← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Six

Aku Nggak Suka Ngutang

POV: Valerie


Ada satu hal yang aku pelajari umur empat belas, dan aku belum pernah melupakannya sehari pun.

Utang itu bukan angka. Utang itu posisi.

Waktu kamu berutang pada seseorang, orang itu berhak masuk ke rumahmu jam tujuh pagi. Berhak bicara dengan suara tertentu. Berhak memandang ibumu dengan cara tertentu. Aku pernah berdiri di ambang pintu dengan seragam SMP yang belum diganti dan menghitung seratus delapan puluh juta di kepalaku sambil tersenyum sopan pada laki-laki yang menyebut ibuku “Bu” dengan nada yang bukan nada hormat.

Jadi aku tidak berutang. Tidak pada siapa pun. Tidak sepuluh ribu, tidak seribu, tidak satu bungkus permen.

Dan sekarang ada tujuh kotak makan di rak piring rumahku.

Tujuh.


Aku menghitungnya Rabu pagi sambil berdiri di depan rak, masih pakai handuk di kepala, dengan perasaan seperti orang yang baru sadar rumahnya kemasukan air pelan-pelan selama tiga minggu.

Tujuh kotak. Ditambah empat wadah kecil sambal. Ditambah satu wadah plastik pertama dengan kertas buat besok yang — ya, aku akui — tidak aku buang, dan sekarang ada di laci mejaku, dan kalau ada yang menanyakannya aku akan bilang aku lupa.

Aku menghitung ulang di kepalaku. Kalau satu kotak isinya ayam, sayur, telur, nasi — sebut saja dua puluh lima ribu kalau beli di kantin, dan itu pun kualitas kantin. Tujuh kotak. Tiga minggu.

Seratus tujuh puluh lima ribu.

Aku berutang seratus tujuh puluh lima ribu pada anak laki-laki yang sedang aku selidiki.

Aku hampir tertawa di depan rak piring.


Aku menghadangnya Kamis, di parkiran sepeda, jam setengah tujuh pagi. Aku sudah menunggu dua puluh menit dan aku tidak akan mengakui itu.

“El.”

Dia sedang mengunci sepedanya. Dia mengangkat kepala, dan aku melihat wajahnya melakukan hal aneh selama seperempat detik sebelum kembali datar — semacam kaget yang tidak sempat jadi apa-apa.

“Pagi,” katanya.

“Berapa?”

“Hm?”

Aku mengeluarkan amplop dari tas dan menyodorkannya.

Dia menatap amplop itu.

“Ini apa?”

“Dua ratus. Aku bulatin ke atas karena aku nggak tahu harga bahannya.” Aku mengangkat dagu. “Kalau kurang, bilang. Kalau lebih, kembaliin.”

Ada jeda yang panjang sekali. Sepeda-sepeda di sekitar kami dikunci dan dilepas. Ada anak kelas sepuluh yang lewat dan melihat kami dan mempercepat langkahnya.

“Nggak usah,” kata El.

“Harus.”

“Itu cuma masakan.”

“Nggak ada yang ‘cuma’.” Suaraku naik dan aku tidak menurunkannya. “Semua ada harganya, El. Semua. Kalau kamu nggak minta bayaran sekarang, artinya kamu nyimpen buat nanti.”

Dia diam.

Dan aku, yang sudah tiga minggu mencari retak, akhirnya mendapatkannya — tapi bukan retak yang aku duga.

Karena wajah El berubah. Bukan marah. Bukan tersinggung.

Dia melihatku seperti orang yang baru saja mengerti sesuatu, dan yang dia mengerti itu menyakitkan.

“Kamu—“ Dia berhenti. Menutup mulutnya. Membuka lagi. “Siapa yang ngajarin kamu gitu?”

Aku tidak siap untuk pertanyaan itu.

Aku benar-benar tidak siap, dan itu membuatku menjawab lebih keras dari yang seharusnya.

“Pengalaman.”

Dia mengangguk pelan. Satu kali.

Lalu dia mengambil amplop itu dari tanganku.

Aku menang. Aku ingat merasakan kemenangan itu di dada — kecil, tajam, dan langsung terasa salah, seperti gigitan yang kena gigi berlubang.

“Oke,” katanya. “Makasih.”

Dan dia pergi.


Amplop itu kembali hari Senin.

Ditaruh di tasku, di tempat yang sama dengan kotak makan, dengan cara yang sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya tanpa terlihat.

Isinya seratus dua puluh empat ribu.

Dan sebuah struk.

Struk supermarket. Panjang. Ayam, telur, bawang, minyak, sayur, beras dua kilo. Tanggalnya Jumat. Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang lebih besar dan lebih tegak daripada tulisan di buku resep itu:

Sisa 124.000. Bahannya buat 2 minggu. Nanti aku laporan lagi.

Aku duduk di bangku kelas dengan struk itu di tangan selama entah berapa lama.

Nadhira melongok. “Itu apa?”

“Laporan keuangan,” kataku.

“Hah?”

“Dia bikin laporan keuangan.”

Aku tertawa. Aku benar-benar tertawa, sendirian, di jam pelajaran pertama, sampai Bu Rina menegurku.

Karena begini yang baru saja terjadi: aku memberikan uang untuk mengakhiri sebuah kewajiban, dan anak itu mengubahnya jadi anggaran. Dia tidak menolak uangku, karena menolak akan mempermalukan aku. Dia menerimanya, membelanjakannya, mengembalikan kembaliannya, dan melampirkan bukti — persis seperti orang yang mengerti bahwa satu-satunya cara agar aku mau menerima sesuatu adalah kalau aku merasa memegang kendali atas neracanya.

Dia tidak sedang bersikap baik.

Dia sedang bicara bahasaku, dan dia belajar bahasa itu dalam satu percakapan di parkiran sepeda jam setengah tujuh pagi.


Aku menemukannya jam istirahat, di koridor dekat perpustakaan, dan aku tidak repot-repot basa-basi.

“Kamu ngeselin banget.”

“Iya,” katanya, seolah itu memang sudah jadwalnya.

“Kenapa kamu nggak ambil aja semuanya?”

“Bukan punyaku.”

“Kamu yang masak!”

“Uangnya punya kamu.”

Aku ingin mencekiknya. Aku ingin sekali mencekiknya, dan aku juga ingin dia mengatakan sesuatu yang lebih panjang dari empat kata, dan dua keinginan itu ada di dadaku bersamaan dan tidak mau berdamai.

Jadi aku melakukan hal yang aku lakukan kalau aku kalah: aku maju.

Aku melangkah masuk ke jarak yang tidak sopan. Aku memiringkan kepala. Dan aku menurunkan suaraku ke nada yang biasanya membuat laki-laki melupakan tanggal lahir mereka sendiri.

“El. Kalau aku bilang aku mau bayarnya bukan pakai uang, gimana?”

Aku merasakan dia berhenti bernapas.

Sungguhan. Berhenti. Tidak menarik napas, tidak mengembuskan, seperti orang yang mendengar suara di rumah kosong.

Buku di tangannya turun sedikit.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, dia tidak buang muka.

Dia menatapku. Lurus. Dan sesuatu di belakang mata itu bergerak — bukan malu, bukan gugup, sesuatu yang lain, sesuatu yang jauh lebih besar dari yang seharusnya ada di koridor sekolah jam sebelas siang — dan untuk satu detik penuh aku yang harus mengingatkan diriku sendiri cara bernapas.

Lalu dia menutup bukunya.

“Kamu belum makan, ya?”

Aku mengerjap.

“Apa?”

“Dari tadi pagi.” Dia sudah berjalan. “Kotaknya di tasmu.”

Dan dia pergi ke arah tangga, meninggalkan aku berdiri di koridor seperti orang bodoh, dengan pertanyaan yang sudah aku siapkan masih menempel di langit-langit mulutku.


Aku memakan kotak itu di kelas dengan perasaan yang tidak bisa aku jelaskan.

Ada telur yang dilipat rapi. Ada ayam. Ada sayur yang tidak pedas sama sekali karena aku berbohong tiga minggu lalu.

Dan di dasar kotak, di bawah selembar kertas minyak, ada satu wadah kecil berisi sambal.

Belum pernah ada. Sudah tiga minggu tidak pernah ada.

Tutupnya masih segel.

Aku menatap wadah itu terlalu lama, lalu menutup kotaknya, lalu membukanya lagi, lalu menutupnya lagi.

“Val?” Nadhira menoleh. “Kamu kenapa mukanya kayak orang mau nangis?”

“Kepedesan,” kataku.

“Kamu belum makan sambelnya.”

“Ya.”

“Val.”

“Ya.”

Dan aku duduk di sana, di bangkuku, memegang kotak makan buatan anak laki-laki yang sedang aku selidiki, dan untuk pertama kalinya sejak Sabtu malam pertama itu, ada satu kalimat kecil yang muncul di kepalaku tanpa izin dan langsung aku tendang keluar:

Kalau ternyata dia beneran cuma baik, gimana?

Aku tendang keluar.

Tapi dia sudah masuk.