Chapter Twelve
Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
POV: Valerie
Aku masuk sekolah hari Rabu dengan satu kalimat yang tidak mau keluar dari kepalaku sejak Selasa siang.
Waktu di warung mi, kelas sepuluh.
Aku sudah memutarnya ratusan kali. Aku sudah mencoba semua penjelasan yang masuk akal, dan semuanya masuk akal, dan tidak ada satu pun yang cukup.
Warung mi itu bukan tempat nongkrong anak sekolah kami. Letaknya dua puluh menit ke arah yang salah, di dekat rumah Nadhira, dan kami ke sana karena Nadhira ngidam dan bukan karena tempatnya bagus. Aku pergi ke sana sekali seumur hidup. Kelas sepuluh. Bulan puasa sudah lewat, jadi sekitar Mei.
Dan anak laki-laki yang selama enam minggu memberiku dua suku kata per pertanyaan menyebutkannya kemarin seperti orang menyebutkan hari Senin.
Aku mulai dari Nadhira, karena Nadhira punya ingatan seperti CCTV dan tidak punya kesetiaan sama sekali.
“Warung mi? Yang deket rumahku?” Dia mengunyah. “Iya, kelas sepuluh. Kamu nangis. Aku ada videonya.”
“Ada siapa lagi di situ?”
“Ya orang.”
“Nadh.”
“Val, itu tiga tahun lalu.”
“Coba inget.”
Dia mengunyah lebih lambat. Aku melihat matanya bergerak ke kiri atas, yang artinya dia benar-benar sedang mencari.
“Ada anak sekolah kita,” katanya akhirnya. “Cowok. Sendirian. Duduk di pojok. Aku inget karena aku sempet mikir ‘kok ada anak sekolah kita jauh amat’, terus lupa.”
“Mukanya?”
“Val, tiga tahun—“
“Tinggi? Alisnya tebel?”
Nadhira berhenti mengunyah.
Dia meletakkan sendoknya, sangat pelan, dan menatapku dengan ekspresi yang membuat perutku dingin.
“Val,” katanya. “Kenapa mukamu gitu?”
Yang kedua adalah kartu perpustakaan.
Aku tidak tahu kenapa itu yang muncul di kepalaku. Mungkin karena itu satu-satunya hal aneh lain yang pernah terjadi padaku dan yang tidak pernah aku pikirkan ulang.
Kelas sepuluh, semester dua. Kartu perpustakaanku hilang. Aku menggeledah tas tiga kali, memaki, dan sudah mengisi formulir kartu pengganti waktu Bu Imel bilang kartunya sudah ada di meja piket sejak pagi.
“Bu,” kataku hari itu, di perpustakaan, tiga tahun kemudian, sambil berusaha terdengar santai. “Ibu inget nggak, dulu ada yang nemuin kartu perpus saya?”
Bu Imel mengerjap. “Astaga, Val. Itu kapan?”
“Kelas sepuluh.”
“Ya ampun, Ibu ini—“
“Ada bukunya, kan, Bu? Buku serah terima barang temuan.”
Ada bukunya. Semua sekolah punya bukunya. Tidak ada yang pernah membukanya.
Kami butuh dua puluh menit dan tiga kardus di gudang, dan waktu Bu Imel akhirnya menemukan halaman itu, dia membacanya keras-keras dengan riang sekali:
“Nih. Delapan belas Maret. Kartu perpustakaan a.n. Valerie Mauren. Ditemukan di bawah bangku kantin. Diserahkan oleh...” Dia memicingkan mata. “Kaelan Baskara, sepuluh IPA dua.”
Aku memegang tepi meja.
“Kenapa, Val?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
“Kamu pucet.”
“Saya emang pucet,” kataku.
Yang ketiga aku dapat dari Pak Satpam, dan yang ketiga inilah yang menghabisi aku.
Aku bertanya iseng. Aku bersumpah aku bertanya iseng — aku sedang menunggu jemputan dan aku sedang tidak sanggup memikirkan apa-apa, jadi aku bertanya hal paling ringan yang bisa aku pikirkan.
“Pak, dulu di pos ini ada rak sepatu, ya?”
“Ada. Sekarang udah dipindah ke belakang.” Pak Satpam menyandarkan kursinya. “Kenapa, Neng?”
“Nggak. Dulu kayaknya saya pernah nemu payung di situ.”
“Oh, payung.” Beliau tertawa. “Iya, dulu banyak. Sekarang udah nggak ada yang naro lagi.”
“Naro?”
“Iya, ada anak yang suka naro payung di situ kalau hujan gede.” Pak Satpam menggaruk lengannya. “Bapak sempet negur, Bapak kira dia nyolong. Ternyata naro. Bapak tanya buat siapa, dia bilang buat yang butuh.”
Aku berdiri sangat diam di depan pos satpam.
“Sering, Pak?”
“Ya sering. Kelas sepuluh sampai—“ Beliau berpikir. “Sampai kelas sebelas, kayaknya. Terus berhenti. Bapak nggak tahu kenapa.”
“Pak inget anaknya?”
“Anak tinggi. Diem. Nggak pernah lewat gerbang depan kalau abis naro.” Beliau tertawa lagi, tanpa tahu apa-apa, tanpa tahu bahwa dia sedang membongkar seluruh dinding di dada seseorang. “Lewat belakang terus, tuh anak. Kayak takut ketahuan.”
November, kelas sepuluh.
Hujan sore itu turun seperti orang membalik ember. Aku berdiri di gerbang selama empat puluh menit karena ponselku mati dan Mama masih di kantor dan aku tidak punya uang lebih untuk ojek.
Dan waktu aku menyerah dan memutuskan untuk berjalan menembus hujan, ada payung di rak sepatu dekat pos satpam.
Payung hitam. Polos. Tanpa nama.
Aku memakainya. Aku mengembalikannya besok paginya ke tempat yang sama, karena aku bukan pencuri, dan aku ingat berpikir bahwa hari itu aku sedang beruntung.
Aku ingat berpikir bahwa aku sedang beruntung.
Aku duduk di halte selama satu jam empat puluh menit dan membiarkan dua angkot lewat.
Kalau kamu susun berurutan, bunyinya begini.
Maret, kelas sepuluh: kartu perpustakaan, dikembalikan lewat meja piket, tanpa nama.
Mei, kelas sepuluh: warung mi, dua puluh menit ke arah yang salah, duduk sendirian di pojok.
November, kelas sepuluh: payung di rak sepatu, dan seseorang keluar lewat pintu belakang supaya tidak terlihat.
Ada satu lagi yang aku tidak berani cek, dan aku tidak akan pernah mengeceknya, dan aku sudah tahu jawabannya. Kelas sebelas, ada anak yang menyebarkan fotoku diam-diam di grup, dan hal itu selesai dalam tiga hari, dan semua orang bilang ketahuan sendiri. Tidak ada yang ketahuan sendiri. Tidak pernah ada yang ketahuan sendiri.
Dua tahun.
Dua tahun, dan aku tidak tahu nama anak itu sampai enam minggu yang lalu, waktu ibuku menyuruhku turun untuk makan malam.
Aku menemukannya jam empat sore, di lapangan belakang, sedang menurunkan kursi-kursi plastik dari panggung acara yang bukan acaranya.
“El.”
Dia menoleh. Menaruh kursi.
Dan aku, yang punya delapan pertanyaan yang sudah aku susun di halte, yang sudah melatih nadanya, yang sudah memutuskan akan mulai dari mana — berdiri di lapangan itu dan tidak bisa mengeluarkan satu pun.
Karena begitu aku melihat wajahnya, aku sadar aku tidak sedang memegang bukti kejahatan.
Aku sedang memegang bukti bahwa selama dua tahun ada satu orang di sekolah ini yang memastikan aku baik-baik saja, dan tidak pernah sekali pun berdiri di tempat yang bisa aku lihat.
“Val?”
“Kenapa kamu bantu aku,” kataku.
“Hah?”
“Bapak kamu.” Suaraku goyah dan aku membencinya. “Hari Minggu. Kamu ngasih aku semuanya. Rekening, koperasi, semua map. Kamu duduk empat jam bantu aku nyari alasan buat batalin pernikahan itu.”
Dia tidak menjawab.
“El, kalau pernikahan itu batal—“ Aku berhenti. Menelan. “Kalau pernikahan itu batal, kita nggak ketemu lagi.”
Wajahnya tidak berubah.
Itu yang paling kejam. Wajahnya tidak berubah sama sekali, dan justru karena itu aku jadi tahu bahwa dia sudah memikirkan ini. Sudah lama. Sudah sampai selesai.
“Iya,” katanya.
“Kamu tahu.”
“Iya.”
“Terus kenapa kamu tetep bantu?”
Dia mengangkat kursi berikutnya. Menaruhnya di tumpukan. Meratakan letaknya, karena tentu saja dia meratakan letaknya.
“Karena kamu butuh tahu,” katanya. “Dan aku nggak mau kamu tahunya dari orang lain.”
Aku menekan pangkal hidungku dengan dua jari dan menahan napas sampai dadaku sakit.
“El.”
“Hm.”
“Delapan belas Maret,” kataku. “Kartu perpus.”
Kursi di tangannya berhenti di udara.
Cuma sepersekian detik. Lalu turun, dan ditumpuk, dan diratakan.
“Aku lupa,” katanya.
“Bohong.”
“Iya,” katanya.
Dan itu — kalimat itu, dua suku kata itu — adalah pertama kalinya sepanjang hidupku aku merasa ingin menangis di lapangan belakang sekolah karena seseorang mengaku berbohong.
Kami berdiri di sana lama sekali. Matahari sudah turun ke belakang gedung olahraga dan lampu lapangan belum dinyalakan dan tidak ada siapa-siapa.
“Val.”
“Hm.”
“Kamu belum makan, ya?”
Aku menoleh.
Enam minggu lalu, kalimat itu adalah cara dia menghindari pertanyaanku.
Sekarang aku berdiri di lapangan kosong dan mendengarnya untuk yang kesekian kali dan akhirnya — akhirnya — aku mengerti bahwa itu bukan pengalihan.
Itu satu-satunya kalimat yang dia izinkan dirinya ucapkan.
Semua kalimat lain terlalu mahal. Semua kalimat lain akan membongkar seluruhnya. Jadi selama dua tahun, setiap kali dia ingin mengatakan sesuatu yang tidak boleh dia katakan, dia menaruh payung di rak sepatu, atau kartu perpustakaan di meja piket, atau kotak makan di dalam tas seseorang, atau satu kalimat pendek tentang makan siang.
Aku menutup mataku.
“Belum,” kataku.
“Ayo.”
Dan aku ikut, dan sepanjang jalan aku tidak bicara sepatah kata pun, dan itu — kalau kamu kenal aku — seharusnya sudah cukup menjadi peringatan bagi kami berdua.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam reading
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan