Chapter Eighteen
Murid Terburuk
POV: Valerie
Aku bilang pada El bahwa aku mau belajar masak karena Om Bara yang minta.
Itu bohong.
Yang sebenarnya: tiga hari setelah enam November, aku bangun jam empat pagi tanpa alasan dan berbaring di gelap sambil memikirkan seorang anak umur empat belas yang berdiri sendirian di dapur mengikuti tulisan tangan ibunya, dan aku sadar bahwa satu-satunya orang di dunia ini yang menjaga rasa itu tetap ada cuma satu orang, dan orang itu sudah kelelahan sejak tiga tahun lalu.
Dan aku tidak bisa memasak.
Aku bahkan tidak bisa membuat telur.
Aku ingin memperbaiki itu, dan aku ingin memperbaikinya dengan cara yang tidak akan pernah aku katakan keras-keras, jadi aku bilang, “Om Bara yang minta, jadi ya udah.”
“Oke,” katanya.
Dan begitulah aku sampai di dapur rumah Baskara jam sembilan pagi hari Minggu, dengan rambut diikat dan tangan kosong dan rasa percaya diri yang, dalam waktu empat puluh menit, akan dihancurkan sepenuhnya.
Hal pertama yang aku lakukan adalah meraih celemek di balik pintu.
Aku sudah setengah jalan mengambilnya waktu tangannya menahan pergelanganku.
Pelan. Tidak menyentak.
“Yang itu jangan dulu,” katanya.
Aku menarik tanganku kembali seperti orang yang menyentuh setrika.
“Maaf—aku nggak mikir—“
“Nggak apa-apa.” Dia membuka laci bawah dan mengeluarkan celemek lain, polos, warna abu, masih ada lipatan tokonya. “Pake yang ini.”
“Kamu beli?”
“Kemarin.”
Aku memegang celemek itu.
“Kamu beli celemek buat aku kemarin.”
“Iya.”
“El.”
“Jangan mulai.”
“Kamu tau aku bakal dateng, terus kamu ke toko, terus kamu—“
“Val, kita mulai jam sembilan lewat sepuluh atau jam sepuluh?”
Pelajaran satu: memotong bawang.
“Pegangnya bukan gitu.”
“Aku megang pisau.”
“Kamu megang pisau kayak orang mau nusuk orang.”
“Ya emang aku mau nusuk bawangnya, El.”
Dia memejamkan mata sebentar, dengan cara yang menurutku sangat tidak sopan untuk seorang guru.
“Jari kamu masukin ke dalem. Kuku yang nyentuh pisau, bukan ujung jari.”
“Kenapa?”
“Biar kalau meleset, yang kena kuku.”
“Itu nggak bikin aku tenang.”
“Emang bukan buat nenangin.”
Pelajaran dua: aku memotong jariku.
Bukan parah. Sungguh. Sayatan sepanjang mungkin setengah sentimeter di ujung jari telunjuk kiri, dan aku sudah pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan, dan aku bahkan tidak sempat berkata apa-apa sebelum pisau itu sudah tidak ada di tanganku dan aku sudah di depan wastafel dengan air mengalir dan seseorang memegang pergelanganku.
“Angkat.”
“El, ini kecil—“
“Angkat, Val.”
Aku mengangkatnya.
Dia mengambil kotak P3K dari lemari atas — yang tentu saja ada, yang tentu saja tersusun, yang tentu saja lengkap — dan membersihkan lukanya dan menutupnya dengan plester dalam waktu kurang dari satu menit, dengan tangan yang bergerak seperti tangan orang yang sudah pernah melakukan ini ratusan kali.
Untuk siapa, pikirku, dan langsung menyesal.
“Kamu sering luka?”
“Dulu.”
“Waktu belajar?”
“Iya.”
“Siapa yang ngobatin?”
Dia menutup kotak P3K.
“Ya aku.”
Aku menatap ubun-ubunnya waktu dia berjongkok menaruh kotak itu kembali ke rak bawah.
Dan aku memutuskan, hari itu juga, di dapur berukuran tiga kali dua meter, bahwa aku akan belajar memasak walaupun itu membunuhku.
Pelajaran tiga sampai enam berlangsung dalam kondisi menurun.
Nasi terlalu lembek. Telur gosong satu sisi dan mentah di sisi lain, yang menurut El “secara teknis mustahil”. Aku menuang minyak ke wajan yang basah dan menyebabkan insiden yang membuat kami berdua mundur sampai ke pintu dapur. Aku memasukkan garam ke dalam sesuatu yang seharusnya manis. Aku menyalakan kompor yang salah dan memanaskan panci kosong selama enam menit.
Jam sebelas, dapur itu terlihat seperti tempat kejadian perkara.
Aku duduk di lantai, bersandar ke pintu kulkas, memandangi wajan hangus di wastafel.
“Aku payah banget.”
“Iya.”
“KAMU HARUSNYA BILANG NGGAK KOK.”
“Kenapa?”
“KARENA ITU YANG ORANG BILANG, EL.”
Dia mengambil wajan itu, memeriksanya, dan menaruhnya kembali.
“Kamu bisa ngitung sisa saldo dikonversi ke jumlah hari,” katanya. “Aku baru bisa itu umur lima belas. Kamu udah bisa umur empat belas.”
Aku mengangkat kepala.
“Aku nggak pernah bilang gitu ke kamu.”
“Aku lihat buku kamu waktu di rumahmu.”
“KAMU—“
“Kamu juga lihat bukuku.”
“ITU BEDA.”
“Beda gimana?”
“Bukuku ada di laci. Bukumu di kardus. Kardus itu semi-publik.”
Dia mengeluarkan suara napas dari hidung, sekali, yang sekarang sudah aku daftarkan secara resmi sebagai tawa.
Pelajaran tujuh adalah yang membuat semuanya berantakan.
Dia berdiri di belakangku untuk membetulkan pegangan pisau.
Aku ingin mencatat bahwa itu bukan idenya. Aku sudah gagal empat kali dan aku sendiri yang bilang, “Ya udah, kamu contohin dong,” dengan nada yang aku sumpah waktu itu tidak ada maksud apa-apa.
Dan dia berdiri di belakangku.
Satu tangan di atas tanganku yang memegang pisau. Satu tangan di atas tanganku yang menahan bawang.
“Jarinya masuk,” katanya, di suatu tempat di dekat telingaku. “Ini. Yang ini juga.”
Aku tidak menjawab.
“Val.”
“Hm.”
“Jarinya.”
Aku tidak bisa mengingat cara kerja jari.
Aku benar-benar tidak bisa. Seluruh mata kuliah tentang jari, yang aku ikuti sejak lahir, terhapus dalam waktu dua detik. Yang bisa aku rasakan cuma: dadanya di punggungku, dagunya di atas kepalaku, kapalan di pangkal ibu jarinya, dan panas — panas yang tidak masuk akal, panas yang menempel di seluruh belakang tubuhku dari bahu sampai pinggang.
Dan detak jantungnya.
Di punggungku.
Cepat.
“El,” kataku.
“Hm.”
“Jantung kamu cepet banget.”
Tangannya berhenti.
“Iya,” katanya.
Dan tidak mundur.
Itu bagian yang menghabisi aku. Dua bulan lalu anak ini buang muka kalau aku berdiri satu meter darinya. Sekarang dia berdiri di belakangku dengan jantung seratus dua puluh dan dia tidak mundur.
Aku memutar kepalaku sedikit ke kiri.
Wajahnya sepuluh senti dari wajahku.
“El.”
“Val.”
“Kamu tau ini melanggar peraturan nomor berapa?”
“Dua,” katanya. “Sama sepuluh.”
“Sepuluh yang mana?”
“Yang bilang ini cuma sampai Februari.”
Aku berhenti bernapas.
“Kenapa itu dilanggar?”
Dan Kaelan Baskara, dengan dua tangan masih di atas tanganku dan pisau masih di talenan dan bawang yang sudah dipotong terlalu tipis oleh orang yang sedang tidak konsentrasi, menunduk sepuluh senti lagi sampai bibirnya hampir di telingaku, dan berkata dengan suara paling rendah yang pernah aku dengar dari manusia mana pun:
“Karena aku nggak berencana berhenti.”
Aku menjatuhkan pisaunya.
Ke talenan, untungnya, bukan ke kaki, tapi bunyinya keras sekali di dapur sekecil itu.
Dan aku berbalik — berbalik penuh, di antara badannya dan meja dapur, dengan jarak yang tidak ada namanya — dan aku memegang kerah kausnya dengan dua tangan.
Dan aku tidak melakukan apa-apa.
Aku tidak melakukan apa-apa karena aku tidak bisa. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berdiri sedekat ini dengan seseorang dan aku yang buang muka duluan — aku, ke arah bahunya, ke arah kain kausnya, ke mana saja asal bukan ke wajah itu.
Dan aku mendengar dia menarik napas di atas kepalaku, panjang, seperti orang yang baru saja naik tangga.
“Val.”
“Jangan ngomong.”
“Oke.”
“Diem aja bentar.”
“Oke.”
Kami berdiri seperti itu selama entah berapa lama, di dapur yang berantakan, dengan wajan hangus di wastafel dan bawang yang tidak akan pernah dipakai.
Lalu terdengar suara pagar.
Kami melompat ke dua sudut dapur yang berbeda dengan kecepatan yang, kalau ada juri Olimpiade di sana, akan mendapat nilai sembilan koma delapan.
Om Bara masuk membawa dua kantong belanja, melihat dapur yang hancur, melihat wajan hangus, melihat aku dengan celemek abu dan plester di jari.
Dan tertawa sampai harus duduk.
Malam itu aku pulang membawa satu wadah kecil.
Isinya telur gulung. Buatanku. Bentuknya seperti korban kecelakaan dan warnanya tidak konsisten dan salah satu ujungnya jelas-jelas gosong.
Mama membukanya di meja makan dan diam beberapa saat.
“Val,” katanya. “Kamu bikin ini?”
“Iya.”
“Sendiri?”
“Diajarin.”
Dan Mama — Mama yang tidak bisa masak, yang tidak pernah punya celemek seumur hidup, yang tiga tahun terakhir tertawa dengan jeda setengah detik di depannya — mengambil sepotong, memakannya, dan mengunyah sangat lama.
Lalu dia bilang, “Enak.”
“Ma, itu gosong.”
“Enak,” katanya lagi.
Dan aku baru melihat waktu dia berpaling ke wastafel bahwa dia sedang menyeka matanya dengan punggung tangan, dan aku tidak bertanya kenapa, karena aku sudah tahu, karena aku selalu tahu.
Tiga tahun. Dan ini pertama kalinya ada makanan di rumah ini yang dibuat oleh salah satu dari kami.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk reading
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan