Chapter Three
Dua Tahun
POV: El
Delapan bulan setelah Mama meninggal, aku masuk SMA, dan aku masih belum bisa merasakan apa-apa.
Aku bukan sedih. Itu yang aneh. Orang mengira anak yang kehilangan ibunya akan menangis di tempat-tempat yang tidak terduga, dan aku menunggu itu terjadi. Aku menunggunya di kamar. Di angkot. Di dapur, jam dua pagi, waktu aku pertama kali membuka buku resep itu dan mencoba membaca tulisan tangannya tanpa mengerti kenapa huruf e-nya selalu miring ke kiri.
Tidak datang.
Yang datang cuma diam. Rumah yang diam, Papa yang tidak pulang, dan aku yang belajar bahwa kalau kamu terus bergerak — masak, cuci, sapu, susun — waktu akan lewat sendiri tanpa kamu harus ikut merasakannya.
Jadi waktu hari pertama MOS, aku berdiri di barisan paling belakang dan tidak merasa apa-apa. Aku ada di sana secara teknis. Itu saja.
Lalu ada keributan di depan.
Seorang kakak kelas, panitia, sedang memarahi anak perempuan kecil di barisan tiga karena sepatunya salah warna. Bukan memarahi biasa. Yang jenis dinikmati. Anak itu menunduk dan bahunya bergetar dan tidak ada yang bergerak, karena hari pertama dan tidak ada yang mau jadi contoh berikutnya.
Dan dari barisan sebelah, seorang anak perempuan keluar dari barisnya.
Dia tidak berteriak. Dia berjalan ke depan seperti orang yang salah membaca situasi — santai, hampir malas — dan berdiri di antara kakak kelas itu dan anak yang menangis.
“Kak,” katanya, dan suaranya jernih sekali di lapangan sepanas itu. “Sepatu aku juga salah. Marahin aku aja, ya? Aku lebih kuat.”
Lapangan itu diam.
Kakak kelas itu membuka mulut. Menutupnya lagi.
Dan anak perempuan itu tersenyum — senyum yang lebar dan ramah dan sama sekali tidak ada takutnya — dan aku ingat berpikir, dengan sangat jelas, kalimat pertama yang aku pikirkan sejak pemakaman:
Oh.
Cuma itu. Oh.
Rambutnya sepunggung dan ujungnya kena angin. Matanya cokelat terang, dan waktu dia menoleh ke arah matahari, warnanya berubah jadi madu. Aku belum pernah melihat mata berubah warna sebelumnya dan aku tidak tahu itu mungkin.
Tapi bukan itu yang membuatku berdiri lebih lurus.
Yang membuatku berdiri lebih lurus adalah ini: dia melindungi orang asing dengan cara menaruh dirinya sendiri di depan.
Delapan bulan aku tidak merasakan apa-apa.
Lalu delapan detik, dan aku merasakan semuanya sekaligus, dan aku hampir marah karenanya.
Namanya Valerie Mauren. Aku baru tahu tiga hari kemudian, dari papan absen kelas sebelah, dan aku menghafalnya seperti orang menghafal alamat rumah yang tidak akan pernah dia datangi.
Dua tahun.
Aku tidak akan berpura-pura itu masuk akal.
Aku juga tidak akan berpura-pura aku melakukan sesuatu yang berani. Aku tidak pernah bicara dengannya. Tidak sekali pun. Aku pernah berdiri dua meter darinya di antrean fotokopi selama enam menit dan yang aku lakukan adalah membaca daftar harga di dinding sampai hafal.
Yang aku lakukan cuma hal-hal yang tidak dilihat siapa pun.
Waktu dia kehilangan kartu perpustakaan kelas sepuluh, aku yang menemukannya di bawah bangku kantin dan menaruhnya di meja piket. Waktu ada anak yang menyebarkan foto dia diam-diam, aku yang melaporkannya ke guru BK tanpa menyebut nama siapa pun, dan sampai sekarang dia mengira itu ketahuan sendiri. Waktu hujan besar November dan dia berdiri di gerbang karena tidak bawa payung, aku menaruh payung di rak sepatu dekat pos satpam dan pergi lewat pintu belakang supaya tidak terlihat.
Dia tidak pernah tahu satu pun.
Aku juga tidak mau dia tahu. Itu bagian yang sulit dijelaskan. Kalau dia tahu, dia harus berterima kasih, dan kalau dia berterima kasih, itu jadi transaksi, dan aku tidak sedang bertransaksi. Aku cuma sedang memastikan bahwa satu orang di dunia ini baik-baik saja, karena aku tidak berhasil memastikannya untuk Mama.
Mama dulu begitu. Kalau ada tetangga yang sakit, dia masak, dia antar, dan dia pulang sebelum orangnya sempat bilang apa-apa.
“Kalau nunggu dibales, itu namanya nagih, El,” katanya. “Ya udah, kasih aja. Nggak usah nengok ke belakang.”
Aku tidak nengok ke belakang selama dua tahun.
Ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa pun, dan aku menceritakannya sekarang cuma karena tidak ada yang mendengar.
Setiap pagi aku membuat dua kotak makan.
Satu untukku. Satu lagi... tidak untuk siapa-siapa.
Awalnya kecelakaan. Kelas sepuluh, aku masak terlalu banyak, dan tanganku bergerak sendiri mengisi kotak kedua. Aku bawa ke sekolah. Aku tidak berani memberikannya. Aku memakannya sendiri di jam pulang, dingin, di ruang kelas kosong.
Besoknya aku melakukannya lagi.
Dan besoknya lagi.
Dua tahun aku membuat dua kotak makan setiap pagi, dan dua tahun aku memakan kotak kedua sendirian, dan aku sadar itu adalah hal paling menyedihkan yang pernah dilakukan seorang manusia, dan aku tetap melakukannya, karena selama aku masih membuatnya berarti masih ada kemungkinan suatu hari ada cara untuk memberikannya.
Aku memasak untuk seseorang yang tidak tahu aku ada.
Itu kebiasaan yang aku warisi. Mama juga begitu, sampai akhir.
Lalu Papa pulang Kamis malam, duduk di meja, dan tidak menyentuh makanannya selama sepuluh menit.
Aku tahu itu artinya sesuatu. Papa selalu makan. Bahkan di tahun terburuk kami, dia selalu makan.
“El,” katanya akhirnya. “Papa mau kenalin kamu sama seseorang.”
Aku menaruh sendok.
Ini akan terdengar buruk, tapi hal pertama yang aku rasakan bukan marah. Bukan juga sedih. Yang aku rasakan adalah lega, dan aku benci diriku sendiri karenanya. Karena selama tiga tahun aku menonton laki-laki itu pulang jam dua pagi dan duduk di ruang tamu gelap tanpa menyalakan lampu, dan aku sudah lama berhenti berharap dia akan kembali jadi orang yang aku kenal.
“Namanya Renata,” kata Papa. “Dia... “ Papa berhenti. Lalu dia tertawa kecil, canggung, seperti anak SMP. “Dia baik, El.”
Papa tertawa.
Aku sudah lupa suaranya.
“Anaknya satu, seumuran kamu. Perempuan.” Papa mengambil ponselnya, mencari-cari, lalu memutar layarnya ke arahku. “Ini.”
Dan di layar itu ada Valerie Mauren.
Aku tidak ingat apa yang aku katakan setelah itu. Aku ingat Papa bertanya kenapa mukaku begitu. Aku ingat aku bilang tidak apa-apa. Aku ingat aku berdiri, membawa piring ke wastafel, dan mencuci satu piring itu selama hampir empat menit sampai airnya dingin di tanganku.
Ada satu kalimat yang berputar di kepalaku dan tidak mau berhenti:
Dua tahun aku tidak punya alasan untuk berdiri di dekatnya. Sekarang aku punya alasan, dan alasannya adalah alasan yang membuat aku tidak boleh.
Sabtu itu aku memasak untuknya untuk pertama kalinya dalam hidupku secara resmi. Di dapurnya. Dengan celemek Mama, yang aku bawa karena aku tidak bisa masak tanpanya.
Dia berdiri di ambang pintu dapur dan bertanya apakah aku selalu masuk ke dapur orang tanpa diundang.
Suaranya sama seperti di lapangan itu. Jernih, dan tidak ada takutnya.
Dan aku, yang sudah dua tahun menyiapkan seribu kalimat untuknya, cuma bisa mengeluarkan dua suku kata.
Dia tidak makan masakanku malam itu.
Aku membungkusnya dan menaruhnya di kulkas dan menulis buat besok di kertas kecil, dan aku tahu dia mungkin akan membuangnya, dan aku tetap menulisnya.
Karena begitulah caranya. Kamu kasih. Kamu tidak nengok ke belakang.
Dan besok Senin dia akan datang ke kelasku, duduk di atas mejaku, dan mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas — dan dia akan melakukannya karena dia membenciku.
Aku sudah tahu itu.
Aku tetap tidak bisa berhenti berharap hari Senin datang lebih cepat.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun reading
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan