← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirty

Mama Pilih Kamu

POV: Valerie


Tidak ada yang berteriak.

Aku sudah membayangkan adegan ini berkali-kali sejak bulan November — dua puluh tiga skenario, ternyata, dan dia menghitungnya lebih rapi daripada aku — dan di setiap satu bayanganku, ada yang berteriak.

Tidak ada yang berteriak.

Mama berdiri di ambang pintu dengan kunci masih di tangannya selama mungkin sepuluh detik. Lalu dia menunduk, memungut dua kantong belanja dari lantai, membawanya ke dapur, dan menaruhnya di meja.

Om Bara masuk dan menutup pintu di belakangnya.

Aku masih di lantai. El masih di lantai. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa memutuskan untuk berdiri.

“El,” kata Om Bara.

“Iya, Pa.”

“Ayo pulang.”

“Pa—“

“Sekarang, El.”

Dan El berdiri.

Dia berdiri, dan dia mengambil tasnya, dan sebelum keluar dia berhenti di ambang pintu dan berkata — pada Mama, bukan padaku:

“Tante, wadah di kulkas jangan dibuka sampai lusa pagi. Yang paling bawah itu buat—“

“El,” kata Om Bara.

Dan mereka pergi.


Aku duduk di lantai ruang tengah selama entah berapa lama.

Aku bisa mendengar Mama di dapur. Kantong belanja dibongkar. Sesuatu dimasukkan ke kulkas. Kulkas ditutup.

Lalu suara itu berhenti.

Lalu tidak ada suara sama sekali selama dua menit penuh, dan aku tahu — karena aku sudah tiga tahun menghafal suara-suara perempuan itu, karena aku selalu tahu — bahwa dia sedang berdiri di depan kulkas yang tertutup dan tidak bergerak.

Aku berdiri.

Aku masuk ke dapur.

Dan Mama sedang berdiri di depan kulkas yang tertutup dan tidak bergerak.


“Ma.”

Dia tidak menoleh.

“Ma, aku bisa jelasin.”

“Sejak kapan?”

Aku menelan.

“Oktober.”

“Oktober.” Dia mengangguk pelan, ke arah kulkas. “Yang mana? Awal, tengah, akhir?”

“Ma—“

“Valerie.”

“Akhir Oktober.”

Dia mengangguk lagi.

“Berarti waktu fitting kalian udah.”

“Iya.”

“Waktu nyebar undangan udah.”

“Iya, Ma.”

“Waktu Mama bilang ‘El, ajarin Valerie masak’ kalian udah.”

Aku tidak menjawab.

Dan Mama akhirnya berbalik, dan yang aku lihat di wajahnya bukan marah.

Aku bisa menanggung marah. Aku sudah menyiapkan diri untuk marah sejak umur empat belas; marah adalah bahasa yang aku kuasai.

Yang ada di wajah ibuku adalah wajah orang yang baru saja mengerti sesuatu tentang dirinya sendiri.

“Val,” katanya. “Kamu ngerasa harus bohong ke Mama selama tiga bulan.”

“Ma, itu bukan—“

“Tiga bulan, Val.” Suaranya sangat pelan. “Kamu bangun tiap pagi dan kamu duduk sama Mama di meja itu dan kamu ngatur muka kamu.”

Aku menutup mulut.

“Kamu tau kenapa Mama tau kamu ngatur muka?” katanya. “Karena Mama juga.”


Kami duduk di meja makan sampai jam sebelas.

Aku menceritakan semuanya. Bukan versi yang aman — semuanya. Bulan September, kebohongan tentang cabai, alasannya. Kardus mi instan. Payung di rak sepatu dekat pos satpam. Sebelas hari bulan Oktober. Sebelas peraturan yang gugur empat dalam enam hari.

Mama mendengarkan tanpa memotong sekali pun.

Waktu aku selesai, dia bertanya satu hal.

“Anak itu nolak kamu?”

“Iya, Ma.”

“Kenapa?”

Dan di sinilah aku melakukan kesalahan yang tidak bisa aku tarik.

“Karena Mama,” kataku.

Mama tidak bergerak.

“Karena dia ngitungin Mama,” kataku, dan aku sudah tidak bisa berhenti. “Tiap makan malam, tiap ada motor lewat di gang, Mama noleh ke pintu setengah detik terus balik lagi. Makan malam pertama, dia ngitung sepuluh kali. Bulan Desember tinggal dua kali.”

Wajah ibuku kehilangan seluruh warnanya.

“Dia bilang dia tau gerakan itu,” kataku. “Karena dia juga gitu, setahun, waktu bapaknya nggak pulang. Dia bilang itu bukan kebiasaan. Dia bilang itu kayak napas.”

“Val—“

“Dia nolak aku karena dia nggak mau Mama balik ngecek pintu.”

Dan Mama menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Aku pikir itu argumenku yang paling kuat.

Aku pikir — dan ini yang akan aku sesali seumur hidup — aku pikir kalau Mama tahu betapa hati-hatinya anak itu menjaganya, Mama akan mengerti. Aku pikir aku sedang membela El.

Aku sedang menyerahkan pisaunya.

Karena begini yang didengar perempuan itu, dan aku baru mengerti besok paginya:

Anak umur tujuh belas menghitung berapa banyak aku takut. Dan dia mengorbankan hidupnya sendiri untuk itu. Dan anakku juga. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir untuk bertanya padaku.


Mama tidak tidur malam itu.

Aku tahu karena aku juga tidak, dan karena jam dua pagi aku turun untuk minum dan lampu dapur menyala dan dia duduk di meja itu dengan ponsel di depannya, mati, tidak sedang menelepon siapa pun.

“Ma.”

“Naik, Val.”

“Ma, aku—“

“Naik, sayang. Mama mau mikir.”

Aku naik.

Jam setengah lima aku mendengar suara. Aku turun setengah tangga dan berhenti, dan dari situ aku bisa mendengar suara Mama di dapur, pelan, bicara di telepon.

“...iya, Bu Ratih. Maaf banget subuh-subuh. Iya. Iya, saya tau.”

Aku memegang pegangan tangga.

“Nggak, Bu. Bukan ditunda.”

Sunyi.

“Dibatalin.”


Aku turun ke dapur dan aku tidak ingat menuruni tangganya.

“Ma.”

Dia menaruh ponselnya.

“MA.”

“Val, duduk dulu.”

“Mama nggak bisa—Ma, undangannya udah lima ratus—“

“Mama udah telepon Bu Ratih, Om Fahri buat gedungnya, sama katering.” Suaranya sangat tenang dan sangat rata dan aku belum pernah mendengar suara itu seumur hidupku. “Yang lain Mama telepon jam tujuh.”

“MA.”

“Duduk, sayang.”

Dan aku duduk, karena kakiku tidak bekerja.


“Kamu inget nggak,” kata Mama, “waktu kamu umur empat belas, kamu bangun jam dua pagi terus duduk di meja ini.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Mama liat,” katanya. “Tiap malem. Mama berdiri di tangga dan Mama liat anak Mama umur empat belas nyusun surat-surat jadi tiga tumpukan sambil ngitung pake jari.”

Dia memutar ponselnya di atas meja.

“Dan Mama balik ke kamar,” katanya. “Tiap malem, Val. Mama balik ke kamar dan Mama nangis dan besok paginya Mama bikin sarapan dan Mama tanya kamu udah cuci seragam apa belum.”

“Ma—“

“Mama biarin anak Mama bayar buat pilihan Mama,” katanya.

Ruangan itu diam.

“Tiga tahun,” katanya. “Mama diem tiga tahun karena Mama pikir kalau Mama nggak nyebut, kamu nggak usah mikirin. Dan kemarin Mama baru tau kamu ngelakuin hal yang persis sama ke Mama.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Dan sekarang Mama mau nikah lagi,” katanya, “dan anak Mama harus ngatur mukanya tiap pagi di meja ini selama sisa hidupnya.”

“Ma, itu nggak—“

“Atau kamu lepasin anak itu.”

Aku menutup mulutku.

“Itu dua pilihan kamu, kan?” katanya. “Sembunyi seumur hidup, atau lepasin. Itu aja.”

Aku tidak bisa menjawab, karena itu memang cuma itu, karena El sudah menghitung dua puluh tiga kali dan tidak menemukan yang ketiga.

Dan Mama meraih tanganku di atas meja.

“Val,” katanya. “Kalau Mama harus pilih, Mama pilih kamu.”


Aku tidak menangis.

Itu bagian yang paling aneh dan yang paling sulit aku jelaskan.

Aku sudah menangis di Jalan Kenanga jam empat sore. Aku menangis di tangga tribun. Aku menangis di dapur rumah Baskara di depan celemek biru tua.

Di dapurku sendiri, jam lima pagi, waktu ibuku menggenggam tanganku dan mengatakan satu-satunya kalimat yang aku inginkan darinya sejak umur empat belas —

aku tidak bisa mengeluarkan apa-apa.

Karena aku sudah menunggu kalimat itu tiga tahun.

Tiga tahun aku takut perempuan ini akan memilih laki-laki. Tiga tahun aku menyusun map, mengangkat telepon, menghitung sisa saldo dikonversi ke jumlah hari, dan di bawah semuanya, di dasar semuanya, cuma ada satu pertanyaan yang tidak pernah aku berani tanyakan:

Ma, aku cukup, nggak?

Dan pagi itu dia menjawabnya.

Dan jawabannya menghancurkan aku, karena harganya adalah seluruh sisa hidup perempuan itu.


“Ma.”

“Ya, sayang.”

“Mama sayang sama Om Bara?”

Dia tidak menjawab selama beberapa detik.

“Iya,” katanya.

Dan dia tersenyum — tersenyum, jam lima pagi, dengan mata sebengkak itu — dan berkata:

“Tapi Mama udah pernah salah pilih sekali, Val. Dan yang bayar bukan Mama.”


Aku naik ke kamar jam setengah enam.

Aku duduk di lantai dan aku mengambil ponsel dan aku mengetik.

el

Terkirim. Dibaca.

el mama batalin

Dibaca.

el

angkat teleponnya

el tolong

aku nggak tau harus gimana

Dibaca. Semuanya dibaca.

Tidak ada satu pun yang dijawab.


Jam tujuh pagi, di dalam kulkas kami, masih ada enam wadah besar.

Yang paling bawah, kata anak itu, jangan dibuka sampai lusa pagi.

Lusa tidak akan pernah datang.

Dan aku duduk di lantai dapur, di depan kulkas yang tertutup, di tempat yang sama persis dengan tempat aku menghabiskan sambal dari wadah kecil jam sebelas malam bulan Oktober,

dan aku membuka mulut untuk bilang sesuatu,

dan tidak ada yang keluar.