Chapter Seven
Kencan yang Bukan Kencan
POV: Valerie
Strategi baru, disusun Selasa malam, ditulis di halaman belakang buku Fisika:
Anak itu tidak retak kalau ditekan. Sudah dicoba tiga minggu. Dia menyerap semuanya seperti kain lap.
Berarti aku harus mengeluarkannya dari air.
Selama ini aku selalu menyerangnya di tempat yang dia kuasai — dapur, meja makan, sekolah. Di sana dia punya pekerjaan untuk dipegang, dan orang yang tangannya sibuk tidak pernah kelihatan gugup.
Jadi aku akan membawanya ke tempat yang tidak ada apa-apanya. Berdua. Tanpa panci, tanpa buku, tanpa Mama, tanpa Om Bara. Empat jam. Dan aku akan menggoda anak itu sampai dia keceplosan sesuatu — apa saja — tentang ayahnya, tentang pernikahan itu, tentang apa yang sebenarnya dia mau.
Aku menyebutnya “kencan” karena kata itu adalah senjata paling murah dan paling efektif yang aku punya.
“Sabtu, kamu kosong?”
Kamis, jam pulang, di parkiran sepeda. Aku sudah hafal jadwalnya sekarang. Aku juga tidak akan mengakui itu.
“Kenapa?”
“Jalan sama aku.”
Dia berhenti mengunci sepeda. “Ke mana?”
“Ke mana aja.” Aku bersandar ke tiang, menyilangkan kaki, dan tersenyum. “Anggep aja kencan.”
Anak kelas sepuluh yang kemarin lewat itu, lewat lagi, dan kali ini dia berhenti sepenuhnya di tengah parkiran sampai temannya menariknya pergi.
El menegakkan badan.
“Jam enam.”
“Jam enam sore?”
“Pagi.”
Aku mengerjap. “El, ini kencan.”
“Iya.”
“Jam enam pagi.”
“Iya.”
Dan dia naik sepeda dan pergi, dan aku berdiri di parkiran sambil menyadari bahwa aku baru saja kalah lagi tanpa sempat main.
Yang lebih memalukan: aku bangun jam empat.
Empat, untuk sebuah operasi militer. Aku mencuci rambut. Aku memilih rok yang tepat. Aku memakai parfum yang biasanya aku simpan untuk hal-hal penting, dan aku berdiri di depan cermin selama sepuluh menit terakhir sambil melatih tiga kalimat pembuka.
Jam enam kurang lima, dia sudah di depan pagar. Naik sepeda. Membawa dua tas belanja lipat.
Aku menatapnya dari beranda.
“Ini apa?”
“Naik, atau jalan?”
“El.”
“Pasarnya deket. Sepuluh menit jalan kaki.”
Dan begitulah, jam enam pagi hari Sabtu, dengan rok yang salah dan parfum yang terlalu bagus untuk situasinya, aku berjalan ke Pasar Cempaka bersama anak laki-laki yang sedang aku selidiki, membawa tas belanja lipat berwarna hijau.
Kencan.
Pasar itu menelannya.
Aku tidak tahu cara lain menjelaskannya. Kami masuk lewat gerbang samping dan dalam dua puluh langkah pertama sudah ada empat orang memanggil namanya.
“El! Sini, ada yang bagus hari ini!”
“Ealah, El, kemarin ke mana? Ibu simpenin, nggak diambil-ambil.”
“El, tolong dong, timbangan Ibu miring lagi.”
Dan anak itu — anak yang selama tiga minggu memberiku dua suku kata per pertanyaan — berbicara.
Kalimat lengkap. Kalimat panjang. Dia menanyakan cucu Bu Yanti yang sakit. Dia mengingat bahwa anak Pak Hadi ujian minggu ini. Dia berjongkok di depan timbangan seorang ibu penjual ikan selama empat menit, membetulkan sesuatu dengan tangan kosong, dan waktu ibu itu mau memberinya ikan gratis dia menolak dengan cara yang membuat ibu itu tertawa dan tetap memasukkan ikannya ke tas belanja tanpa dia sadari.
Aku mengikuti dua langkah di belakangnya sambil membawa tas hijau, dilihat oleh seluruh Pasar Cempaka, dan pelan-pelan menyadari sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.
Aku sedang cemburu pada ibu-ibu penjual ikan.
“El itu anaknya siapa, sih, Nak?”
Ibu penjual bumbu, sekitar lima puluh tahun, memandangku dengan mata yang terlalu jeli.
“Bukan anak siapa-siapa,” kataku.
“Bukan pacarnya?”
“Bukan.”
“Yakin?” Dia menimbang bawang. “Soalnya El nggak pernah bawa siapa-siapa ke sini. Nggak pernah. Sekali pun.”
Aku memegang tas hijau itu lebih erat.
“Dulu dia ke sini sama ibunya,” lanjut ibu itu, ringan, seperti orang membicarakan cuaca. “Tiap Sabtu. Dari dia masih sepinggang Ibu.”
Aku tidak bertanya apa-apa. Aku bersumpah aku tidak bertanya apa-apa.
“Sekarang sendirian.” Ibu itu menyerahkan kantong bawang. “Tiap Sabtu, jam enam, sendirian. Tiga tahun.”
Ada yang jatuh di dalam dadaku dan tidak berbunyi waktu mendarat.
Tiga tahun. Setiap Sabtu. Jam enam pagi.
Anak umur empat belas berjalan ke pasar sendirian dan membeli bawang sambil disapa oleh ibu-ibu yang mengenalnya sejak dia sepinggang mereka, dan pulang, dan memasak untuk seorang laki-laki yang tidak pulang.
Aku menoleh ke arahnya. Dia sedang di kios sebelah, membelakangi aku, menghitung uang kembalian dengan kepala menunduk.
Dan aku, Valerie Mauren, yang datang ke pasar ini dengan rencana militer dan tiga kalimat pembuka, tiba-tiba tidak bisa mengingat satu pun dari tiga kalimat itu.
Kami menyeberang jalan raya di depan pasar sekitar jam delapan.
Aku sedang tidak konsentrasi. Aku sedang memikirkan ibu penjual bumbu, dan tas hijau di tanganku sudah berat, dan ada motor yang datang lebih cepat dari yang aku kira.
Ada tangan menangkap pergelanganku dan menariknya ke belakang.
Bukan menarikku ke pelukannya. Bukan adegan drama. Dia cuma menarik pergelanganku sepuluh sentimeter ke belakang dan menahannya di sana sampai motor itu lewat.
Tapi tangannya besar dan panas dan ada kapalan di pangkal jarinya dan aku bisa merasakan denyut nadinya di ibu jarinya, cepat, jauh lebih cepat dari yang seharusnya untuk seseorang yang mukanya sedatar itu.
Dia melepaskannya setelah dua detik.
“Maaf,” katanya.
“Nggak apa-apa,” kataku, dan suaraku keluar salah.
Kami berjalan sisa jalan tanpa bicara, dan aku menghabiskan seluruh sisa jalan itu untuk memarahi diriku sendiri karena pergelanganku masih terasa panas dan itu tidak masuk akal secara ilmiah.
Dia mengantarku sampai rumah dan menaruh tas belanja di dapur.
Aku ke atas untuk ganti baju — lima belas menit, mungkin dua puluh — dan waktu aku turun, dapur itu sudah tidak seperti waktu aku tinggalkan.
Piring-piring yang aku tumpuk di wastafel sejak semalam sudah tidak ada. Rak sudah penuh, tersusun terbalik, ukurannya berurutan. Meja sudah dilap. Kompor tidak ada satu titik minyak.
Dan El sudah tidak ada. Sepedanya juga.
Mama masuk sambil membawa keranjang cucian.
“Val, kamu nyuci piring semalem?”
“Nggak.”
“Loh.” Mama melihat ke rak. “Mama kira kamu.”
Aku menatap rak piring itu.
Dan aku ingat, dengan sangat jelas, kalimat yang aku ucapkan di parkiran sepeda tiga hari lalu.
Kalau kamu nggak minta bayaran sekarang, artinya kamu nyimpen buat nanti.
Aku ingin sekali percaya itu.
Aku ingin sekali percaya bahwa anak itu sedang menumpuk kredit, bahwa ada tagihan yang akan datang, bahwa suatu hari dia akan mengetuk pintu jam tujuh pagi dan menyebut Mamaku “Bu” dengan nada yang bukan nada hormat.
Karena kalau tidak — kalau dia benar-benar cuma mencuci piring dan pergi tanpa bilang apa-apa, tanpa menunggu terima kasih, tanpa nengok ke belakang —
Maka aku sedang berperang melawan orang yang tidak berperang.
Dan itu bukan kemenangan. Itu cuma aku, sendirian, memukul udara di dapurku yang bersih.
Malam itu aku membuka laciku dan mengeluarkan kertas kecil bertuliskan buat besok.
Aku membandingkannya dengan struk supermarket yang masih aku simpan.
Tulisan yang sama. Huruf yang besar dan tegak, condong sedikit ke kanan. Tekanan penanya berat, seperti orang yang menulis sambil menahan sesuatu.
Aku menaruh keduanya berdampingan di meja belajar dan memandanginya sampai jam setengah dua belas.
Lalu aku menyimpannya kembali — dua-duanya, di laci yang sama — dan mematikan lampu, dan berbaring, dan berkata pada langit-langit:
“Besok aku cari bukti.”
Langit-langit, seperti biasa, tidak menjawab.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan reading
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan