← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Twenty Five

Lima Ratus Lembar

POV: Valerie


Undangannya datang hari Sabtu, dalam empat kardus, dan Om Bara membukanya di ruang tamu rumah kami dengan pisau dapur yang langsung diambil El dari tangannya karena “Papa kebalik megangnya.”

“Coba, coba.” Om Bara mengambil satu. “Ren, lihat. Bagus, kan?”

Kertasnya krem. Ada tulisan timbul warna emas tua. Ada nama Mama dan nama Om Bara di tengah, dengan huruf sambung yang terlalu bagus untuk dibaca cepat.

Dan di bawahnya, dalam huruf yang lebih kecil:

Putra-Putri Kami

Kaelan Baskara
Valerie Mauren

Berdampingan.

Aku memegang kertas itu dan seluruh ruangan menjauh sekitar dua meter.

“Val, kamu suka nggak?” Mama menoleh.

“Bagus, Ma.”

“Namanya nggak salah, kan? Mama udah cek tiga kali.”

“Nggak salah.”

Lima ratus lembar. Aku sudah menghitungnya sejak kardus pertama dibuka, karena itu yang dilakukan kepalaku sekarang, karena aku belajar dari orang yang salah.

Lima ratus lembar kertas krem yang akan dibawa ke lima ratus rumah, dan di setiap satu lembarnya ada namaku dan namanya, dan di antara keduanya ada tiga kata:

Putra-Putri Kami.


Kami melipat dan memasukkan undangan ke amplop selama tiga jam.

Empat orang, satu meja, tumpukan yang tidak habis-habis. Om Bara memutar lagu dari ponselnya. Mama menghitung yang sudah jadi setiap seratus. El melipat dengan kecepatan yang membuat kami bertiga terlihat seperti sedang bermain-main.

Dan aku duduk di seberangnya, melipat kertas dengan namaku dan namanya, selama tiga jam.

“Val, kamu kebalik,” kata Mama.

“Hah?”

“Lipatannya kebalik. Yang ketiga.”

Aku melihat ke tanganku. Sudah delapan lembar terlipat terbalik.

“Aduh.” Aku tertawa. “Aku emang nggak bisa apa-apa yang pake tangan, ya, Ma.”

Dan aku merasakan El mengangkat wajah, dan aku tidak menoleh.


Yang aku lakukan sepanjang minggu itu, aku akui sekarang, bukan hal yang bisa dibela.

Aku menaikkan volume.

Aku tidak tahu cara lain menjelaskannya. Setiap kali sesuatu di dadaku bergerak ke arah yang tidak aku suka, aku menaikkan volume, dan minggu itu volumenya tidak pernah turun sekali pun.

Senin aku duduk di meja El di IPA 3 lagi, seperti bulan September, dan berkata sesuatu yang membuat Gilang keluar kelas.

Selasa aku menaruh kepalaku di bahunya di Jalan Kenanga, di jalan umum, jam empat sore, dan waktu dia bilang “Val, ini jalan” aku bilang “biarin”.

Rabu aku mengiriminya sembilan belas pesan antara jam sepuluh dan jam dua belas malam, dan enam di antaranya adalah hal-hal yang tidak akan aku tulis di sini.

Kamis, waktu kami menyebar undangan ke rumah tetangga dan Bu Sri berkata “wah, nanti jadi kakak-adik, ya,” aku menjawab, sambil tersenyum manis:

“Iya, Bu. Aku panggilnya Kakak, kan, El?”

Dan aku merasakan seluruh badan El mengeras di sebelahku.


Jumat sore dia berhenti di tengah Jalan Kenanga.

Tidak ada peringatan. Dia cuma berhenti menuntun sepedanya, dan karena aku sedang berjalan sambil bicara, aku sudah lima langkah di depan sebelum aku sadar.

“El?”

“Berhenti.”

“Berhenti apa?”

Dia menatapku.

“Val, kamu udah lima hari nggak diem.”

“Aku emang nggak pernah diem.”

“Beda.”

“Beda gimana?”

“Kamu tau bedanya.”

Aku menyilangkan tangan.

“Kamu tuh yang aneh,” kataku. “Kamu dari kemarin dieeem terus. Aku cuma—“

“Rabu malem kamu nge-chat sembilan belas kali.”

“TERUS?”

“Aku bales dua,” katanya. “Tujuh belas sisanya kamu ngomong sendiri.”

Jalan Kenanga jam empat sore selalu terlalu oranye dan hari itu aku membencinya.

“Aku baca semuanya,” katanya. “Berkali-kali. Aku nggak tidur sampe jam dua.”

“El—“

“Ada satu yang kamu kirim jam sebelas lewat empat puluh,” katanya. “Terus kamu hapus.”

Aku merasakan wajahku kehilangan warnanya.

“Aku sempet baca,” katanya.

“El.”

“‘Gimana kalau kita nggak usah dateng aja.’”

Jalan itu sangat sepi. Ada anak kecil main sepeda di ujung. Ada ibu-ibu menyapu halaman.

“Itu kepencet,” kataku.

“Val.”

“Itu kepencet, El.”

“Kamu nggak pernah kepencet.” Suaranya pelan. “Kamu nulis dua belas peraturan pake nomor. Kamu ngitung uang di kepala sampe rupiah. Kamu nggak pernah kepencet apa-apa seumur hidup kamu.”

Aku membuka mulut.

Aku menutupnya.

Dan aku melakukan hal yang selalu aku lakukan kalau aku kalah: aku maju.

Aku melangkah ke depannya, ke jarak yang tidak sopan, di tengah jalan umum jam empat sore, dan aku memegang bagian depan seragamnya dengan dua tangan.

“Kamu mau aku ngomong apa?” kataku.

“Aku nggak mau kamu ngomong apa-apa.”

“Terus kenapa kamu berhentiin aku di tengah jalan?”

“Karena aku mau kamu berhenti ketawa,” katanya.

Aku menahan napas.

“Lima hari, Val.” Dia tidak menyentuhku. Tangannya masih di stang sepeda. “Kamu ketawa terus dari Senin. Di kelas, di jalan, di depan Bu Sri. Kamu ketawa waktu bilang ‘aku panggilnya Kakak’.”

“Itu bercanda—“

“Aku tau itu bercanda.” Rahangnya bergerak. “Aku juga tau kamu bercanda tiap kali kamu mau nangis.”


Aku menangis di Jalan Kenanga.

Di jalan umum. Jam empat sore. Dengan ibu-ibu menyapu halaman sepuluh meter dari kami dan anak kecil bersepeda di ujung jalan.

Aku bahkan tidak menutupi wajahku.

“Namaku ada di bawah namamu,” kataku.

“Val—“

“Lima ratus lembar, El.” Aku menyeka dengan lengan seragam. “‘Putra-putri kami.’ Lima ratus.”

Dia menyandarkan sepedanya ke tiang.

Lalu dia melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan di tempat terbuka.

Dia memelukku.

Di Jalan Kenanga. Jam empat sore. Di depan ibu-ibu yang menyapu halaman dan anak kecil yang bersepeda dan siapa pun yang kebetulan lewat, dan dia tidak melihat ke kiri atau ke kanan sekali pun sebelum melakukannya.

“El, ada orang—“

“Aku tau.”

“Kalau ada yang liat—“

“Val, tetangga kamu udah nganggep kita kakak-adik dari bulan November,” katanya, di atas kepalaku. “Nggak ada yang bakal mikir apa-apa.”

Dan aku menangis lebih keras, karena dia benar, dan karena itu justru yang paling menyakitkan.

Bahwa kami bisa berpelukan di tengah jalan, dan tidak ada satu orang pun di dunia ini yang akan mengerti apa yang sedang mereka lihat.


Kami duduk di trotoar setelahnya. Aku dengan seragam kusut dan wajah bengkak, dia dengan sepeda bersandar di tiang.

“El.”

“Hm.”

“Dua puluh hari lagi.”

“Iya.”

“Habis itu satu rumah.”

“Iya.”

Aku menekuk lutut dan menaruh dagu di atasnya.

“Kamar kita sebelahan,” kataku.

Dia tidak menjawab.

“Om Bara udah ngukur kamarnya kemarin. Yang di lantai atas, dua-duanya.” Aku menutup mata. “Dia nanya aku suka warna apa buat cat dinding.”

“Kamu jawab apa?”

“Biru muda.”

Jeda.

“Kenapa?”

“Karena celemek ibumu biru tua,” kataku, “dan aku nggak berani yang persis sama.”

Aku merasakan dia berhenti bernapas di sebelahku.

Dan lalu — pelan sekali, dengan cara yang membuatku ingin menghancurkan sesuatu — dia menyandarkan bahunya ke bahuku dan tidak bilang apa-apa selama lima menit penuh.


Malam itu, sebelum tidur, aku membuka grup KELUARGA BARU 🎉🎉.

Foto profilnya masih foto Butik Mawar.

Om Bara mengirim pesan jam sembilan: undangan sisa 40 besok disebar ya tim!! 💪

Mama membalas: Siap komandan 😄

El membalas: Siap Pa

Dan aku mengetik siap!! dengan tanda seru dua, karena itu yang dilakukan anak perempuan yang bahagia menjelang pernikahan ibunya, dan aku sudah sangat sangat bagus dalam hal ini.

Lalu aku membuka buku Fisika yang rusak, ke halaman belakang, dan membaca tiga baris yang aku tulis bulan lalu dan tidak pernah aku baca lagi.

Empat belas macem.
Meja keluarga.
Dia bakal masak semuanya. Di dapur ibunya. Buat Mama aku.

Aku menatapnya lama sekali.

Lalu aku menambahkan satu baris, dan itu baris terakhir yang pernah aku tulis di buku itu:

Dan dia bakal seneng.

Itu yang bikin aku nggak bisa napas.