Chapter Ten
Sekutu
POV: Valerie
Aku pikir dia akan diam-diam.
Itu asumsiku sepanjang perjalanan ke rumahnya hari Minggu: bahwa El akan menyelinapkan aku masuk, bahwa kami akan menunggu Om Bara pergi, bahwa akan ada semacam kesepakatan tidak terucap tentang apa yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Yang terjadi adalah El membuka pintu, mempersilakan aku masuk, lalu berjalan ke ruang tamu tempat ayahnya sedang menonton berita, dan berkata:
“Pa. Valerie mau lihat rekening Papa sama arsip koperasi.”
Aku ingin melompat keluar jendela.
Om Bara mengangkat wajah. Melihat aku di ambang pintu, dengan tas ransel dan wajah orang yang ingin membatalkan hidupnya.
Lalu dia mematikan televisi.
“Sebentar.”
Dia masuk ke kamarnya. Aku mendengar laci dibuka. Dua menit kemudian dia keluar membawa satu kardus mi instan yang sudah dilipat rapi, penuh map, dan meletakkannya di meja makan.
“Ini semua dari tahun dua ribu dua puluh dua,” katanya. “Slip gaji ada di map biru. Koperasi map merah. Yang cokelat itu rumah sakit, tapi maaf ya, Nak, yang tahun pertama agak berantakan. Om waktu itu—“ Dia berhenti. “Ya. Berantakan.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Om ke rumah Pak Hadi dulu, ya. Sampai sore.” Dia mengambil kunci motor. Di ambang pintu dia berhenti, dan tanpa menoleh dia bilang, “Valerie.”
“Ya, Om.”
“Makasih, ya.”
“...Buat apa?”
“Buat ngejagain mama kamu.”
Dan dia pergi.
Aku berdiri di ruang makan itu dengan sebuah kardus mi instan berisi seluruh hidup seorang laki-laki, dan aku ingin sekali marah pada seseorang, dan tidak ada yang tersedia.
Kami bekerja empat jam.
Aku yang menyusun; El yang mengambilkan. Dia tidak bertanya apa-apa, tidak menyela, tidak sekali pun membela. Kalau aku bilang “map cokelat,” dia memberikan map cokelat. Kalau aku bilang “yang tahun dua puluh tiga,” dia sudah memegangnya sebelum aku selesai bicara.
Jam kedua aku menyadari sesuatu.
“Kamu udah pernah ngecek ini semua, ya.”
Dia tidak menjawab.
“El.”
“Pernah,” katanya. “Dua kali.”
“Kapan?”
“Waktu kelas sepuluh. Sama waktu Papa bilang mau kenalin aku sama Tante Renata.”
Aku meletakkan pensilku.
“Kamu ngecek bapak kamu sendiri.”
“Iya.”
“Kenapa?”
Dia menutup salah satu map dan meratakan sudutnya dengan ibu jari.
“Karena kalau ada apa-apa lagi,” katanya, “aku yang harus tahu duluan. Bukan orang lain.”
Hasilnya, setelah empat jam: tidak ada apa-apa.
Cicilan koperasi tanggal dua puluh lima, tidak pernah telat, tiga puluh satu bulan berturut-turut. Slip gaji cocok dengan mutasi rekening sampai rupiah terakhir. Tidak ada penarikan aneh, tidak ada nama yang tidak jelas, tidak ada satu pun transfer keluar yang tidak bisa dijelaskan.
Yang ada cuma pola yang membuatku ingin menutup wajah dengan kedua tangan: setiap tanggal dua puluh enam, sehari setelah cicilan, saldo rekening laki-laki itu tersisa di bawah satu juta. Setiap bulan. Tiga puluh satu bulan.
Dia menyisakan hidupnya di angka enam digit dan tetap datang ke rumah kami membawa dua kotak kue.
“Nggak ada,” kataku pelan.
“Iya.”
“Aku nggak nemu apa-apa.”
“Iya.”
Aku menekan pangkal hidungku. Kepalaku berdenyut sejak pagi dan aku sudah tidak tidur dua malam dan tenggorokanku sakit sejak kemarin dan aku menolak menghubungkan ketiganya.
“Aku pasti kelewat sesuatu.”
“Mungkin.”
“Atau dia nyimpen di tempat lain.”
“Mungkin.”
“Kamu nggak marah?” Aku menoleh. “Aku udah ngobrak-abrik semuanya dan aku masih nggak percaya, dan kamu—kamu cuma bilang ‘mungkin’.”
El menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia sudah empat jam duduk di posisi yang sama tanpa bergerak, seperti orang yang terbiasa menunggu.
“Val,” katanya.
Dan aku berhenti bernapas sedikit, karena itu pertama kalinya dia memanggilku begitu.
“Wajar kamu curiga.”
Tiga kata.
Aku ingin kamu mengerti apa yang tiga kata itu lakukan padaku, jadi biar aku jelaskan apa yang biasanya orang katakan.
Nadhira bilang aku terlalu mikir. Tante-tanteku bilang aku belum dewasa. Guru BK kelas sepuluh bilang aku punya isu kepercayaan dengan nada yang sama seperti orang menyebut alergi kacang. Dan Mama — Mama tidak pernah bilang apa-apa, tapi Mama punya wajah, dan wajah itu berkata lagi, ya, Val, dan wajah itu lebih menyakitkan daripada semua kalimat lainnya digabung.
Tiga tahun. Belum ada satu orang pun yang bilang wajar.
“Bapakmu ninggalin utang sama perempuan lain,” lanjut El, biasa saja, seperti orang membacakan cuaca. “Terus tiba-tiba ada laki-laki baru yang senyumnya lebar dan bawa oleh-oleh. Kalau kamu nggak curiga, itu baru aneh.”
Aku membuka mulut untuk menjawab.
Tidak ada yang keluar.
Aku duduk di kursi makan keluarga Baskara dengan mulut terbuka dan tidak ada satu pun kalimat di kepalaku, dan itu — kalau kamu kenal aku — adalah kejadian yang seharusnya masuk berita nasional.
El melihatnya. Aku tahu dia melihatnya, karena sesuatu di sudut mulutnya bergerak seperempat milimeter sebelum dia menahannya.
“Aku ambil minum,” katanya, dan berdiri, dan pergi, dan meninggalkan aku sendirian supaya aku tidak perlu dilihat.
Yang aku temukan setelah itu bukan salahku.
Kardus itu penuh; ada map yang menyelip di dasarnya, di bawah semua map lain, tanpa label. Aku menariknya karena aku pikir itu arsip 2022 yang hilang.
Isinya buku tulis. Tipis. Sampul polos.
Halaman pertama, tulisan tangan anak-anak — besar, miring, penanya ditekan terlalu keras:
JANUARI
Listrik 180.000 (udah)
Air 62.000 (udah)
Beras 5kg 68.000
Sisa 340.000. Cukup 11 hari kalau ayam 2x seminggu.
Aku membalik halaman.
FEBRUARI
Papa transfer 1.500.000 tgl 3.
Listrik 195.000 (naik?? cek)
Sisa 210.000. Cukup 8 hari. Kurangin ayam.
Aku membalik lagi. Dan lagi.
Tulisannya berubah sepanjang buku itu. Halaman-halaman awal besar dan miring dan ditekan; di tengah mulai mengecil; di seperempat terakhir sudah jadi tulisan yang aku kenal — besar, tegak, condong sedikit ke kanan, tekanan berat.
Tulisan yang ada di kertas buat besok di laci mejaku.
Dan di bulan Juli tahun pertama, di antara daftar listrik dan beras, ada satu baris yang ditulis dengan pena yang berbeda, lebih tipis, seperti ditulis di waktu yang lain:
Papa pulang jam 2. Makan. Bagus.
Aku menutup buku itu.
Aku menutupnya dan meletakkan kedua tanganku di atasnya dan duduk sangat diam.
Karena aku sedang memegang dua tahun keuangan rumah tangga yang dikelola oleh anak umur empat belas, dan formatnya — formatnya, ya Tuhan — formatnya persis seperti punyaku.
Kolom sebelah kiri untuk yang sudah dibayar. Kanan untuk yang bisa ditunda. Sisa di bawah, dikonversi ke hari.
Tidak ada yang mengajarkan format itu pada kami. Tidak ada buku yang mengajarkan itu. Format itu lahir sendiri, dua kali, di dua rumah berbeda, di kota yang sama, pada tahun yang sama, di tangan dua anak yang sedang belajar bahwa uang bukan angka tapi jumlah hari sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Aku mendengar langkah kaki dan memasukkan buku itu kembali ke dasar kardus dengan kecepatan yang mempermalukan.
“Nih.”
Dia meletakkan gelas di depanku. Es jeruk. Aku tidak pernah memintanya, dan aku sudah berhenti bertanya.
“Makasih.”
“Kamu pucet.”
“Aku emang pucet.”
“Nggak.” Dia menaruh punggung tangannya di dahiku.
Bukan minta izin. Bukan drama. Dua detik, punggung tangan, seperti orang mengecek apakah setrika sudah panas.
Dan seluruh sistem sarafku, yang seharusnya sibuk memproses map-map koperasi, memutuskan untuk mengambil cuti mendadak.
“Kamu demam,” katanya.
“Aku nggak—“
“Sejak kapan?”
“Aku nggak demam, El.”
Dia menatapku.
Aku menatapnya balik, dengan seluruh martabat yang bisa dikumpulkan oleh seseorang yang tenggorokannya terasa seperti amplas.
Dan hal terakhir yang aku ingat dari hari Minggu itu adalah dia mengambil ponselnya, mengetik sesuatu, dan berkata dengan sangat tenang:
“Aku kabarin Tante Renata. Kamu jangan naik angkot.”
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu reading
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan