← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Twenty Six

Uji Coba

POV: El


Aku mulai jam empat pagi hari Minggu, seperti biasa, karena empat pagi adalah jam di mana rumah ini paling mirip dengan rumah ini.

Uji coba. Empat belas macam, porsi kecil, satu putaran penuh untuk memastikan apa yang bisa dibuat malam sebelumnya dan apa yang harus dibuat pagi hari resepsi.

Aku menyusun daftarnya di kertas, urut berdasarkan waktu masak, seperti yang selalu aku lakukan.

Lalu aku mengambil buku itu dari rak di atas kompor.


Ada empat belas resep di meja keluarga, dan aku tahu tiga belas di antaranya di luar kepala.

Yang keempat belas ada di halaman seratus dua.

Aku tidak membuka halaman seratus dua.

Aku sudah tidak membuka halaman seratus dua sejak tiga tahun yang lalu, dan aku punya alasan, dan alasan itu bukan alasan yang bisa aku jelaskan pada siapa pun termasuk diriku sendiri. Jadi yang aku lakukan pagi itu adalah apa yang selalu aku lakukan: aku membuka halaman seratus satu, aku membaca resep sup, aku menutup buku sebelum jari-jariku sempat memutuskan sesuatu.

Tiga belas.

Tiga belas cukup.


Jam enam pagi dapur itu sudah penuh.

Aku ingin mencatat sesuatu yang mungkin terdengar aneh, tapi aku akan mencatatnya karena ini yang sebenarnya terjadi:

aku bahagia.

Bukan bahagia yang besar. Bahagia yang kecil dan sangat spesifik: bahagia karena kompor menyala di dua tungku, karena ada wangi bawang goreng yang benar, karena ada bunyi minyak yang benar, karena dapur berukuran tiga kali dua meter ini akhirnya dipakai sesuai kapasitasnya untuk pertama kalinya sejak tiga tahun.

Rumah ini dibangun untuk hari seperti ini.

Aku tidak pernah menyadarinya sampai pagi itu. Dapur ini terlalu besar untuk dua orang. Rak bumbunya punya delapan belas slot dan kami cuma pakai sebelas. Ada dua panci besar di lemari bawah yang tidak pernah keluar sejak tahun dua ribu dua puluh dua.

Aku mengeluarkan dua-duanya pagi itu.

Dan waktu air di panci pertama mulai berbunyi, aku menyadari bahwa aku sedang bersenandung.

Aku berhenti.

Aku berdiri di depan kompor dengan sendok kayu di tangan dan mencoba mengingat kapan terakhir kali aku melakukan itu.

Aku tidak bisa mengingatnya.


Papa bangun jam tujuh.

Aku mendengar pintu kamarnya, lalu langkah kakinya di lorong, lalu langkah itu berhenti di ambang ruang makan.

Dan tidak melanjutkan.

“El.”

“Iya, Pa.”

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh.

Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan kaus tidur dan rambut belum disisir, memandangi meja yang sudah penuh setengahnya, dan tidak bergerak sama sekali.

“Uji coba, Pa,” kataku. “Buat ngecek mana yang bisa dibikin H-1.”

Dia tidak menjawab.

Dia berjalan ke meja. Pelan. Dia melihat piring-piring itu satu per satu — semur, sup, ayam, sambal goreng, yang manis di ujung, yang untuk anak-anak di dekat kursi pojok.

Susunannya persis.

Aku tidak menyusunnya dengan sengaja. Tanganku yang menyusunnya. Tanganku ingat urutan meja enam November tanpa harus bertanya pada kepalaku.

Papa mengambil sendok kecil.

Dia mencicipi semur.

Dan dia berhenti bergerak.


Aku sudah menyiapkan diri untuk banyak hal pagi itu.

Aku tidak menyiapkan diri untuk melihat ayahku menaruh sendok di piring dengan tangan yang bergetar, lalu memegang pinggiran meja dengan kedua tangan, lalu menunduk sampai dahinya hampir menyentuh taplak.

“Pa.”

“Sebentar,” katanya.

“Pa—“

“Sebentar, El.”

Dan dia berdiri di sana, membungkuk di atas meja makan, selama mungkin satu menit penuh, dengan bahu yang naik turun dan tidak ada suara sama sekali.

Aku tidak bergerak dari depan kompor.

Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak pernah tahu harus melakukan apa. Selama satu tahun aku menaruh makanan di meja untuk laki-laki ini dan tidur sebelum dia pulang, dan itu satu-satunya bahasa yang pernah kami punya, dan bahasa itu tidak punya kata untuk ini.

Waktu dia akhirnya mengangkat wajah, matanya merah dan dia tidak berusaha menyembunyikannya.

“Sama,” katanya.

“Pa—“

“Persis sama, El.”

Dia menyeka wajahnya dengan lengan.

“Papa nggak tau kamu bisa,” katanya. “Papa nggak—“ Suaranya patah. “Papa nggak pernah tau.”

Dan dia mengambil sendok itu lagi dan mencicipi yang berikutnya, dan yang berikutnya, dan dia menangis di setiap satu, dan dia terus makan.


Ini bagian yang tidak aku ceritakan pada siapa pun.

Waktu Papa akhirnya duduk, dan mengambil piring, dan makan dengan benar untuk pertama kalinya sejak aku tidak ingat kapan — aku berdiri di depan kompor dan merasakan sesuatu yang sangat hangat dan sangat besar naik di dadaku.

Dan tepat di belakangnya, setengah detik kemudian, sesuatu yang lain.

Yang kedua itu dingin.

Karena aku baru saja mengerti apa yang aku lakukan.

Aku sedang memasak masakan ibuku, dengan resep tulisan tangan ibuku, di dapur ibuku, untuk pernikahan ayahku dengan perempuan lain.

Dan aku bahagia.

Itu yang membuatku harus berpegangan ke pinggiran kompor.

Bukan rasa bersalah. Aku sudah menyiapkan diri untuk rasa bersalah; aku sudah memutar kemungkinan itu di kepalaku berbulan-bulan dan aku sudah punya jawabannya.

Yang tidak aku siapkan adalah kebahagiaannya.

Bahwa aku akan berdiri di dapur ini dan bersenandung. Bahwa aku akan mengeluarkan dua panci yang tidak keluar sejak dua ribu dua puluh dua dan merasa lega. Bahwa aku akan melihat ayahku menangis di atas semur dan merasa — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — bahwa aku sudah melakukan sesuatu yang benar.

Kalau ini menyakitkan, artinya aku masih menjaganya.

Kalau ini menyenangkan, artinya apa?


Valerie datang jam sepuluh.

Aku tidak mendengar pagar. Aku baru tahu dia ada di sana waktu aku menoleh untuk mengambil serbet dan dia sudah berdiri di ambang pintu dapur.

Entah sejak kapan.

“Val.”

Dia tidak menjawab.

Dia sedang melihat meja. Semua piring itu, semua tudung saji, dua panci besar di kompor, dan aku dengan celemek biru tua yang huruf L-nya sudah pudar.

Dan wajahnya—

Aku sudah dua tahun mempelajari wajah itu dan aku belum pernah melihat yang ini.

“Val.”

“Berapa lama,” katanya.

“Hm?”

“Kamu udah masak dari jam berapa.”

“Empat.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan.

“Val, ini uji coba doang—“

“Kamu seneng, ya,” katanya.

Aku berhenti.

“Aku lihat dari pager, El.” Suaranya keluar sangat pelan. “Kamu lagi ngaduk sesuatu dan kamu—kamu lagi ngangguk-ngangguk. Kayak orang denger lagu.”

Aku memegang serbet itu terlalu erat.

“Aku berdiri di pager empat menit,” katanya. “Aku nggak berani masuk.”

“Kenapa?”

Dan Valerie Mauren — yang berani seperti truk, yang duduk di meja orang dan bikin satu kelas berhenti bernapas, yang menuduh ayahku di meja makan ayahku sendiri —

berdiri di ambang pintu dapurku dan mulai menangis tanpa suara.

“Karena kamu keliatan seneng banget,” katanya, “dan aku nggak tau harus gimana sama itu.”


Aku mematikan kompor.

Aku menyeberangi dapur itu dan aku memeluknya di ambang pintu, dan dia menempelkan wajahnya ke celemek ibuku, dan aku merasakan bahunya bergerak dan tidak ada suara sama sekali karena Papa masih di ruang makan sepuluh langkah dari kami.

“Val.”

“Jangan ngomong.”

“Oke.”

Kami berdiri seperti itu mungkin dua menit.

Lalu dia bilang, ke celemek itu, dengan suara yang hampir tidak terdengar:

“Aku nggak bisa ngerusak ini.”

“Apa?”

Dia menggeleng.

“Val.”

“Nggak apa-apa.” Dia mundur, menyeka wajah dengan dua tangan, dan tersenyum dengan senyum paling salah yang pernah aku lihat. “Aku laper. Boleh nyicip?”

Dan aku membiarkannya.

Aku membiarkannya, dan aku menyiapkan piring, dan kami makan bertiga di meja itu — Papa, Valerie, dan aku — dan Papa bercerita tentang kucing tetangga dan Valerie tertawa dengan volume yang benar dan aku menambah nasi ke piring mereka berdua.

Dan aku tidak menanyakan lagi apa yang tidak bisa dia rusak.

Aku tidak menanyakannya karena aku sedang bahagia, dan karena aku sudah tiga tahun tidak bahagia, dan karena ternyata orang yang sedang bahagia adalah orang yang paling buruk dalam memperhatikan.

Dua hari kemudian dia menemukan surat penilaian properti di laci ruang tamu, dan semuanya mulai runtuh.