← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirty Four

Tanpa Senjata

POV: Valerie


Aku bangun jam setengah lima hari Sabtu, seperti biasa, karena tubuhku sudah tidak menerima instruksi dari siapa pun termasuk aku.

Aku duduk di depan cermin.

Sepuluh menit. Itu jadwalnya. Rambut, wajah, dan tiga hal yang aku latih: senyum, tawa, cara masuk ke ruangan.

Aku duduk di sana selama tiga menit dan tidak menyentuh apa pun.

Yang aku lihat di cermin adalah anak perempuan dengan mata bengkak yang belum turun sejak hari Jumat, rambut yang tidak disisir dua hari, dan bibir yang kering karena aku sudah lupa cara minum air.

Aku menunggu diriku sendiri mulai bekerja.

Tidak datang.

Dan aku duduk di depan cermin jam setengah lima pagi dan menyadari sesuatu yang seharusnya aku sadari dari bulan September:

selama lima bulan aku mencoba mendapatkan anak itu dengan segala hal yang aku punya.

Aku menyerangnya dengan cantik. Aku menyerangnya dengan berisik. Aku menggempurnya dua hari penuh sampai suaraku habis. Aku berhenti selama sebelas hari sebagai senjata. Aku memberinya amunisi. Aku memberinya alasan, argumen, daftar bernomor, dua lembar kertas yang aku tulis jam tiga pagi.

Setiap satu darinya adalah sesuatu yang aku lakukan.

Dan tidak satu pun kali, dalam lima bulan, aku pernah datang ke depan anak itu tanpa membawa apa-apa.

Aku berdiri.

Aku memakai kaus kebesaran bergambar beruang yang aku punya sejak kelas dua SMP. Aku memakai celana pendek dan sandal jepit. Aku tidak menyisir rambutku. Aku tidak mencuci muka.

Aku turun, dan aku menulis di kertas Ma, aku ke rumah El, dan aku menaruhnya di meja makan, dan aku keluar jam lima lewat sepuluh.


Rumah itu kosong.

Aku mengetuk empat kali. Aku menekan bel. Aku mengetuk lagi.

Tidak ada.

Motor Om Bara tidak ada di halaman. Sepeda El juga tidak.

Dan aku berdiri di depan pagar rumah Baskara jam setengah enam pagi dengan kaus beruang dan sandal jepit, dan aku memikirkan tiga pilihan, dan aku memilih yang keempat.

Aku duduk.

Di anak tangga teras, di sebelah pot cabai yang hidup dan pot yang sudah mati tapi tidak dibuang, aku duduk dan aku menaruh dagu di lutut.

Dan aku menunggu.


Tiga jam empat puluh menit.

Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya, karena itu yang dilakukan kepalaku, karena aku belajar dari orang yang salah.

Jam enam kurang, Bu Sri lewat depan pagar dan berhenti.

“Valerie? Ya ampun, Nak, ngapain—“

“Nunggu, Bu.”

“Kok nggak masuk?”

“Nggak ada orang.”

Bu Sri berdiri di depan pagar selama beberapa detik, memandangi anak perempuan dengan kaus beruang yang duduk di anak tangga teras rumah orang jam enam pagi.

Lalu dia bilang, “Ibu ambilin minum, ya.”

Dan dia pulang, dan dia kembali lima menit kemudian dengan segelas teh manis dan dua potong pisang goreng, dan dia menaruhnya di sebelahku, dan dia tidak bertanya apa-apa.

Aku menangis setelah dia pergi.


Jam tujuh, matahari sudah naik dan teras itu tidak ada bayangannya lagi.

Jam delapan, punggungku sakit.

Jam delapan lewat, Om Bara pulang naik motor.

Dia berhenti di depan pagar. Dia melihatku. Dan dia turun dari motornya dengan cara yang membuat helmnya hampir jatuh.

“Valerie—“

“Om.”

“Ya Allah, Nak. Kamu dari jam berapa?”

“Nggak lama, Om.”

“Bohong.” Dia sudah membuka pagar. “Masuk. Masuk dulu.”

“Om, El mana?”

Dan Om Bara berhenti dengan tangan di pagar.

“Ke pasar,” katanya.

Aku mengangkat kepalaku.

“Pasar?”

“Jam lima tadi.” Suaranya bergetar sedikit. “Nak, dia bawa dua tas belanja. Dia bawa dua tas belanja yang lipat itu.”

Dan laki-laki empat puluh enam tahun itu berdiri di depan pagar rumahnya sendiri dan menyeka matanya dengan lengan jaket.

“Tujuh belas hari, Nak,” katanya. “Tujuh belas hari kompor itu mati.”


Om Bara masuk ke rumah dan aku tetap di teras.

Aku bilang aku mau menunggu di luar. Dia tidak memaksa. Sebelum masuk dia berhenti di ambang pintu dan bilang, tanpa menoleh:

“Om dari rumah kamu.”

Aku menoleh.

“Om ngomong sama mama kamu.”

“Om—“

“Nanti,” katanya. “Nanti aja, Nak. Ini bukan giliran Om.”

Dan dia masuk.


El pulang jam sembilan lewat sepuluh.

Aku mendengar sepedanya dari ujung gang. Aku mengenali bunyinya — remnya yang berdecit sedikit kalau ditekan pelan, bunyi yang aku dengar tiga hari seminggu selama lima bulan di Jalan Kenanga.

Aku tidak berdiri.

Aku duduk di anak tangga teras itu dengan kaus beruang, rambut yang tidak disisir, mata bengkak yang belum turun sejak Jumat, dan gelas teh Bu Sri yang sudah kosong di sebelah kakiku.

Sepeda itu berhenti di depan pagar.

Dan aku mengangkat wajahku.


Dia berdiri di sana dengan dua tas belanja lipat berwarna hijau di stang sepedanya.

Wajahnya kurus. Itu yang pertama aku lihat. Tujuh belas hari dan tulang pipinya sudah kelihatan dengan cara yang tidak seharusnya.

Dan dia melihat aku.

Aku menonton wajahnya, dan untuk pertama kalinya dalam lima bulan aku tidak perlu bekerja keras untuk membacanya, karena semuanya ada di sana sekaligus: kaget, dan sesuatu yang seperti sakit, dan sesuatu yang lain yang aku tidak punya namanya.

“Val.”

“Hai,” kataku.

Suaraku keluar hancur.

Dia tidak bergerak.

“Kamu dari jam berapa?”

“Setengah enam.”

Dan aku melihat sesuatu di wajahnya patah.


Aku tidak berdiri.

Itu penting. Aku tidak berdiri, aku tidak berjalan ke arahnya, aku tidak menabrak apa pun. Aku duduk di anak tangga teras itu dan aku bicara ke arah lututku sendiri karena aku tidak sanggup melihat ke atas.

“Aku nggak bawa apa-apa,” kataku.

“Val—“

“Aku nggak dandan. Aku nggak nyisir. Aku pake kaus SMP dan aku bau.” Aku menelan. “Aku nggak punya argumen, El. Aku nggak nulis apa-apa. Aku nggak bawa surat penilaian properti. Aku nggak punya rencana.”

Aku menekan tumit tangan ke mataku.

“Aku capek.”

Dan begitu kata itu keluar, sisanya tumpah.

“Aku capek jadi orang yang harus enak dilihat,” kataku. “Aku capek ketawa di kantin biar orang seneng. Aku capek bangun jam setengah lima buat latihan senyum. Aku capek jadi orang yang bikin ruangan rame biar nggak ada yang pergi.”

Aku mengangkat wajahku.

“Aku udah lakuin itu tiga tahun, El, dan Papa tetep pergi, dan aku tetep megang map cokelat sendirian di meja makan umur empat belas.”

Aku tidak bisa melihatnya karena mataku sudah tidak bekerja.

“Terus kamu dateng,” kataku. “Dan kamu satu-satunya orang yang bilang wajar. Dan sekarang kamu juga—“

Aku berhenti.

“Aku nggak tau harus jadi apa lagi biar kamu tinggal,” kataku.


Aku mendengar tas belanja jatuh ke tanah.

Aku mendengar langkah kaki. Cepat, dua, tiga.

Dan lalu aku ditarik berdiri.

Bukan lembut. Dia menarik pergelangan tanganku dan menarikku berdiri dari anak tangga itu dan memelukku dengan kekuatan yang membuat kakiku hampir tidak menyentuh tanah, dan aku merasakan seluruh badannya bergetar.

“Nggak usah jadi apa-apa,” katanya di rambutku.

“El—“

“Nggak usah jadi apa-apa, Val.”

Dan dia menangis. Aku merasakannya di rambutku, aku mendengar napasnya patah dua kali, dan dia tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali.

Aku memegang bagian belakang kausnya dengan dua tangan dan aku meremasnya.

“Tujuh belas hari,” kataku.

“Aku tau.”

“Kamu nggak jawab satu pun.”

“Aku tau.”

“Aku ngirim empat puluh satu chat.”

“Empat puluh tiga,” katanya.

Aku menarik kepalaku ke belakang.

“Kamu ngitung?”

“Aku baca semuanya,” katanya. “Tiap malem. Berkali-kali.”

“KAELAN—“

“Aku nggak bisa jawab, Val.” Suaranya hancur. “Kalau aku jawab satu, aku bakal jawab semuanya, dan kalau aku jawab semuanya aku bakal dateng ke rumah kamu, dan aku nggak punya hak buat dateng ke rumah kamu setelah apa yang aku—“

“Kamu nggak ngerusak apa-apa.”

“Aku ngerusak semuanya.”

“EL.”

Dan aku memegang wajahnya dengan dua tangan, di halaman rumahnya, jam sembilan lewat pagi hari Sabtu, dengan Bu Sri yang aku yakin sedang mengintip dari balik pagar.

“Kamu belum makan, ya,” kataku.

Dan dia hancur sepenuhnya.


Kami duduk di anak tangga teras itu sampai jam sebelas.

Dia menceritakan semuanya. Papa yang izin kerja tanpa sakit. Nasi bungkus yang ditutup piring. Buku yang dia buka jam dua belas malam. Halaman seratus dua.

Waktu dia sampai ke lima baris itu, dia berhenti tiga kali.

Kalau Papa udah bisa ketawa lagi, bikinin.

“Tiga tahun tujuh bulan, Val,” katanya. “Ada di rak di atas kompor. Aku megang buku itu tiap hari.”

“El.”

“Aku bikin nasi kuningnya jam satu pagi.” Dia menatap tanah. “Nggak ada yang perlu dirayain. Aku tetep bikin. Terus aku nggak bisa makan.”

Aku memegang tangannya.

“Tanganku gemeteran,” katanya, sangat pelan. “Val, tanganku nggak pernah gemeteran.”


Jam sebelas kurang, aku bilang:

“El.”

“Hm.”

“Kita harus benerin.”

Dia menoleh.

“Bukan buat kita,” kataku. “Aku bukan lagi ngomongin kita.”

Dan aku menceritakan hari Jumat sore. Mama duduk di lantai kamarku selama satu jam di gelap. Mama menyandarkan kepalanya ke bahuku. Mama bilang Mama capek banget, Val.

Dan Om Bara yang izin kerja tanpa sakit. Yang makan nasi bungkus ditutup piring. Yang datang ke rumahku pagi ini dan bilang ini bukan giliran Om.

“Empat orang, El,” kataku. “Semuanya ngelepasin sesuatu biar tiga yang lain nggak usah. Terus hasilnya apa?”

Dia tidak menjawab.

“Hasilnya kita berempat duduk di gelap di dua rumah yang beda.”

Dan Kaelan Baskara — yang tujuh belas hari tidak mengeluarkan suara, yang sudah menghitung dua puluh tiga skenario dan kalah di semuanya — mengangkat kepalanya dan berkata:

“Aku ngitungnya salah.”

“Hah?”

“Dua puluh tiga skenario.” Dia menoleh ke arahku. “Semuanya aku itung dengan asumsi orang tua kita itu barang yang harus dijagain.”

Aku menahan napas.

“Val, mereka bukan barang.”


Kami masuk ke rumah jam sebelas lewat.

Om Bara sedang duduk di ruang tamu, pura-pura membaca koran yang jelas-jelas sudah dia baca, dan dia berdiri waktu kami masuk.

El berdiri di tengah ruang tamu itu dengan kaus yang basah di bagian bahu.

“Pa,” katanya.

“Iya, El.”

“Besok Papa nggak kerja.”