kasih aja. Nggak usah nengok ke belakang.

Aku sudah memutuskan untuk membawa ini sampai mati. Aku sudah menghitungnya, seperti aku menghitung segala sesuatu: seratus dua puluh satu hari sampai pernikahan, lalu sisa hidup sebagai orang yang duduk di meja makan yang sama dan tidak pernah mengatakan apa-apa. Aku bisa. Aku sudah pernah melakukan yang lebih berat.

Tapi perempuan itu berdiri di tengah hujan dengan hidung merah dan bertanya langsung, dan aku tidak sanggup berbohong dua kali dalam satu minggu.

“Iya,” kataku.

Bahunya turun.

“Aku suka kamu,” kataku. “Dari hari pertama masuk SMA. Waktu kamu keluar dari barisan buat belain anak yang sepatunya salah warna.”

Mulutnya terbuka.

“Aku tahu kamu nggak inget. Nggak apa-apa.” Aku mendengar suaraku sendiri dan terdengar seperti suara orang lain, jauh, rendah, terlalu tenang. “Dua tahun, Val. Aku tahu kamu nggak bisa makan sambel kacang. Aku tahu kamu ngambil jalan lewat lab kalau lagi males ketemu orang. Aku tahu kamu ketawa keras di depan orang banyak dan nggak ketawa sama sekali kalau lagi berdua sama Nadhira.”

“El—“

“Aku bikin dua kotak makan tiap pagi. Dari kelas sepuluh.” Aku menelan. “Yang satu nggak pernah aku kasih. Aku makan sendiri.”

Hujan itu tidak berhenti. Tidak ada yang berhenti. Dunia sama sekali tidak punya sopan santun.

Dan Valerie Mauren berdiri di depanku dengan wajah yang membuat dadaku hancur, dan mulai tersenyum — tersenyum, dengan mata sebengkak itu — dan mulai melangkah maju.

“Jadi—“

“Tapi nggak bisa,” kataku.


Dia berhenti.

Satu langkah. Dia sudah satu langkah dari aku dan dia berhenti.

“Apa?”

“Nggak bisa, Val.”

“Kenapa nggak bisa?” Suaranya naik. “Kita bukan sodara. Nggak ada hubungan darah sama sekali. Nggak ada undang-undang yang—“

“Mama kamu ngecek pintu.”

Dia diam.

“Tiap ada suara di luar,” kataku. “Motor, pagar, apa aja. Matanya ke pintu depan setengah detik terus balik lagi. Makan malam pertama, aku ngitung sepuluh kali.”

“El, apa hubungan—“

“Aku juga gitu.” Aku memegang gagang payung lebih erat karena tanganku mulai bergetar dan aku tidak mau dia lihat. “Setahun. Tiap ada motor lewat, kepalaku noleh duluan sebelum aku mikir. Kamu nggak bisa matiin itu, Val. Itu bukan kebiasaan. Itu kayak napas.”

Wajahnya mulai berubah.

“Sabtu ini dia cuma ngecek dua kali,” kataku. “Satu karena emang ada yang ngetok.”

“El—“

“Butuh tiga tahun.” Suaraku pecah di satu tempat dan aku memperbaikinya. “Butuh tiga tahun buat mama kamu berhenti nungguin pintu, dan itu baru berhenti bulan ini, dan kalau kita jadian sekarang—“

“Kita bisa rahasia.”

“Sampai kapan?”

Dia tidak menjawab.

“Sampai kapan, Val? Satu rumah. Satu meja. Kita bakal ketahuan, dan pas ketahuan, mama kamu bakal ngerasa ini salah dia, karena orang kayak dia selalu ngerasa gitu, dan dia bakal mundur.” Aku menggeleng. “Dan dia bakal balik ngecek pintu lagi.”

Hujan.

Cuma hujan, dan payung yang aku miringkan ke arahnya, dan bahu kiriku yang sudah basah seluruhnya sejak lima menit yang lalu.

“Aku nggak akan jadi orang yang ngambil itu dari dia,” kataku. “Maaf.”


Aku sudah menyiapkan diri untuk teriakan.

Dua tahun aku memperhatikan perempuan ini. Aku tahu apa yang terjadi kalau dia dipojokkan: dia maju. Selalu. Dia tidak punya rem, dia tidak punya mundur, dia menabrak. Aku sudah siap ditabrak. Aku bahkan — aku akui ini sekarang, karena tidak ada yang mendengar — aku bahkan berharap ditabrak, karena kalau dia memaksa cukup keras mungkin aku punya alasan untuk menyerah, dan aku bisa bilang pada diriku sendiri bahwa aku sudah berusaha.

Yang terjadi adalah Valerie Mauren berdiri di tengah hujan, membuka mulutnya, dan tidak mengeluarkan apa-apa.

Sekali. Dua kali.

Lalu dia menutupnya.

Dan diam.


Aku pernah melihat perempuan itu bicara pada kakak kelas yang sedang marah. Aku pernah melihatnya bicara pada seluruh kelas IPA 3 sambil duduk di atas mejaku. Aku pernah melihatnya menuduh ayahku di meja makan ayahku sendiri.

Aku belum pernah, sekali pun, dalam dua tahun, melihatnya diam.

Dan hal pertama yang aku rasakan bukan lega.

Yang aku rasakan adalah panik — panik yang naik dari perut ke tenggorokan, cepat, seperti air — karena diam bukan berarti dia menerima.

Diam berarti aku baru saja memecahkan sesuatu.

“Val.”

Dia mengambil payung dari tanganku.

Pelan. Tidak merebut. Dia mengambil gagangnya, memutar badan, dan mulai berjalan.

“Val, itu payungnya kamu bawa nanti aku—“

Dia terus berjalan.

Sepuluh langkah. Lima belas.

Lalu dia berhenti, dan menoleh, dan wajahnya sudah tidak ada apa-apanya sama sekali.

“Kamu tahu apa yang paling nggak adil?” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Kamu bilang kamu suka aku dari hari pertama,” katanya. “Terus kamu bilang nggak bisa. Di kalimat yang sama.”

Dan dia pergi.

Aku berdiri di trotoar itu selama entah berapa lama, tanpa payung, dengan hujan yang turun seperti orang membalik ember, dan aku tidak bergerak karena kalau aku bergerak aku akan mengejarnya.

Aku pulang jam sepuluh. Aku ganti baju. Aku memasak sarapan untuk besok pagi supaya tanganku ada kerjaan.

Dua kotak.

Seperti biasa.