← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Thirty One

Empat Belas Februari

POV: Valerie


Yang paling banyak menelepon hari itu adalah orang-orang yang tidak tahu.

Lima ratus undangan sudah tersebar sejak dua minggu sebelumnya. Mama menelepon apa yang bisa dia telepon — gedung, katering, Bu Ratih, rias, mobil — tapi kamu tidak bisa menelepon lima ratus orang, dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang nomornya tidak ada di siapa pun.

Jadi selama tiga hari, telepon rumah kami berbunyi.

“Halo, Bu Renata? Ini dari keluarga Pak Dedi. Maaf ya Bu, kami mau konfirmasi kehadiran—“

“Maaf, Pak. Acaranya dibatalkan.”

“Oh. Ditunda ya, Bu?”

“Dibatalkan.”

Sunyi di seberang. Selalu ada sunyi di seberang.

“Innalillahi—maaf Bu, apa ada yang—“

“Nggak ada apa-apa, Pak. Terima kasih ya.”

Dan Mama menutup telepon, dan menaruh gagangnya, dan berdiri di depan meja telepon selama tiga detik, lalu kembali ke apa pun yang sedang dia kerjakan.

Empat puluh satu kali. Aku menghitungnya, karena itu yang dilakukan kepalaku, karena aku belajar dari orang yang salah.


Bu Sri datang hari Rabu membawa kue.

“Ren, yang bener ini? Ibu denger dari Bu Yanti.”

“Iya, Bu.”

“Kok bisa? Kemarin masih—“

“Nggak jodoh, Bu,” kata Mama, dan tersenyum.

Aku ada di dapur, membelakangi mereka, mencuci gelas yang sudah bersih.

“Ya ampun.” Bu Sri menepuk lututnya. “Padahal Ibu udah seneng banget. Anaknya Pak Bara itu, lho. El. Aduh, Ren, jarang ada anak kayak gitu.”

“Iya, Bu.”

“Ibu udah anggep dia cucu Ibu sendiri, tau nggak.” Bu Sri menghela napas. “Terus dia gimana sekarang?”

Dan aku memegang gelas itu terlalu erat dan menunggu jawaban ibuku.

“Nggak tau, Bu,” kata Mama.


Aku juga tidak tahu.

Itu bagian yang tidak bisa aku jelaskan pada siapa pun, karena kalau aku menjelaskannya, orang akan bilang ya udah, tinggal tanya.

El masuk sekolah. Setiap hari. Tidak sekali pun bolos.

Dia duduk di deret ketiga dekat jendela. Dia mengerjakan ulangan. Dia menjawab kalau ditanya guru. Dia membantu Bu Rina memindahkan kertas ujian hari Kamis dan dia berjongkok membetulkan roda kursi di ruang OSIS hari Jumat.

Kalau kamu tidak kenal dia, kamu tidak akan melihat apa-apa.

Aku kenal dia.

Dan yang aku lihat adalah ini: anak itu kembali ke bulan September.

Dua suku kata per pertanyaan. Wajah datar. Buang muka. Semua yang aku habiskan lima bulan untuk kikis, kembali dalam waktu tiga hari, dan kali ini bukan karena dia gugup.

Kali ini karena tidak ada lagi yang perlu dia lindungi.


Kotak makan berhenti.

Hari pertama aku tidak menyadarinya sampai jam dua siang.

Hari kedua aku menyadarinya jam tujuh pagi, waktu tanganku masuk ke tas sebelum aku sempat memutuskan untuk memasukkannya.

Hari ketiga aku tidak memasukkan tanganku sama sekali, dan itu yang paling buruk, karena artinya tubuhku sudah belajar.

Tiga hari untuk melepas kebiasaan lima bulan.

Dan lima bulan, ternyata, adalah waktu yang cukup untuk membuat seseorang lupa cara membeli makan siang sendiri. Aku berdiri di kantin hari Kamis dan memandangi etalase selama satu menit penuh dan tidak bisa memutuskan apa pun, karena selama lima bulan tidak ada satu hari pun aku harus memutuskan apa yang aku makan.

Aku beli roti.

Aku memakannya di kelas dan rasanya seperti kertas.


Aku menghadangnya hari Jumat, di parkiran sepeda, jam setengah tujuh pagi.

Aku sudah menunggu dua puluh lima menit.

“El.”

Dia mengunci sepedanya.

“El, lihat aku.”

Dia menegakkan badan. Dan dia melihat aku — dia selalu menghadap, dia tidak pernah menjawab sambil membelakangi, bahkan waktu dia sedang menghancurkanku.

Wajahnya kosong.

“Kamu nggak bales chat aku.”

“Iya.”

“Enam hari, El.”

“Iya.”

“Kamu marah?”

“Nggak.”

“Terus kenapa—“

“Aku harus ke kelas, Val.”

Dan aku melakukan satu-satunya hal yang tersisa. Aku memegang lengan seragamnya.

“Kamu belum makan, ya?” kataku.

Aku melihatnya mengenainya.

Aku melihatnya, aku bersumpah — sesuatu di wajah itu retak selama seperempat detik, di sekitar mata, dan aku menahan napas dan aku menunggu.

Dan dia melepaskan tanganku dari lengannya. Pelan. Dengan dua jari.

Dan pergi.


Ini yang tidak orang mengerti tentang El, dan aku butuh enam hari untuk mengerti:

dia tidak sedang menghukum aku.

Dia tidak berhenti bicara karena dia marah, atau karena dia menyalahkanku, atau karena dia ingin aku merasa bersalah. Anak itu tidak punya perlengkapan untuk itu; dia bahkan tidak tahu caranya.

Dia berhenti bicara karena dia sudah pernah begini.

Setahun, umur empat belas, di rumah yang isinya cuma dia. Dia sudah tahu cara bertahan hidup tanpa mengeluarkan suara. Dia punya sistemnya. Bangun, masak, sekolah, pulang, bereskan, tidur, ulangi. Kalau tangan diam, kepala jalan — jadi jangan biarkan tangan diam.

Itu bukan hukuman.

Itu mode darurat, dan dia sudah pernah menjalankannya selama satu tahun penuh, dan dia bisa menjalankannya lagi seumur hidup kalau perlu.

Dan aku tidak bisa melawan itu.

Bagaimana caranya kamu bertengkar dengan orang yang tidak pernah mengatakan apa-apa untuk dibantah?


Aku ke rumah Baskara hari Sabtu.

Om Bara yang membuka pintu.

Laki-laki itu terlihat sepuluh tahun lebih tua daripada dua minggu lalu, dan dia tersenyum waktu melihatku, dan senyum itu adalah hal yang paling menyakitkan yang aku lihat sepanjang minggu itu.

“Valerie.”

“Om.”

“Masuk, Nak. Om buatin—“ Dia berhenti. “Om cuma bisa kopi.”

“Nggak usah, Om.”

Aku masuk.

Dan rumah itu bersih.

Bersih dengan cara yang sama seperti bulan September: sudut yang tidak berdebu, sandal yang menghadap keluar, resleting bantal sofa yang semuanya menghadap ke bawah.

Tapi dapurnya—

Aku berjalan ke dapur dan berdiri di ambang pintu.

Kompor mati. Talenan kering, digantung, ukurannya berurutan. Rak bumbu penuh, botolnya menghadap depan. Tidak ada satu pun panci di rak piring yang basah.

Tidak ada bau apa pun.

“El nggak masak lagi,” kata Om Bara di belakangku.

Aku tidak menoleh.

“Sejak Rabu,” katanya. “Om makan di luar. Dia—“ Suaranya tersendat. “Dia beliin Om nasi bungkus tiap malem, Nak. Ditaruh di meja. Ditutup piring.”

Aku menutup mataku.

“Persis kayak dulu,” kata Om Bara.


El ada di kamarnya.

Pintunya setengah terbuka. Aku berdiri di lorong belakang, di antara tiga pintu, dan aku bisa melihatnya duduk di meja belajar sedang mengerjakan sesuatu.

Dan aku tidak masuk.

Aku ingin mencatat itu dengan jujur, karena selama lima bulan aku adalah orang yang masuk. Aku masuk ke kelasnya. Aku masuk ke rumahnya lewat bawah lengannya. Aku duduk di atas mejanya di depan empat puluh orang.

Hari Sabtu itu aku berdiri di lorong dan tidak masuk.

Karena pintu ketiga, yang di sebelahnya, sudah dikunci lagi.

Dua minggu lalu terbuka. Sekarang dikunci.

Dan aku mengerti, sambil berdiri di lorong rumah orang, bahwa anak itu sedang mengunci semuanya kembali — satu per satu, dengan sangat rapi, seperti dia merapikan segala sesuatu — dan bahwa aku salah satu dari yang dikunci.

Aku pulang tanpa mengetuk.


Empat belas Februari jatuh hari Sabtu berikutnya.

Aku bangun jam tiga pagi.

Aku tidak memasang alarm. Tubuhku yang bangun, sendiri, jam tiga lewat empat menit, dan aku berbaring di gelap dan aku tahu persis kenapa.

Jam tiga adalah jam dia mulai.

Aku berbaring di kasur dan aku membayangkan sebuah dapur yang tidak akan dinyalakan. Dua panci besar yang tidak akan keluar dari lemari bawah. Empat belas piring yang tidak akan disusun di meja dengan urutan yang diingat tangan tanpa harus bertanya pada kepala.

Aku turun jam setengah empat.

Lampu dapur menyala.

Mama berdiri di depan kulkas yang terbuka, memandangi enam wadah besar yang masih ada di sana, yang sudah tiga hari lewat tanggal amannya dan belum ada satu pun dari kami yang sanggup membuangnya.

Dia menoleh.

Dan kami berdua berdiri di dapur itu jam setengah empat pagi tanggal empat belas Februari, dua perempuan yang saling memilih dan saling menghancurkan, dan tidak ada satu pun dari kami yang bisa mengeluarkan sepatah kata.

Mama menutup kulkasnya.

“Tidur lagi, sayang,” katanya.

Aku tidak tidur lagi.