Chapter Thirty Five
Bukan Kami yang Nyangga
POV: Valerie
Kami datang hari Minggu jam sepuluh pagi, berdua, dan El memakai kemeja.
Aku ingin mencatat itu karena aku hampir tertawa waktu melihatnya. Anak itu memakai kemeja — kemeja betulan, yang disetrika, dengan kancing sampai atas — untuk masuk ke rumah yang sudah dia datangi setiap hari Sabtu selama lima bulan.
“Kamu kayak mau ngelamar.”
“Aku nggak tau harus pake apa.”
“El, itu rumahku.”
“Iya.”
Dan dia menarik ujung kemejanya sekali lagi sebelum aku membuka pagar, dan aku memutuskan untuk tidak menggodanya lagi seumur hidup.
Empat orang di meja makan.
Meja itu lagi. Meja tempat aku menyusun map cokelat jadi tiga tumpukan umur empat belas. Meja tempat aku menuduh Om Bara di bulan Oktober. Meja yang taplak birunya masih ada, sudah dicuci dua kali, dan yang tidak ada yang berani menyingkirkannya.
Mama menuang teh dengan tangan yang tidak stabil.
“Val, kalau ini soal—“
“Ma, dengerin dulu.”
“Sayang—“
“Tante Renata,” kata El.
Dan semua orang menoleh, karena anak itu belum pernah memotong pembicaraan siapa pun seumur hidupnya.
Aku akan menuliskan apa yang dia katakan selengkap yang aku ingat, karena itu kalimat terpanjang yang pernah aku dengar keluar dari mulut Kaelan Baskara, dan karena aku menghitung waktunya secara refleks dan hasilnya empat menit dua belas detik.
“Saya minta maaf soal hari Kamis itu,” katanya. “Bukan soal Valerie. Soal saya bohong lima bulan sama Tante, di meja Tante, sambil Tante nambahin nasi ke piring saya.”
Mama menutup mulutnya dengan tangan.
“Tapi saya mau ngomongin yang lain,” katanya.
Dia meletakkan kedua tangannya di atas meja.
“Tante batalin karena Tante nggak mau Valerie bayar lagi buat pilihan Tante.”
“El—“
“Saya ngerti,” katanya. “Saya ngerti banget, Tante. Karena saya juga gitu.”
Dia menarik napas.
“Saya nolak Valerie bulan Oktober karena saya ngitungin Tante. Saya ngitung berapa kali Tante noleh ke pintu tiap makan malam. Makan malam pertama sepuluh kali. Bulan Desember dua kali.”
Mama menutup matanya.
“Papa saya nggak jual rumah, tapi dia udah panggil orang buat nilai, dan dia latihan tiga minggu di mobil buat ngomong sama saya, dan dia nggak jadi ngomong karena dia takut saya bakal bilang iya.”
Om Bara menaruh cangkirnya.
“Dan Valerie,” kata El, “Valerie nyimpen surat penilaian itu tiga hari, dan dia bisa aja pake buat batalin ini semua, dan dia kasih ke saya sambil bilang saya boleh milih.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kita berempat ngelakuin hal yang sama, Tante,” katanya. “Kita semua ngelepasin sesuatu biar tiga yang lain nggak usah.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Dan hasilnya kita berempat duduk sendirian di dua rumah yang beda.”
Mama menangis di meja itu.
“Kamu nggak ngerti, El—“
“Saya ngerti.”
“Kamu tujuh belas tahun.”
“Iya, Tante.”
“Kamu nggak tau gimana rasanya lihat anak kamu—“
“Tante.” Suaranya sangat pelan. “Saya emang nggak tau. Tapi Valerie tau.”
Dan dia menoleh ke arahku.
Dan aku, yang sudah menyiapkan tujuh kalimat di angkot dan membuang keenam yang pertama, berkata:
“Ma.”
“Val—“
“Mama inget nggak, Jumat kemarin Mama duduk di lantai kamarku satu jam?”
Mama tidak menjawab.
“Mama nyender di bahuku,” kataku. “Mama bilang Mama capek banget.”
Aku memegang tangannya di atas meja.
“Ma, itu pertama kalinya seumur hidupku.”
Mama menggeleng dan terus menggeleng.
“Tiga tahun aku pikir aku yang nyangga rumah ini,” kataku. “Aku yang megang rekening. Aku yang ngangkat telepon. Aku yang nyusun map cokelat itu jadi tiga tumpukan sambil ngitung pake jari.”
Suaraku pecah.
“Dan Mama berdiri di tangga tiap malem nontonin aku ngelakuin itu, terus balik ke kamar, terus besok paginya bikin sarapan.”
Mama menutup wajahnya.
“Kita dua-duanya pikir kita yang nyangga,” kataku. “Ma, kita berdua salah. Nggak ada yang nyangga. Kita cuma dua orang yang saling nggak mau ngeliat.”
Aku tidak tahu berapa lama kami menangis di meja itu.
Yang aku ingat: Om Bara berdiri, mengambil kotak tisu dari ruang tengah, menaruhnya di tengah meja, dan duduk lagi tanpa bilang apa-apa.
Yang aku ingat berikutnya adalah suaranya.
“Ren.”
Mama tidak menjawab.
“Ren, boleh Om ngomong satu hal?”
“Mas, jangan—“
“Om udah tau dari hari pertama.”
Aku mengangkat wajahku.
El mengangkat wajahnya.
“Pa?”
Om Bara memutar cangkirnya di atas meja. Dua kali. Tiga kali.
“Bulan September,” katanya. “Malem Kamis. Om cerita ke El soal Renata, terus Om nunjukkin foto kamu, Nak. Di ponsel Om.”
Aku merasakan sesuatu di tengkukku berdiri.
“Dan Om lihat muka anak Om,” kata Om Bara.
“Pa—“
“Empat detik, El.” Dia menoleh ke arah anaknya. “Kamu diem empat detik. Terus kamu berdiri, kamu bawa piring ke wastafel, dan kamu nyuci satu piring itu empat menit.”
El tidak bisa bicara.
“Om tunggu kamu ngomong,” kata Om Bara. “September, Oktober, November. Om tunggu. Om pikir kamu butuh waktu.”
Dia menggeleng pelan.
“Terus Desember Om sadar kamu nggak akan pernah ngomong.”
“Pa—“
“Dan Om diem juga,” katanya. “Om diem karena Om nggak tau gimana caranya nanya. Om nggak pernah nanya kamu apa-apa selama tiga tahun, El. Om nggak punya latihannya.”
Laki-laki itu menyeka wajahnya dengan telapak tangan.
“Om udah siapin surat penilaian rumah bukan cuma buat kuliah, Ren,” katanya, dan dia menoleh ke Mama. “Kalau ini nggak jadi, Om mau bawa El pindah kota. Biar dia nggak usah ketemu Valerie tiap hari sampai lulus.”
Mama menutup mulutnya.
“Om udah siapin semuanya,” katanya. “Om siap batalin ini sendiri, Ren. Dari bulan Desember.”
Aku menatap laki-laki itu.
Dan aku memikirkan meja makan bulan September, di mana aku berdiri dan berteriak bahwa orang seperti dia memberi dulu supaya nanti bisa mengambil semuanya.
“Om,” kataku.
“Iya, Nak.”
“Kenapa Om nggak bilang?”
Dan Om Bara Baskara — yang senyumnya lebar, yang tertawa dari perut, yang mengisi setiap keheningan dengan cerita tentang kucing tetangga — menaruh cangkirnya dan berkata:
“Karena Om egois, Nak.”
“Om—“
“Om pengin ini jadi.” Suaranya pecah. “Om pengin banget. Om tiga tahun nggak sanggup masuk rumah sendiri, dan Om ketemu mama kamu, dan Om—“
Dia berhenti.
“Om diem karena Om pengin ini jadi,” katanya. “Itu aja. Nggak ada yang mulia.”
Mama menangis di seberang meja, dan Om Bara duduk di sebelahnya dan tidak menyentuhnya, karena laki-laki itu tidak akan menyentuhnya sebelum diizinkan, dan itu satu-satunya hal yang aku tahu pasti tentang dia sejak bulan Oktober.
Dan Mama meraih tangannya sendiri.
Aku menonton perempuan itu meraih tangan laki-laki itu di atas meja makan tempat aku menyusun utang ayahku umur empat belas.
“Mas.”
“Iya, Ren.”
“Kalau kita jadi,” kata Mama, dan suaranya sangat kecil, “anak-anak ini gimana?”
Dan Om Bara menoleh ke arahku.
“Valerie,” katanya.
“Iya, Om.”
“Kalau ternyata anak Om jahat sama kamu,” katanya, “Om yang pertama mukul.”
Aku berhenti bernapas.
El mengangkat kepalanya.
“Om nggak butuh mikir lama,” kata Om Bara. “Om cuma butuh kamu tau posisinya di mana. Om berdiri di sebelah kamu, Nak. Walaupun yang salah anak Om sendiri. Itu aja.”
Dan El — yang mengucapkan kalimat itu pertama kali di teras rumah ini bulan Oktober, kepada anak perempuan yang baru saja menuduh ayahnya di meja makannya sendiri —
menutup wajahnya dengan satu tangan.
Aku memegang lengannya di bawah meja.
Dan Mama, yang tidak tahu apa-apa tentang kalimat itu, yang tidak akan pernah tahu, menoleh ke arah Om Bara dan berkata:
“Mas, kok Val sama El nangis?”
“Nggak tau, Ren.”
“Mas.”
“Nggak tau, sayang.”
Dan dia tersenyum ke arah kami dengan cara yang membuatku yakin dia tahu persis.
Bagian lucunya baru dimulai jam dua siang.
“Lima ratus,” kata Om Bara, sambil menatap tumpukan kertas di meja. “Ren, kita udah telepon empat puluh satu orang dan bilang batal.”
“Empat puluh dua,” kata Mama.
“Sekarang kita harus telepon lagi dan bilang—“
“Jadi.”
“Jadi.” Om Bara menekan pangkal hidungnya. “Ya Allah. Om Fahri bakal ketawa sampai mati.”
“Pak Dedi juga.”
“Bu Ratih bakal marah, Ren.”
“Mas yang telepon Bu Ratih.”
“KENAPA HARUS OM—“
“Karena Mas yang bilang ‘nggak jodoh’ ke dia.”
Dan Om Bara menaruh kepalanya di meja, dan El — El — mengeluarkan suara napas dari hidung dua kali berturut-turut, yang secara resmi adalah tawa terkeras dalam sejarah anak itu.
Tanggalnya mundur enam minggu. Dua puluh sembilan Maret.
Kami menelepon empat puluh dua orang malam itu, bergantian, dan aku mendapat bagian Bu Sri, dan Bu Sri menjerit di telepon sampai aku harus menjauhkan ponsel dari telinga.
Aku ke rumah Baskara hari Senin sore, sendirian.
El sedang di dapur. Tentu saja dia sedang di dapur.
Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa detik, dan lalu aku berjalan ke balik pintu, dan aku mengambil celemek biru tua yang katunnya sudah tipis di bagian perut.
Talinya diganti. Jahitan tangan, bukan mesin. Bordir kecil di sudut bawah, benang putih, huruf L yang sudah pudar.
Aku memakainya.
Dan aku berbalik.
El berhenti bergerak.
Sendok kayu di tangannya. Kompor menyala. Air di panci mulai berbunyi.
Dia tidak bilang apa-apa selama mungkin sepuluh detik.
“Val.”
“Aku minta izin,” kataku. Suaraku goyah dan aku tidak berusaha memperbaikinya. “Aku nggak main ambil. Aku minta izin sekarang.”
Dia meletakkan sendok kayu itu.
“Aku nggak bisa masak,” kataku. “Aku payah banget. Aku pernah bikin telur gosong sama mentah sekaligus dan kamu bilang itu secara teknis mustahil.”
Aku memegang ujung celemek itu dengan dua tangan.
“Tapi aku nggak mau cuma satu orang yang inget rasanya, El.”
Dia tidak bergerak.
“Ajarin aku,” kataku. “Empat belas macemnya. Semuanya. Aku nggak peduli berapa lama.”
Dan Kaelan Baskara menyeberangi dapur berukuran tiga kali dua meter itu, dan berdiri di depanku, dan mengangkat kedua tangannya —
dan membetulkan tali celemek di belakang leherku, karena aku memasangnya terlalu longgar.
Dua detik. Tangannya bergetar.
Lalu dia mundur, mengambil talenan dari gantungan, dan menaruhnya di meja.
“Pegang pisaunya,” katanya. “Jarinya masuk. Yang ini juga.”
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga reading
- 36 Bukan