Chapter Thirty Two
Senjata yang Tumpul
POV: Valerie
Aku kembali bekerja hari Senin.
Itu istilah yang aku pakai di kepalaku, dan aku baru sadar betapa jeleknya istilah itu bertahun-tahun kemudian. Bekerja. Seolah menjadi Valerie Mauren adalah shift yang harus aku isi.
Senin pagi aku bangun jam setengah lima. Aku mencuci rambut. Aku menyetrika seragam. Aku memakai parfum yang aku simpan untuk hal-hal penting.
Aku berdiri di depan cermin selama sepuluh menit dan aku melatih tiga hal: senyum, tawa, dan cara masuk ke ruangan.
Lalu aku berangkat.
Dan selama empat hari, itu berhasil.
Aku ingin mencatat betapa berhasilnya, karena ini penting.
Senin aku duduk di kantin dan membuat satu meja tertawa sampai ada yang tersedak. Selasa aku menang debat kelas tentang sesuatu yang aku tidak peduli sama sekali. Rabu aku ikut latihan untuk acara perpisahan dan aku bagus, dan tiga orang bilang aku bagus, dan aku bilang terima kasih dengan cara yang benar.
Kamis aku berjalan lewat IPA 3 dan tidak menoleh sekali pun.
Tidak ada yang bertanya. Tidak ada satu orang pun di sekolah itu yang bertanya apakah aku baik-baik saja, dan itu bukan salah mereka, karena aku sangat sangat bagus dalam hal ini.
Aku pernah bilang ke El, di dapur, jam dua belas malam, bahwa hal-hal ini adalah yang aku pakai untuk keluar rumah setiap pagi.
Aku tidak bilang bagian yang kedua.
Bagian yang kedua adalah bahwa aku sudah lupa bagaimana caranya melepasnya.
Hari Jumat, jam istirahat kedua, kantin penuh.
Seorang anak perempuan dari kelas sebelah — namanya Tiara, dan dia baik, dan dia tidak tahu apa-apa, dan aku ingin ini dicatat karena dia tidak bersalah sama sekali — menghampiri mejaku sambil membawa mangkuk.
“Val! Eh, aku mau nanya dong.”
“Kenapa, Ti?”
“Nikahan mama kamu jadinya kapan sih? Mama aku dapet undangan tapi katanya—“
Dan aku membuka mulut untuk menjawab.
Aku punya jawabannya. Aku sudah menyiapkannya sejak hari pertama. Aku sudah memakainya empat kali minggu ini dan setiap kali berhasil: nggak jodoh, Ti, dengan bahu diangkat, dengan senyum, dengan tawa kecil di akhir supaya orang tahu boleh ikut tertawa.
Empat kali berhasil.
Yang kelima tidak.
Aku membuka mulut dan tidak ada yang keluar.
Aku mencoba lagi. Aku benar-benar mencoba lagi — aku merasakan tenggorokanku bergerak, aku merasakan bibirku membentuk huruf pertamanya.
Tidak ada.
“Val?”
Dan wajahku hancur di depan seluruh kantin.
Bukan menangis pelan. Bukan mata berair yang bisa dialihkan dengan bilang ada debu. Aku menangis seperti anak umur enam tahun, dengan mulut terbuka dan suara yang keluar, di kantin sekolah, hari Jumat, jam sebelas lewat dua puluh.
“Ya ampun—Val—maaf, aku nggak tau—“
“Ti, bukan kamu—“
“Aku minta maaf banget—“
“BUKAN KAMU.”
Dan aku berdiri, dan kursiku jatuh ke belakang, dan bunyinya keras sekali.
Aku tidak ingat berjalan keluar.
Aku ingat bahwa kantin itu diam — benar-benar diam, seratus orang, dengan cara yang tidak pernah aku alami seumur hidupku walaupun aku sudah menghabiskan tiga tahun membuat ruangan berhenti bernapas.
Aku selalu tahu cara membuat ruangan diam.
Aku baru tahu hari itu bahwa ada dua cara.
Aku ingat tangan Nadhira di lenganku. Aku ingat suaranya bilang “minggir, minggir” ke arah orang-orang. Aku ingat pintu kamar mandi, dan lantai keramik, dan keran yang dinyalakan Nadhira karena dia tahu — dia sudah tahu sejak kelas satu SMP — bahwa aku tidak bisa menangis kalau ada yang bisa mendengar.
Aku duduk di lantai kamar mandi sekolah selama empat puluh menit.
“Val.”
“Hm.”
“Kamu udah makan hari ini?”
Dan aku mulai menangis lagi, dan Nadhira bilang “aduh, aduh, maaf, aku nggak mikir”, dan aku bilang “bukan salah kamu”, dan kami duduk di lantai kamar mandi dengan punggung ke dinding dan keran menyala.
“Nadh.”
“Hm.”
“Aku nggak bisa lagi.”
“Nggak bisa apa?”
“Ini.” Aku mengangkat satu tangan dan memutarnya ke arah diriku sendiri, gerakan yang sama seperti yang aku lakukan di dapur bulan Januari. “Ketawa. Ngobrol. Masuk kelas.”
“Ya udah, nggak usah.”
“Nadh, kalau aku berhenti—“
“Val.”
Nadhira menoleh, dan wajahnya jelek karena dia juga menangis, dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
“Kamu tau nggak,” katanya, “kelas satu SMP kamu duduk di sebelah aku dan kamu nggak ngomong sepatah kata pun selama dua minggu.”
Aku mengerjap.
“Kamu inget?”
“Aku inget.”
“Aku pindahan. Aku nggak kenal siapa-siapa.”
“Iya.” Nadhira menyeka wajahnya dengan lengan. “Kamu diem dua minggu, Val. Terus aku tetep duduk di sebelah kamu. Terus sekarang udah enam tahun.”
Dia mengangkat bahu.
“Jadi jangan bego.”
Yang membuatku pulang lebih cepat hari itu bukan Nadhira.
Jam satu, aku keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah dicuci empat kali dan masih terlihat seperti korban kecelakaan, dan aku berjalan ke gerbang untuk pulang, dan aku melewati lapangan belakang.
Dan aku melihat El.
Dia sedang menurunkan kursi-kursi plastik dari panggung acara yang bukan acaranya, sendirian, seperti biasa.
Dia berhenti waktu melihatku.
Aku berdiri di ujung lapangan dengan mata bengkak dan seragam basah di bagian lengan, dan dia berdiri di tengah lapangan dengan kursi plastik di tangan, dan kami saling menatap dari jarak mungkin dua puluh meter.
Dan dia meletakkan kursi itu.
Dia meletakkan kursi itu dan dia mulai berjalan ke arahku — dua langkah, tiga —
lalu berhenti.
Aku melihat seluruhnya. Aku melihat dia berhenti, dan aku melihat bahunya turun, dan aku melihat dia berbalik dan mengambil kursi berikutnya.
Dan aku berjalan keluar gerbang.
Aku sampai rumah jam dua.
Mama belum pulang. Rumah kosong.
Aku naik ke kamar dan aku duduk di lantai dan aku membuka laci.
Kertas buat besok. Struk supermarket dengan tulisan tangan yang besar dan tegak. Foto Butik Mawar yang aku cetak diam-diam di fotokopian dekat sekolah, yang tidak pernah aku ceritakan pada siapa pun. Satu wadah kecil kosong yang sudah aku cuci dan tidak pernah aku kembalikan.
Aku menaruh semuanya di lantai dan aku memandanginya.
Lima bulan.
Lima bulan, dan yang tersisa muat di satu telapak tangan.
Dan aku berpikir — dan ini pikiran yang paling jelek yang pernah aku punya, dan aku menuliskannya karena aku sudah janji untuk jujur —
aku berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau aku tidak pernah tahu.
Kalau Mama tidak pernah mengenalkan kami. Kalau dia tetap jadi anak yang lewat di koridor yang otakku tidak merasa perlu menyimpannya. Kalau payung itu tetap jadi payung yang aku kira punya orang lain.
Dua tahun anak itu ada di pinggir hidupku dan aku baik-baik saja.
Aku baik-baik saja karena aku tidak tahu.
Aku menangis sampai jam empat dan tertidur di lantai.
Waktu aku bangun, Mama sudah pulang dan duduk di lantai di sebelahku dengan punggung bersandar ke kasur.
Dia tidak menyalakan lampu.
“Ma.”
“Hm.”
“Berapa lama Mama di sini?”
“Satu jam.”
Aku bangun dan bersandar ke kasur di sebelahnya.
Kami duduk di gelap dan tidak ada yang bicara selama beberapa menit.
“Val,” katanya akhirnya.
“Hm.”
“Mama pikir Mama udah bener.”
Aku menoleh.
“Mama pikir kalau Mama batalin, Mama udah nebus tiga tahun.” Suaranya sangat pelan. “Mama pikir akhirnya Mama milih kamu.”
Dia menoleh ke arahku, dan di gelap aku cuma bisa melihat garis wajahnya.
“Terus Mama pulang hari ini dan Mama nemu anak Mama tidur di lantai.”
“Ma—“
“Mama salah lagi, ya?”
Aku tidak bisa menjawab.
Dan Mama menyandarkan kepalanya ke bahuku — ibuku, ke bahuku, seperti aku yang lebih tua — dan bilang:
“Mama capek banget, Val.”
Dan aku memegang tangannya di gelap, dan aku memikirkan sebuah rumah di kompleks lama dengan dapur yang komporennya sudah tujuh hari tidak menyala, dan seorang laki-laki empat puluh enam tahun yang makan nasi bungkus yang ditutup piring, dan seorang anak yang mengunci pintu ketiga.
Empat orang.
Empat orang yang semuanya sudah melepaskan sesuatu supaya tiga lainnya tidak perlu, dan yang hasilnya adalah empat orang duduk di gelap di dua rumah yang berbeda.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul reading
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan