← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirty Six

Bukan

POV: Valerie


Dua puluh sembilan Maret, jam tiga pagi, dapur rumah Baskara.

Aku ada di sana.

Aku ingin mencatat itu di kalimat pertama karena aku bangga sekali dan karena tidak ada orang lain yang akan menuliskannya untukku: aku, Valerie Mauren, yang pernah membuat telur gosong dan mentah sekaligus, berdiri di dapur berukuran tiga kali dua meter itu jam tiga pagi dengan celemek biru tua yang katunnya sudah tipis di bagian perut.

“Bawangnya.”

“Udah.”

“Semuanya?”

“Delapan kilo, El. Aku ngupas delapan kilo bawang.”

“Enam.”

“RASANYA DELAPAN.”

“Val, jarinya.”

“Iya iya iya.”

Enam minggu. Tiga sampai empat kali seminggu, setelah sekolah, di dapur ini. Aku belum bisa masak. Aku ingin jujur soal itu — aku belum bisa masak, dan mungkin butuh bertahun-tahun.

Tapi aku bisa mengupas. Aku bisa memotong tanpa berdarah. Aku hafal urutan mana yang dikerjakan duluan dan mana yang harus segar. Aku tahu bahwa kunyit jangan kebanyakan, nanti pahit.

Dan aku tahu bahwa ada empat belas macam di meja keluarga, dan aku hafal keempat belasnya, dan kalau suatu hari nanti rasanya beda sedikit, aku akan bilang.


Yang kelima belas dibuat jam lima pagi.

El mengeluarkan buku itu dari rak di atas kompor dan membukanya di halaman seratus dua, dan menaruhnya terbuka di meja, dan itu pertama kalinya aku melihat halaman itu dengan mata sendiri.

Tulisan yang tidak stabil. Tekanan pena yang berubah-ubah. Huruf e yang miring ke kiri.

Dan lima baris di bawahnya.

Aku membacanya sekali dan tidak sanggup membaca dua kali.

“El.”

“Hm.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Dia sedang menakar beras. Dia tidak berhenti.

“Nggak apa-apa,” katanya.

Dan tangannya tidak bergetar.

Aku memperhatikannya sepanjang lima menit berikutnya — aku benar-benar memperhatikannya, karena aku sudah lima bulan belajar membaca anak ini dan tangannya adalah satu-satunya bagian yang tidak pernah berbohong.

Tidak bergetar sekali pun.


Nasi kuningnya selesai jam setengah tujuh.

Dia menghias pinggirannya dengan telur, karena itu yang selalu dilakukan ibunya, dan lalu dia berdiri di depannya selama beberapa detik.

“El.”

“Val.”

“Hm?”

Dia tidak menoleh.

“Makasih,” katanya.

“Buat apa?”

“Buat dateng jam tiga.”

Aku memakai punggung tanganku untuk menyeka mata karena kedua telapak tanganku bau bawang, dan aku bilang “berisik”, dan dia mengeluarkan suara napas dari hidung.


Resepsinya jam sepuluh di gedung serbaguna kelurahan.

Aku tidak akan menceritakan semuanya. Aku akan menceritakan enam hal.

Satu. Mama keluar dari ruang rias dengan kebaya gading yang sama seperti di Butik Mawar, dan berdiri tegak, dan Om Bara berdiri dari kursinya dan tidak bisa mengeluarkan satu kata pun — lagi, untuk kedua kalinya, di depan enam puluh orang — dan Bu Ratih di sudut ruangan langsung sibuk sekali dengan tasnya sambil menyeka mata dengan punggung tangan.

Dua. Om Fahri, yang punya gedung, menepuk punggung Om Bara dan berkata keras-keras, “Untung nggak jodohnya cuma enam minggu, ya, Pak!” dan tertawa sendiri selama dua menit penuh sampai istrinya menariknya pergi.

Tiga. Bu Sri menangis di baris kedua sejak akad belum mulai. Dia sudah menangis waktu masuk gedung. Dia menangis dari jam sembilan lewat.

Empat. Nadhira datang bawa hadiah dan berkata, sambil memelukku, “Aku udah tau kalian jadian dari bulan November, Val, aku cuma nunggu kalian sadar.” Lalu dia melihat El di seberang ruangan dan berkata, “Astaga, dia beneran ganteng ya kalau diliatin,” dan aku bilang “Nadh,” dan dia bilang “aku cuma ngomong.”

Lima. Gilang datang, melihat El di depan meja katering dengan celemek putih, dan berkata dengan suara yang jelas terdengar tiga meter, “Bro. BRO. Lo masak semuanya?” dan El bilang “Yang meja itu doang,” dan Gilang bilang “GUE TEMEN SEBANGKU LO SETAHUN SETENGAH DAN LO NGGAK PERNAH BILANG.”

Enam yang paling penting, dan itu terjadi jam sebelas kurang, sebelum tamu masuk ke ruang makan.


Aku sedang membantu menata meja keluarga waktu Mama masuk.

Dia masih pakai kebaya. Dia jalan pelan karena kainnya sempit. Dan dia membawa satu piring kosong di tangannya.

“Ma?”

Dia tidak menjawab.

Dia berjalan ke ujung meja — ke kursi yang tidak ada tempatnya, kursi yang kami tambahkan dari tumpukan di gudang karena hitungannya meleset satu — dan dia menaruh piring itu di sana.

Lalu dia menaruh sendok dan garpu di sebelahnya, dilipat di dalam serbet.

Aku berdiri memegang tumpukan piring.

“Ma.”

“Buat Bu Laras,” katanya.

Dan dia meratakan letak piring itu dengan dua jari, sekali, seperti orang yang sedang meminta izin.

“Mama nggak kenal beliau,” katanya. “Dan Mama duduk di kursi yang harusnya beliau. Mama nggak tau harus gimana sama itu, Val. Mama mikirin ini dari bulan Januari.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi ya udah,” kata Mama. “Ditaro aja piringnya.”


El masuk dua menit kemudian membawa nampan.

Dan berhenti.

Aku menonton dari sisi ruangan. Aku ingin mencatat setiap detiknya karena aku tahu, waktu itu juga, bahwa aku akan mengingat ini seumur hidup.

Anak itu berdiri di ambang pintu ruang makan dengan nampan di tangan, dan dia melihat meja itu — empat belas piring, disusun dengan urutan yang tangannya ingat tanpa harus bertanya pada kepalanya — dan di ujung, satu piring kosong dengan sendok garpu dilipat di dalam serbet.

Dia tidak bergerak selama mungkin lima detik.

Lalu dia berjalan ke meja, menaruh nampan, dan mengangkat piring nasi kuning dari atasnya.

Dan dia meletakkannya di depan piring kosong itu.

Mama menutup mulutnya dengan tangan.

“El—“

“Nggak apa-apa, Tante,” katanya.

Dan suaranya pecah di kata terakhir, dan dia langsung berbalik ke dapur, dan Om Bara — yang berdiri di pintu dan melihat semuanya — menutup matanya dan menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk selama lima detik penuh sebelum bisa masuk.


Yang bertanya namanya Bu Endang.

Sepupu jauh Om Bara dari Purwokerto, umur enam puluhan, baik sekali, dan tidak tahu apa-apa.

Jam satu siang, sesi foto, dan kami berdiri di depan pelaminan menunggu giliran. Aku dan El. Berdua. Karena keluarga inti dipanggil terakhir dan karena kami adalah, secara resmi, keluarga inti.

“Aduh, ini yang muda-muda.” Bu Endang menepuk lenganku. “Yang mana anak Pak Bara?”

“Yang ini, Bu,” kataku.

“Oh, jadi kamu anaknya Bu Renata.” Dia mengangguk-angguk. “Ya ampun, cantik banget kamu, Nak.”

“Makasih, Bu.”

Dan Bu Endang memandang kami berdua bergantian, dan tersenyum, dan berkata:

“Sekarang jadi kakak-adik, ya?”


Aku ingin menceritakan bahwa aku ragu.

Aku ingin menceritakan bahwa ada momen di mana aku menoleh ke El untuk minta izin, atau melihat ke arah Mama di seberang ruangan, atau menghitung risikonya, karena aku selalu menghitung.

Aku tidak menghitung apa-apa.

“Bukan,” kataku.

Bu Endang mengerjap. “Hah?”

“Bukan kakak-adik, Bu.”

Dan aku mengambil tangan El.

Di depan pelaminan. Di depan enam puluh orang. Di depan Bu Sri yang sudah menangis sejak jam sembilan, dan Nadhira yang langsung memukul lengan Gilang, dan Bu Ratih yang menjatuhkan ponselnya, dan Om Fahri yang berkata “HAH?” dengan volume yang tidak perlu.

Dan aku menggenggamnya, dan El menggenggam balik, dan tangannya tidak bergetar sama sekali.

“Kami pacaran, Bu,” kataku.

Ruangan itu berhenti.

Dan lalu, dari seberang ruangan, terdengar suara Om Bara:

“Iya, Bu Endang. Udah dari Oktober.”

Dan Mama, di sebelahnya, dengan kebaya gading dan bahu yang tegak:

“Akhir Oktober.”


Yang terjadi setelah itu bukan skandal.

Aku sudah membayangkan skandal selama lima bulan. Dua puluh tiga skenario, semuanya berakhir di ruangan yang diam dan wajah-wajah yang berpaling.

Yang terjadi adalah Bu Endang bilang, “Oh! Ya bagus, dong. Nggak sedarah, kan?”

“Nggak, Bu.”

“Ya udah.” Dia menepuk lenganku lagi. “Bagus itu. Rumahnya jadi rame.”

Dan dia pergi mengambil kue.

Aku berdiri di depan pelaminan memegang tangan pacarku dan menoleh ke arahnya dengan mulut terbuka.

“El.”

“Hm.”

“Gitu doang?”

“Kayaknya.”

“AKU MIKIRIN INI LIMA BULAN.”

“Aku dua puluh tiga skenario.”

“KAMU LEBIH PARAH.”

Dan Kaelan Baskara, di depan enam puluh orang, di depan pelaminan ayahnya, tertawa.

Bersuara.

Panjang.

Dan Gilang di seberang ruangan berteriak “ANJIR DIA KETAWA” dan dipukul Nadhira, dan Bu Sri menangis lebih keras, dan aku berdiri di sana memegang tangan anak itu dan berpikir bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku mengejar suara itu.


Kami pindah rumah hari Minggu.

Rumah Baskara tidak dijual. Om Bara bilang, waktu ditanya, “Om udah tiga tahun ngitung. Om capek ngitung.” Dapurnya tetap ada. Kamar ketiga di lorong belakang tetap ada, dan sekarang tidak dikunci, dan pintunya dibuka setiap Minggu untuk diangin-anginkan.

Kami tinggal di rumah Mauren. Empat orang. Dua kamar di lantai atas, bersebelahan.

Punyaku dicat biru muda.


Malam itu, malam pertama, aku keluar ke beranda jam sebelas karena aku tidak bisa tidur.

Dia sudah di sana.

Duduk di anak tangga, seperti yang selalu dia lakukan sebelum pulang, kecuali sekarang tidak ada yang perlu dipulangi.

Aku duduk di sebelahnya.

“Nggak bisa tidur?”

“Nggak.”

“Aku juga.”

Gang itu sepi. Ada motor lewat sekali, di ujung, dan aku merasakan diriku sendiri menoleh ke arah suaranya selama setengah detik sebelum aku sadar.

Aku menoleh ke pintu.

Lalu aku menoleh ke El.

Dan dia sudah melihat.

“Val.”

“Aku tau.”

“Kamu—“

“Aku tau, El.” Aku menekan lutut ke dada. “Aku juga gitu. Ternyata aku juga gitu.”

Dia tidak bilang apa-apa selama beberapa detik.

Lalu dia bilang, “Sekarang nggak perlu.”

“Hm?”

“Semuanya udah di dalem,” katanya.


Aku menoleh ke arahnya.

Dan dia sedang melihatku, dan lampu beranda kami mati sebelah seperti lampu jalan di gang rumah lamanya, dan wajahnya dari jarak setengah meter tidak masuk akal seperti biasa.

“El.”

“Hm.”

“Bulan Oktober kamu bilang kamu suka aku.”

“Iya.”

“Bulan Februari kamu bilang sayang. Sekali.”

“Iya.”

Aku memiringkan kepalaku.

“Kamu nyimpen yang satu lagi, kan.”

Dan aku melihat tenggorokannya bergerak.

“Val.”

“Aku tau kamu nyimpen. Kamu nyimpen semuanya, El. Kamu nyimpen dua tahun. Kamu nyimpen kotak makan kedua tiap pagi. Kamu nyimpen payung. Kamu nyimpen ‘sayang’ dari November sampe Februari.”

Aku memegang tangannya.

“Aku nggak maksa,” kataku. “Aku bisa nunggu. Aku udah belajar nunggu tiga jam empat puluh menit di teras rumah kamu, jadi—“

“Aku cinta kamu.”


Aku berhenti bernapas.

Dia mengatakannya ke arah halaman, bukan ke arahku. Pelan sekali. Tanpa persiapan, tanpa jeda, di tengah kalimatku, seperti orang yang tahu bahwa kalau dia menunggu satu detik lagi dia akan menyimpannya dua tahun lagi.

“Dari lapangan MOS,” katanya. “Aku nggak tau namanya waktu itu. Aku baru tau namanya waktu aku umur enam belas dan aku baca di papan absen kelas sebelah.”

Dia menoleh.

“Aku cinta kamu, Val.”

Dan aku menangis di beranda rumahku sendiri jam sebelas malam, dengan tangan anak itu di tanganku, dan aku bilang:

“Aku juga cinta kamu.”

Dan itu satu-satunya kali kata itu diucapkan di antara kami.

Kami tidak pernah mengulanginya. Tidak sekali pun, sampai bertahun-tahun kemudian, di ruangan yang berbeda, dengan alasan yang berbeda.

Kami tidak perlu.


Kami duduk di beranda itu sampai jam satu pagi.

Di suatu titik dia bilang, ke arah gang:

“Val.”

“Hm.”

“Aku nggak takut lupa lagi.”

Aku menoleh.

“Yang mana?”

“Semuanya,” katanya. “Rasanya. Suara ketawa kamu di koridor. Semuanya.”

Dia mengangkat bahu sedikit.

“Sekarang ada dua orang yang inget.”


Besok paginya, jam enam, aku turun dan menemukan meja makan itu sudah penuh.

Meja yang sama. Taplak biru yang sudah dicuci empat kali. Meja tempat aku menyusun map cokelat jadi tiga tumpukan waktu umur empat belas, sambil menghitung pakai jari, sambil ibuku berdiri di tangga dan menonton dan kembali ke kamar.

Empat piring.

Om Bara membaca berita di ponselnya dan tertawa sendiri. Mama menuang teh dan mengomel karena El bangun terlalu pagi lagi. El menaruh sesuatu di depan kursiku sebelum aku duduk, dan aku tidak melihat apa itu sampai aku duduk.

Kotak makan.

“El, aku bisa bawa bekal sendiri sekarang.”

“Iya.”

“Aku udah bisa masak.”

“Nggak.”

“EL.”

“Habisin,” katanya.

Dan aku duduk di meja makan itu, di antara empat orang, dan aku membuka kotaknya.

Ada sambal di dalamnya. Wadah kecil, terpisah, dengan tutup sendiri.

Segelnya sudah dibuka.


[ SELESAI ]