← Siapa yang Jadi Kakak?

Chapter Twenty Seven

Penilaian Properti

POV: Valerie


Aku menemukannya karena aku mencari pulpen.

Itu semua. Tidak ada penyelidikan, tidak ada strategi, tidak ada daftar bernomor di halaman belakang buku Fisika. Aku sedang di rumah Baskara hari Selasa sore untuk membantu mendata konfirmasi tamu, pulpenku habis, dan Om Bara sedang menerima telepon di halaman, dan aku membuka laci meja ruang tamu.

Amplop cokelat. Sudah dibuka. Kop surat sebuah kantor jasa penilai.

LAPORAN PENILAIAN PROPERTI — HUNIAN

Alamat rumah itu. Luas tanah. Luas bangunan. Tahun dibangun: 2003.

Dan di bawah, di kotak yang diberi garis tebal:

Indikasi Nilai Pasar: Rp 640.000.000

Tanggalnya sembilan hari lalu.


Aku menutup laci.

Aku duduk di sofa dengan pulpen yang tidak jadi aku ambil dan aku menatap dinding selama mungkin dua menit, dan otakku — otak yang bagus sekali dengan angka, otak yang tiga tahun menyusun map cokelat jadi tiga tumpukan — menyelesaikan seluruh perhitungannya sebelum aku sempat memintanya berhenti.

Utang koperasi empat puluh dua juta.

Cicilan tanggal dua puluh lima, tiga puluh satu bulan berturut-turut, saldo tersisa di bawah satu juta setiap tanggal dua puluh enam.

Biaya resepsi.

Cat dinding dua kamar di lantai atas rumah kami, yang Om Bara ukur bulan lalu, dan yang dia tanyakan warnanya padaku.

Enam ratus empat puluh juta.

Laki-laki itu akan menjual rumahnya.


Om Bara masuk lima menit kemudian sambil memasukkan ponsel ke saku.

Dan berhenti, karena aku sedang memegang amplop cokelat itu.

Aku tidak menyembunyikannya. Aku bahkan tidak berpikir untuk menyembunyikannya. Aku duduk di sofanya dengan amplop itu di pangkuan dan aku menunggu.

Wajahnya berubah pelan-pelan.

“Ah,” katanya.

Lalu dia menutup pintu.

Bukan membanting. Ditutup, pelan, dan itu justru yang membuat perutku dingin — karena laki-laki itu tidak pernah menutup pintu ruang tamunya sendiri, karena rumah itu selalu terbuka, karena orang-orang keluar masuk seperti pasar.

Dia duduk di kursi seberang.

“Kamu udah ngitung, ya?” katanya.

“Om.”

“Berapa yang kamu dapet?”

“Om Bara—“

“Valerie.” Dia tersenyum, dan senyumnya lelah dengan cara yang tidak pernah aku lihat di wajah itu. “Kamu anak yang megang rekening rumah dari umur empat belas. Om tau kamu udah ngitung.”

Aku menelan.

“Utang koperasi lunas,” kataku. “Resepsi lunas. Sisanya cukup buat DP rumah lain, atau ngontrak lima tahun sambil nabung.”

“Kurang satu.”

“Apa?”

“Kuliah,” katanya. “Dua orang. Tahun depan.”

Aku merasakan lantai miring.


“Om, ini nggak perlu.”

“Nak—“

“Ini nggak perlu.” Suaraku naik dan aku menurunkannya paksa. “Kita bisa ngontrak. Rumah kami cukup buat empat orang. Kamar atas dua, tinggal—“

“Rumah kalian dua ratus meter dari kantor mama kamu?”

“Iya.”

“Dan rumah ini tiga puluh lima menit.” Dia mengangkat bahu. “Ren udah tiga tahun berangkat jam setengah enam. Om nggak mau nambahin.”

“Om, itu bukan alasan—“

“Bukan.”

Dia mengakuinya begitu saja, dan itu membuatku berhenti.

Om Bara menyandarkan punggungnya. Dia memandangi ruang tamu itu — dinding, jendela, foto yang tidak ada di dinding, lorong belakang dengan tiga pintu.

“Om nggak sanggup tinggal di sini, Nak,” katanya.

Ruangan itu sangat sunyi.

“Tiga tahun Om nggak sanggup. Om nggak pulang setahun bukan karena kerja.” Dia menggeleng pelan. “Om udah pernah cerita ini sama kamu.”

“Om—“

“Dan sekarang Om mau mulai lagi, sama perempuan yang Om sayang, dan Om nggak bisa bawa dia ke rumah ini.” Dia menoleh ke arahku. “Nggak adil buat dia. Nggak adil buat Laras juga.”

Aku tidak bisa bicara.

“Jadi ya udah,” katanya. “Dijual. Utang lunas, resepsi lunas, kalian berdua bisa kuliah, semuanya beres sekali jalan.”

Dia menepuk lututnya sekali, cara orang mengakhiri rapat.

“Praktis, kan?”


“El tau?”

Dan seluruh wajah laki-laki itu berubah.

Butuh dua detik. Senyum lelah itu hilang, dan yang tinggal cuma laki-laki empat puluh enam tahun yang tiba-tiba terlihat sepuluh tahun lebih tua.

“Nggak,” katanya.

“Om.”

“Belum.”

“Om, ini rumahnya.”

“Om tau.”

“Dapurnya—“

“Om tau, Nak.”

“Kamar yang dikunci itu—“

“OM TAU.”

Suaranya pecah di tengah ruangan dan langsung dia tarik kembali, dan dia mengangkat satu tangan seperti orang minta maaf, dan aku diam.

Dia menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk selama beberapa detik.

“Maaf,” katanya.

“Nggak apa-apa.”

“Om cuma—“ Dia menarik napas. “Om udah nyiapin kalimatnya tiga minggu. Om latihan. Om beneran latihan, Nak, di mobil, kayak orang gila.”

Aku menatap tanganku.

“Kenapa belum, Om?”

“Karena anak itu bakal bilang iya,” katanya.

Aku mengangkat wajah.

“Kamu ngerti nggak?” Dia menoleh ke arahku, dan matanya merah. “Kalau Om bilang malem ini, El bakal bilang iya. Dua detik. Nggak akan nanya, nggak akan protes, nggak akan minta waktu. Dia bakal bilang ‘iya, Pa’, terus dia bakal bangun besok pagi dan masak sarapan kayak nggak terjadi apa-apa.”

Aku memejamkan mata.

“Dan Om nggak akan pernah tau apa yang dia rasain,” kata Om Bara. “Nggak akan pernah. Karena anak itu nggak pernah kasih tau Om apa-apa selama tiga tahun, dan itu salah Om, dan Om nggak bisa benerin.”


Kami duduk di ruangan itu sampai jam lima.

Lalu dia berkata, tanpa menoleh:

“Valerie.”

“Ya, Om.”

“Om minta tolong.”

Aku sudah tahu apa yang akan dia katakan, dan aku ingin sekali berdiri dan pergi sebelum dia mengatakannya.

“Jangan bilang El dulu.”

Ruangan itu berbunyi di telingaku.

“Om mau bilang sendiri. Habis resepsi.” Dia mengusap wajahnya. “Om cuma butuh dia lewatin hari itu dulu. Dia lagi seneng, Nak. Kamu lihat sendiri hari Minggu. Om belum pernah lihat dia kayak gitu sejak—“

Dia tidak menyelesaikannya.

“Dua minggu,” katanya. “Om cuma minta dua minggu.”

Aku menatap amplop cokelat di pangkuanku.

“Iya, Om,” kataku.


Aku pulang jalan kaki. Angkot lewat empat kali.

Dan sepanjang jalan itu, otakku — otak yang bagus sekali dengan angka, otak yang tidak pernah mau berhenti — menyelesaikan perhitungan yang kedua.

Yang ini tidak pakai angka.

Kalau El tahu, dia akan menghentikan pernikahan itu.

Bukan mungkin. Pasti. Aku tahu itu dengan kepastian yang membuatku ingin muntah di trotoar Jalan Kenanga.

Anak itu tidak akan protes untuk dirinya sendiri; dia tidak pernah protes untuk dirinya sendiri, itu bukan cara kerjanya. Tapi kalau dia tahu bahwa ayahnya menjual rumah untuk membayar resepsi — resepsi yang El sendiri yang masak, meja yang El susun, empat belas macam yang El bangun dari tulisan tangan ibunya — dia akan berdiri, dan dia akan bilang tidak, dan dia akan bilangnya dengan sangat sopan dan sangat tenang dan tidak ada satu pun orang di rumah itu yang bisa melawannya.

Tanggalnya akan mundur. Mungkin batal.

Dan kalau batal—

Aku berhenti berjalan di tengah trotoar.

Karena inilah yang aku temukan hari itu, dan aku ingin mencatatnya dengan jujur:

aku tidak menemukan bukti kejahatan.

Aku menemukan pengorbanan seorang laki-laki yang tidak ingin siapa pun tahu.

Dan aku bisa memakainya.

Aku bisa memakainya malam ini juga. Satu kalimat. Aku tidak perlu berbohong, aku tidak perlu memanipulasi apa pun, aku cuma perlu memberitahu pacarku sesuatu yang memang benar — dan dua minggu lagi tidak akan ada resepsi, tidak akan ada satu rumah, tidak akan ada lima ratus lembar kertas krem dengan namaku di bawah namanya.

Tidak akan ada apa pun yang perlu kami sembunyikan.

Aku berdiri di trotoar Jalan Kenanga jam setengah enam sore, dengan amplop cokelat yang aku foto diam-diam masih ada di galeri ponselku, dan aku mengerti untuk pertama kalinya kenapa orang bilang kesempatan itu jahat.

Bukan karena sulit menolaknya.

Karena mudah sekali menjelaskannya.


Aku sampai rumah jam enam.

Aku naik ke kamar tanpa makan. Aku duduk di lantai dan aku membuka galeri dan aku menatap foto itu sampai layarnya mati sendiri, lalu aku menyalakannya lagi.

Jam sembilan aku mengetik pesan.

el

besok pulang sekolah aku mau ngomong

Dia membalas dalam dua puluh detik.

Oke

Kamu belum makan, ya

Aku menekan ponsel itu ke dahiku dan duduk di lantai kamarku selama waktu yang tidak aku hitung.