← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirty Three

Halaman Seratus Dua

POV: El


Hari ketujuh belas, aku pulang sekolah dan menemukan Papa duduk di ruang tamu jam dua siang.

Laki-laki itu tidak pernah ada di rumah jam dua siang.

“Pa.”

“Eh. Udah pulang.”

“Papa nggak kerja?”

“Izin.”

Aku berdiri di ambang pintu dengan tas masih di bahu.

“Sakit?”

“Nggak.” Dia tersenyum. “Cuma pengin di rumah.”

Dan aku mengangguk, dan aku masuk ke kamar, dan aku menaruh tas, dan aku duduk di kasur selama mungkin sepuluh menit.

Karena aku tahu apa artinya izin tanpa sakit.

Aku tahu karena aku sudah pernah melihat laki-laki itu melakukan kebalikannya selama satu tahun penuh: kerja tanpa perlu kerja, pulang jam dua pagi, duduk di ruang tamu gelap tanpa menyalakan lampu.

Sekarang dia di rumah jam dua siang dan tidak menyalakan televisi.

Itu bukan sembuh. Itu cuma arah yang berbeda dari hal yang sama.


Aku memasak malam itu untuk pertama kalinya sejak tujuh belas hari.

Bukan karena aku sembuh. Karena aku tidak bisa lagi berpura-pura tidak melihat.

Nasi goreng. Telur. Sepuluh menit.

Aku menaruhnya di meja dan aku memanggilnya, dan dia datang, dan dia melihat piring itu, dan dia berhenti.

“El.”

“Makan, Pa.”

“Kamu—“

“Makan dulu.”

Dan dia makan, dan aku duduk di seberang, dan kami tidak bicara sama sekali selama sepuluh menit.

Lalu dia meletakkan sendoknya.

“Om Bara nggak jual rumahnya,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Pa.”

“Nggak jadi.” Dia mengangkat bahu. “Nggak ada yang perlu dibayarin lagi, kan.”

Dan dia berdiri, dan membawa piringnya ke wastafel — dia yang membawa piringnya ke wastafel, laki-laki itu, untuk pertama kalinya sejak aku tidak ingat kapan — dan mencucinya sendiri dengan cara yang salah, terlalu banyak sabun, dan aku duduk di kursi itu dan tidak bergerak.


Aku menunggu sampai jam dua belas.

Aku menunggu sampai lampu kamarnya mati dan sampai aku mendengar napasnya berubah lewat dinding, karena rumah ini tipis dan karena aku sudah tiga tahun menghafal bunyi laki-laki itu tidur.

Lalu aku turun ke dapur.

Aku menyalakan satu lampu. Yang di atas kompor, bukan yang di tengah.

Dan aku mengambil buku itu dari rak.


Aku sudah memegang buku ini ribuan kali.

Aku tahu berat sampulnya. Aku tahu bahwa halaman empat puluh tiga sudah lepas dan aku menempelnya dengan selotip waktu umur lima belas dan selotipnya sudah menguning. Aku tahu bahwa ada bekas minyak di sampulnya yang bentuknya seperti pulau kecil, dan bahwa bekas itu sudah ada sebelum Mama meninggal, dan bahwa dulu aku pikir bekas itu jelek dan sekarang aku tidak akan membersihkannya walaupun dibayar.

Aku membukanya di halaman seratus satu.

Sup. Yang aku sudah hafal. Yang aku sudah masak ratusan kali.

Aku menatap sudut kanan bawah halaman itu selama mungkin lima menit.

Lalu aku membaliknya.


NASI KUNING

Tulisan tangannya berbeda.

Itu yang pertama menghantam aku, sebelum aku sempat membaca satu kata pun. Huruf-hurufnya masih huruf Mama — e yang miring ke kiri, g yang ekornya terlalu panjang — tapi garisnya tidak stabil. Tekanan penanya berubah-ubah di tengah kata. Ada tempat di mana penanya jelas terangkat dan turun lagi di posisi yang sedikit salah.

Ini ditulis waktu tangannya sudah tidak bisa dipercaya.

Aku memegang pinggiran meja dapur.

Resepnya sendiri pendek. Beras, santan, kunyit, daun salam, serai. Takarannya biasa. Ada catatan kecil di samping: jangan kebanyakan kunyit, nanti pahit.

Dan di bawah resep itu, di ruang kosong sepertiga halaman, ada tulisan yang bukan resep.


El.

Yang ini jangan dibikin kalau nggak ada yang mau dirayain. Nanti aja.

Mama tau kamu bakal bikin semuanya. Kamu emang gitu.
Tapi yang ini beda. Nasi kuning itu buat sesuatu yang bagus. Bukan buat inget-inget.

Jadi simpen dulu.

Kalau Papa udah bisa ketawa lagi, bikinin.


Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di dapur itu.

Aku ingat bahwa lampunya cuma satu dan bahwa bayanganku ada di dinding dan bahwa bayangan itu tidak bergerak.

Aku ingat bahwa aku membaca lima baris itu berkali-kali sampai kata-katanya berhenti jadi kata-kata.

Dan aku ingat kalimat yang akhirnya sampai ke otakku, jam setengah satu pagi, tiga tahun tujuh bulan setelah perempuan itu menulisnya:

Kalau Papa udah bisa ketawa lagi, bikinin.

Papa sudah bisa ketawa lagi.

Papa sudah bisa ketawa lagi sejak bulan Oktober.

Aku mendengarnya di meja makan rumah Mauren tiap hari Sabtu. Aku melihatnya di Butik Mawar waktu dia berdiri dan tidak bisa mengeluarkan kata. Aku melihatnya di ruang makan ini, di depan sepiring semur, dengan dahi hampir menyentuh taplak.

Empat bulan.

Empat bulan Papa tertawa dan aku ada di ruangan yang sama setiap kali, dan aku tidak pernah membuka halaman ini, dan izinnya ada di sini sepanjang waktu.


Aku memasak nasi kuning jam satu pagi.

Aku tidak bisa menjelaskan kenapa. Tidak ada yang perlu dirayakan. Tidak ada yang bangun. Papa tidur, resepsi sudah batal, rumah ini sepi, dan seluruh alasan di dunia mengatakan bahwa yang harus aku lakukan adalah menutup buku itu dan naik ke kamar.

Aku menyalakan kompor.

Dan tanganku bergetar.

Aku ingin kamu mengerti apa artinya itu.

Tanganku tidak bergetar. Tanganku adalah satu-satunya bagian dari diriku yang tidak pernah gagal — bukan kepalaku, bukan dadaku. Aku tidak menakar dengan sendok sejak umur lima belas. Aku bisa memotong bawang sambil melihat ke arah lain.

Aku menuang santan malam itu dan tanganku bergetar sampai ada yang tumpah ke kompor dan berbunyi.

Aku menyeka kompornya. Aku menuang lagi. Bergetar lagi.

Aku mengaduk kunyit dan aku tidak bisa melihat takarannya karena mataku tidak bekerja, dan aku terus mengaduk, dan aku terus tidak bisa melihat.

Butuh empat puluh menit.

Waktu selesai, jam dua kurang, aku menaruhnya di piring. Satu porsi. Aku menghias pinggirannya dengan telur karena itu yang selalu dia lakukan.

Aku duduk di kursi ruang makan.

Aku memandanginya.

Dan aku tidak bisa memakannya.


Aku menangis di ruang makan rumahku sendiri jam dua pagi, sendirian, di depan sepiring nasi kuning yang tidak ada yang akan makan.

Bukan karena Mama.

Itu bagian yang membuatku merasa jahat, dan aku akan menuliskannya karena tidak ada yang mendengar.

Aku sudah menangis untuk Mama. Aku sudah menangisinya di lantai dapur, di kamar, di depan pintu yang dikunci, tiga tahun, dan aku tahu bentuk tangisan itu, dan bentuknya bukan yang ini.

Yang ini bentuknya lain.

Karena satu jam sebelumnya aku membaca lima baris dari perempuan yang sudah mati dan yang aku pikirkan bukan dia.

Yang aku pikirkan adalah perempuan yang berdiri di ambang pintu dapur ini bulan November dan berkata tahun depan aku dateng lagi, dan tahun depannya lagi, dan aku bakal makan semuanya, dan kalau rasanya beda dikit aku bakal bilang.

Yang aku pikirkan adalah bahwa aku sudah tujuh belas hari tidak menjawab satu pun pesannya.

Bahwa hari Jumat dia berdiri di ujung lapangan dengan mata bengkak dan aku sudah berjalan tiga langkah ke arahnya dan aku berhenti.

Bahwa aku tidak bisa lagi mengingat suara tawanya di koridor jam sembilan pagi, karena sudah tujuh belas hari tidak ada, dan tiap hari suaranya di kepalaku sedikit lebih tipis.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan di ruang makan yang sama tempat perempuan itu pernah menarik tanganku turun dari wajahku.

“Aku takut lupa rasanya,” kataku.

Kepada tidak siapa-siapa. Kepada dapur yang lampunya cuma satu.

Dan kali ini aku tidak sedang bicara tentang masakan.


Lampu ruang tengah menyala.

Aku tidak mendengar pintu kamarnya. Aku tidak mendengar apa-apa; aku sudah tidak mendengar apa-apa sejak jam satu.

Papa berdiri di ambang ruang makan dengan kaus tidur dan rambut belum disisir, memandangi meja.

Sepiring nasi kuning.

Buku yang terbuka di halaman seratus dua.

Dan anaknya, tujuh belas tahun, menutup wajah dengan kedua tangan jam dua pagi.

“El,” katanya.

Aku tidak menurunkan tanganku.

Aku mendengar langkah kakinya menyeberangi ruangan. Aku mendengar kursi ditarik. Aku merasakan berat seseorang duduk di sebelahku.

Dan lalu aku merasakan telapak tangan di belakang kepalaku — besar, kasar, dengan cara yang tidak pernah aku rasakan sejak aku umur empat belas —

dan laki-laki itu menarik kepalaku ke bahunya.

“Ya udah,” katanya. “Nangis.”

Dan aku menangis di bahu ayahku untuk pertama kalinya sejak pemakaman ibuku, jam dua pagi, di ruang makan rumah yang tidak jadi dijual.

Dan di suatu titik — aku tidak tahu kapan, aku sudah tidak menghitung apa-apa lagi — aku mendengar dia membaca lima baris itu di atas kepalaku, pelan, dengan suara yang pecah di baris terakhir.

“El,” katanya.

“Iya, Pa.”

“Besok Papa nggak kerja.”