Chapter Twenty Two
Tester
POV: Valerie
Katering pertama namanya Berkah Rasa dan mengirim sembilan kotak tester ke rumah kami hari Minggu siang.
Om Bara membukanya di meja makan dengan antusiasme seorang anak kecil di hari raya. Mama mengambil piring kecil. Aku duduk dan bersiap untuk satu jam paling membosankan dalam hidupku.
Dan El, di ujung meja, membuka kotak pertama, mencium baunya, dan menutupnya lagi.
“Ini nggak usah,” katanya.
Meja itu berhenti.
“Belum dicoba, El,” kata Om Bara.
“Nggak usah, Pa.”
“Kok gitu?”
El membuka lagi tutupnya, memiringkannya sedikit ke arah cahaya.
“Ayamnya digoreng ulang,” katanya. “Kulitnya udah keriput, minyaknya masuk dua kali. Ini digoreng kemarin, disimpen, terus dipanasin pagi ini.” Dia menutupnya. “Kalau tester aja begini, waktu resepsi lima ratus porsi gimana.”
Om Bara menoleh ke arahku dengan wajah orang yang baru menemukan bahwa anaknya diam-diam punya profesi rahasia.
Enam katering. Tiga minggu.
Aku tidak akan menceritakan semuanya, tapi aku akan menceritakan pola yang muncul, karena polanya lucu dan karena polanya juga yang akhirnya menghabisi aku.
Katering kedua. El mencicipi tiga suap, lalu bertanya pada Mama, “Tante suka yang manis, kan?” Mama bilang iya. El bilang, “Ini kemanisan buat orang yang suka manis.” Mama tertawa sampai batuk.
Katering ketiga. El diam saja selama sepuluh menit, lalu berkata pelan, “Ini bagus.” Kami semua langsung mencatat. Lalu dia menambahkan, “Tapi mahalnya di dagingnya, dan di resepsi orang ngambil dagingnya paling dikit.”
Om Bara meletakkan penanya. “Kamu belajar ini di mana.”
“Nggak belajar, Pa.”
“El.”
El mengaduk-aduk isi kotak itu dengan sendok.
“Mama dulu suka ngitungin,” katanya. “Kalau ada hajatan tetangga, dia suka ngitungin sisa makanan di meja mana yang paling banyak. Katanya kalau sisanya banyak berarti masaknya nggak kena, bukan orangnya kenyang.”
Om Bara diam.
Mama meletakkan tangannya di lengan Om Bara.
Dan aku, yang duduk di seberang meja, melihat anak itu terus mengaduk isi kotak yang tidak akan dia makan.
Katering keempat adalah yang menghancurkan pertahanan Mama sepenuhnya.
“El,” kata Mama, di suapan kedua. “Ini enak nggak sih?”
“Enak.”
“Beneran?”
“Beneran.”
“Tapi?”
El meletakkan sendoknya.
“Tapi nggak ada yang inget,” katanya.
“Maksudnya?”
“Ini enak. Semua orang bakal bilang enak. Terus besoknya nggak ada satu pun yang inget makan apa.” Dia mengangkat bahu. “Kalau cuma mau enak, ini udah cukup, Tante.”
Dan Mama meletakkan piringnya, menoleh ke Om Bara, dan berkata kalimat yang aku sudah tahu akan datang sejak Sabtu ketiga.
“Mas.”
“Hm?”
“Gimana kalau El aja yang masak.”
Aku menumpahkan air.
Aku benar-benar menumpahkan air, ke taplak, dan menghabiskan lima belas detik berikutnya mengelapnya dengan tisu sementara Om Bara tertawa dan Mama bilang “Val, aduh”.
“Ma, itu lima ratus orang.”
“Ya nggak semuanya, dong.” Mama sudah punya wajah orang yang sudah memutuskan. “Yang penting-penting aja. Yang buat meja keluarga. Sisanya katering.”
“Ma—“
“Ren, ini El masih sekolah,” kata Om Bara, tapi suaranya sudah setengah menyerah.
“Ya makanya yang penting-penting aja. Berapa, sepuluh macem?”
“Empat belas,” kata El.
Semua orang menoleh.
Dia sedang menumpuk kotak-kotak tester, meratakan tumpukannya, dan tidak melihat siapa pun.
“Kalau meja keluarga, empat belas macem,” katanya. “Standarnya gitu.”
“Nah!” Mama menepuk meja. “Tuh, dia udah tau.”
“El—“ kataku.
“Bisa, Tante,” katanya.
Dan dia mengangkat wajahnya dan tersenyum ke arah ibuku.
Senyum betulan. Kecil, tapi betulan — yang sudut mulutnya naik satu senti, yang aku butuh tiga bulan untuk melihatnya sekali, dan yang sekarang dia berikan begitu saja kepada perempuan yang menanyakan katering.
“Saya seneng, kok,” katanya.
Om Bara mengantar Mama ke minimarket jam delapan, urusan sabun cuci, urusan yang jelas-jelas bisa ditunda.
Aku menunggu suara mobil hilang dari gang, lalu menoleh.
“El.”
“Hm.”
“Empat belas macem.”
Dia sedang mencuci piring kecil bekas tester. Dia tidak berhenti.
“Iya.”
“Empat belas macem yang mana?”
“Yang standar.”
“El.”
“Val, ini piringnya banyak.”
Aku menutup keran.
Dia berhenti, dengan tangan masih di dalam wastafel, dan tidak menoleh.
“Enam November,” kataku. “Ada empat belas piring di meja kamu. Aku ngitungnya jam dua pagi karena aku nggak bisa tidur.”
Air menetes dari tangannya ke bak.
“Kebetulan,” katanya.
“Bohong.”
“Iya,” katanya.
Dan itu — lagi, seperti di lapangan belakang tiga bulan lalu — cara dia mengaku berbohong tanpa mengubah apa pun.
Aku berdiri di sebelahnya dan tidak tahu harus bilang apa.
“El, kamu nggak harus.”
“Aku mau.”
“Kamu nggak harus masakin empat belas macem masakan ibumu buat—“
Aku berhenti.
Aku berhenti karena aku mendengar kalimat itu sampai ke ujungnya di kepalaku dan aku tidak sanggup mengeluarkannya.
—buat pernikahan bapakmu sama perempuan lain.
El menyalakan keran lagi.
“Yang di rumah itu bukan masakan Mama,” katanya.
“Apa?”
“Yang aku bikin tiap enam November.” Dia membilas piring. “Itu masakan aku. Aku ngikutin bukunya, tapi tangannya aku. Beda.”
“El—“
“Mama udah nggak ada, Val.” Dia menaruh piring di rak, terbalik, ukuran berurutan. “Yang tinggal cuma resepnya. Resep itu buat dimasak. Bukan buat disimpen.”
Aku menatap punggungnya.
“Kamu percaya itu?”
Dia tidak menjawab.
Dia mencuci tiga piring lagi. Lalu, tanpa menoleh, dengan suara yang sepenuhnya biasa:
“Nggak.”
Kami duduk di beranda sampai jam sembilan.
Aku bersandar ke bahunya karena orang tua kami sedang di minimarket dan karena aku sudah tidak peduli dengan peraturan nomor dua yang sudah lama tidak berlaku.
“El.”
“Hm.”
“Kalau kamu nggak mau, bilang aja. Aku bisa bilangin Mama.”
“Aku mau.”
“Kamu barusan bilang kamu nggak percaya.”
“Dua-duanya bisa bener, Val.”
Aku memutar kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Aku mau masak buat mereka,” katanya, ke arah halaman. “Papa berdiri di butik itu terus nggak bisa ngomong. Aku belum pernah lihat dia kayak gitu. Bahkan sama Mama, aku nggak pernah lihat, karena waktu itu aku masih kecil dan aku nggak merhatiin.”
Dia menarik napas.
“Aku mau ngasih dia itu.”
“Terus yang nggak kamu percayanya bagian mana?”
Lama sekali.
“Bagian yang bilang aku nggak lagi ngasih Mama pergi,” katanya.
Aku pulang ke kamar malam itu dan menulis di halaman belakang buku Fisika yang sudah rusak, di bawah dua belas peraturan yang semuanya sudah gugur:
Empat belas macem.
Meja keluarga.
Dia bakal masak semuanya. Di dapur ibunya. Buat Mama aku.
Lalu aku menatap tiga baris itu.
Lalu aku menutup bukunya, karena sudah jam sebelas, karena besok ada ulangan, karena aku pandai sekali menutup buku sebelum sampai ke halaman yang tidak mau aku baca.
Butuh empat bab lagi sampai aku membukanya lagi.
- 1 Meja Makan Pertama
- 2 Riset Lapangan
- 3 Dua Tahun
- 4 Rumah yang Terlalu Bersih
- 5 Cabai
- 6 Aku Nggak Suka Ngutang
- 7 Kencan yang Bukan Kencan
- 8 Celemek
- 9 Yang Pertama Mukul
- 10 Sekutu
- 11 Tiga Puluh Sembilan
- 12 Rak Sepatu Dekat Pos Satpam
- 13 Payung
- 14 Ada yang Ngitungin Aku, Nggak?
- 15 Kak El
- 16 Sebelas Peraturan
- 17 Kursi Kosong
- 18 Murid Terburuk
- 19 Empat Wadah Kecil
- 20 Deret Ketiga Dekat Jendela
- 21 Foto Keluarga
- 22 Tester reading
- 23 Jangan Pindah Dulu
- 24 Hari yang Tidak Ada Namanya
- 25 Lima Ratus Lembar
- 26 Uji Coba
- 27 Penilaian Properti
- 28 Dua Detik
- 29 H-2
- 30 Mama Pilih Kamu
- 31 Empat Belas Februari
- 32 Senjata yang Tumpul
- 33 Halaman Seratus Dua
- 34 Tanpa Senjata
- 35 Bukan Kami yang Nyangga
- 36 Bukan